Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
BURONAN DAN PUTRI YANG DISEMBUNYIKAN

BURONAN DAN PUTRI YANG DISEMBUNYIKAN

RestuAzkiiya | Bersambung
Jumlah kata
64.9K
Popular
316
Subscribe
74
Novel / BURONAN DAN PUTRI YANG DISEMBUNYIKAN
BURONAN DAN PUTRI YANG DISEMBUNYIKAN

BURONAN DAN PUTRI YANG DISEMBUNYIKAN

RestuAzkiiya| Bersambung
Jumlah Kata
64.9K
Popular
316
Subscribe
74
Sinopsis
PerkotaanAksiDunia Masa DepanBalas DendamMengubah Nasib
Leon adalah mantan prajurit elit yang kini menjadi buronan. Bukan karena ia membunuh, melainkan karena ia menyaksikan pembunuhan orang yang ia cintai dari kejahatan yang melibatkan orang-orang berkuasa di Kota Orgon. Sementara dunia memburunya, Freya Alyssa Tamara, putri pemimpin Orgon, justru hidup tersembunyi. Setelah menyaksikan kematian ibunya sendiri, Freya terpaksa dikurung oleh ibu tirinya tanpa ia ketahui apa alasan nya. Ketika pelarian bertemu dengan gadis yang disembunyikan, keduanya menyadari satu hal: kebenaran bukan sesuatu yang boleh hidup di Kota Orgon. Di antara pengkhianatan, trauma, dan perburuan tanpa akhir, Freya harus memilih satu orang untuk dipercaya, seorang buronan yang dunia takutkan.
Darah Di Kamar 307

Lorong hotel itu sunyi.

Terlalu sunyi untuk tempat yang seharusnya pernah hidup. Lampu neon di langit langit berkedip lemah, memantulkan bayangan patah pada tubuh tubuh yang tergeletak di lantai.

Lima orang.

Tak ada yang bergerak.

Darah mengalir membentuk jejak acak, meresap ke sela ubin yang retak. Bau besi menyengat, bau yang hanya dikenal oleh mereka yang pernah berdiri terlalu dekat dengan kematian.

Di ujung lorong, pintu kamar 307 tertutup rapat.

Di dalamnya, seorang pria duduk bersandar di dinding kamar mandi. Napasnya berat namun tertahan, seolah ia tak ingin dunia mendengarnya bernapas.

Leon Sean William.

Usianya dua puluh enam tahun. Rambut hitam nya basah oleh keringat dan darah. Kaos hitamnya robek di sisi perut, sayatan pisau masih basah, merahnya menetes ke lantai keramik.

Leon menatap lukanya tanpa panik.

Tangannya bergerak cepat dan terlatih.

Alkohol dituangkan ke kain perban darurat. Cairan itu menyentuh daging terbuka. Urat di lehernya menegang, rahangnya mengeras.

Namun Leon tidak berteriak.

Rasa sakit adalah sesuatu yang sudah lama ia kenal.

Ia menggigit kain, menarik perban kuat-kuat, mengikatnya dengan satu tarikan singkat. Darah berhenti mengalir. Luka tertutup. Selesai.

Leon mengangkat wajahnya ke cermin buram.

Mata itu dingin. Waspada. Kosong.

Mata seorang pria yang tidak lagi percaya pada dunia.

"Lima tumbang, " Gumamnya pelan.

Bukan kebanggaan. Bukan penyesalan.

Hanya hitungan.

Leon berdiri perlahan, menguji keseimbangan tubuhnya. Perih masih ada, tapi tidak cukup untuk menghentikannya. Tidak setelah semua yang terjadi.

Tangannya meraih jaket hitam di lantai, lalu berhenti pada sebuah liontin kecil yang menggantung di lehernya.

Jari jarinya mengeras.

Dan ingatan itu datang, tajam, menyakitkan, tak pernah pudar.

Malam itu dingin.

Leon berdiri di luar tenda pertemuan tertutup, tersembunyi di balik bayangan kendaraan. Dari kejauhan, ia melihat cahaya lampu putih menerangi bagian dalam tenda.

Di sana, Annie sedang bekerja.

Annie, kekasihnya. Seorang translator. Wajahnya serius, suaranya tenang saat menerjemahkan percakapan antara seorang pejabat Orgon dan orang orang asing yang datang dengan identitas samar.

Leon menunggu.

Ia selalu menunggu seperti itu. Diam. Sabar. Menjaga dari jauh.

Transaksi berlangsung singkat. Terlalu singkat.

Beberapa pria keluar dari tenda lebih dulu. Wajah mereka datar, langkah mereka cepat. Leon merasakan sesuatu yang salah, naluri militernya berteriak.

Lalu Annie muncul.

Baru satu langkah keluar dari tenda...

Sebuah tangan menariknya keras dari belakang.

"ANNIE!" Leon berlari.

Mobil hitam melaju mendadak, pintunya terbuka sekejap sebelum Annie didorong masuk. Teriakan itu teredam deru mesin.

Leon mengejar. Kakinya menghantam tanah, napasnya terbakar. Ia hampir menyentuh bodi mobil itu.

Namun mobil itu terlalu cepat.

Lampu belakang menghilang di tikungan gelap.

Leon berhenti, terengah, tangan mengepal gemetar.

Dan malam itu...

Adalah terakhir kalinya ia melihat Annie hidup.

Keesokan harinya, layar televisi menyala.

"Ditemukan mayat wanita di saluran pembuangan air."

Leon berdiri membeku.

Kamera menyorot wajah yang tak lagi bernyawa. Rambut gelap itu. Liontin yang sama. Luka luka yang tak seharusnya ada.

Annie.

Lalu kalimat berikutnya menghantam lebih keras dari peluru mana pun.

"Tersangka utama: Leon Sean William. Seorang anggota militer."

Nama itu tertera jelas. Wajahnya ditampilkan. Dicoret merah.

Buronan.

Leon menjatuhkan diri ke kursi.

Tidak.

Ini bukan kesalahan.

Ini penjagaan kebohongan.

Rekan rekannya di militer bingung. Sebagian menolak percaya. Mereka mengenalnya, mereka tahu Leon tidak mungkin membunuh wanita yang ia lindungi dengan nyawanya sendiri.

Namun sebagian yang lain.. Percaya pada berita.

Dan perintah.

Nama Leon masuk daftar buruan.

Sejak hari itu, dunia membaginya menjadi dua:

mereka yang ingin membunuhnya,

dan mereka yang memburunya atas nama hukum.

Ingatan itu memudar...

Leon tersadar kembali di kamar mandi hotel. Sirene terdengar samar, semakin dekat.

Ia menggenggam liontin Annie erat erat. "Annie.. Aku berjanji akan menemukan pelaku nya untukmu, dan aku berjanji akan membalaskan apa yang dia perbuat untukmu.." Bisiknya lirih.

Leon meraih tas kecilnya, pisau lipat, beberapa peluru, obat penghilang rasa sakit. Ponsel sudah ia hancurkan. Identitas tak ada.

"Bagus." Ia membuka pintu kamar perlahan.

Lorong masih dipenuhi tubuh tubuh tak bernyawa. Leon melangkah melewati mereka tanpa ragu, seolah kematian adalah bayangan yang selalu mengikutinya.

Di luar, hujan mulai turun.

Leon menatap langit gelap, air hujan bercampur darah di wajahnya.

Ia bukan pahlawan.

Bukan penjahat.

Ia hanyalah seorang saksi yang tidak boleh hidup.

Dan selama kebenaran itu masih bernapas di dalam dirinya,

Leon Sean William akan terus berlari.

Lanjut membaca
Lanjut membaca