
TABIB TAMPAN IDOLA WANITA
Mitragyna|Bersambung
- Jumlah kata
- 73.7K
- Popular
- 2.5K
- Subscribe
- 266
- Jumlah kata
- 73.7K
- Popular
- 2.5K
- Subscribe
- 266
Sinopsis
Hidup miskin, cinta dihina, teman mengkhianati—seorang pemuda tak punya apa-apa selain tekad untuk mengubah nasibnya bersama sang ibu. Hingga sebuah kitab kuno yang ditemukan di perpustakaan membangkitkan peluang luar biasa! Sejak saat itu, ia bangkit membalas penghinaan, menaklukkan hati para wanita, menguasai dunia bisnis, dan menghadapi pertarungan sengit demi meraih kejayaan!
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB 1. REUNI
Malam itu, sebuah hotel di sebuah kota kecil tampak ramai. Sebuah acara reuni SMA sedang berlangsung di ballroom hotel tersebut.
Para alumni datang dengan pakaian rapi. Sebagian besar membawa pasangan, mengendarai mobil bagus, dan berbicara tentang pekerjaan serta kehidupan mereka setelah lulus.
Di antara mereka, seorang pemuda berusia 21 tahun bernama Widodo Cahyo datang dengan pakaian sederhana.
Widodo tinggal di kampung bersama ibunya. Untuk menghadiri reuni itu saja, ia sebenarnya tidak mempunyai uang.
Beberapa hari sebelumnya, Budi yang merupakan anak orang kaya di kota itu menghubunginya.
“Do, kau datang ke reuni, ya.”
“Gak punya uang aku Bud?”
“Sudah, aku yang bayarkan.”
“Serius?”
“Iya. Anggap saja aku yang mentraktir. Kitakan teman lama”
Widodo tersenyum. “Terima kasih, Bud. Kalau begitu aku datang.”
Widodo sama sekali tidak mengetahui niat sebenarnya Budi. Budi sengaja membayar biaya reuni Widodo agar malam itu ia mempunyai seseorang untuk dijadikan bahan bully dan hinaan.
Begitu Widodo memasuki ballroom, Budi langsung berteriak. “Woi, woi! Widodo datang!”
Beberapa orang menoleh. “Wah, benar Widodo.. Rambutnya Coi belah samping!”
"Hahahhahha"
Widodo tersenyum polos lalu berjalan menghampiri teman-temannya. “Budi.”
Ia menyalami Budi.
Kemudian menyalami Reno. “Reno, apa kabar?”
“Baik.”
Widodo berpindah ke orang berikutnya. “Dimas, sehat?”
“Sehat.”
Ia terus menyalami teman-temannya satu per satu. Ketika sampai di depan Anton, Anton langsung tertawa.
“Do... macam tahlilan aja kau. Nyamperin orang satu-satu sambil salaman.”
Tawa langsung pecah.
Widodo hanya tersenyum. “Hahaha..Namanya juga ketemu teman lama prend”
“Ya ampun, masih polos saja kau.”
Widodo kemudian menghampiri seorang teman perempuan bernama Weni.
“Hai, Weni.” Ia mengulurkan tangan.
Weni menyambutnya.“Hai, Do.”
Belum sempat tangan mereka terlepas, Budi langsung berseru.
“Cieee... Weni!”
Semua orang menoleh.
Budi menyeringai. “CLBK nih ye!”
Weni langsung berteriak, “Najis!”
“HAHAHAHA!”
Tawa meledak di seluruh meja.
Widodo hanya menghela napas. “Bud. Gitu ya??”
“Kenapa? Aku cuma bercanda.”balas Budi sambil tersenyum merekah
Weni tertawa sambil menggeleng. “Widodo, jangan dekat-dekat aku. Nanti dibilang CLBK lagi.”
Widodo mengangkat kedua tangannya. “Tenang, aku juga tidak mau.”
Tawa kembali terdengar.
Widodo berusaha ikut tertawa meskipun hatinya mulai terasa tidak nyaman. Ia baru saja hendak duduk ketika Anton tiba-tiba berseru. “Do!”
Widodo menoleh. “Apa?”
“Kau kan belum duduk.”
“Iya.”
“Ambilkan dulu buah di sana buat kita makan di sini.”
Anton menunjuk meja makanan.
Widodo tersenyum. “Buah apa?”
“Yang campur saja.”
Widodo berdiri. Baru beberapa langkah berjalan, Budi menambahkan, “Do!”
Widodo menoleh lagi.
“Sekalian empat gelas air mineral.”
“Baik.”
Reno tertawa. “Do, sekalian ambilkan aku pisang.”
Dimas ikut menyahut.“Aku apel Do”
Anton tertawa. “Jangan lupa buah naga!”
Widodo mengangguk. “Iya, iya.”
Ia mengambil buah dan empat gelas air mineral. Saat kembali, Anton langsung menyambut. “Nah, begitu dong.”
Widodo meletakkan buah di meja.“ Nih. Sudah belum. Aku mau duduk nih.”
“Airnya?”
“Ini.”
“Terima kasih, Do.”
Widodo hendak duduk.
Namun Reno berkata, “Do, ambilkan tisu sekalian.”
Widodo berhenti. “Tisunya di sana, kan?”
“Iya. Sekalian saja.”
Widodo tersenyum tipis. “Ya sudah.”
Ia mengambil tisu. Setelah kembali, barulah ia duduk.
Beberapa saat mereka makan dan berbicara. “Do, sekarang kerja apa?” tanya Dimas.
