
Murid Dewa Obat yang Keluar dari Penjara
Black Dahlia|Bersambung
- Jumlah kata
- 1.6M
- Popular
- 1.6M
- Subscribe
- 18.1K
- Jumlah kata
- 1.6M
- Popular
- 1.6M
- Subscribe
- 18.1K
Sinopsis
Oscar dipaksa untuk menjadi sosok pengganti yang masuk penjara. Tapi justru keberuntungan berpihak padanya karena di dalam penjara dia berguru dengan seorang Dewa Medis. Hasilnya adalah dia berhasil memulihkan penyakit banyak orang kaya dan dihormati orang-orang. Setelah keluar dari penjara, Oscar yang rendah hati malah dianggap menjijikkan oleh keluarganya. Oscar berjanji akan membuat mereka semua menunduk padanya!
Ulasan
83 ulasan
VAD_27
4/6/25 13:33
ceritanya keren thor, izin pm ya ... Dibutakan. Dijebak. Dipenjara. Tapi dokter jenius ini justru bangkit dengan kekuatan mata dewa untuk membalas semuanya.Baca cerita: Dokter Buta dengan Mata Dewa.
PILIHANErry Dewanatha
31/7/26 05:05
ini novel seru. Thank buat kamu Thor. Jangan pelit upload BAB baru biar 10 BAB saya akan lahap. pokoknya saya dukung
Bab 1
Penjara Labewa, Provinsi Gemara, dikenal sebagai tempat terakhir bagi para penghancur takdir, yaitu orang-orang yang terlalu berbahaya untuk dilepaskan, namun terlalu bernyali untuk dibinasakan.
Di salah satu lorong gelap, bau besi tua dan darah basi memenuhi udara. Oscar Susanto menunduk hormat pada lelaki tua di hadapannya. Tubuh lelaki itu kurus, penuh luka bekas pertarungan, namun matanya memancarkan cahaya tajam seperti binatang buas yang pernah menelan petir.
"Pergilah, Oscar," kata lelaki itu.
"Dunia di luar lebih kejam dari jeruji ini, tapi kau pun tak pantas berada di sini. Dan ketahuilah, kau sudah mewarisi separuh dari ilmuku."
Lima tahun silam, usianya baru menginjak lima belas ketika namanya dicoret dari keluarga demi menanggung aib sang kakak. Ia dilempar ke dalam jeruji besi Penjara Labewa. Di sana, tubuh mudanya menjadi sasaran hina dan bulan-bulanan napi tua berotot dan sipir yang kehilangan nurani.
Namun semua berubah sejak lelaki tua itu memilihnya sebagai murid. Jika bukan karena ilmu bela diri yang menenangkan hawa amarah dan memperkuat raganya, Oscar mungkin telah hancur dan tak akan bertahan sampai usia dua puluh.
Di bawah bimbingannya, Oscar belajar ilmu bela diri. Juga bagaimana menjadikan teknik bela diri sebagai media penyembuhan.
"Sebelum kau pergi, ketahuilah satu hal. Aku melihat ada satu energi dalam tubuhmu yang tak bisa kau kendalikan. Dan ingat ucapanku, kau harus mencari cara untuk mengendalikannya."
Dan pada hari itu, setelah Oscar resmi keluar, semua narapidana justru bersorak, tertawa, dan berdendang seolah iblis penjara akhirnya dikurung di neraka lain.
"Dia sudah pergi!"
"Si murid sialan itu akhirnya keluar!"
"Dua puluh duel, dua puluh menang mutlak. Siapa yang tidak trauma satu sel dengannya?"
Oscar Susanto, pemuda berwajah dingin dan tatapan yang lebih tajam dari bilah pedang, bukan hanya narapidana biasa. Dalam waktu lima tahun, dia naik dari mangsa menjadi predator terkuat di Labewa.
Sementara itu, jauh di Kota Paramon, kabar tentang bebasnya Oscar menyebar bagai angin musim panas yang kering dan menyesakkan.
Di ruang keluarga yang luas dan mewah, Richard Hidayat berdiri kaku. Di belakangnya, sang istri terisak, matanya bengkak karena menangis terlalu lama.
Putri mereka, Giva Hidayat, wanita yang dulu dijuluki bunga Kota Paramon, terbaring lemah di ranjang rumah sakit pribadi. Sejak kecelakaan mobil setahun lalu, kini jadi vegetatif.
Richard Hidayat menatap layar medis kosong, lalu menghela napas.
"Sudah kita bawa ke Singapura, Jepang, bahkan dukun dari Pegunungan Lumut pun tak bisa buat dia membuka mata," gumamnya pelan.
Di tengah keputusasaan itu, harapan yang terdengar gila mulai menyeruak, sebuah pernikahan.
Keluarga Hidayat percaya bahwa pasti ada cara bisa berubah lewat ikatan takdir. Mereka mencari pria "bernasib api surga". Pembawa keberuntungan yang konon bisa membangunkan jiwa yang tertidur.
