
Pemburu Bayangan Dari Arkhavel
Avryna Wandhansari|Bersambung
- Jumlah kata
- 12.8K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
- Jumlah kata
- 12.8K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
Sinopsis
Langit Arkhavel berwarna merah kehitaman saat pria itu berdiri di atas bangkai makhluk yang bahkan tak punya nama dalam bahasa manusia. Pedangnya meneteskan cairan hitam kental. Bukan darah. Sesuatu yang lebih busuk. Ia menghela napas pelan. “Kontrak selesai,” gumamnya dingin. Namanya Kael Varyn—seorang pemburu bayangan. Bukan manusia biasa. Bukan pula sepenuhnya monster. Ia adalah sesuatu di antaranya… sesuatu yang dibentuk oleh rasa sakit, ramuan, dan takdir yang tidak pernah ia pilih. Di dunia ini, orang-orang takut pada monster. Namun mereka lebih takut pada Kael.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1 : Kota Yang Membusuk
Kabut turun seperti kutukan yang tak pernah diangkat.
Ia menggantung rendah di atas jalanan berbatu kota Velmora, merayap di sela-sela bangunan reyot, masuk ke celah jendela, dan menetap di paru-paru siapa pun yang cukup sial untuk menghirupnya terlalu dalam. Bau busuknya tidak hanya berasal dari sungai yang menghitam di sisi kota—tetapi dari sesuatu yang lebih dalam, lebih tua… sesuatu yang telah lama mati, namun menolak untuk benar-benar lenyap.
Langkah kaki terdengar pelan di antara kabut.
Sepasang sepatu bot kulit yang telah melewati terlalu banyak perjalanan menapaki jalanan itu tanpa ragu. Pemiliknya tidak terburu-buru, namun juga tidak santai. Setiap langkahnya terukur, seperti seseorang yang terbiasa berjalan di antara bahaya.
Mantel panjang berwarna gelap membungkus tubuhnya, basah oleh embun malam. Di punggungnya, tersampir pedang panjang dengan sarung yang telah tergores di banyak tempat—tanda bahwa senjata itu bukan sekadar pajangan.
Pria itu berhenti sejenak di depan gerbang kota Velmora.
Penjaga yang berdiri di sana menegang.
Mereka saling bertukar pandang sebelum salah satu dari mereka akhirnya bersuara.
“Kau… mau masuk?”
Pria itu mengangkat sedikit kepalanya.
Matanya terlihat di balik bayangan tudung. Pucat. Tajam. Tidak sepenuhnya manusia.
“Aku tidak berdiri di sini untuk menikmati kabut,” jawabnya datar.
Penjaga itu menelan ludah.
“Nama?”
Hening sesaat.
Seolah pertanyaan itu tidak penting.
Namun akhirnya, pria itu menjawab.
“Kael.”
Hanya itu.
Tanpa nama belakang. Tanpa penjelasan.
Penjaga itu ragu, tetapi sesuatu dalam tatapan Kael membuatnya memilih untuk tidak bertanya lebih jauh.
Gerbang terbuka dengan bunyi berderit panjang.
Dan Kael Varyn melangkah masuk ke kota yang perlahan membusuk dari dalam.
Velmora bukan kota yang benar-benar mati.
Namun juga tidak hidup.
Lampu-lampu minyak menggantung di sepanjang jalan, nyalanya redup dan bergetar seperti napas terakhir seseorang yang sekarat. Orang-orang masih berjalan, masih berbicara, masih menjalani kehidupan mereka—tetapi ada sesuatu yang hilang dari mata mereka.
Harapan.
Kael memperhatikan semuanya tanpa benar-benar melihat.
Ia tidak datang untuk memahami kota ini.
Ia datang untuk bekerja.
Bisikan mulai terdengar bahkan sebelum ia mencapai pusat kota.
“Itu dia…”
“Pemburu bayangan…”
“Kenapa dia di sini…?”
Beberapa orang mundur perlahan saat ia lewat. Yang lain menatapnya dengan rasa ingin tahu bercampur takut.
Seorang anak kecil bahkan menangis ketika mata mereka bertemu.
Kael tidak bereaksi.
Ia sudah terbiasa.
Bagi orang-orang seperti mereka, ia lebih dekat dengan monster daripada manusia.
Dan mungkin… mereka tidak sepenuhnya salah.
Papan pengumuman kota berdiri di dekat alun-alun.
Kayunya lapuk, penuh paku berkarat dan kertas-kertas usang yang menempel tak beraturan. Beberapa di antaranya berisi tawaran kerja. Sebagian lagi… hanya peringatan.
