

Suasana malam di tengah belantara terasa mencekam. Langit bergemuruh dan awan gelap menggantung rendah. Suara petir yang saling bersahutan memekakkan telinga, tetapi tidak setetes pun air jatuh ke bumi seolah menyimpan sesuatu yang lebih mengerikan.
Derap tapak kuda terdengar terburu-buru, bersahutan menginjak tanah lembap.
"Cepat cari anak itu! Malam ini seluruh keluarga Adipati Nararya harus lenyap. Jika tidak, kepala kita yang akan menjadi taruhannya!"
Seruan itu menggebu dari penunggang kuda berbaju jirah. Bau anyir darah masih melekat ditubuhnya. Disahut sorakan semangat oleh anak buahnya.
Hanya sekitar sepuluh meter dari sana, tepat di balik semak yang tinggi, sepasang mata mengintai. Napasnya menderu, detak jantungnya seolah lupa cara untuk melambat. Bau keringat bercampur anyir darah yang terus menetes dari lengan kirinya tak lebih menakutkan dibandingkan tertangkap oleh kawanan prajurit di depan sana.
Anak lelaki yang masih bersembunyi itu berusaha untuk tidak menimbulkan suara sedikit pun. Bahkan hewan-hewan malam enggan bersuara, seolah ikut menahan napas dalam kewaspadaan.
Baru beberapa saat lalu dia merayakan ulang tahun yang ketiga belas, tetapi justru pesta itu mendadak berubah menjadi penyerangan. Perintah membantai keluarga Adipati meluncur dari mulut pemimpin pasukan. Ibunya bahkan rela menjadikan tubuhnya sendiri sebagai tameng, mencoba mengulur waktu agar dia dapat melarikan diri menembus hutan belakang kediaman mereka.
"Ayah... Ibu... a-aku takut." Bisikan lirihnya hanya dapat terpendam dalam hati tanpa bisa dikeluarkan.
Anak lelaki itu masih bersembunyi, memeluk tas kain pemberian sang ibu yang berisi benda pusaka milik keluarga yang kini menjadi tanggung jawabnya.
Dia tidak bisa terus berdiam diri menunggu pemangsa menemukannya. Perlahan kakinya mencoba melangkah, tetapi sial, ranting kayu yang tidak sengaja terinjak menimbulkan suara nyaring di tengah keheningan.
"SIAPA DI SANA?!"
Perhatian para prajurit seketika teralih ke sumber suara dan anak lelaki itu segera berlari tanpa pikir panjang. Para lelaki dewasa itu pun segera mengejarnya seperti kawanan serigala yang siap menangkap mangsa.
Langkahnya tertatih, makin melambat, hingga akhirnya terhenti di bibir jurang. Di bawahnya mengalir sungai berarus deras, siap menelan apa pun yang jatuh ke dalamnya. Jika dia terjatuh, tentu tubuhnya akan terombang-ambing, membentur kerasnya bebatuan besar yang membentang di sepanjang aliran.
"Tuan Muda, tidak perlu melarikan diri lagi. Bukankah lebih baik menyerah dan berkumpul bersama Tuan dan Nyonya?" ujar sang pemimpin dengan seringai licik.
Anak lelaki itu berusaha tak menunjukkan kelemahan di wajahnya meskipun tubuhnya bergetar hebat. Darah kental masih menetes dari sela-sela jarinya.
"Di mana Ayah dan Ibuku?!" Pertanyaan itu meluncur penuh desakan. Ia masih berharap orang tuanya hidup, meski tahu itu hanya harapan semu yang menolak kenyataan.
"Tentu saja di surga, hahaha!"
Gelak tawa dari para pendosa itu memancing amarahnya. Urat di pelipisnya menonjol, giginya bergemeletuk, buku-buku jarinya memutih dalam kepalan. Angin tiba-tiba bertiup kencang dan gemuruh petir saling bersahutan.
Cahaya ungu muncul mengelilingi tubuh anak lelaki itu. Mulanya tipis, semakin lama kian menebal. Mata kirinya menyala violet membuat siapa pun yang menatapnya seolah melihat kebengisan dunia. Udara terasa menyesakkan. Waktu seolah berhenti.
"KALIAN JANGAN TATAP MATANYA, ALIHKAN PANDANGAN!" teriak pemimpin pasukan dengan nada waspada.
