
Sistem Sang Raja Kota
Aretha Artha|Bersambung
- Jumlah kata
- 100.9K
- Popular
- 1.3K
- Subscribe
- 157
- Jumlah kata
- 100.9K
- Popular
- 1.3K
- Subscribe
- 157
Sinopsis
Dihina, diceraikan, dan diusir keluarga Walter, Adrian nyaris tewas dalam kecelakaan sebelum "Sistem Kekayaan Sang Raja" bangkit dalam dirinya. Kini ia memiliki kekayaan tak terbatas dan kemampuan membaca hati manusia. Dari menantu hina, Adrian bangkit untuk membongkar pengkhianatan, menghancurkan para musuhnya, dan membangun kerajaan bisnis yang membuat seluruh kota bertekuk lutut.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1 Bekerja Keras Untuk Kebahagiaan Istri
Happy Reading, Guys!
"Hey, Adrian! Cepat bereskan meja 06. Lap sampai bersih!"
"Bodoh! Cepat antar pesanan ke penginapan 2!"
"Dasar lelet! Piring kotor sudah menumpuk! Kau tahu pelanggan hari ini banyak sekali, kan? Kerja yang benar! Idiot!"
Masih banyak kata-kata tajam yang dilemparkan rekan-rekanku. Setiap hari. Setiap jam. Seolah namaku memang pantas disandingkan dengan hinaan.
Dan apakah aku tersinggung?
Tidak.
Tentu saja tidak. Aku bahkan tidak punya waktu untuk tersinggung, apalagi duduk meratapi nasib seperti orang yang masih punya kemewahan untuk merasa terluka.
Aku bekerja di sebuah restoran bintang lima di pusat kota. Sudah dua tahun aku menjadi pelayan di tempat ini. Namun, pekerjaanku tidak pernah sebatas mengantar makanan. Aku juga harus melap meja, mencuci piring, mengantar pesanan ke penginapan, membersihkan sisa makanan, dan menerima tugas apa pun yang dilemparkan padaku secara tiba-tiba.
Aku menjalani semuanya dengan ikhlas. Teguh. Diam.
Karena ini satu-satunya pekerjaan yang berhasil kudapatkan.
Itu pun aku masuk dengan susah payah. Semua berkat bantuan istriku, Serafina Walter.
Ya, Sera mengenal manajer restoran ini. Saat aku ditolak, dia maju dan bicara langsung sampai akhirnya aku diterima bekerja di sini. Aku tentu tidak akan menyia-nyiakan usaha istriku yang sudah membantuku.
Menurut ibu mertuaku, Sera bahkan mengeluarkan lima puluh juta rupiah untuk membeli hadiah dan minuman mahal bagi manajer restoran demi pekerjaan pelayan ini. Beruntung niat baiknya diterima. Karena itu, aku tidak boleh menyerah hanya karena tidak tahan mendengar hinaan dari rekan-rekanku sendiri.
Aku akan menjalaninya.
Apalagi minggu lalu aku mendengar Sera akan mengadakan pesta ulang tahun. Seminggu lagi istriku berulang tahun yang ke-25. Aku tahu dia menginginkan sebuah tas mewah dari butik langganannya.
Tas branded keluaran terbaru. Harganya tiga ratus juta rupiah.
Tentu saja aku tidak mampu membelinya dalam waktu singkat. Karena itu, aku memilih lembur dan mencari pekerjaan tambahan setelah pulang dari restoran. Tubuhku boleh remuk. Mataku boleh panas karena kurang tidur. Tapi aku harus mendapatkannya.
Aku, Adrian Foxwell, harus bisa membahagiakan istriku.
Aku harus membuktikan kepada keluarga istriku bahwa kali ini aku juga bisa memanjakan Sera. Kali ini aku bisa memberikan sesuatu yang dia inginkan. Sesuatu yang pantas untuk wanita seperti dia.
Aku tidak sabar melihat reaksi Sera saat aku memberinya tas mewah itu nanti.
Apakah dia akan tersenyum padaku?
Sejak kami menikah lima tahun lalu, tak sekalipun Sera tersenyum untukku. Dia selalu memasang wajah dingin dan datar, seolah jarak di antara kami bukan hanya selebar ranjang, melainkan sedalam jurang yang tidak pernah bisa kuseberangi.
Namun, aku tetap merasa diperhatikan.
Dia peduli aku mendapatkan pekerjaan. Dia membiarkanku tidur di ranjang yang sama dengannya, meski aku tidak pernah diizinkan menyentuhnya. Meski setiap malam aku hanya bisa berbaring di sisinya, menatap punggungnya, dan menelan rindu yang tidak pernah berani kusuarakan.
Aku yakin suatu hari nanti Sera akan menerimaku sepenuhnya.
Ini hanya masalah waktu.
