

Hujan baru saja reda, meninggalkan jalanan kota yang basah dan berkilau oleh pantulan lampu neon. Di antara keramaian orang-orang yang berlalu-lalang, seorang pria muda berdiri termangu di depan halte bus, tubuhnya kuyup meski payung kecil masih tergenggam di tangannya.
Aldi Bagaskara, usia dua puluh lima tahun, seorang karyawan biasa yang baru saja kehilangan segalanya.
Aldi bekerja di sebuah perusahaan properti yang ada di kota Riverstone, sebuah ibukota negara Thousand Islands namun hari ini dia dipecat secara sepihak dan dituduh mencuri data klien yang sangat penting. Namun yang membuat Aldi sakit hati adalah karena fitnah tersebut dilakukan oleh seorang teman yang sangat dia percayai, tetapi ternyata menikamnya dari belakang.
Aldi memejamkan mata saat mengingat kembali kejadian itu.
“Pak, aku sungguh tidak melakukannya.” Aldi mencoba membela diri.
“Mana ada maling ngaku, bisa-bisa penjara penuh kalau orang sepertimu berkata jujur.” ujar Bani ketus. Dia kemudian menoleh ke arah manajer perusahaan tempat mereka bekerja, “Jangan percaya omongannya Pak Hasan. Aku melihatnya dengan mata dan kepalaku sendiri.”
Bani lalu menunjukkan flashdisk yang ada di tangannya, “Di dalam flashdisk ini terdapat rekaman CCTV saat Aldi mencuri data klien untuk keuntungan pribadinya.”
“Pak Hasan, aku…” Aldi belum sempat melanjutkan ucapannya karena pria paruh baya itu sudah memotongnya terlebih dahulu.
“…Semua bukti sudah jelas, kamu mau menyangkalnya? Security…” Hasan memanggil security yang berjaga di luar.
Dengan sigap kedua security itu menangkap Aldi dan membekuk dirinya setelah mendapat perintah dari Hasan.
“Mengingat kamu pernah berjasa untuk perusahaan ini, saya tidak akan melaporkanmu ke polisi. Tapi, mulai saat ini kamu DIPECAT!”
Suara Hasan bak sambaran petir di siang bolong terdengar di telinga Aldi. Kakinya lemas, tubuhnya tak berdaya dan jatuh berlutut di lantai.
Aldi adalah tulang punggung keluarga yang harus menghidupi lima anggota keluarganya di desa. Ayahnya sudah sakit-sakitan sehingga tidak bisa bekerja lagi sementara ibunya harus mengurus ayahnya yang sakit. Ketiga adiknya juga masih bersekolah, bahkan dalam waktu dekat adik sulungnya butuh uang dalam jumlah besar, jadi semua kebutuhan memang bergantung pada gaji Aldi.
Aldi sadar di zaman sekarang sangat sulit untuk mencari pekerjaan dan sekarang dia dipecat. Ini benar-benar membuatnya hampir jatuh pingsan.
“Aku sungguh dipecat?” gumamnya lirih menahan tangis.
Hasan meraih sebuah amplop diatas meja dan melemparkannya ke wajah Aldi, “Ambil ini sebagai gaji dan pesangon untukmu. Kamu bukan lagi bagian dari perusahaan ini.”
Uang di dalam amplop itu mulai berhamburan saat mengenai muka Aldi. Dia yang sadar tidak bisa memberikan pembelaan lagi akhirnya menerima keputusan tersebut walaupun dengan perasaan yang terluka.
“Aku sudah melakukan segalanya untuk perusahaan ini, namun kalian memperlakukanku seperti anjing…” batin Aldi sambil mengumpulkan uangnya, “...kalian akan menyesalinya di masa depan.” Dia mengepalkan tangannya dengan keras.
Pandangannya kemudian tertuju pada Bani dengan sorot mata tajam dan penuh emosi, “Aku sudah menganggapmu seperti saudara, tetapi kamu malah mencelakaiku… aku sungguh salah menilai orang.”
Aldi merasa menyesal karena dulu dia yang mengajak Bani untuk melamar pekerjaan di tempat ini dan merekomendasikannya kepada atasan.
“Tidak disangka kamu akan menjadi duri dalam daging untukku. Aku bersumpah tidak akan melepaskanmu begitu saja.” Sorot mata Aldi dipenuhi kebencian yang mendalam.
Bani terlihat tidak sedikitpun iba kepada nasib buruk yang menimpa Aldi. Dia yang berdiri di samping Pak Hasan malah tersenyum dalam hati, “Aldi, salahmu sendiri yang begitu naif. Coba saja kamu tidak keras kepala, mungkin kita masih akan menjadi saudara.”
Bani mengingat kembali saat dirinya kepergok Aldi ketika sedang mencuri data klien. Dia memohon pada Aldi untuk tidak melaporkannya, namun sahabatnya itu tetap bersikeras untuk mengungkapkan kejahatannya.
Daripada Bani yang dipecat dan masuk penjara, lebih baik dia mengorbankan pertemanan mereka dan memutarbalikkan fakta dengan menuduh Aldi sebagai biang keladinya.
“Aku harus menutup mulutnya rapat-rapat atau suatu hari masalah ini akan membuatku kesulitan.”
Bani mulai membuat rencana untuk menyingkirkan Aldi agar terhindar dari masalah dan tidak ada yang mengetahui fakta yang sebenarnya.
