
ROJALI SANG PENDEKAR
Sang Naga.|Bersambung
- Jumlah kata
- 212.9K
- Popular
- 83.8K
- Subscribe
- 2.6K
- Jumlah kata
- 212.9K
- Popular
- 83.8K
- Subscribe
- 2.6K
Sinopsis
Di desanya, Rojali hanyalah seorang pemungut kayu bakar miskin. Pakaiannya lusuh, masa depannya muram, dan puncaknya: wanita yang paling ia cintai tega berpaling dan menerima lamaran dari anak Kepala Desa yang kaya raya. Membuat Rojali memutuskan merantau ke kota besar demi mengubah nasib.
Ulasan
5 ulasan
2016519778226544640
16/10/26 13:46
satu bab berapa hari sekali sick...sampai jam segini belum ada ceritanya...emang harus nunggu lama ya...perbabnya
2016519778226544640
9/10/26 07:55
nitip celana ya...tolong jahitin...kalau udah kasih tahu ya...cerita sudah mulai asyiiik.. bosen banget dach
ROJALI.
Matahari sudah condong ke barat, memancarkan warna jingga kemerahan di langit di atas kaki Gunung Sanggabuana.
Waktu menunjukkan sekitar pukul setengah enam sore. Rojali, pemuda berusia dua puluh tahun yang tinggal sebatang kara, duduk di lincak bambu depan rumahnya.
Tangan kanan Rojali memegang sebatang rokok kretek yang asapnya mengepul tipis, sementara tangan kirinya memegang segelas kopi hitam yang mulai mendingin.
Setelah seharian mencari kayu bakar di hutan, ini adalah waktu santai bagi Rojali. Namun, tak lama keheningan sore itu pecah saat suara raungan mesin sepeda motor terdengar dari kejauhan.
Motor itu melaju cepat menyusuri jalanan tanah sepi menuju rumah Rojali yang posisinya memang terpencil dari pemukiman warga lain.
"Jali...!! Gawat, Jal!" teriak pemuda di atas motor itu, bahkan sebelum mesin motornya benar-benar mati.
Pemuda itu menstandarkan motornya dengan terburu-buru dan berjalan cepat menghampiri Rojali. Napasnya terengah-engah.
Rojali menurunkan gelas kopinya. Wajahnya berubah serius melihat kepanikan dari wajah temannya. "Ada apa, Man? Duduk dulu, tenang."
"Jal, aku tadi mendapat informasi jika Hanum besok malam akan dilamar oleh Rendi!" balas Rohman dengan wajah serius dan mata melotot.
Rojali mengerutkan keningnya. Detak jantungnya sempat berhenti sekejap, namun ekspresi wajahnya kembali datar. Ia sama sekali tidak terlihat terkejut.
Hanum adalah wanita cantik kembang desa yang sudah menjadi kekasihnya selama dua tahun terakhir, dan Rendi adalah anak kepala desa yang kaya raya.
"Ya sudah, Man. Biarkan saja," balas Rojali dengan santai. Ia kembali mengisap rokok kreteknya.
"Kamu tidak marah, Jal? Kamu sadar tidak apa yang kamu katakan?" seru Rohman dengan wajah tak percaya, sembari berkacak pinggang di depan Rojali.
"Lalu aku harus bagaimana, Man?" tanya Rojali balik.
"Selama ini kamu sudah banyak berkorban untuk Hanum! Kamu carikan dia kayu bakar, kamu bantu bapaknya di sawah, kamu belikan dia ini itu dari hasil jualan kayu! Sekarang dia mau diambil orang dan kamu biasa saja?" suara Rohman meninggi.
Rojali mengembuskan asap rokoknya perlahan. "Marah juga tidak ada gunanya, Man. Aku siapa dibandingkan dengan Rendi? Rendi punya motor bagus, rumahnya besar, bapaknya kepala desa."
"Wajar kalau Hanum dan orang tuanya memilih Rendi daripada aku yang sebatang kara dan cuma pencari kayu bakar." lanjut Rojali dengan santai.
"Astaga, Jal! Aku benar-benar bingung dengan jalan pikiranmu!" seru Rohman sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa frustrasi.
"Ini kenyataan, Man. Aku tidak punya apa-apa untuk bersaing dengan Rendi," balas Rojali dengan santai.
"Tapi setidaknya kamu datang ke rumahnya! Tanyakan langsung pada Hanum! Jangan pasrah begini!" desak Rohman, dengan wajah serius.
"Untuk apa? Menambah malu diriku sendiri? Tidak usah, Man," jawab Rojali, dengan wajah terlihat sangat santai.
Rohman menghela napas panjang, wajahnya penuh kekecewaan. "Ya sudahlah, aku pulang dulu. Percuma aku buru-buru ke sini, hampir jatuh di belokan depan, tapi responmu cuma begitu. Kamu seperti tidak punya harga diri, Jal."
"Terima kasih sudah memberi tahu, Man. Hati-hati di jalan," ucap Rojali, sembari tersenyum tipis.