Aku harus sabar. Bagaimanapun, pernikahan kami memang diatur oleh mendiang kakek Sera, pria tua yang pernah tidak sengaja kutolong. Aku tidak menyangka kebaikan kecil itu membuatnya menjodohkanku dengan cucunya yang cantik, anggun, dan sukses sebagai wanita karier.
Aku merasa beruntung memiliki Sera.
Aku sangat mencintainya.
Memikirkannya saja sudah membuat dadaku sesak oleh rindu. Aku ingin segera pulang, melihat wajahnya, mendengar suaranya, meski yang keluar dari bibirnya sering kali hanya perintah dingin.
Namun, semua itu belum bisa kulakukan dalam beberapa jam ke depan. Sekarang aku harus bersiap untuk pekerjaan tambahanku setelah membereskan semua tugasku di restoran.
"Adrian, kau mau ini?"
Salah satu rekanku menghampiriku sambil menyodorkan sebuah bungkusan.
"Ini sisa makanan dari ruang VIP. Kau tidak akan pernah bisa merasakan daging sapi selembut dan semahal ini kalau menolaknya. Seumur hidupmu juga tidak akan mampu membelinya."
"Terima kasih."
Tanganku terulur mengambil bungkusan itu.
Dia benar. Aku memang tidak akan mampu membeli makanan semahal ini. Aku juga sudah terbiasa memakan makanan sisa. Lagi pula, aku harus menghemat pengeluaran agar tabunganku semakin cepat terkumpul.
Rekanku hanya melengos setelah aku menerima bungkusan itu, seolah berlama-lama di dekatku bisa menurunkan derajatnya.
Aku menatap jam. Masih ada lima menit untuk makan.
Aku memilih duduk di bibir tanaman beton yang melingkari tanaman hias di depan gedung. Udara malam menusuk kulit, bercampur bau knalpot dan sisa hujan yang mengering di aspal. Saat aku membuka bungkusan dan bersiap makan, ponselku berdering.
Nama Sera muncul di layar.
"Ha..."
"Adrian, cepat kembali dan bawa makanan dari restoran Le Ciel. Cepat, jangan terlambat. Samuel sedang sakit dan nafsu makannya berkurang."
"Aku masih..."
"Adriaaan!"
Nada lelah itu menyambutku dengan keras. Bukan lelah yang rapuh, melainkan lelah yang seolah-olah aku adalah beban tambahan dalam hidupnya.
"Cepatlah. Aku tidak mau tahu. Jangan membuatku marah!"
Tut.
Telepon mati.
Aku menatap layar ponselku yang sudah retak. Foto pernikahan kami menjadi wallpaper. Di sana, aku berdiri di samping Sera dengan senyum gugup, sementara dia menatap kamera dengan wajah datar. Bahkan dalam foto itu, aku terlihat seperti seseorang yang tidak seharusnya berada di sisinya.
Telepon dimatikan sepihak. Seperti biasa.
Aku menutup kembali makananku. Tidak jadi menikmatinya. Setelah ini aku masih harus ke hotel untuk bekerja sebagai pengangkut sampah, tapi sebelum itu aku harus memenuhi permintaan Sera.
Aku segera berlari ke motor. Mesin menyala dengan suara kasar. Aku memacu kendaraan lebih cepat dari biasanya, menembus jalanan kota yang padat dan basah oleh cahaya lampu.
Aku singgah untuk membeli makanan di restoran yang diminta Sera.
"Totalnya satu juta lima ratus ribu rupiah."
Pegawai itu memberikan struk dan bungkusan makanan dengan sikap sopan yang terasa asing bagiku.
Aku segera membayar dengan kartu. Angka di layar mesin pembayaran seperti menampar wajahku, tapi aku menelannya diam-diam. Setelah itu, aku keluar sambil membawa pesanan Sera.
Namun, karena terlalu buru-buru, fokusku pecah di jalan.
Sebuah mobil menyerempet motorku dari samping. Benturannya keras. Tubuhku terlempar, motor terguling, dan aspal menghantamku tanpa ampun.
Tanganku terasa perih. Kakiku nyeri sampai ke tulang. Napasku tersengal, sementara bungkusan makanan itu terlempar beberapa meter dariku.
Aku mengabaikan rasa sakit dan terseok mendekatinya.
"Kalau naik motor pakai mata! Dasar gembel!"
Sopir mobil itu berteriak marah tanpa susah payah turun. Setelah itu, dia pergi begitu saja, meninggalkan aku dan motorku di pinggir jalan.
Padahal dia yang salah.
Aku mengambil bungkusan makanan itu dengan tangan gemetar. Bagian luarnya sedikit kotor dan wadahnya rusak. Namun, makanannya masih berada di dalam. Masih bisa dimakan.
Aman.
Aku menarik napas berat, lalu kembali ke motor. Dengan kaki berdenyut nyeri, aku memaksa diri mengendarainya sampai ke rumah.
