Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Detektif Tiga Teman Tongkrongan

Detektif Tiga Teman Tongkrongan

Ibrahiman | Bersambung
Jumlah kata
66.1K
Popular
100
Subscribe
4
Novel / Detektif Tiga Teman Tongkrongan
Detektif Tiga Teman Tongkrongan

Detektif Tiga Teman Tongkrongan

Ibrahiman| Bersambung
Jumlah Kata
66.1K
Popular
100
Subscribe
4
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifeTeka-tekiMisteriDetektif
3 detektif remaja dimpin Kaka ,Dulloh dan Miki menyelidiki kasus detektif tiga teman tongkrongan tentang misteri harta Karun pesan dalam botol dan mengungkapnya
Bab 1: Fragmen Kaca di Pelabuhan Mayangan

Pesisir Probolinggo, membawa aroma garam dan sisa-sisa bau ikan dari Pelabuhan Mayangan. Di sebuah kedai kopi pinggiran jalan yang remang, tiga remaja duduk melingkar di meja kayu yang sudah mulai lapuk. Mereka bukan sekadar sekumpulan anak muda yang menghabiskan malam; mereka adalah "Trident Probolinggo", sebuah julukan rahasia yang mereka sematkan pada diri mereka sendiri.

​Tiga Pilar Trident

​Di tengah meja, Kaka duduk dengan punggung tegak. Sebagai pemimpin, Kaka adalah perpaduan antara karisma dan otak yang tajam. Tatapannya selalu tampak sedang menganalisis sesuatu yang tidak dilihat orang lain. Ia jenius dalam hal deduksi, mampu menghubungkan detail kecil menjadi sebuah gambaran besar. Baginya, setiap masalah adalah persamaan matematika yang harus dipecahkan dengan logika dingin.

​Di sisi kanannya, Dulloh sedang memainkan. Probolinggo, membawa aroma garam dan sisa-sisa bau ikan dari Pelabuhan Mayangan. Di sebuah kedai kopi pinggiran jalan yang remang, tiga remaja duduk melingkar di meja kayu yang sudah mulai lapuk. Mereka bukan sekadar sekumpulan anak muda yang menghabiskan malam; mereka adalah "Trident Probolinggo", sebuah julukan rahasia yang mereka sematkan pada diri mereka sendiri.

​Tiga Pilar Trident

​Di tengah meja, Kaka duduk dengan punggung tegak. Sebagai pemimpin, Kaka adalah perpaduan antara karisma dan otak yang tajam. Tatapannya selalu tampak sedang menganalisis sesuatu yang tidak dilihat orang lain. Ia jenius dalam hal deduksi, mampu menghubungkan detail kecil menjadi sebuah gambaran besar. Baginya, setiap masalah adalah persamaan matematika yang harus dipecahkan dengan logika dingin.

​Di sisi kanannya, Dulloh sedang memainkan korek api dengan jemarinya yang kapalan. Dulloh adalah otot dan keberanian tim ini. Memiliki fisik atletis hasil dari membantu ayahnya mengangkat jaring di pelabuhan, ia adalah petarung jalanan yang tangguh. Meski terlihat santai, insting pelindungnya sangat kuat. Jika Kaka adalah otak, maka Dulloh adalah perisai yang siap menerjang siapa pun yang berani mengganggu mereka.

​Terakhir, ada Miki. Wajahnya terus terpapar cahaya biru dari layar laptop tipisnya. Miki adalah penyihir teknologi. Di tangannya, jaringan internet Probolinggo yang lambat pun bisa ia manipulasi untuk mencari informasi yang terkubur dalam. Ia mampu meretas database lokal atau sekadar melacak lokasi seseorang melalui sinyal seluler dalam hitungan menit.

​Penemuan di Bibir Panta

​Angin laut di Pantai Bentar sore itu membawa aroma garam yang tajam, bercampur dengan bau amis bakau yang khas. Matahari, sebuah bulatan oranye yang tampak lelah, mulai turun perlahan di cakrawala Probolinggo, menciptakan bayangan panjang yang mendistorsi realitas di atas pasir hitam. Di bawah cahaya yang kian meredup itu, tiga bayangan remaja tampak bergerak kontras dengan ketenangan ombak Selat Madura.

​Kaka berdiri paling depan. Postur tubuhnya tegak, memberikan impresi seorang kapten yang sedang meninjau dek kapalnya. Sorot matanya tajam dan analitis; ia tidak hanya melihat pantai, ia membacanya. Di sampingnya, Dulloh sedang melakukan pemanasan ringan, otot lengan yang terlatih sebagai atlet lari terlihat menonjol di balik kaus oblongnya yang lembap oleh keringat. Sedangkan Miki, dengan napas yang masih tersengal setelah mengayuh sepeda

melintasi jalur pantura yang padat, sibuk mengelap lensa kacamata tebalnya sambil sesekali melirik layar gawai yang terpasang di kemudi sepedanya.

