
Kalung Antik, Pemikat Wanita Cantik
WinZu|Bersambung
- Jumlah kata
- 47.8K
- Popular
- 3.5K
- Subscribe
- 393
- Jumlah kata
- 47.8K
- Popular
- 3.5K
- Subscribe
- 393
Sinopsis
Riyan, pria yang selalu dipandang rendah, bahkan ditinggal kekasihnya karena miskin. Tiba-tiba mendapatkan kalung antik dari seorang nenek misterius. Sejak saat itu hidup Riyan menjadi lebih beruntung dalam mencari rejeki, sekaligus menjadi idaman para wanita.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1 Tawaran Gila Si Janda Muda
"Ngapain kamu ke sini, Riyan? Malu-maluin tahu nggak?!" bentak Maya tanpa peduli pandangan pengunjung lain di kafe.
"Aku cuma mau nganterin uang tabungan ini, Maya. Uang DP katering pernikahan kita bulan depan. Aku narik ojek dari subuh sampai malam setiap hari buat ngumpulin ini," jawab Riyan sambil merogoh saku jaketnya, mengeluarkan amplop cokelat tebal yang agak lembap.
"Pernikahan? Maya belum cerita sama lo, Yan?" sahut Satya, pria berkemeja rapi dengan jam tangan berkilau yang sedang duduk di samping Maya, pewaris tunggal dari seorang pengusaha terkenal.
Maya menggebrak meja hingga cangkir porselen di atasnya berdenting keras.
"Gak usah halu kamu, Riyan! Pernikahan apa? Buka mata kamu! Aku udah muak hidup menderita sama lelaki tidak berguna kayak kamu!" seru Maya, menunjuk dada Riyan dengan tatapan tajam dan penuh kebencian.
"Tapi Maya... kita udah rencanain ini lima tahun. Aku kerja keras buat kamu…" sahut Riyan.
"Kerja keras kamu itu sampah! Lima tahun aku buang-buang waktu cuma dapat janji manis dan bau bensin! Kamu itu cuma tukang ojek miskin yang gak punya masa depan! Sabtu depan aku tunangan sama Satya, dan kamu gak usah muncul lagi di depan muka aku!" potong Maya melengking, sama sekali tak memberi ruang bagi Riyan untuk membela diri.
Satya melempar beberapa lembar uang ratusan ribu ke meja, tepat di depan amplop kusam Riyan.
"Ambil ini buat ongkos pulang. Lo itu cuma tukang ojek, Yan. Jangan mimpi bisa ngasih kehidupan layak buat Maya. Sadar diri," ucap Satya dengan tertawa.
Riyan menatap amplop cokelat di tangannya, lalu memandang Maya yang menatapnya penuh ancaman dan hinaan.
Merasa harga dirinya diinjak-injak, Riyan lantas membalikkan badan tanpa menyentuh uang Satya.
Di atas motor tua yang menjadi satu-satunya sumber penghidupannya, Riyan meremas setang erat-erat. Pikirannya kacau, dadanya sesak mengingat cacian Maya yang terus berputar seperti kaset rusak.
Saat hampir sampai di gang menuju rumah kosnya, lampu sorot mobil mewah melintas, melibas genangan air. Di saat yang sama, Riyan melihat bayangan seorang nenek tua yang berjalan menyusuri penyeberangan jalan dengan langkah ringkih.
Mobil itu sama sekali tak melambatkan kecepatannya dan hanya membunyikan klakson panjang yang memecah keheningan malam.
"Nenek, awas!"
Tanpa berpikir panjang, Riyan membanting setang motornya ke pinggir jalan dan melompat. Dengan sisa tenaga yang ada, dia mendorong tubuh nenek itu hingga keduanya berguling ke trotoar, tepat sedetik sebelum mobil itu melintas dengan kecepatan tinggi dan menghilang di kegelapan.
Napas Riyan terengah-engah. Aspal dingin menyapa kulitnya yang lecet.
"Nenek... Nenek nggak apa-apa?" tanya Riyan cemas sambil membimbing nenek itu untuk duduk.
Nenek itu mengangguk pelan. Wajahnya penuh kerutan, tapi matanya memancarkan ketenangan yang aneh. Dia menatap Riyan dalam-dalam, mengamati jaket basah dan raut kesedihan mendalam yang tersisa di mata pemuda itu.
"Terima kasih, Nak. Keberanian dan ketulusanmu sangat berharga." Suara nenek itu halus, tapi terdengar bergema di telinga Riyan.