Dan rumor gila itu sampai ke telinga Kakek Besar Susanto, pemimpin lama keluarga yang rakus kuasa.
"Victor," suara kakek itu tajam di ujung telepon.
"Kau kepala keluarga, tapi belum bisa memberikan kontribusi berarti. Menangkan hati Keluarga Hidayat atau posisimu aku ganti."
Victor mengepalkan tangan. Jelas ia tak bisa menolak permintaan patriark tersebut.
"Sial!" geram Victor.
"Jadi kau sungguh akan menyerahkan Leonard?" tanya Hana, suaranya menahan marah.
"Kau pikir aku bersedia?" Victor membalas dingin.
"Kalau bukan karena tekanan dari Ayah, mana mungkin aku tega! Tapi dia bilang jika aku tak menyelesaikan urusan pernikahan dengan Keluarga Hidayat, aku dicopot dari posisi kepala keluarga."
Hana mengatupkan bibirnya. "Putri Hidayat itu bukan hanya vegetatif, Victor. Banyak rumor yang mengatakan kalau wajah gadis itu hancur! Kau yakin Leo tak akan murka saat tahu kau menjodohkannya dengan mayat hidup sekaligus buruk rupa?"
Victor menunduk. "Kalau dia menolak, dia boleh pergi. Tapi itu artinya dia juga kehilangan warisan, status, segalanya."
Tiba-tiba seorang pelayan tua masuk tergesa. "Tuan, Nyonya, ada kabar penting. Tuan Muda Oscar telah kembali."
Victor tertegun. "Oscar? Anak itu masih hidup?"
Hana berdiri perlahan. Matanya menyipit, tak percaya. "Setelah lima tahun dia kembali? Aku kira dia sudah membusuk di penjara."
Victor menoleh pada istrinya. Kemudian, untuk pertama kalinya hari itu, sudut bibirnya tertarik pelan.
"Mungkin kita tak perlu mengorbankan Leonard setelah ini."
Kemudian Victor dan Hana duduk berdampingan di ruang kerja keluarga. Wajah mereka yang semula gelisah berubah lega, bahkan berbinar, seolah menemukan emas di timbunan abu.
"Anak itu pulang di waktu yang sangat tepat," gumam Victor sambil mengetuk-ngetukkan ujung pena ke meja.
Hana menyilangkan tangan. "Kau yakin Keluarga Hidayat akan menerima mantan narapidana sebagai menantu?"
Victor menyipit. "Untuk itu kita harus bergerak cepat."
Bertahun-tahun mereka bersikap seolah Oscar tak pernah ada. Dan sekarang, anak itu telah kembali setelah bertahan dari lima tahun neraka.
Hana memijat pelipis. "Bagimana jika Oscar menolak?"
Victor mendengus. "Dia berutang nyawa pada kita. Dia akan melakukannya. Atau dia bisa kembali ke penjara."
Di ruang tengah, kepala pelayan berdiri di sisi Oscar yang tengah memandangi lukisan besar silsilah keluarga Susanto. Wajah-wajah terpajang di sana, lengkap dengan tanggal lahir dan gelar. Namun tidak ada nama Oscar di sana.
Kepala pelayan menunduk. "Maafkan saya, Tuan Muda. Saya tak bisa melawan keputusan mereka."
Oscar hanya tersenyum kecil. "Tak apa. Aku tak butuh tempat di dinding. Aku akan membuat tempatku sendiri."
Tak lama, Victor masuk. Wajahnya ramah secara berlebihan.
Di sampingnya, Hana Kartika menggenggam tangan suaminya, memaksakan keramahan yang tak pernah tulus sejak dulu.
"Oscar, kau sudah berubah banyak. Lebih dewasa sekarang," ucap Victor, suaranya dibuat lembut, seolah ia adalah ayah yang penuh kasih.
Tapi Oscar hanya menatapnya datar, seolah menyaksikan seekor ular mencoba menari di atas bara. Ia tidak membalas, hanya melewati mereka dan duduk di sofa, seolah rumah itu bukan tempat asing, tapi juga bukan tempat nyaman.
Victor dan Hana saling melirik, lalu duduk berhadapan.
"Kau pasti capek, tinggal di penjara bertahun-tahun, kami sangat menyesal tak bisa menjenguk..." kata Hana, dengan suara sok bersalah.
Oscar menyela pelan namun tajam. "Lima tahun lalu, sebelum aku dijebloskan ke penjara, Ayah pernah bilang... kalau aku menggantikan Thomas, maka setelah keluar, aku akan hidup layaknya pangeran."
Wajah Victor menegang sesaat. "Ya, ya. Tentu saja kami ingat. Dan itu masih berlaku."
Mendengar jawaban Victor, Oscar menyandarkan punggung. "Tapi tidak satu surat pun kalian kirim. Tidak satu kunjungan pun. Bahkan saat aku hampir mati karena tusukan dari tahanan gila, tak ada satu pun dari kalian yang peduli."
Daftar bab
1308 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
1308 bab








