

Drrr…!!!
Petir menyambar di langit, menggelegar keras ke segala penjuru. Alistair berdiri di puncak abadi, pandangannya lurus menembus awan gelap yang bergerak cepat. Angin menerpa rambutnya, membuat helaian gelapnya berkibar liar. Tangannya menggenggam sebilah pedang yang tampak biasa.
Helaan napas panjang meluncur dari bibirnya, dadanya mengembang penuh, “Aku tidak akan menunggu takdir bodoh ini."
Bam!
Sebuah kilatan cahaya menyambar dari langit. Awan-awan berguncang seolah dunia ingin runtuh, namun Alistair tidak bergerak. Matanya menatap dingin ke arah langit di atasnya, pedang di tangannya berdengun keras dan mulai memancarkan cahaya.
“Kalau dunia menutup jalan itu untukku… maka aku akan membuka jalanku sendiri!”
Alistair mengayunkan pedangnya ke arah awan gelap.
Swosh!!!!
Tebasan vertikal ribuan meter melesat ke langit, bertemu dengan sambaran petir yang juga turun.
KA-BOOOMMM!!!
Pedang dan petir beradu. Cahaya menyilaukan menyebar luas, seperti sungai cahaya yang mengalir ke seluruh Benua Chaos. Orang-orang di kota-kota jauh melihat kilatan. Tubuh mereka bergetar, bulu kuduk berdiri. Beberapa bahkan jatuh terduduk dengan wajah pucat.
Kekuatan yang bahkan mereka tidak mengerti—membuat kaki mereka lemas hanya dengan melihatnya dari kejauhan. Keringat dingin menjalar di punggung mereka saat tekanan menyesakkan menghantam dada seperti palu godam. Beberapa kultivator yang lemah bahkan tak bisa menggerakkan satu jaripun.
Di sebuah dataran terbuka, beberapa kultivator yang tengah berburu berhenti mendadak.
“Apa itu barusan…?” suara seseorang bergetar.
“Jangan tanya aku,” jawab yang lain sambil menekan dadanya. “Mana di dalam tubuhku hampir berhenti.”
Seorang pria berlutut, napasnya terengah. “Ini bukan fenomena alam biasa. Ini… seseorang bertarung?.”
“Omong kosong,” sahut rekannya, meski wajahnya pucat. “Bagaimana mungkin orang—”
Ucapannya terputus saat tekanan kembali turun. Tanah di bawah kaki mereka retak halus. Tidak ada yang melanjutkan pembicaraan.
-----
Di sebuah pegunungan, sekelompok kultivator pengembara menghentikan langkah. Hewan tunggangan meraung ketakutan dan rebah ke tanah.
Beberapa menjatuhkan senjata mereka, jari-jari mereka mati rasa. Tak ada yang berani mengangkat kepala terlalu lama. Naluri bertahan hidup memaksa mereka menunduk.
Di dalam paviliun sekte menengah, beberapa murid berhamburan keluar.
“Formasi pelindung berkurang dayanya!” teriak seseorang.
“Perkuat dengan Kristal Eter tingkat tinggi!”
“Sudah habis! Semuanya hancur tanpa sisa!”
Seorang murid menelan ludah. “Tetua… apakah ini serangan?”
Tetua yang berdiri di depan hanya menggeleng pelan. “Kalau itu serangan, sekte ini sudah lenyap.”
“Lalu… apa yang harus kita lakukan?”
“Diam,” jawabnya singkat. “Dan jangan mencoba mencari sumbernya.”
-----
Di sebuah istana di dataran es tak berujung, seorang gadis berambut biru es menatap langit yang jauh. Cahaya petir dari kejauhan menyoroti wajah tanpa ekspresi gadis itu.
Berbanding terbalik dengan wajahnya yang seperti es, tangannya terkepal erat di ujung jubahnya. Mata birunya berkilat dengan kekhawatiran yang tak tersamar.
"Alistair, kau benar-benar sombong dan bangga–bahkan setelah tahu betapa tipisnya peluang berhasil–kau tetap melakukannya."
Gumaman lirih meluncur dari bibir ceri gadis itu. Ia menggigit bibir bawahnya begitu keras. Cairan merah cerah dengan bau amis dan karat mengalir. Namun tampaknya ia tidak menyadarinya, atau mungkin—tidak peduli.
Tap.
"Master Paviliun..."
Beberapa gadis berpakaian putih mendarat lembut di belakangnya, menatap profil gadis itu dengan kekhawatiran.
-----
Sementara itu, Alistair jatuh berlutut, nafasnya tersengal-sengal. meskipun seluruh tubuhnya lelah dan terluka parah, namun matanya tetap tajam dan tak pernah meninggalkan langit.
Tapi lebih dari itu, ketidakberdayaan meresap di hatinya saat melihat langit yang terbelah itu pulih kembali.
'Apa hanya segini yang aku bisa? Tidak bisakah manusia melawan kehendak langit?'
Dia menggigit bibirnya, menahan rasa sakit yang datang dari tubuhnya yang terkuras habis.
Crash! Petir menyambar tepat di sampingnya, tanah di bawah kakinya retak. Alistair menunduk sejenak, lalu mengangkat pedang lagi.
"Bahkan jika aku mati...Aku–Alistair, tidak akan tunduk pada takdir!...” Suaranya terhenti saat kilatan lain menembus langit. kali ini lebih besar, lebih padat, dan lebih kuat.
Jeduarrr!!!!
Petir besar menyambar. Darah merah keemasan muncrat, membasahi Puncak Abadi. Alistair menahan tubuhnya, kedua kaki menancap kuat ke tanah, giginya terkepal.
Panas menyebar ke seluruh tubuh. Rambutnya berkibar liar, pakaiannya terkoyak dan hancur sementara tubuhnya bersimbah darah.
Menahan rasa sakit di tubuhnya yang di ambang kehancuran, ia melangkah maju.
Namun begitu kakinya memijak—
Krack!
Kilatan petir menyambar lagi.
Tubuh Alistair terhuyung, napasnya mulai melemah. Meskipun tubuhnya goyah, namun Alistair menolak untuk jatuh. Ia menancapkan pedangnya ke tanah, menopang tubuhnya agar tetap tegak.
Ia menghela napas pahit, pandangannya mulai kabur, kilatan ingatan berkelebat di kepalanya—sosok seorang wanita berambut biru es melintas di benaknya.
"Sayang sekali aku tidak sempat mengucapkan perasaanku padanya karena keangkuhan bodohku."
Blam!!!
Dentuman keras terdengar ketika kilatan petir terakhir menyambar. Alistair menatap langit—tubuhnya terhuyung, pedangnya masih di tangan. Pandangannya semakin buram, dan perlahan kesadarannya menutup.
'Selamat tinggal… Selena… aku mencintaimu,' pikirnya sebelum tubuhnya hancur menjadi abu.