Atau doa.
Kael berdiri di depannya, membaca cepat.
Pekerjaan kecil.
Hilangnya ternak.
Pencuri.
Tidak ada yang menarik.
Lalu ia menemukannya.
Selembar perkamen yang lebih baru dari yang lain.
“Dicari: Pembasmi makhluk di distrik bawah.
Korban terus berjatuhan.
Bayaran: 300 koin perak.”
Kael menatapnya lebih lama dari yang lain.
Terlalu kecil.
Untuk sesuatu yang “terus memakan korban”, angka itu berarti satu hal—entah pemberi kontrak tidak punya uang… atau mereka tidak tahu apa yang sebenarnya mereka hadapi.
Atau… mereka sengaja menyembunyikannya.
Kael mencabut perkamen itu.
“Kalau kau pikir itu pekerjaan mudah, kau salah.”
Suara itu muncul tanpa peringatan.
Kael tidak langsung menoleh.
Ia sudah tahu seseorang mendekat.
“Kalau kau pikir aku butuh penilaianmu,” jawabnya tenang, “kau juga salah.”
Baru kemudian ia menoleh.
Seorang wanita berdiri beberapa langkah darinya.
Rambutnya hitam panjang, jatuh seperti bayangan di bahunya. Matanya tajam, dengan kilatan sesuatu yang sulit dijelaskan—bukan sekadar keberanian, tetapi juga kecerdikan… dan bahaya.
Ia tidak tampak takut.
Itu saja sudah cukup menarik.
“Aku tidak menilai,” katanya ringan. “Aku hanya memberi peringatan.”
Kael mengamatinya dari atas ke bawah.
Pakaiannya bukan milik warga biasa. Terlalu rapi, terlalu… disengaja. Ada sesuatu tentangnya yang terasa tidak selaras dengan kota ini.
“Kau tahu sesuatu,” kata Kael.
Bukan pertanyaan.
Wanita itu tersenyum tipis.
“Lebih dari yang seharusnya.”
“Harga informasimu?”
“Tidak murah.”
Kael mengalihkan pandangannya kembali ke perkamen.
“Kalau begitu, simpan saja.”
Ia berbalik.
Namun suara wanita itu kembali menghentikannya.
“Itu bukan monster biasa.”
Kael berhenti.
Hanya sepersekian detik.
“Semua monster tidak biasa,” katanya akhirnya.
“Tidak seperti ini.”
Hening.
Kabut di sekitar mereka terasa lebih tebal.
Wanita itu melangkah mendekat.
“Makhluk itu tidak hanya membunuh,” lanjutnya pelan. “Ia… berubah.”
Kael perlahan menoleh.
Untuk pertama kalinya, ada sedikit ketertarikan di matanya.
“Berubah?”
“Seperti… belajar,” jawab wanita itu. “Seperti manusia.”
Itu membuat Kael diam lebih lama.
Lalu ia berkata:
“Namamu.”
“Lyra.”
Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan—
“Lyra Valen.”
Kael mengangguk kecil.
“Kael.”
“Aku sudah tahu.”
Itu tidak mengejutkannya.
Orang-orang seperti dia jarang datang tanpa meninggalkan jejak.
“Kalau kau benar,” kata Kael, “aku akan menemukan jawabannya sendiri.”
Lyra mengangkat alis.
“Dan kalau aku salah?”
Kael menatapnya datar.
“Kalau kau salah… kau masih hidup.”
Ia pergi tanpa menunggu jawaban.
Dan untuk alasan yang tidak ia pahami, Lyra tersenyum melihat punggungnya menghilang dalam kabut.
Malam turun lebih cepat di Velmora.
Atau mungkin… matahari memang tidak pernah benar-benar terbit di kota ini.
Distrik bawah terletak di sisi terendah kota, dekat dengan sungai yang telah lama mati. Airnya hitam pekat, mengalir lambat seperti darah yang membeku.
Rumah-rumah di sana berdiri miring, sebagian hampir roboh. Jendela-jendelanya tertutup rapat, seolah penghuninya berharap bisa menghalau sesuatu yang mengintai di luar.
Kael berjalan di antara mereka.
Sunyi.
Terlalu sunyi.
Tidak ada suara langkah.
Tidak ada suara manusia.
Hanya…
Gemericik air hitam.
Dan sesuatu yang lain.
Sesuatu yang hampir tidak terdengar.
Kael berhenti.
Tangannya perlahan bergerak ke gagang pedang.
Ia menarik napas.
Udara di sini… berbeda.
Lebih berat.
Lebih… hidup.
