
Gigolo kesayangan Zevora
Novita jungkook|Bersambung
- Jumlah kata
- 1.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 6
- Jumlah kata
- 1.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 6
Sinopsis
Adnan menangis setiap hari melihat keadaan sang Ibu yang semakin parah, ingin membawa berobat namun tidak punya uang. pemuda ini nekat menjual diri pada seorang gadis, terlebih lagi wajah dia juga sangat tampan
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab1. sakit ibu
"Uhuk, Uhuk." Hartini terus terbatuk-batuk karena dia memang menderita kanker paru-paru.
"Minum Air ini dulu, Bu." Adnan sebenarnya ingin menangis ketika memberikan segelas air putih.
Sebab dia tahu sendiri bahwa saat ini yang Bu Hartini butuhkan bukan air putih, tapi obat dan mereka sama sekali tidak memiliki uang untuk membeli obat yang memiliki harga begitu mahal sekali. Jangankan untuk membeli obat, ini untuk makan saja mereka sudah tidak punya uang sama sekali.
Adnan bukan tidak bekerja tapi dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk mencari uang, namun kerja dia sebagai buruh tukang bangunan tentu saja tidak sepadan dengan pengeluaran yang harus dia keluarkan setiap hari, terlebih lagi mereka tinggal di kota besar seperti ini sehingga segala sesuatu pasti akan terasa begitu mahal.
Tetes air mata pemuda ini jatuh meluncur begitu saja karena dia merasa gagal menjadi seorang anak, jangan kan untuk membahagiakan hati orang tua. Ini untuk mengobati saja dia sudah tidak sanggup dan hanya bisa berdiam diri sambil memberikan obat warung, padahal Adnan juga tahu bahwa Bu Hartini membutuhkan obat dari rumah sakit.
Dan bahkan sebenarnya Bu Hartini juga membutuhkan pengobatan ketat ketika dia dirawat di rumah sakit itu, namun apa daya karena Adnan memang sama sekali tidak memiliki uang sehingga mau tidak mau hanya bisa berdiam diri di dalam rumah seperti ini, setiap hari mendengarkan suara batuk dan itu tentu saja sangat menyiksa pikiran Adnan.
"Minum ya, setelah itu baru istirahat dan minum obat yang tadi." Adnan menyuapkan gelas ke mulut Bu Hartini.
"Sakit sekali dada ibu sekarang, Nan." Bu Hartini mengusap mulut yang mengeluarkan darah.
"Maafkan aku yang tidak bisa membawa Ibu berobat ya." Adnan sudah menangis karena dia memang merasa begitu gagal.
"Tidak apa-apa, Ibu juga tidak minta untuk berobat karena tahu ini tidak mungkin bisa sembuh." Hartini menggeleng dengan wajah yang begitu pucat sekali di mata Adnan.
Bukan hanya di mata Adnan saja tapi memang wajah Hartini sedang begitu pucat sehingga siapa saja yang melihat pasti akan menaruh rasa iba, Adnan setiap hari tersiksa dengan perasaan bersalah dan tiba ini karena dia ingin sekali membawa berobat namun sama sekali tidak punya uang di dalam kantong celana.
Ketika tangan itu merogoh untuk mencari uang maka yang dia dapat hanya lembaran uang receh, mana mungkin dia bisa pergi membawa berobat dengan uang seperti itu. Hartini juga tidak ingin diobatkan karena dia tahu nanti hanya akan membuang uang saja, sepanjang salat dia hanya berdoa agar cepat meninggal sehingga tidak membebani pikiran Adnan.
"Ibu istirahat dulu ya karena aku akan keluar sebentar." Adnan mengambil selimut dan menutup tubuh Bu Hartini.
"Nak, tidak perlu mencari pinjaman ke sana kemari karena Ibu juga tidak mau berobat." Hartini tahu bahwa Adnan akan nekat.
"Tidak kok, aku hanya akan mencari solusi saja dan mencari pekerjaan yang lebih." Adnan tersenyum manis.
"Maafkan Ibu yang hanya bisa merepotkan Kau seperti ini, padahal Kau masih begitu mudah dan seharusnya bisa bersenang-senang dengan teman sebaya mu itu." Sesal Hartini dengan hati yang begitu pilu.