Semua mengalihkan pandangan, tetapi satu orang terlambat. Ia terseret masuk ke dalam ilusi semu, melihat banyak siluman mengelilinginya dan tanpa sadar menganyunkan pedang. Nyatanya saat ini dia menyerang kawanannya sendiri.
"Kalian urus dia, biarkan aku yang menangani Tuan Muda," ujarnya lantas menggigit ibu jarinya. Rasa logam menyapa lidahnya dan Darah segar mengalir. Ia mengoleskan darah itu ke kedua matanya. Sekejap, matanya seolah menyala, dan udara di sekitarnya mulai memanas.
Mulutnya bergerak merapalkan mantra, sementara busur panah yang dia pegang bergetar, memancarkan aura merah pekat. Tidak lama kemudian anak panah pun dipasangkan. Ia menarik napas menenangkan arah bidiknya. Anak panah melesat, tepat menuju jantung anak lelaki itu.
Teriakan kesakitan mengiringi petir yang menggelegar, hujan turun deras seakan langit ikut berduka. Anak panah itu menancap sempurna di dadanya. Ia pun terjatuh ke sungai berarus deras, air memercik buas saat tubuhnya terseret arus. Detak jantungnya melemah, air memasuki saluran pernapasannya, membuatnya tersengal.
"Ayah... Ibu... aku datang, maafkan aku tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri. Di kehidupan selanjutnya, aku harap kita tetap menjadi satu keluarga."
Suara tawa kemenangan bercampur dengan derasnya hujan, mengiringi kepergian anak lelaki itu. Arus deras di bawah sana menelan tubuh kecilnya, membawanya pergi jauh lenyap dari pandangan.
Waktu berlalu, hujan mulai reda, dan awan hitam menggulung pergi, bulan purnama yang sebelumnya tersembunyi kini menampakkan dirinya. Cahayanya menembus air sungai, memantul pada kalung hijau zamrud yang tersemat di leher jasad yang terombang-ambing tanpa arah.
Kalung tersebut memancarkan sinarnya dan seolah memberikan energi kehidupan kepada anak lelaki itu. Cahayanya menyebar ke pembuluh nadi. Jantung yang semula berhenti berdetak, kini mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan lagi.
Di tepi sungai terlihat dua orang pria dan wanita dewasa sedang menebar jala, berharap mendapatkan ikan untuk dijual ke pasar esok hari. Di tengah derasnya arus, cahaya hijau memantul di dekat batu kali besar, menarik perhatian mereka berdua.
"Pak, itu apa? Seperti tubuh manusia!"
Mata wanita itu memicing, mencoba melihat lebih jelas.
"Mana, Bu?!"
"Di sana, dekat batu besar itu!" Jari telunjuknya mengarah ke batu besar yang tidak jauh dari mereka.
Pria itu mencoba melangkahkan kaki perlahan, seutas tali melilit di bagian perutnya untuk menahan tubuh agar tidak terbawa arus sungai. Bermodalkan bantuan cahaya bulan yang memantul di permukaan air, ia mendekat, meskipun sedikit takut jika yang dilihat istrinya benar-benar seonggok jasad.
Benar saja, di hadapannya saat ini jasad anak lelaki dengan panah yang menancap di dada dan luka di kepala serta bagian tubuh lainnya. Pakaiannya robek di beberapa bagian, dengan sisa darah yang mulai memudar.
Kalung di leher anak itu masih memancarkan cahaya hijau pekat, seolah melindungi tubuhnya. Dengan tangan bergetar, ia mencoba memeriksa keadaan jasad tersebut, dan kembali dikejutkan dengan detak jantung yang masih berdetak meskipun pelan.
"Bu! Dia masih hidup!" teriak suaminya dari sungai. Istrinya segera menimpali, "Cepat bawa ke sini, Pak! Selamatkan dia!"
Keduanya berusaha mengeluarkan air dari tubuh anak lelaki itu. Dia terbatuk mengeluarkan sisa air dari mulutnya, tetapi tubuhnya masih lemah dan kembali terkulai tidak sadarkan diri, membuat mereka lega sekaligus cemas. Cahaya pada kalung di lehernya pun memudar.
