
- Jumlah kata
- 117.5K
- Popular
- 163
- Subscribe
- 63
Sinopsis
Di tengah hiruk-pikuk bisnis Jakarta, Rayhan Alamsyah (30 tahun) adalah sosok yang dihindari dan dibenci banyak orang. Seorang CEO muda yang angkuh, tegas, dan tak perduli pada perasaan orang lain — itu yang dilihat orang dari luar. Tapi sedikit yang tahu, di balik topi kepemimpinan dan gedung pencakar langit, tersembunyi cerita tentang seorang anak laki-laki dari keluarga miskin yang harus berjuang sendirian semenjak usia 15 tahun, setelah ayahnya meninggal dan ibunya terjebak utang. Tanpa pendidikan formal yang lengkap, Rayhan mulai dari bawah: bekerja sebagai kurir malam, penjual asongan, hingga akhirnya mendapatkan kesempatan sebagai staf magang di perusahaan teknologi ternama. Setiap hari adalah perjuangan — menghadapi diskriminasi karena latar belakang, menelan penolakan, dan berjuang untuk membuktikan diri. Ia belajar dengan cepat, memanfaatkan setiap kesempatan, dan bahkan mengembangkan ide inovatif yang mengubah arah perusahaan. Namun, ketika ia akhirnya mencapai puncak sebagai CEO, tantangan baru muncul. Saingan bisnis yang licik mencoba merusaknya, rahasia masa lalu yang ia sembunyikan mulai terungkap, dan hatinya yang sudah dibekukan mulai tergerak oleh kehadiran Lina, seorang konsultan sosial yang melihat sisi baik di dalamnya yang terlupakan. Apakah Rayhan akan mampu mempertahankan posisinya dan membangun masa depan yang ia impikan? Ataukah perjuangan masa lalunya akan menghancurkan semua yang telah ia raih, termasuk peluang untuk mencintai dan dicintai?
Ulasan
1 ulasan
duhwiwi
31/12/25 02:26
ceritanya bagus ka,keren banget bab ke bab menjadi penasaran deh,mampir ke novel ku juga ya ka " GANGSTA MA" ,subscribe 🤗👍👍 semangat menulisnya kak
bab 1
Kecerahan matahari pagi yang menyinari lantai marmer gedung Sentra Teknologi Nusantara seolah ingin menyembuhkan luka yang tak terlihat di dada Rayhan Alamsyah. Tangannya memegang kertas lamaran kerja yang sudah dilipat berkali-kali, lipatan-lipatnya seperti peta jalan yang penuh liku yang ia harus lewati. Usianya baru sembilan belas tahun, tapi wajahnya yang keriput karena kelelahan dan mata yang menyembunyikan kegelapan masa lalu membuatnya terlihat lebih tua setahun dua tahun. Baju kemejanya yang sedikit kusut — satu-satunya yang ia punya selain baju kerja kurir — terasa sempit di dadanya, seolah menahan nafas yang penuh harapan dan ketakutan.
“Permisi, mas, mau tanya. Bagaimana caranya masuk ke departemen pengembangan produk?”
Suaranya agak terbatas, seperti orang yang jarang berbicara terlalu banyak. Wanita resepsionis yang mengenakan jas hitam yang rapi mengangkat muka dari layar komputer, matanya melirik Rayhan dari atas kacamata baca. Senyumnya tidak ada, hanya tatapan yang penuh penilaian yang meliputi baju, rambut yang sedikit kusut, dan sepatu kets yang sudah aus di bagian ujung.
“Departemen pengembangan produk cuma menerima magang dari universitas ternama, mas. Kamu ada surat rekomendasi dari kampus?”
Rayhan menggeleng perlahan. “Tidak, Bu. Tapi saya bisa ngoding, saya bisa baca kode, saya bahkan sudah membuat aplikasi sederhana untuk memudahkan penjualan asongan temen saya.” Ia mengeluarkan hp jadul yang bercasing abu-abu, mencoba membukanya dengan jari yang sedikit berdarah karena kecelakaan semalam saat mengantarkan paket. Layarnya terkelupas di sudut, tapi ia tetap bisa membuka file aplikasi yang ia kerjakan sendirian di kamar kontrakan sempit yang harganya sepuluh ribu rupiah sehari.