"Ibu ini sedang berbicara apa? Aku bahagia dengan ibu dan tidak ada penyesalan sama sekali." Adnan kembali menggeleng karena dia tulus memberikan kasih sayang ini.
Walau terkadang dia berkhayal ingin menjadi orang kaya agar bisa mengobati dan bahkan mengajak Bu Hartini belanja ke sana kemari, sebab Adnan tahu bahwa Bu Hartini menderita sakit kanker paru-paru setelah di masa muda dia terus bekerja keras untuk menghidupi anak semata wayang ini.
Ayah Adnan pergi meninggalkan mereka berdua sehingga Bu Hartini harus berjuang keras memberikan kehidupan kepada Adnan, jadi ketika Adnan sudah mulai beranjak dewasa dia membalas kebaikan Bu Hartini dengan mencari uang juga, namun Bu Hartini harus tumbang karena penyakit yang dia derita semakin parah seperti sekarang.
"Ya Allah aku merasa gagal sekali menjadi seorang anak." Adnan menangis ketika sudah keluar dari dalam rumah.
"Bahkan ibu ku sedang menangis seperti itu dan aku tidak bisa membawa dia berobat, sungguh aku anak yang tidak berguna sama sekali." Adnan menangis dengan air mata deras di pipi hitam itu.
Dulu kulit Adnan tidak sehitam ini ketika dia belum bekerja sebagai tukang bangunan, namun karena setiap hari harus kena panas maka tidak ada pilihan lain dan dia hanya bisa menerima upah yang tidak seberapa dalam satu minggu dan terkadang mandor juga tidak memberikan uang kepada dia sehingga Adnan harus pulang dengan wajah kecewa.
Mau kerja lain juga tidak bisa karena dia tidak memiliki lulusan tinggi, jadi pekerjaan yang bisa menerima dia hanya sebagai buruh bangunan dan terkadang dia juga menjadi tukang parkir di pasar. Semua itu dia lakukan hanya untuk mengobati Hartini, tapi uang yang dia dapat tentu saja tidak seberapa sehingga tidak cukup untuk membawa ke rumah sakit.
"Kalau Aku seorang wanita maka bisa saja aku menjual diri, tapi aku pria jadi mana mungkin bisa melonte." Adnan berkata dengan pikiran yang sangat kacau.
"Hahhhh pantas saja selama ini banyak wanita di kota yang menjadi seperti itu, mereka juga pasti karena terpaksa." Keluh Adnan sambil menarik nafas panjang.
"Nan, kau kok muram sekali sih." Mateo datang dan dia menatap Adnan yang sedang terdiam sendirian.
"Ya seperti biasa lah, apalagi yang aku pikirkan bila bukan penyakit ibu." Adnan berkata jujur bila bersama dengan Matteo.
"Kan aku sudah pernah bilang kepada dirimu kalau kerja bangunan itu tidak akan membawa hasil, badan menjadi hitam legam dan uang yang kita dapat tentu tidak seberapa." Matteo berkata dengan wajah polos itu.
"Ya kalau aku tidak kerja itu mau kerja apa lagi, sedangkan aku tidak memiliki lulusan tinggi." Adnan berkata dengan nada yang sangat sedih sekali.
"Jadi l**** kan enak." Mateo berbisik di telinga Adnan.
"Nah aku juga baru kepikiran, kalau tadi Aku ini seorang wanita maka pasti sudah melakukan hal seperti itu untuk mendapatkan uang." Adnan berkata dengan serius.
"Kau jangan salah ya, banyak kok pria juga menjadi bagian seperti itu dan namanya adalah seorang gigolo." Matteo mengedipkan sebelah mata.
Adnan yang mendengar hal itu tentu saja mengerut tidak percaya karena bisa dibilang dia adalah pemuda yang polos dan tidak seberapa paham tentang hal seperti itu, jadi ketika Mateo mengatakan bahwa seorang l**** ada terdiri dari pria juga, Adnan berusaha untuk mencerna dan nama dari pekerjaan itu adalah gigolo.
Daftar bab
1 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Volume 1 · Volume 1
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.








