
- Jumlah kata
- 47.5K

Jaya Pradana hanyalah pemuda berusia dua puluh dua tahun yang hidup sederhana di sebuah desa kecil di Jawa Barat. Setelah menyelesaikan pendidikannya, ia menjalani kehidupan biasa tanpa pernah membayangkan bahwa keluarganya menyimpan rahasia yang telah diwariskan selama ratusan tahun. Semuanya berubah setelah sang kakek meninggal. Tujuh hari setelah pemakaman, Jaya menemukan sebuah kotak kayu tua yang disembunyikan di kamar kakeknya. Di dalamnya terdapat sebuah cincin hitam dengan lambang naga yang mengelilingi matahari. Saat Jaya menyentuh cincin tersebut, sebuah suara misterius terdengar di dalam kepalanya. Jaya awalnya mengira semua itu hanyalah halusinasi. Namun ketika cincin tersebut membangkitkan kemampuan aneh dalam dirinya, ia mulai menyadari bahwa kematian kakeknya bukanlah akhir dari sebuah kehidupan. Itu adalah awal dari sebuah perjalanan. Sebuah perjalanan untuk menemukan tujuh warisan leluhur yang tersebar di berbagai wilayah Nusantara. Setiap warisan memiliki kekuatan dan rahasianya sendiri. Setiap kali Jaya menemukan satu warisan, sistemnya berkembang dan membuka kemampuan baru. Namun Jaya segera mengetahui bahwa dirinya bukan satu-satunya orang yang mencari benda-benda tersebut. Ada organisasi rahasia yang telah memburu warisan leluhur selama puluhan tahun. Ada keluarga-keluarga kuno yang menyimpan rahasia mereka sendiri. Ada para pewaris lain yang memiliki tujuan berbeda. Dan ada seseorang yang sejak awal telah mengetahui bahwa Jaya akan menjadi pewaris berikutnya. Semakin jauh Jaya mencari jawaban, semakin jelas bahwa tujuh warisan itu bukan sekadar peninggalan keluarga. Ketujuh benda tersebut merupakan bagian dari sebuah rahasia besar yang berhubungan dengan sejarah Nusantara yang selama ini tidak pernah tercatat dalam buku sejarah mana pun. Jaya harus belajar mengendalikan kekuatan, membangun pengaruh, mengembangkan kekayaan, menemukan sekutu, menghadapi musuh, dan memahami warisan leluhurnya sebelum semuanya jatuh ke tangan orang yang salah. Namun ada satu pertanyaan yang terus menghantuinya: Mengapa kakeknya memilih Jaya? Dan ketika Jaya akhirnya menemukan jawaban atas pertanyaan itu, ia akan mengetahui bahwa dirinya bukan hanya pewaris dari sebuah keluarga. Ia adalah pewaris dari sesuatu yang jauh lebih besar. Sesuatu yang telah menunggu selama seribu tahun untuk kembali bangkit. Perjalanan Jaya untuk menemukan tujuh warisan pun dimulai.
Hujan turun sejak sore.
Bukan hujan deras yang disertai petir, melainkan hujan panjang yang seolah tidak berniat berhenti. Butiran air jatuh di atas genteng tanah liat rumah-rumah warga, mengalir melalui talang bambu, kemudian berubah menjadi aliran kecil yang memenuhi jalan tanah di antara perkebunan.
Kabut tipis mulai turun dari arah perbukitan.
Di sebuah rumah tua yang berada agak jauh dari permukiman utama, seorang pemuda berdiri di depan jendela.
Namanya Jaya.
Usianya dua puluh dua tahun.
Sejak kecil, Jaya tinggal bersama kakeknya di rumah tersebut. Rumah itu bukan rumah besar. Dindingnya terbuat dari kayu yang sudah menghitam dimakan usia. Lantainya sebagian masih berupa papan. Di bagian belakang terdapat gudang tua yang hampir tidak pernah dibuka.
Namun bagi Jaya, rumah itu adalah seluruh dunianya.
Di sanalah ia dibesarkan.
Di sanalah ia belajar membaca.
Di sanalah ia pertama kali belajar memperbaiki sepeda.
Dan di sanalah kakeknya selalu menunggunya pulang setiap kali Jaya pergi ke kota.
Sekarang rumah itu terasa berbeda.
