
- Jumlah kata
- 53.9K
- Popular
- 161
- Subscribe
- 12
Sinopsis
Apa jadinya jika tinggal di Mes dalam gedung lima lantai penuh gangguan mistis? Mengapa Raka tetap bertahan menjadi OB satu-satunya yang tinggal disana? Apa yang menyebabkan gedung itu penuh aura mistis? Bagaimana kisah Raka selanjutnya? Ikuti Kisahnya: Hantu Korporat.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1. Debu yang Menghilang.
Jam menunjukkan pukul dua dini hari ketika layar monitor pertama memantulkan cahaya biru ke wajah seorang pria yang duduk membungkuk di depan meja kerja sempit.
Ruangan kos itu tidak lebih dari empat kali tiga meter, dengan tembok yang catnya mulai mengelupas di sudut plafon.
Tapi di dalam kesederhanaan itu tersimpan sesuatu yang jauh dari kata biasa.
Dua monitor berdiri berdampingan.
Monitor pertama menampilkan tiga jendela sekaligus, satu berisi baris baris kode yang mengalir cepat seperti air terjun digital, satu lagi jendela peramban dengan puluhan tab terbuka, dan yang terakhir sebuah jendela unggahan file yang menunjukkan progress bar bergerak pelan. Belasan nama file tersusun rapi dalam antrean, masing masing dengan ekstensi yang berbeda beda.
Monitor kedua memutar video tanpa suara.
Sebuah acara seremoni peresmian gedung, dengan pita merah yang digunting, tepuk tangan yang terekam dalam gerakan bisu, dan seorang yang mengenakan jas mahal sedang tersenyum lebar di depan kamera sambil berjabat tangan dengan beberapa orang berjas lainnya.
Di sela sela dua monitor itu, sebuah perangkat kecil berkedip lampu hijau dan merah bergantian. Kabelnya menjalar ke arah router, mengubah rute sinyal setiap beberapa detik sekali, membuat siapa pun yang mencoba melacak asal koneksi akan menemukan jalan buntu di negara yang berbeda beda.
Di atas keyboard, tergeletak sebuah skripsi yang sudah dijilid rapi.
Sampulnya berwarna biru tua, judulnya sebagian tertutup oleh bayangan lengan si pria yang sedang mengetik.
Yang terlihat hanya potongan kalimat.
*...Teori Bisnis...*
Sisanya masih tersembunyi.
Di dinding dekat meja, tergantung sebuah bingkai foto kecil.
Sebuah postcard lama dengan tiga sosok di dalamnya.
Seorang pria muda tersenyum lebar di tengah, diapit oleh seorang wanita di sisi kiri dan pria lain di sisi kanan. Fotonya sudah agak pudar, seolah sudah bertahun-tahun disimpan tanpa pernah diganti.
Ponsel di sudut meja bergetar sekali, lalu berdering.
Pria itu meraihnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar. Ditempelkannya ke telinga.
“Ya,” katanya pelan.
Suara di seberang terdengar seorang wanita, nadanya tenang tapi ada getar kekhawatiran yang berusaha ia sembunyikan.
“Kamu yakin ingin melakukan ini?”
Jemari pria itu berhenti sejenak di atas keyboard.
Matanya masih menatap progress bar yang bergerak lambat, delapan puluh tujuh persen.
“Aku harus,” jawabnya.
Hening sesaat.
Hanya suara kipas komputer yang berputar dan detak jarum jam dinding yang nyaris tak terdengar.
“Baik,” kata wanita itu akhirnya.
Klik.
Telepon terputus.
Pria itu menurunkan ponsel, meletakkannya kembali di atas meja tanpa suara berlebihan.
Ia menghela napas panjang, matanya sekilas melirik foto di dinding, tapi ia tidak menatapnya lama. Pandangannya kembali ke layar.
Progress bar sudah delapan puluh sembilan persen.
Ia bersandar ke kursi, meregangkan bahu yang kaku karena duduk terlalu lama. Sambil menunggu, jarinya membuka tab lain di peramban, membaca salah satu artikel yang ada disana.
“5 Cara Kucing Kantor Bisa Memprediksi Krisis Ekonomi (Serius, Percaya Deh)”
Ia membaca ulang paragraf ketiga, mengangguk pelan merasa puas.
Ponsel bergetar lagi, kali ini hanya notifikasi pesan singkat. Ia membukanya.
Semua sudah siap, hati-hati.
Pria itu mengetik balasan singkat.
Terima kasih.
Dikirim.
Ia meletakkan ponsel, lalu kembali menatap layar. Progress bar sudah mencapai sembilan puluh lima persen.
Sambil menunggu, matanya beralih ke monitor kedua.
Video seremoni masih berputar tanpa suara.
Sosok di layar itu kini sedang berdiri di podium, mulutnya bergerak gerak seperti sedang menyampaikan pidato yang penuh semangat.
Di belakangnya berjejer spanduk besar bertuliskan ucapan penyambutan dan penghormatan.