​"Kau yakin koordinatnya di sini, Mik?" tanya Kaka tanpa menoleh. Suaranya rendah namun penuh wibawa, jenis suara yang membuat orang secara tidak sadar merapikan posisi duduk mereka.

​Miki mengangguk cepat, jemarinya menari di atas layar sentuh. "Menurut analisis data arus laut dua jam terakhir, benda apa pun yang dilemparkan dari arah Gili Ketapang akan terdampar di radius lima puluh meter dari titik kita berdiri sekarang. Akurasinya sembilan puluh dua persen, Ka."

​Dulloh mendengus, bukan karena tidak percaya, tapi karena kegelisahannya yang butuh disalurkan. "Aku tidak peduli soal persentase. Aku hanya ingin tahu kenapa kita harus mencari botol tua di saat orang lain sedang bersantai di alun-alun."

​"Karena botol ini tidak berisi surat cinta remeh, Dul," jawab Kaka datar. Ia melangkah maju, membiarkan air laut yang dingin membasahi ujung sepatunya. "Ini tentang 'harta' yang hilang saat pelarian pengikut Minak Jinggo, atau setidaknya begitulah bunyi desas-desus yang masuk ke kotak pesan Miki."

​Tiba-tiba, mata tajam Kaka menangkap kilatan cahaya di antara akar-akar bakau. Ia memberi isyarat tangan agar kedua temannya berhenti. Atmosfer seketika berubah. Gaya Hitchcockian yang penuh suspensi mulai merayap; keheningan yang mencekam hanya dipecahkan oleh suara kepiting yang bersembunyi di lubang pasir.

​"Dulloh, periksa di bawah akar besar itu. Hati-hati, tanahnya tidak stabil," perintah Kaka.

​Dulloh bergerak dengan ketangkasan seekor macan tutul. Ia melompat melewati genangan air payau dan membungkuk di bawah jalinan akar bakau yang tampak seperti jemari raksasa yang mencoba mencengkeram bumi. Di sana, seteng maju, membiarkan air laut yang dingin membasahi ujung sepatunya. "Ini tentang 'harta' yang hilang saat pelarian pengikut Minak Jinggo, atau setidaknya begitulah bunyi desas-desus yang masuk ke kotak pesan Miki."

​Tiba-tiba, mata tajam Kaka menangkap kilatan cahaya di antara akar-akar bakau. Ia memberi isyarat tangan agar kedua temannya berhenti. Atmosfer seketika berubah. Gaya Hitchcockian yang penuh suspensi mulai merayap; keheningan yang mencekam hanya dipecahkan oleh suara kepiting yang bersembunyi di lubang pasir.

​"Dulloh, periksa di bawah akar besar itu. Hati-hati, tanahnya tidak stabil," perintah Kaka.

​Dulloh bergerak dengan ketangkasan seekor macan tutul. Ia melompat melewati genangan air payau dan membungkuk di bawah jalinan akar bakau yang tampak seperti jemari raksasa yang mencoba mencengkeram bumi. Di sana, setengah terkubur dalam lumpur hitam, terdapat sebuah botol kaca berwarna hijau gelap yang permukaannya telah buram oleh gesekan pasir bertahun-tahun.

Kasus perdana mereka dimulai.

Sore itu,di dekat hutan bakau BJBR (Bee Jay Bakau Resort), Dulloh menemukan sebuah botol kaca berwarna hijau tua.

​"Ketemu!" seru Dulloh.

​Saat Dulloh mengangkat botol itu, sebuah perasaan tidak enak merambat di tengkuk Miki. "Ka, tunggu. Lihat itu," tunjuk Miki ke arah kejauhan, ke jalan raya yang berada di atas tanggul pantai.

​Sebuah mobil sedan hitam tua terparkir di sana. Kaca jendela yang gelap tidak memungkinkan mereka melihat siapa di dalamnya, namun moncong mobil itu menghadap tepat ke arah mereka. Lampu depannya berkedip dua kali—sebuah sinyal yang dingin dan mengancam.

​"Kita tidak sendirian," bisik Kaka. Ia menerima botol itu dari tangan Dulloh. Di dalamnya, sebuah gulungan perkamen tua tampak terikat benang merah yang kusam. "Miki, naik ke sepedamu. Dulloh, bersiap untuk lari. Kita bawa ini ke markas sebelum 'penonton' di atas sana memutuskan untuk turun panggung."

​Kaka tahu, ini bukan sekadar pencarian harta karun biasa. Di Probolinggo, di mana legenda Dewi Rengganis dan pelarian Majapahit masih menghantui sela-sela gunung dan laut, sebuah botol bisa berarti kunci surga atau justru undangan ke liang lahat.

​Dengan satu anggukan tegas, Kaka memimpin mereka kembali ke daratan, sementara mesin sedan hitam di kejauhan mulai menderu pelan, mengikuti mereka seperti predator yang sedang menunggu momentum untuk menerkam.

Lanjut membaca
Lanjut membaca