Terlalu sunyi.
Jaya memandang kursi kayu di ruang tengah.
Kursi tempat kakeknya biasa duduk setiap sore.
Tidak ada siapa-siapa di sana.
Tidak ada suara batuk.
Tidak ada suara radio tua.
Tidak ada suara kakeknya memanggil dari dapur.
Hanya suara hujan.
Jaya menundukkan kepala.
Sudah tiga hari sejak pemakaman.
Tetapi pikirannya masih belum menerima kenyataan bahwa kakeknya benar-benar telah pergi.
"Kek..."
Suara Jaya hampir tidak terdengar.
Ia mengusap wajahnya.
Selama tiga hari terakhir, banyak orang datang untuk melayat. Tetangga, kerabat jauh, bahkan beberapa orang yang tidak pernah Jaya kenal sebelumnya.
Anehnya, ada dua orang asing yang datang paling akhir.
Mereka tidak banyak bicara.
Mereka hanya berdiri di dekat gerbang, melihat rumah, lalu pergi.
Jaya sempat bertanya kepada salah seorang tetangga.
Tidak ada yang mengenal mereka.
Jaya menganggapnya aneh, tetapi tidak terlalu memikirkannya.
Malam itu, setelah semua orang pergi, Jaya mulai membersihkan rumah.
Ia membuka lemari lama milik kakeknya.
Di dalamnya terdapat pakaian, beberapa buku, dokumen tanah, foto-foto lama, dan berbagai benda yang sudah tidak digunakan.
Ketika mengambil sebuah tumpukan buku, sebuah foto terjatuh ke lantai.
Jaya membungkuk.
Ia mengambil foto tersebut.
Foto hitam putih.
Seorang pria muda berdiri di depan sebuah bangunan batu yang tidak dikenali Jaya.
Pria itu adalah kakeknya.
Namun ada sesuatu yang membuat Jaya mengerutkan kening.
Kakeknya terlihat sangat berbeda.
Bukan karena wajahnya.
Melainkan karena pakaian yang dikenakannya.
Di lehernya terdapat kalung dengan simbol yang sama sekali tidak pernah Jaya lihat sebelumnya.
Tujuh lingkaran yang tersusun membentuk pola seperti matahari.
Jaya membalik foto itu.
Ada tulisan tangan.
"Gunung yang tidak tercatat."
Jaya mengerutkan kening.
"Apa maksudnya?"
Ia menyimpan foto tersebut di atas meja.
Kemudian hendak kembali membersihkan lemari.
Namun ketika ia melangkah, terdengar suara aneh.
Tok.
Jaya berhenti.
Ia menoleh.
Tidak ada apa-apa.
Tok.
Suara itu terdengar lagi.
Kali ini lebih jelas.
Dari bawah lantai.
Jaya berjongkok.
Ia menempelkan telapak tangan ke papan kayu.
Tok.
Ada sesuatu di bawahnya.
Jaya mengambil obeng dari kotak perkakas.
Dengan hati-hati ia mencungkil papan lantai.
Beberapa saat kemudian, papan itu terangkat.
Di bawahnya terdapat ruang kecil.
Dan di dalam ruang tersebut terdapat sebuah benda yang dibungkus kain.
Jaya menariknya keluar.
Sebuah kunci.
Kunci itu terbuat dari logam berwarna kekuningan.
Bentuknya tidak seperti kunci biasa.
Pada bagian kepalanya terdapat ukiran tujuh lingkaran.
Jaya langsung teringat pada simbol di foto.
Ia membolak-balik kunci tersebut.
Tidak ada tulisan.
Tidak ada petunjuk.
Hanya sebuah goresan kecil di bagian belakang.
Angka:
"07."
Jaya berdiri.
Matanya tertuju pada pintu gudang di belakang rumah.
Gudang itu sudah bertahun-tahun tidak digunakan.
Bahkan kakeknya selalu melarang Jaya masuk ke sana.
Ketika Jaya masih kecil, ia pernah mencoba membuka pintunya.
Kakeknya langsung memarahinya.
Saat itu Jaya tidak mengerti.
Sekarang ia mulai penasaran.
Ia berjalan menuju gudang.
Pintu kayu tua itu dipenuhi lumut.
Jaya memasukkan kunci.