Mereka pun berkemas dan segera membawa anak lelaki itu pulang ke rumah. Langkah kaki mereka tergesa-gesa, berharap nyawanya masih dapat ditolong sepenuhnya.
Tubuhnya terbaring lemah, kepala dan beberapa lukanya berbalut kain. Wanita itu mendudukkan diri di samping ranjang, mengusap pucuk kepalanya dengan penuh kasih sayang.
Dia dan suami sudah menikah lima belas tahun tanpa dikaruniai seorang anak dan melihat tubuh penuh luka itu menyayat hatinya. Siapa yang tega melakukan ini semua padanya?
Waktu terus berjalan, anak lelaki itu masih enggan untuk membuka matanya. Pasangan suami istri itu merawatnya dengan telaten. Hari-hari pun tak lagi sama. Kini, ada yang menunggu mereka pulang, meskipun tidak tahu kapan anak itu akan terjaga dari tidur panjangnya.
"KARANG! CEPAT PERGI!"
Teriakan itu pecah dalam kilasan ingatan yang kabur. Tangan besar mendorong tubuh kecilnya menjauh.
"AYAH! IBU!"
Jeritan pilu memenuhi udara ketika tebasan benda tajam mengenai seorang lelaki paruh baya dengan jubah kebesaran, berada tak jauh dari tempatnya berdiri.
"HABISI MEREKA SEMUA!"
Kobaran api melahap kediaman itu. Teriakan memohon ampun bersahutan, bercampur suara runtuhan kayu hingga semuanya lenyap, ditelan cahaya menyilaukan.
"JANGAN!"
Ia terbangun dengan tubuh tersentak. Napasnya terengah, keringat dingin membasahi pelipis. Jantungnya berdegup kencang tidak beraturan, bayangan mimpi mengerikan itu masih melekat di benaknya.
Pasangan suami istri di halaman rumah itu terkejut mendengar jeritan dari dalam. Tanpa pikir panjang, mereka bergegas masuk.
"Nak, tenang... tenanglah. Kau baru saja siuman."
Anak lelaki itu mencengkeram rambutnya sendiri, kepalanya berdenyut hebat seolah dihantam batu besar.
"Ka-kalian siapa? Aku di mana?"
Itu kalimat pertama yang keluar dari bibirnya setelah napasnya mulai tenang. Kedua orang di sampingnya saling berpandangan, lalu tersenyum tipis ke arahnya.
"Kamu ada di rumah kami, Nak. Kami menemukanmu hanyut di sungai, tubuhmu terluka parah. Sebenarnya apa yang terjadi padamu?"
Dia terdiam. Kepalanya kembali berdenyut, ingatan itu mengabur, tidak menyisakan apa pun selain rasa takut yang menyesakkan. Ia meringis, tangannya menekan pelipis.
"A-aku... tidak ingat."
"Nak, jangan dipaksa kalau masih sakit. Tidak perlu terburu-buru untuk mengingatnya," ujar wanita itu sambil mengusap pucuk kepalanya.
"Apa kau juga tidak ingat namamu?" Pertanyaan itu dijawab dengan gelengan pelan.
Sejenak keheningan menyelimuti mereka bertiga. Lalu pria itu teringat sebuah kalung yang melekat di leher anak itu saat mereka menemukannya.
Pria itu segera membuka laci di samping ranjang, lalu menyerahkan kalung tersebut kepadanya. Anak lelaki itu menerimanya dan menatapnya saksama. Di bagian belakang liontin terukir aksara kecil.
"Karang Nararya..."
Gumamnya pelan saat membaca aksara itu. Entah bagaimana, ia yakin nama itu adalah miliknya.
Melihat keadaan Karang yang masih lemah, mereka tahu sekarang bukan saat yang tepat untuk mencari keluarganya. Lagi pula, dari pakaian yang dikenakannya saat ditemukan, Karang jelas bukan berasal dari lembah Neratha. Bahannya halus dan mewah, sesuatu yang tidak mungkin mereka jumpai di sini.
"Kalau kau tidak keberatan, tinggalah bersama kami. Kau bisa menganggap kami orang tuamu, sampai ingatanmu kembali dan kau bisa mencari asal usulmu."
Karang yang tidak punya tempat untuk kembali akhirnya menyetujui tawaran tersebut. Kehidupan barunya pun dimulai. Entah apa yang menantinya di masa depan.