Wanita resepsionis hanya menghela napas. “Maaf, mas. Aturan itu sudah jelas. Kalau tidak ada surat rekomendasi, tidak bisa masuk. Coba cari kerja lain aja ya, mungkin di warung atau toko.”
Tusukan kata itu seperti pisau yang menusuk hati yang sudah penuh luka. Rayhan mengangkat bahu, menyembunyikan rasa sakit yang terasa. Ia tahu ini bukan kali pertama ia ditolak karena tidak punya gelar. Sejak ayahnya meninggal sembilan bulan yang lalu — tertabrak truk saat bekerja sebagai supir angkutan — kehidupannya berubah total. Ibunya yang sudah sakit parah harus terjebak utang yang mencapai lima puluh juta rupiah karena biaya perawatan ayah, dan Rayhan yang seharusnya sedang duduk di bangku SMA harus putus sekolah untuk mencari uang.
Ia keluar dari gedung dengan langkah yang sedikit melengkung, kaki kiri masih terasa sakit karena terinjak batu semalam. Di luar, orang-orang berjalan cepat dengan jas yang rapi dan tas kerja yang mahal, mereka yang punya masa depan yang jelas, yang tidak perlu khawatir apakah besok akan ada uang untuk membeli nasi. Rayhan menyimpan kertas lamaran kerja ke dalam saku, lalu mengambil hp untuk menelepon Budi, temennya yang bekerja sebagai penjual asongan ikan.
“Gimana, Han? Diterima?” Suara Budi di telepon terasa cemas.
“Tidak, temen. Katanya butuh surat rekomendasi kampus.”
“Dasar orang sombong! Padahal lu pintar banget ngoding. Nanti sore, ayo jualan bareng ya? Hari ini pas hari pasar, pasti laris.”
“Baik, temen. Nanti sore saya dateng.”
Rayhan mematikan telepon dan melangkah menuju trotoar, pikirannya terbang ke masa lalu. Ia ingat saat ayahnya masih ada, mereka sering makan malam bersama di warung samping rumah, ayahnya selalu berkata, “Han, kamu anak yang pintar. Jangan pernah biarkan keadaan menghalangi impianmu. Kamu harus jadi orang yang sukses, jadi orang yang bisa membanggakan keluarga.” Kata-kata itu selalu terngiang di kepalanya, bahkan saat ia tidur di lantai kamar kontrakan yang dingin, bahkan saat ia harus makan nasi bubur saja sehari-hari.
Ia berjalan ke arah pasar yang ada di kejauhan, jalanannya penuh kemacetan dan bau asap kendaraan. Di tengah jalan, ia melihat seorang pria yang mengenakan jas biru muda terjatuh di trotoar, tangannya memegang dada dengan rapat. Orang-orang hanya lewat saja, tak ada yang mau menolong. Rayhan tanpa ragu mendekat, menurunkan badannya di samping pria itu.
“Pak, apa ada yang tidak enak?”
Pria itu mengangkat muka, wajahnya pucat dan berkeringat. “Saya… sakit jantung… ada pil di tas saya…”
Rayhan cepat membuka tas pria itu, mencari pil yang dimaksud. Ia menemukan botol pil kecil di dalam kantong dalam tas, segera memberikannya ke pria itu bersama dengan air yang ia beli dari pedagang minuman di samping. Setelah beberapa menit, kondisi pria itu sedikit membaik.
“Terima kasih, anak muda. Kalau tidak kamu, saya sudah tidak tahu apa yang akan terjadi.” Pria itu melihat Rayhan dengan mata yang penuh rasa terima kasih. “Nama kamu siapa?”
“Rayhan, Pak.”
“Rayhan… bagus nama. Saya Irwan Wijaya, CEO Sentra Teknologi Nusantara.”