“Serabutan Mas. Apa aja yang penting cair ”
“Masih di kampung?”
“Iya.”
Budi tertawa. “Ke kota aja Do”
Widodo semangat "Kerja apa Bud ?"
"Ngamen di lampu merah"
Tawa meledak lagi. Widodo akhirnya sadar ternyata Budi membayarkanya reuni hanya untuk menghinanya
Sekitar setengah jam kemudian, pembawa acara meminta semua alumni memperhatikan panggung.
“Teman-teman, sebentar lagi dua guru kita akan tiba. Mohon ada yang menjemput di depan hotel.”
Budi langsung menunjuk Widodo. “Do, kau saja.”
Widodo menoleh. “Aku. Ayuklah Bud kita berdua”
“Gak kau saja. Jemput Pak Hendra sama Bu Ratna.”
Anton tertawa. “ Sudahlah Do Buruan .”
Widodo hanya menghela napas kecil. “Baiklah.”
Ia berdiri dan berjalan menuju lobi. Beberapa menit kemudian sebuah mobil berhenti di depan hotel.
Pak Hendra dan Bu Ratna turun. “Widodo?”
Widodo tersenyum. “Iya, Pak. Saya disuruh menjemput Bapak dan Ibu.”
Pak Hendra tertawa kecil. “Wah, terima kasih.”
“Biar saya bawakan barangnya, Bu.”
“Tidak usah, Do.”
“Tidak apa-apa.”
Widodo membawa barang mereka sampai ke ballroom.
Acara kemudian berlanjut.Pembawa acara berkata, “Sekarang kita memasuki sesi pemberian hadiah kepada dua guru kita, Pak Hendra dan Bu Ratna.”
Tepuk tangan terdengar.
Satu per satu siswa maju.
Reno memberikan jam tangan Swiss “Pak, ini untuk Bapak.”
Pak Hendra tersenyum. “Wah, terima kasih.”
Dimas memberikan tas kulit asli buatan Italia kepada Bu Ratna. “Semoga Ibu suka.”
“Terima kasih, Dimas.”
Anton maju membawa televisi layar besar.
“Pak, semoga bisa dipakai di rumah.”
Siswa berikutnya, Raka, memberikan ponsel pintar premium terbaru
Siswa kelima, Weni, memberikan set perhiasan emas kepada Bu Ratna.
Siswa keenam, Fajar, memberikan laptop terbaru
Siswa ketujuh, Kevin, memberikan kamera profesional
Siswa kedelapan, Andre, memberikan voucher liburan untuk dua orang.
Tepuk tangan kembali bergemuruh.
Budi kemudian tersenyum jahil. Ia kemudian melihat Widodo. “Do, kau bawa hadiah?”
Widodo mengangguk. “Ada.”
“Apa?”
Widodo mengambil sebuah bungkusan sederhana. “Aku membuat sendiri.”
Nama Widodo kemudian dipanggil. Widodo maju ke depan. Ia membuka bungkusan tersebut dan menyerahkan sebuah tas anyaman buatan tangannya sendiri kepada Pak Hendra. “Pak, hanya ini yang bisa saya beeikan”
Pak Hendra menerima tas itu dengan kedua tangan. “Terima kasih, Widodo.”
Budi langsung tertawa. “HAH? Tas anyaman?”
Reno ikut tertawa. “ Kau kira pak Hendra nyabung ayam Do kau kasi tas anyaman?”
Tawa meledak. Widodo menghela napas sambil memejamkan matanya. Widodo lalu mengepalkan tangannya.
Namun Pak Hendra justru memeluk tas itu.“Bapak suka.”
Budi terdiam.
Pak Hendra melihat Widodo. “Kau membuat sendiri?”
“Iya, Pak.”
“Berapa lama?”
“Dua hari.”
Pak Hendra tersenyum. “Berarti dua hari kau mengerjakannya hanya untuk memberikan hadiah kepada Bapak?”
Widodo mengangguk. “Iya.”
Pak Hendra menepuk bahunya. “Terima kasih, Do.”
Bu Ratna kemudian mendekati Widodo. Ia menggenggam tangannya dan berbisik pelan. “Do... tetap sabar dan semangat menjalani hidup.”
Widodo menatap gurunya.
Bu Ratna tersenyum. “Jangan merasa rendah hanya karena keadaanmu sekarang.”
Mata Widodo mulai terasa panas. Ia menunduk agar tidak ada yang melihat. “Iya, Bu.”
“Jangan menyerah.”
Widodo mengangguk. “Saya tidak akan menyerah.”
Namun jauh di dalam hatinya, kata-kata hinaan teman-temannya malam itu terus berputar.
"Tidak punya uang."
"Tidak pantas memberi hadiah."
"Ngamen di lampu merah"
Ia kembali ke kursinya. Tidak ada yang tahu bahwa di balik senyum kecilnya, ada luka yang sudah lama ia simpan.
Luka karena selalu merasa kurang.
Kurang kaya.
Kurang berhasil.
Kurang berharga.
Tanpa terasa acara reuni pun berakhir. Saat Widodo menyalami Bu Ratna. Bu Ratna berkata " Do kalau kamu mau, ibu usahakan kamu kerja di perpustakaan desa. Gajinya dua juta perbulan. Kerjanya masuk pagi bersih bersih setelah itu kamu boleh pulang. Sorenya jam 4 kamu beres beres lagi sampe jam 5 baru pulang"
"Mau Bu"jawab Widodo tanpa berpikir
" Lusa pagi temui ibu disana"
"Baik Bu”
Daftar bab
72 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