Tidak cocok.
Ia mencoba lagi.
Tidak terjadi apa-apa.
Jaya menghela napas.
"Berarti bukan di sini."
Ia hendak kembali ketika matanya menangkap sesuatu.
Di dinding samping gudang terdapat ukiran kecil.
Tujuh lingkaran.
Sama persis.
Jaya menyentuh ukiran tersebut.
Terdengar bunyi klik.
Sebagian dinding bergeser.
Jaya mundur.
Sebuah ruang sempit terbuka di balik dinding.
Di dalamnya terdapat tangga menuju bawah tanah.
Jaya menyalakan senter ponselnya.
Ia menatap ke dalam.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada suara.
Hanya kegelapan.
Untuk beberapa saat Jaya ragu.
Ia teringat pesan kakeknya bertahun-tahun lalu.
"Kalau Kakek bilang jangan masuk, berarti jangan masuk."
Namun kakeknya sudah tidak ada.
Dan sekarang Jaya ingin tahu apa yang sebenarnya disembunyikan.
Ia turun.
Satu anak tangga.
Dua.
Tiga.
Udara semakin dingin.
Dinding di kiri dan kanannya terbuat dari batu.
Padahal rumah itu tidak memiliki ruang bawah tanah dalam denah yang pernah Jaya lihat.
Tangga tersebut berakhir di sebuah ruangan.
Di tengah ruangan terdapat peti kayu besar.
Peti itu berbeda dari benda lain di sekitarnya.
Tidak berdebu.
Seolah baru saja dibersihkan.
Di bagian depan peti terdapat lubang kunci.
Jaya mengeluarkan kunci kuningan.
Ia memasukkannya.
Cocok.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
Jaya memutar kunci.
Klik.
Gembok terbuka.
Ia mengangkat tutup peti.
Bau kayu tua langsung memenuhi ruangan.
Jaya menyorotkan senter.
Di dalamnya terdapat tujuh benda.
Benda pertama membuatnya langsung mengenalinya.
Sebuah kujang.
Bentuknya indah, tetapi terlihat sangat tua.
Bilahnya memiliki pola aneh seperti aliran sungai.
Di sebelahnya terdapat sebuah keris yang dibungkus kain hitam.
Kemudian sebuah cincin batu gelap.
Sebuah topeng kayu.
Kalung dengan batu menyerupai karang.
Sebuah batu hitam dengan garis merah tipis di tengahnya.
Dan benda terakhir yang dibungkus kain putih.
Jaya tidak berani menyentuh benda tersebut.
Di bawah ketujuh benda itu terdapat buku.
Sampulnya terbuat dari kulit.
Tidak ada judul.
Jaya membukanya.
Halaman pertama berisi tulisan tangan kakeknya.
Jaya langsung mengenali tulisan itu.
Tangannya bergetar.
"Untuk Jaya."
Ia membaca.
"Jika kau menemukan buku ini, berarti aku sudah tidak ada."
Jaya berhenti.
Ia menelan ludah.
"Maaf karena selama ini Kakek menyembunyikan semuanya."
Halaman berikutnya.
"Ada hal-hal yang tidak boleh diketahui manusia sebelum waktunya."
Jaya membalik halaman.
"Selama ratusan tahun, keluarga kita menjaga tujuh benda."
Halaman berikutnya.
"Benda-benda itu bukan sekadar peninggalan."
Jaya semakin serius.
"Mereka adalah kunci."
"Kunci menuju warisan yang telah hilang."
Jaya mengerutkan kening.
Warisan?
Ia membaca terus.
"Tujuh benda ini pernah menjadi milik tujuh penjaga."
"Ketujuh penjaga menjaga tujuh peradaban."
"Peradaban-peradaban yang sekarang tidak tercatat dalam sejarah."
Jaya berhenti membaca.
Ia menatap tujuh benda di dalam peti.
"Peradaban yang hilang?"
Halaman berikutnya hanya berisi satu kalimat.
"Jangan pernah mencoba mencari mereka."
Jaya terdiam.
Kemudian ia menemukan halaman terakhir.
Tulisan kakeknya terlihat lebih tergesa-gesa.
"Jika seseorang selain anggota keluarga kita menemukan peti ini, jangan percaya siapa pun."