"Kau tahu ini jam berapa?"
Sera menyambutku di ruang depan dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Wajahnya dingin, matanya tajam, dan tubuhnya berdiri tegak seperti hakim yang sudah menjatuhkan vonis sebelum mendengar pembelaan.
"Samuel bisa mati kelaparan karena kamu! Dasar menantu tidak berguna!"
Suara itu menyambar dari kamar sebelah.
Ibu mertuaku muncul dengan tatapan penuh jijik. Tatapan yang sudah terlalu sering kuterima sampai rasanya seperti bagian dari dinding rumah ini.
"Sudah, sudah. Mana makanannya?" pinta Sera.
Aku menyerahkan bungkusan itu.
Dia menerimanya begitu saja, lalu berbalik pergi tanpa bertanya kenapa bajuku kotor, kenapa tanganku berdarah, atau kenapa aku berjalan pincang.
Semua orang pergi.
Tidak ada satu pun yang peduli.
Aku mengikutinya perlahan. Setiap langkah terasa seperti menekan luka yang baru terbuka. Di dalam kamar, aku melihat Samuel terbaring lemah di ranjang. Wajahnya pucat. Sera, ibu mertuaku, dan yang lain mengelilinginya dengan ekspresi cemas.
Seolah seluruh kasih sayang di rumah ini telah habis ditumpahkan ke tubuhnya.
"Makanannya kenapa bisa begini?!" pekik Sera.
"Dasar menantu kotor! Dia membeli makanan sampah untuk Samuel?!"
Ibu mertuaku murka. Dia melangkah ke arahku dan menarik lenganku kasar. Rasa sakit dari luka di tanganku langsung menjalar, tapi aku menahan diri agar tidak meringis.
"Kau ini benar-benar tidak becus! Kau ingin meracuni Samuel? Dia itu adikmu sendiri!"
Ibu mertuaku melemparkan bungkusan makanan itu ke arahku.
Wadahnya menghantam tubuhku sebelum jatuh ke lantai. Kuahnya sedikit tumpah, meninggalkan noda di dekat sepatuku.
"Adrian, kamu mengecewakanku," ujar Sera.
Sorot matanya penuh amarah.
Dadaku seperti diremas.
"Aku..."
Belum sempat aku menjelaskan, semua orang sudah menghardikku. Suara mereka saling bertumpuk, menghantamku dari segala arah. Tidak ada ruang untuk pembelaan. Tidak ada jeda untuk bertanya.
Aku tidak diberi kesempatan menjelaskan.
Mereka menghakimiku begitu saja.
Aku pikir Sera akan menjadi satu-satunya orang yang mau mendengarku. Aku pikir setidaknya dia akan melihat darah di tanganku, noda di bajuku, atau caraku berdiri yang tidak seimbang.
Namun, saat aku menatapnya, dia justru membuang muka.
"Uhuk! Uhuk!"
Suara batuk Samuel langsung menarik perhatian semua orang.
Hanya dengan batuk kecil, dia berhasil menarik seluruh tatapan simpati yang tidak pernah menjadi milikku.
"Jangan marah pada Kak Adrian. Aku bisa memakannya," ujar Samuel dengan suara sangat lirih.
Aku bisa melihat betapa pucat wajahnya. Tubuhnya terlihat rapuh, seolah sedikit saja disentuh, dia bisa hancur.
"Jangan membelanya. Kamu terlalu baik, Samuel," kata Sera.
Setelah itu, tanpa menoleh ke arahku, dia berkata dingin, "Sebaiknya kau kembali bekerja."
Aku terdiam.
Kalimat itu sederhana, tapi rasanya seperti pintu yang ditutup tepat di depan wajahku.
Aku menyeret kakiku pergi. Menahan sakit di sekujur tubuh dan di tempat yang jauh lebih dalam daripada luka di kulitku. Istriku begitu perhatian pada Samuel, sementara aku, suaminya, bahkan tidak mendapat satu pertanyaan pun.
Dan aku cemburu.
Pada adikku sendiri.
Rasa itu menjijikkan. Membuatku merasa semakin rendah. Aku tahu aku tidak seharusnya cemburu pada Samuel, apalagi dia sedang sakit.
Ya, kondisi Samuel memang lemah. Adik angkatku itu selalu menjadi kesayangan keluargaku, juga keluarga istriku. Selain itu, dia pintar. Papa mengandalkannya untuk perusahaan. Hanya saja, akhir-akhir ini tubuhnya bermasalah.
Aku tentu khawatir.
Rasa bersalah pun menumpuk di dadaku karena aku gagal membawa makanan yang layak untuknya.
Aku menunduk, menatap darah kering di tanganku, lalu tersenyum pahit.
"Sepertinya aku memang tidak berguna," lirihku.
***
Bersambung
Daftar bab
77 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