Pria itu menatap video itu lama, ekspresinya datar.
Tidak ada amarah yang tampak di wajahnya, tidak ada emosi.
Datar.
Hanya sorot mata yang dingin, seperti sedang membaca sesuatu yang sudah ia pelajari luar kepala.
Ia meraih mouse, mengklik pause pada video itu. Gambar pejabat itu membeku di tengah tengah gerakan tangannya yang melambai ke arah kerumunan.
“Lucu,” gumamnya pelan, hampir seperti bisikan pada diri sendiri.
Ia tidak melanjutkan kalimat itu.
Tidak perlu.
Ia kembali menatap monitor pertama.
Seratus persen.
Upload complete.
Layar menampilkan notifikasi hijau kecil di pojok kanan atas.
Belasan file yang tadi antre kini semuanya sudah terkirim, tersebar ke berbagai server yang tidak akan pernah bisa dilacak balik ke ruangan kos sempit ini.
Pria itu menatap layar itu beberapa detik lebih lama dari biasanya.
Ada semacam kelegaan yang terpancar, tapi juga ada sesuatu yang lain.
Sesuatu yang lebih berat.
Seperti seseorang yang baru saja menutup satu pintu, tahu betul bahwa di baliknya tidak ada jalan untuk kembali.
Ia mematikan perangkat pengacak alamat IP satu per satu, lampu hijau merahnya perlahan padam.
Lalu ia menutup semua tab di peramban, satu per satu, sampai jendela kode pemrograman menjadi satu satunya yang tersisa.
Ia mengetik beberapa baris terakhir, menekan enter, dan layar itu pun ikut menghitam.
Ruangan menjadi lebih gelap sekarang, hanya diterangi oleh cahaya redup dari monitor kedua yang masih menampilkan gambar sosok yang membeku di tengah pidatonya.
Sebelum akhirnya sosok itu juga lenyap di gantikan layar monitor yang gelap.
Pria itu meraih skripsi yang tergeletak di atas keyboard.
Ia mengangkatnya sekali lagi, jarinya meraba permukaan sampul yang mulai terasa kasar di bagian tepi, tanda sudah lama disentuh berkali-kali. Ia menatap bagian bawah judul yang tadinya tertutup bayangan lengannya sendiri.
Tahun 2023.
Ia menatap angka tahun itu lama.
Dua ribu dua puluh tiga.
Tiga tahun yang lalu.
Tiga tahun sejak lembar itu di buat dengan kerja keras dan segenap pemikirannya, lalu dianggap tidak pernah ada.
Tidak ada ekspresi marah di wajahnya.
Tidak ada air mata.
Hanya senyum tipis yang muncul sedetik, lalu hilang secepat ia datang.
Ia berdiri, melangkah ke arah tempat sampah kecil di sudut ruangan.
Skripsi itu masih di tangannya, ia menimang-nimangnya sebentar seperti sedang menimbang berat sebuah keputusan yang sudah lama ia buat jauh sebelum malam ini.
Lalu ia menjatuhkannya begitu saja ke dalam tempat sampah.
Bunyi kertas jatuh terdengar pelan, nyaris tak berarti. Tapi bagi pria itu, suara itu terasa seperti penutup dari satu babak panjang dalam hidupnya.
Ia menatap sekali lagi ke kamar kosnya, seolah sengaja meninggalkan jejak kecil untuk dirinya sendiri, pengingat bahwa besok ia akan memulai sesuatu yang jauh berbeda.
Ia meraih ponsel, memasukkannya ke saku celana. Lalu tangannya bergerak ke arah saklar lampu di dekat pintu.
Sebelum menekannya, ia menoleh sekali lagi ke arah bingkai foto di dinding.
Tiga sosok dalam postcard itu menatapnya balik, seolah ikut menyaksikan malam terakhir di ruangan ini.
“Doain aku,” gumamnya pelan, hampir tak terdengar.
Ia menekan saklar.
Gelap.
Hanya cahaya dari lampu di luar kamar kos yang masih menyala, menyinari ruangan kosong dari balik tirai jendela.
Pintu kos berderit pelan ketika dibuka, lalu ditutup kembali dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara berlebihan.
Langkah kaki menjauh, menyusuri lorong sempit yang temaram, sampai akhirnya hilang ditelan gelapnya malam.
Di dalam kamar yang ditinggalkan, di dalam tempat sampah kecil di sudut ruangan, sebuah skripsi dibuat tahun dua ribu dua puluh tiga tergeletak diam.
Sebuah bukti dari sesuatu yang pernah tercipta, kini dibuang begitu saja oleh pemiliknya sendiri.
Bukan karena ia menyerah.
Tapi karena mulai malam ini, ia tidak lagi membutuhkan pengakuan dari dunia yang pernah mencampakkannya.
Ia hanya butuh menjadi bayangan.
Debu yang tak seorang pun akan curigai.
Daftar bab
34 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