Di bawahnya ada kalimat yang membuat Jaya merasakan hawa dingin.
"Mereka masih mencari."
Jaya menutup buku.
Tiba-tiba terdengar suara.
Dari atas.
Sebuah pintu dibuka.
Jaya langsung mematikan senter.
Gelap.
Ia menahan napas.
Langkah kaki terdengar.
Satu.
Dua.
Tiga.
Seseorang sedang berjalan di dalam rumah.
Jaya berjongkok di balik rak batu.
Langkah tersebut semakin dekat.
Kemudian berhenti.
"Jaya?"
Suara seorang laki-laki.
Jaya tidak menjawab.
"Jaya, kami tahu kau di rumah."
Jantung Jaya berdetak sangat keras.
Bagaimana mereka tahu namanya?
Suara lain terdengar.
"Periksa bagian belakang."
Jaya menggenggam kujang yang ada di dalam peti.
Tangannya gemetar.
Tiba-tiba sistem kunci peti mengeluarkan suara.
Klik.
Jaya membeku.
Cahaya tipis muncul dari kujang.
Simbol tujuh lingkaran di bilahnya menyala.
Kemudian sebuah suara terdengar di dalam kepalanya.
[PEWARIS TERDETEKSI.]
Jaya menahan napas.
[VERIFIKASI GARIS KETURUNAN.]
Cahaya semakin terang.
[GARIS KETURUNAN TERKONFIRMASI.]
Di depan mata Jaya muncul sebuah layar transparan.
Ia hampir berteriak.
[NUSANTARA LEGACY SYSTEM]
PEWARIS:
JAYA
STATUS:
AKTIF
WARISAN:
10
PENGETAHUAN:
00
PENGARUH:
00
KEKAYAAN:
00
KONEKSI:
00
WILAYAH:
01
ARTEFAK:
01/07
WARISAN AKTIF:
[KUJANG LELUHUR]
KEMAMPUAN:
TERKUNCI
MISI UTAMA:
TEMUKAN 6 WARISAN LAINNYA
Jaya menatap layar tersebut dengan wajah pucat.
"Apa ini..."
Sistem kembali berbunyi.
[PERINGATAN.]
[PEMBURU ARTEFAK TERDETEKSI.]
[JARAK: 37 METER.]
Jaya perlahan menoleh ke arah tangga.
Suara langkah kaki terdengar semakin dekat.
Kemudian lampu rumah menyala.
Sebuah bayangan muncul di ujung tangga.
Jaya menggenggam kujang lebih erat.
Seseorang berdiri di sana.
Seorang pria mengenakan jaket hitam.
Wajahnya tidak terlihat jelas.
Namun pria tersebut tersenyum.
"Jadi benar."
Jaya diam.
Pria itu turun satu langkah.
"Warisan itu memang memilihmu."
Jaya mundur.
"Siapa kamu?"
Pria tersebut tidak menjawab.
Ia hanya berkata:
"Kakekmu berhasil menyembunyikannya selama tiga puluh tahun."
Langkah berikutnya.
"Tapi sekarang..."
Pria itu mengangkat sebuah benda kecil.
Sebuah simbol tujuh lingkaran.
"...waktunya sudah habis."
Jaya menatap kujang di tangannya.
Cahaya dari bilah kujang semakin terang.
Sistem kembali muncul.
[QUEST UTAMA DIMULAI]
LINDUNGI WARISAN PERTAMA
TUJUAN:
BERTAHAN HIDUP.
HADIAH:
[SKILL TERKUNCI AKAN TERBUKA]
PERINGATAN:
JANGAN BIARKAN ARTEFAK DIREBUT.
Jaya menarik napas dalam-dalam.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia sadar bahwa warisan yang ditinggalkan kakeknya bukanlah harta.
Bukan pula peninggalan keluarga biasa.
Itu adalah sesuatu yang selama ratusan tahun diburu banyak orang.
Dan sekarang...
warisan tersebut berada di tangannya.
Di atas rumah, hujan semakin deras.
Petir menyambar langit.
Jaya mengangkat kujang.
Simbol tujuh lingkaran menyala terang.
Dan di dalam kegelapan ruang bawah tanah itu, sebuah suara kuno yang tidak berasal dari sistem terdengar untuk pertama kalinya.
"Pewaris telah kembali."
30 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.