Rayhan terkejut. Ia baru saja keluar dari gedung itu, dan orang yang ia bantu ternyata adalah pemiliknya. Irwan melihat baju Rayhan yang kusut dan sepatu kets yang aus, kemudian melihat kertas lamaran kerja yang keluar dari saku Rayhan.
“Kamu mau lamaran kerja di perusahaan saya?”
Rayhan mengangguk dengan ragu. “Ya, Pak. Tapi saya ditolak karena tidak punya surat rekomendasi kampus.”
Irwan tersenyum. “Kamu tahu apa, Rayhan? Gelar penting, tapi lebih penting lagi adalah hati yang baik dan kemampuan yang sebenarnya. Kamu sudah membuktikan kedua hal itu hari ini. Besok pagi, datang ke gedung saya, cari saya di ruang CEO. Saya akan memberimu kesempatan sebagai magang di departemen pengembangan produk.”
Rayhan tidak bisa percaya apa yang ia dengar. Air mata hampir keluar dari mata nya, tapi ia berusaha menahannya. “Terima kasih, Pak. Saya akan bekerja sekeras mungkin.”
“Baiklah, Rayhan. Sekarang, mari saya antar kamu ke tempatmu. Kamu tampak lelah.”
Irwan memanggil supirnya, dan mereka berdua naik ke mobil mewah yang parkir di samping jalan. Rayhan duduk dengan ragu di kursi kulit, merasa tidak pantas berada di tempat semacam itu. Di jalan, Irwan bertanya tentang kehidupannya, dan Rayhan memberitahu segalanya: tentang ayah yang meninggal, ibu yang sakit, utang yang banyak, dan impiannya untuk menjadi orang yang sukses.
“Kamu kuat, Rayhan. Banyak orang yang akan menyerah jika berada di posisimu. Tapi kamu tidak. Itu yang membuatmu spesial.”
Setelah sampai di kamar kontrakan Rayhan, Irwan memberinya selembar kartu nama. “Besok pagi, jam sembilan. Jangan terlambat.”
Setelah Irwan pergi, Rayhan berdiri di depan pintu kamar, masih tidak percaya apa yang baru saja terjadi. Ia melihat ke langit yang sudah mulai gelap, berdoa agar ini bukan mimpi. Ia mengambil hp dan menelepon ibunya yang sedang di rumah sakit.
“Ibu, ada kabar baik. Besok saya akan magang di perusahaan teknologi ternama.”
Suara ibunya di telepon terisak-isak. “Alhamdulillah, Han. Ayahmu pasti bangga padamu.”
Malam itu, Rayhan tidak bisa tidur. Ia menghabiskan waktu untuk mempelajari kode pemrograman yang lebih sulit, ingin mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk hari esok. Ia tahu bahwa kesempatan ini adalah titik balik dalam kehidupannya, bahwa ia tidak boleh menyia-nyiakan nya.
Pagi keesokan harinya, Rayhan bangun lebih awal. Ia mencuci baju kemejanya yang kusut dan mengeringkannya di bawah sinar matahari, lalu memakaikannya bersama dengan celana panjang yang sedikit sempit. Ia berjalan ke gedung Sentra Teknologi Nusantara dengan langkah yang penuh keyakinan, meskipun hatinya masih berdebar-debar. Saat ia sampai di depan pintu ruang CEO, ia mengambil napas dalam-dalam sebelum mengetuk.
“Masuk.”
Irwan duduk di meja yang besar, melihat layar komputer. Ia mengangkat muka saat Rayhan masuk, tersenyum. “Selamat pagi, Rayhan. Siap untuk memulai perjuangan baru?”
Rayhan mengangguk. “Siap, Pak.”
“Baiklah. Saya akan memperkenalkanmu ke Ketua Departemen Pengembangan Produk, Pak Adi. Dia akan membimbingmu. Ingat, Rayhan, kesempatan ini hanyalah awal. Kamu harus bekerja lebih keras dari orang lain untuk membuktikan bahwa kamu pantas berada di sini. Ada banyak orang yang akan meragukanmu, yang akan mencoba menjatuhkanmu. Tapi jangan biarkan itu menghalangimu. Tetap fokus pada impianmu.”