Kenangan pahit itu berkelebat begitu jelas di benaknya, hingga dia tersadar kembali pada halte bus yang dingin dan basah.
Ponsel di saku celana Aldi bergetar berkali-kali. Dengan gerakan lelah, dia meraihnya. Layar menyala, menampilkan nama Hani, lengkap dengan emoji hati di belakangnya. Nama itu saja sudah cukup membuat dada Aldi terasa sesak.
Dia menekan tombol hijau, mencoba menahan senyum yang pahit.
“Halo, sayang… ada apa?” suaranya terdengar lembut, sedikit bergetar.
Namun balasan yang dia dapat bukanlah kehangatan, melainkan nada tajam yang menusuk telinganya.
“Aldi, kamu di mana sekarang? Aku harus bicara sama kamu.”
Alis Aldi berkerut, tapi dia berusaha terdengar santai. “Aku masih di luar, nunggu taksi. Hujan baru saja reda, jadi agak susah dapat kendaraan.” dia mencoba tertawa kecil, meski kering di tenggorokannya. “Memangnya kenapa? Suaramu terdengar serius sekali. Ada masalah?”
Keheningan singkat, sebelum kata-kata itu meluncur dari bibir Hani, seperti palu godam menghantam kepalanya.
“Aku nggak bisa nunggu lagi, Aldi.” Suara Hani terdengar dingin, tanpa ragu sedikitpun. “Aku dengar kamu dipecat dari kantor. Mulai hari ini aku mau kita putus. Jangan hubungi aku lagi. Kita sudah bukan siapa-siapa.”
Dada Aldi seakan diremas tak kasatmata. Napasnya tercekat. Jemarinya bergetar di genggaman ponsel.
“H-Hani… apa maksudmu? Kamu serius bicara seperti ini di telepon?” suaranya nyaris berbisik, putus asa.
“Kamu sedang bercanda denganku kan, sayang?” Aldi masih tidak percaya dengan yang didengarnya keluar dari mulut Hani.
Tapi yang terdengar hanyalah nada klik singkat di telinga, tanda panggilan telah berakhir. Sebelum dimatikan, Aldi juga sempat mendengar suara lain, seorang laki-laki.
“Sayang, tidak usah pedulikan lagi dia. Malam ini aku akan membuatmu bahagia.”
Aldi yang mendengar itu menjadi histeris, “Hani… sayang… siapa itu… Hani.”
Namun Hani sudah benar-benar menutup semuanya begitu saja.
Payung kecil itu terlepas begitu saja dari genggaman tangannya, seolah tubuhnya kehilangan semua tenaga. Bibir Aldi bergetar, dadanya terasa sesak, dan tanpa sadar air matanya mengalir membasahi pipinya.
“Dia benar-benar meninggalkanku? Sendirian?”
Saat Aldi hampir putus asa, ponsel di genggaman tangannya kembali bergetar. Dadanya langsung berdegup kencang.
Hani…?
Harapan kecil menyala di hatinya. Dia buru-buru menyeka air mata dengan punggung tangan, berusaha menata napas. Senyum tipis penuh kepalsuan tapi sarat harapan tergambar di wajahnya.
“Mungkin dia menyesal… mungkin dia cuma emosi tadi…” bisiknya lirih.
Dengan tangan gemetar, dia menggeser tombol hijau. Namun alih-alih nama Hani, yang muncul hanyalah tulisan asing, “Nomor Tidak Dikenal”.
Jantung Aldi tercekat. “Bukan dia?” gumamnya pelan. Tapi rasa penasaran membuatnya tetap menempelkan ponsel ke telinga.
“Hallo?” suaranya serak, bergetar.
Jawaban yang datang bukan suara lembut Hani, melainkan suara kasar yang langsung menusuk telinga. “Aldi Bagaskara?”
Aldi refleks menegakkan tubuhnya. “I—iya… ini saya. Anda siapa?”
Suara di seberang terdengar berat, penuh ancaman. “Kami dari pihak Titan Finance. Kau tahu sendiri hutangmu belum kau lunasi. Jangan pura-pura bodoh. Jangan coba-coba kabur.”
Tubuh Aldi mendadak dingin. Rahangnya menegang. Titan Finance, nama itu dia kenal betul. Tempat dia meminjam uang dengan bunga mencekik, satu-satunya jalan ketika semua pintu tertutup.
“Sa—saya… saya akan bayar. Tolong beri saya waktu sedikit lagi,” Aldi memohon, suaranya lirih hampir seperti bisikan.
Gelak tawa singkat terdengar dari seberang, tapi itu bukan tawa ramah. Itu tawa penuh sinis.
“Kami bukan lembaga amal, Aldi. Kamu punya waktu satu minggu. SATU MINGGU. Kalau lewat dari itu…” Suara pria itu merendah, dingin, “…kami akan datang. Dan percaya padaku, kamu akan menyesalinya.”
Nada klik terdengar, sambungan terputus begitu saja.
Aldi terpaku. Jari-jarinya yang masih menggenggam ponsel terasa beku, seakan darahnya berhenti mengalir.
Hani meninggalkannya.
Pekerjaan hilang.
Kini, hutang besar menunggu untuk menyeretnya lebih dalam ke jurang.
Lutut Aldi lemas, dia jatuh terduduk tak berdaya.
“Kenapa… kenapa semua ini harus terjadi padaku?” bisiknya putus asa, seolah telah kehilangan semua harapan.