Dari balik selendang kusamnya, nenek itu mengeluarkan sebuah kalung bermaterial logam kehitaman dengan ukiran kuno yang rumit. Di tengahnya, tersemat batu hitam pekat yang tampak menyerap cahaya di sekitarnya. Nenek itu meraih tangan Riyan dan meletakkan kalung tersebut di telapak tangannya.
"Simpan ini, kalung ini akan mempermudah semua yang kamu inginkan," ucap nenek itu misterius.
Riyan termangu. Dia menggenggam kalung pemberian si nenek yang terasa sangat dingin, tapi perlahan memberi sensasi hangat yang aneh di jemarinya. Riyan memperhatikan ukiran rumit pada permukaan kalung itu dengan dahi berkerut.
"Maksud Nenek?" tanya Riyan heran sambil menatap kalung itu.
Tapi, tak ada jawaban.
Riyan mendongak. Jalanan sepi. Trotoar di sekelilingnya kosong melompong. Nenek tua itu telah lenyap tanpa jejak. Riyan berdiri mematung di pinggir jalan yang sunyi, menggenggam erat kalung misterius itu sebelum memasukkannya ke dalam saku jaketnya.
Dengan sisa tenaga dan pikiran yang masih kalut, Riyan melanjutkan perjalanan menuju kos yang selama ini menjadi tempatnya berteduh.
Malam itu, Riyan tertidur lelap karena kelelahan, melupakan sejenak rasa sakit hati atas pengkhianatan Maya.
Keesokan paginya, sinar matahari menerobos celah jendela kamar Riyan. Pemuda itu terbangun, lalu teringat pada benda pemberian nenek misterius semalam. Dia mengambil kalung kuno bertali kulit itu dari atas meja kecil.
Tanpa ragu, Riyan melingkarkan kalung itu ke lehernya. Dia berdiri di depan cermin retak yang menempel di dinding kamar, merapikan letak liontin kuno tersebut di atas kaus polosnya.
Riyan tersenyum tipis, mengamati pantulan dirinya.
"Keren juga ini kalung kalau gue yang pakai," gumam Riyan pelan, merasa ada dorongan percaya diri yang aneh mengalir di dadanya.
Dengan perasaan yang sedikit lebih ringan, Riyan meraih kunci motor dan membuka pintu kosnya untuk bersiap narik ojek.
Tapi, langkahnya terhenti seketika di ambang pintu.
Tepat di depan pintu kamar kos Riyan, berdiri Siska, ibu kos janda muda yang baru setahun ditinggal meninggal oleh suaminya. Meski parasnya cantik, Siska terkenal sangat tegas dan tidak kenal kompromi jika ada penghuni kos yang terlambat membayar sewa.
Riyan langsung menyiapkan mental. Biasanya, wanita itu akan bersedekap dengan wajah terlipat sebelum berteriak menagih tunggakan uang kos dengan kata-kata pedas.
"Riyan..." panggil Siska.
"Eh, Mbak Siska. Soal uang kos bulan ini–"
"Aduh, Riyan, santai aja," potong Siska tiba-tiba. Suaranya yang biasa tegas kini berubah mendayu-dayu, lengkap dengan senyuman manis dan usapan lembut di bahunya sendiri.
Riyan melangkah mundur satu tapak.
"Maksudnya gimana, Mbak?" tanya Riyan heran.
"Ya ampun, masalah uang kos kan bisa dibicarakan baik-baik. Kamu ini kalau dilihat-lihat makin ganteng aja ya? Ada yang beda gitu, adem lihatnya..." ujar Siska sambil melangkah mendekat, matanya menatap Riyan dari atas ke bawah dengan binar yang tak biasa.
Riyan mematung di tempat. Dia melirik ke bawah, memegang liontin kuno yang tersembunyi di balik kausnya.
'Apa ini yang dimaksud nenek itu? Mempermudah semuanya?' tanya Riyan dalam hati.
"Riyan? Kok malah melamun? Nanti malam kamu ada acara nggak? Kalau jalan-jalan atau sekadar makan malam di depan, mau? Mbak yang bayar deh." Suara Siska memecah lamunan Riyan. Wanita muda itu melangkah semakin dekat, menyunggingkan senyum tipis.
Riyan berdeham pelan, mencoba menguasai diri dari rasa canggung. Senyum percaya diri mulai terukir di wajahnya.
"Mbak Siska nggak usah repot-repot. Soal uang kos… kasih saya waktu sampai nanti sore. Nanti pasti saya bayar," jawab Riyan tenang.
Siska mengibaskan tangannya santai.
"Aduh, Riyan... Mbak kan udah bilang, santai aja. Mau dibayar bulan depan juga nggak apa-apa kok. Atau... mau dibayar nanti malam, di kamar aku?"
Daftar bab
45 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