Irwan membimbing Rayhan ke ruang departemen pengembangan produk, di mana beberapa orang yang mengenakan baju kemeja dan celana jeans sedang sibuk bekerja di depan komputer. Pak Adi, seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun dengan rambut yang sedikit putus-putus, melihat Rayhan dengan tatapan yang penuh keraguan.
“Irwan, ini siapa?”
“Ini Rayhan, magang baru kita. Dia akan bekerja di bawah pengawasanmu.”
Pak Adi mengangkat alis. “Tapi Irwan, dia tidak punya gelar universitas. Bagaimana dia bisa mengikuti pekerjaan di sini?”
Irwan menyenyum. “Cobalah berbicara dengannya, Adi. Kamu akan terkejut.”
Pak Adi melihat Rayhan, lalu berkata, “Baiklah. Mari kita uji kemampuanmu. Ada proyek yang sedang kita kerjakan — membuat aplikasi manajemen keuangan sederhana. Bisakah kamu membuat kode untuk fitur pencatatan pengeluaran dalam waktu satu jam?”
Rayhan mengangguk. “Bisa, Pak.”
Pak Adi memberikan dia komputer, dan Rayhan segera mulai bekerja. Jari-jari nya bergerak cepat di atas papan ketik, pikirannya terfokus pada kode yang ia tulis. Selama satu jam, ruangan itu sunyi kecuali bunyi ketukan papan ketik. Saat waktu habis, Rayhan menyelesaikan kode dan menunjukkan nya ke Pak Adi.
Pak Adi membaca kode dengan cermat, matanya semakin melebar. “Ini… ini luar biasa, Rayhan. Kode ini rapi, efisien, bahkan ada fitur tambahan yang saya tidak pikirkan. Bagaimana kamu bisa melakukan ini tanpa pendidikan formal?”
Rayhan tersenyum sedikit. “Saya belajar sendiri, Pak. Dari buku, dari internet, dari mencoba dan salah berkali-kali.”
Pak Adi mengangguk dengan hormat. “Baiklah, Rayhan. Selamat datang di tim kita. Kamu akan bekerja di proyek ini bersama saya dan tim lain. Siap?”
Rayhan mengangguk dengan penuh semangat. “Siap, Pak.”
Pada sore hari, setelah hari pertama bekerja, Rayhan berjalan pulang dengan langkah yang ringan. Matahari sore menyinari wajahnya, memberikan rasa hangat yang ia butuhkan. Ia melihat gedung-gedung pencakar langit di sekitarnya, menyadari bahwa ia telah memulai perjalanan menuju impiannya. Tapi ia juga tahu bahwa perjuangan baru saja dimulai, bahwa ada banyak rintangan yang akan ia hadapi di jalan. Tapi kali ini, ia tidak merasa sendirian. Ia punya kesempatan, punya orang yang percaya padanya, dan punya tekad yang kuat untuk mencapai sukses.
Di rumah kontrakan, ia mengambil hp dan menelepon Budi. “Temen, aku diterima sebagai magang!”
“Wah, keren banget, Han! Ayo kita rayakan malam ini, makan nasi goreng di warung samping rumah!”
“Baik, temen. Nanti saya dateng.”
Rayhan mematikan telepon dan melihat ke langit yang sudah mulai gelap. Bintang-bintang mulai muncul, seolah menyinari jalan yang ia akan lewati. Ia berdoa untuk ayahnya yang sudah di surga, berterima kasih karena telah memberinya kekuatan untuk terus berjuang. Ia tahu bahwa hari ini adalah hari yang ganti segala sesuatu, hari di mana impiannya mulai menjadi kenyataan. Dan ia bersumpah bahwa ia akan bekerja sekeras mungkin untuk membangun masa depan yang baik, untuk membanggakan ayah dan ibunya, dan untuk membuktikan bahwa anak dari keluarga miskin juga bisa menjadi orang yang sukses.
Daftar bab
60 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