Sebuah suara muncul dari lorong sempit di sebelahnya.
Gemeretak.
Seperti tulang yang dipaksa bergerak.
Kael tidak menunggu.
Ia mencabut pedangnya.
Bilahnya memantulkan cahaya redup lampu minyak.
“Keluar,” katanya dingin.
Hening.
Lalu…
Ia muncul.
Makhluk itu merangkak keluar dari kegelapan seperti mimpi buruk yang menjadi nyata.
Tubuhnya panjang dan tidak proporsional. Kulitnya tampak seperti daging yang telah membusuk namun masih dipaksa menyatu. Tangannya terlalu panjang, jari-jarinya berakhir dengan kuku tajam yang tampak seperti pecahan tulang.
Wajahnya—
Jika itu masih bisa disebut wajah—
Seperti manusia yang dilelehkan.
Mulutnya terbuka terlalu lebar.
Dan matanya…
Kosong.
Namun tidak benar-benar mati.
Kael tidak bergerak.
Ia hanya mengamati.
Makhluk itu berhenti beberapa langkah darinya.
Lalu… tersenyum.
Suara yang keluar dari tenggorokannya bukanlah suara yang seharusnya dimiliki makhluk hidup.
“Manusia…”
Kael mengencangkan cengkeramannya pada pedang.
“Banyak yang mencoba berbicara sebelum mati,” katanya.
Makhluk itu tertawa.
Suara yang membuat udara terasa retak.
“Dan banyak… yang gagal membunuh.”
Tanpa peringatan, makhluk itu menyerang.
Cepat.
Terlalu cepat untuk ukuran tubuhnya.
Namun Kael lebih cepat.
Pedangnya berayun.
Satu tebasan bersih.
Lengan makhluk itu terputus.
Namun—
Tidak ada darah.
Hanya cairan hitam yang merembes keluar seperti tinta.
Makhluk itu tidak menjerit.
Ia hanya… memiringkan kepalanya.
Lalu, sesuatu yang mustahil terjadi.
Daging di bahunya bergerak.
Menggeliat.
Dan perlahan…
Membentuk kembali lengannya.
Kael mundur satu langkah.
Matanya menyipit.
“Menarik.”
Makhluk itu tersenyum lebih lebar.
“Belajar…”
Dan ia menyerang lagi.
Pertarungan berlangsung singkat.
Namun brutal.
Kael menyerang, memotong, menghindar.
Namun setiap luka yang ia berikan… sembuh.
Setiap kelemahan yang ia temukan… menghilang.
Makhluk itu beradaptasi.
Belajar.
Menjadi lebih cepat.
Lebih kuat.
Lebih… berbahaya.
Untuk pertama kalinya malam itu—
Kael mundur.
Bukan karena takut.
Tapi karena memahami satu hal.
Ini bukan perburuan biasa.
Ini adalah sesuatu yang lebih buruk.
Dan untuk membunuhnya…
Ia harus memahami apa yang sebenarnya ia hadapi.
Makhluk itu tidak mengejarnya.
Ia hanya berdiri di sana.
Mengamati.
Seperti Kael mengamatinya.
Dua pemburu.
Saling menilai.
Lalu Kael berbalik.
Dan menghilang ke dalam kabut.
Di belakangnya, makhluk itu tertawa pelan.
Seolah tahu—
Ini baru permulaan.
Saat Kael kembali ke pusat kota, luka di lengannya sudah mulai mengering.
Namun rasa sakitnya… tidak.
Ia duduk di bangku kayu tua di dekat alun-alun.
Tanpa berkata apa pun.
Tanpa memanggil siapa pun.
Namun seperti sebelumnya—
Ia tidak perlu.
“Aku tahu kau akan kembali.”
Lyra berdiri di sana, bersandar santai pada tiang lampu.
Kael tidak menatapnya.
“Itu bukan monster,” katanya.
Lyra mengangguk.
“Aku juga tahu.”
Hening.
“Kau tahu apa itu?” tanya Kael.
“Belum,” jawab Lyra. “Tapi aku tahu siapa yang mungkin membuatnya.”
Kael akhirnya menoleh.
Dan untuk pertama kalinya malam itu—
Ada sesuatu di matanya.
Bukan dingin.
Bukan tenang.
Tapi…
Ketertarikan.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “kita punya pekerjaan yang sama.”
Lyra tersenyum.
Dan di kota yang membusuk itu—
Dua orang yang tidak seharusnya bertemu…
Baru saja memulai sesuatu yang akan mengubah segalanya.
Daftar bab
11 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








