

Pagi itu, suasana Gunung Dempo tampak lebih dingin dari biasanya. Jam delapan pagi, kabut masih memenuhi perkebunan teh. Beberapa kelompok pemetik teh nampak belum berdatangan.
"Srek..."
"Srek..."
Dari arah Kampung Empat Lawang, dua pemuda dengan membawa arit dan cangkul berjalan memasuki perkebunan teh.
"Dimas, kita sekarang ke Blok Tiga?" tanya pemuda yang berjalan di belakangnya.
"Iya, Pak Jaya tadi bilangnya begitu lewat telepon," sahut Dimas, pemuda yang berjalan di depan.
"Katanya di sana banyak ular, karena dekat dengan Pintu Rimba," ucap pemuda yang di belakangnya.
"Katanya sih, tapi, kalau kita hati-hati, tidak akan kenapa-napa," sahut Dimas.
"Ya sih, tapi aku paling takut sama ular," timpal Bowo.
"Kalau ada ular, ya kamu menjauh, jangan didekati," sahut Dimas.
Setelah berjalan beberapa saat, mereka sampai juga di Blok Tiga. Memang, blok itu paling dekat dengan Pintu Rimba, perbatasan antara perkebunan teh dan hutan belantara di Gunung Dempo.
"Nah, kita sampai. Ayo kita mulai kerja. Kalau selesai sebelum tengah hari, kita bisa memancing di Tebat," ucap Dimas memberi semangat.
"Ya, tapi aku di sekitar sini saja, ya. Aku tidak berani ke sana," pinta Bowo sambil melihat hutan belantara yang berkabut dan gelap karena rimbunnya pepohonan besar.
"Iya, kamu selesaikan saja yang di sini. Aku yang akan membersihkan bagian sana," sahut Dimas. Ia berjalan ke arah perbatasan dan mulai membersihkan rumput-rumput di dekat hutan itu.
Beberapa jam mereka membersihkan kebun teh itu dan memetik pucuk daun tehnya sekalian. Kawasan kebun teh Blok Tiga memang jarang dipetik karena selain jaraknya paling jauh, tempat itu juga terdengar angker. Sering orang melihat bayangan Masumai (manusia harimau) di sekitar hutan dekat Blok Tiga itu.
"Grrrrrrr..."
Dimas dan Bowo terdiam saat mendengar geraman binatang buas dari hutan dekat mereka.
"Di... Dimas, su... suara apa tadi?" Bowo yang memang penakut langsung ketakutan. Lututnya gemetar tak bisa dipakai bergerak, seakan terpaku di tempat ia berdiri.
"Puyang (Leluhur), kami hanya membersihkan tempat ini, bukan niat mengganggu," ucap Dimas pelan sambil menatap ke arah asal geraman itu.
Hening.
Tak ada lagi geraman. Udara juga seakan berhenti bergerak di sekitar tempat itu.
"Terima kasih, Puyang," ucap Dimas lagi, lalu melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi.
"Tadi suara apa?" Bowo yang sudah tidak gemetar lagi mendekat dan berbisik pelan.
"Itu Puyang Masumai, kayanya. Dia kira kita sedang merusak alam, jadi dia melihat apa yang sebenarnya sedang kita lakukan," sahut Dimas. Bowo mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya, tetapi kali ini ia bergerak cepat karena ingin segera selesai dan meninggalkan tempat itu.
Gunung Dempo memang masih terkenal dengan legenda manusia harimau atau Masumai sebutan untuk orang-orang di sana. Sosok itu sering menakut-nakuti orang yang berniat merusak alam dan memberi pertolongan pada orang yang tersesat. Mereka sering menampakkan diri dengan wujud manusia, hanya saja tidak memiliki garis lekukan di bawah hidung (filtrum).
Mereka berdua bekerja dengan cepat. Saat matahari telah tinggi dan gema adzan terdengar dari surau yang ada di perkebunan teh, mereka beristirahat sejenak, melepas lelah dan memakan bekal yang mereka bawa.
"Kamu makan apa, Dimas?" tanya Bowo yang melihat Dimas hanya makan ubi rebus.
"Oh, ini singkong rebus. Kamu mau?" sahut Dimas sambil menyodorkan rantang bekalnya.
"Kamu tidak bawa nasi?" tanya Bowo heran.