"Terserah kamu, Jal!" ujar Rohman sembari berjalan kembali ke motornya dengan wajah sedikit kesal.
Tanpa berlama-lama, Rohman menyalakan mesin motornya. Ia segera langsung pergi meninggalkan rumah Rojali.
Setelah kepergian Rohman, suasana kembali sepi. Rojali menatap gelas kopinya yang tersisa setengah. Ia meminumnya sampai habis dalam sekali tegak. Sifat santai yang ia tunjukkan di depan Rohman mendadak runtuh.
Rojali berdiri, lalu segera masuk ke dalam rumahnya yang sepi dan gelap karena lampu belum dinyalakan. Ia duduk di pinggir tempat tidur tuanya. Dadanya mulai terasa sesak. Rasa kecewa, sedih, dan marah bercampur menjadi satu.
"Apa aku merantau saja, ya?" gumam Rojali dalam hati.
Rojali memandangi sekeliling kamar yang kosong. "Hanum sudah mengkhianatiku. Hubungan dua tahun ternyata kalah dengan harta anak kepala desa. Aku juga sudah tidak punya siapa-siapa di desa ini yang bisa aku pertahankan. Orang tuaku sudah meninggal, rumah ini juga sudah tua."
Rojali berdiri dari tempat tidur. Rahangnya mengencang. Rasa marah yang sejak tadi ia tahan di depan Rohman kini meluap sepenuhnya. Ia merasa sangat terhina oleh pengkhianatan Hanum dan keluarganya.
Rojali berjalan cepat menuju dapur. Di sudut ruangan, terdapat sebuah golok panjang yang biasa ia gunakan untuk menebang pohon di hutan. Golok itu sangat tajam karena selalu ia asah setiap hari.
Rojali mengambil golok itu, menggenggam gagangnya erat-erat hingga urat-urat di tangannya menonjol.
"Sialan! Kenapa harus aku yang mengalami ini?!" umpat Rojali dengan suara bergetar.
Dengan langkah lebar dan penuh amarah, Rojali berjalan keluar dari rumah. Ia menuju ke arah samping rumah, tempat di mana terdapat rumpun bambu yang lebat dan rimbun, tidak jauh dari pembatas tanahnya dengan hutan.
Langit sudah semakin menggelap, jam menunjukkan hampir pukul enam sore. Suara jangkrik mulai bersahutan. Rojali berdiri di depan rumpun bambu yang bergoyang pelan ditiup angin sore.
"Kalian semua sama saja! Tidak ada yang bisa dipercaya!" teriak Rojali pada malam yang mulai datang.
Srakkk!
Rojali mengayunkan goloknya dengan sekuat tenaga ke arah salah satu batang bambu. Batang bambu yang cukup tebal itu langsung terputus setengah.
"Kenapa Hanum?! Kenapa?!" teriak Rojali dengan wajah kesalnya..
Srakkk! Srakkk!
Rojali menebas batang bambu lainnya berulang-kali. Potongan-potongan ranting dan daun bambu berjatuhan di sekitarnya.
Napas Rojali memburu, keringat dingin mulai membasahi dahinya meskipun udara sore itu cukup sejuk.
Rojali melampiaskan seluruh rasa sakit hati, amarah, dan kekecewaannya karena dikhianati oleh kekasih yang teramat ia cintai pada rumpun bambu tersebut.
Setiap tebasan golok Rojali terdengar keras di tengah kesunyian malam yang mulai turun di kaki Gunung Sanggabuana.
"Aku kurang apa selama ini?! Aku bekerja dari pagi sampai malam untuknya!" teriak Rojali sambil terus mengayunkan goloknya tanpa henti.
Setelah menebas sekitar lima batang bambu besar, Rojali mulai merasa lelah. Tangan kanannya yang memegang golok gemetar hebat.
Rojali menunduk, bertumpu pada lututnya sembari mengatur napasnya yang terengah-engah. Kemarahannya perlahan mereda, menyisakan rasa lelah yang teramat sangat.
Rojali mendongak, bersiap untuk melempar goloknya ke tanah. Namun, gerakan tangannya mendadak terhenti. Di tengah-tengah rumpun bambu, ia melihat ada sesuatu yang aneh.
Tepat di bagian tengah rumpun bambu yang paling lebat, tersembunyi di balik sisa-sisa batang yang tegak, Rojali melihat sebuah cahaya.
Cahaya itu berwarna putih keperakan, memancar terang dari salah satu cabang batang bambu bagian tengah yang belum sempat ia tebas.
Cahaya tersebut tidak terlalu besar, namun sangat kontras dengan sekelilingnya yang kini sudah mulai gelap gulita.
Rojali menurunkan goloknya perlahan. Ia mengerutkan kening, menatap lurus ke arah sumber cahaya misterius yang berada di tengah-tengah rumpun bambu tersebut.
"Apa aku tidak salah lihat? Itu sepertinya Bambu Petuk!" gumam Rojali dalam hati.
Daftar bab
199 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
199 bab