"Tidak, aku kesiangan jadi tidak sempat masak nasi tadi pagi," jawab Dimas santai. Sebenarnya bukan kesiangan, tetapi berasnya habis tadi malam dan gaji yang hari ini baru akan dibayarkan. Ia bekerja di perkebunan teh yang pembayarannya seminggu sekali, atau lorisan kalau kata orang sana.
"Ini kita bagi dua saja. Aku juga tidak bakal habis makan semuanya," Bowo dengan cepat mengambil rantang bekal milik Dimas. Setelah memindahkan ubi rebus ke wadah lain, ia membagi dua bekalnya.
"Eh, jangan. Nanti kamu tidak kenyang, Wo," cegah Dimas karena merasa tidak enak hati.
"Kalau tidak kenyang, kan ada ubi rebus punya mu, Dimas," sahut Bowo enteng.
"Terima kasih ya, Wo," ucap Dimas merasa sungkan.
"Kamu ini, kaya sama siapa saja. Dah, ayo makan biar cepat pulang. Aku merinding terus rasanya di sini," sahut Bowo.
Setelah makan, mereka kembali melanjutkan pekerjaan mereka. Tepat pukul tiga sore, mereka baru selesai.
"Alhamdulillah, beres juga," ucap Dimas bersyukur karena pekerjaannya selesai.
"Pulang, yuk. Badanku lengket semua, ingin cepat mandi," ajak Bowo yang bajunya basah oleh keringat, begitu juga dengan Dimas.
"Ayo, nanti sore antar aku ke pasar, ya," pinta Dimas.
"Siap," sahut Bowo. Setelah membereskan bekas makan dan peralatan kerjanya, mereka pulang sekalian akan mampir di tempat Pak Jaya untuk mengambil gaji mereka.
"Wah, ramai. Bisa jadi Maghrib ini baru kebagian mengambil uangnya," keluh Bowo saat datang ke kantor Pak Jaya dan melihat banyak orang sedang berdiri mengantre.
"Sepertinya begitu, tapi mau bagaimana lagi. Kan ini memang waktunya gajian," sahut Dimas. Ia duduk di bangku yang ada di dekat sana sambil menunggu gilirannya.
Dimas dan Bowo dipanggil setelah semua orang selesai. Mereka memang sengaja mengambil giliran yang terakhir.
"Dimas, Bowo, ini gaji kalian minggu ini. Juga ada sedikit bonus dari perusahaan karena kalian rajin. Itu ambil karung beras masing-masing satu," ucap Pak Jaya saat Dimas dan Bowo masuk ke dalam ruangan kantornya.
"Terima kasih, Pak," sahut mereka berbarengan, lalu mereka mengambil karung kecil yang berisi beras seberat sepuluh kilogram.
"Sama-sama. Besok kalian bekerja di Blok Delapan, ya, dekat dengan Curup Mangkok. Ada pohon tumbang kemarin," ucap Pak Jaya memberi instruksi.
"Baik, Pak. Besok kami ke sana," sahut Dimas.
Dimas dan Bowo pulang setelah berpamitan. Saat sampai di rumah, adzan Maghrib terdengar berkumandang.
"Dimas, kamu jadi ke pasar?" tanya Bowo. Ia teringat tadi Dimas meminta diantar ke pasar setelah mengambil gaji.
"Sudah malam, besok saja," sahut Dimas. Ia tadinya meminta diantar ke pasar untuk membeli beras, tetapi sekarang ia mendapat bonus beras jadi tidak perlu lagi membeli.
"Baiklah, aku pulang dulu. Nanti malam kita ngopi di sini," ucap Bowo sambil melangkah menuju rumahnya.
Dimas mengangguk dan masuk ke dalam rumahnya. Ia membersihkan diri sebelum memasak untuk makan malam nanti. Kalau untuk lauk pendamping nasi, ia tak pernah ambil pusing. Di belakang rumah tempat tinggalnya, ia menanam sayuran hijau yang bisa dimanfaatkan daunnya seperti sawi, kol, dan singkong.
Tadinya ia berpikir akan sempat memancing, tetapi pekerjaannya baru beres menjelang sore.
Dimas duduk di serambi rumahnya sambil menunggu nasi matang, sementara perutnya sudah berbunyi kelaparan.