

Surabaya siang itu seperti neraka yang bocor. Matahari tepat di ubun-ubun, memanggang aspal kawasan Dharmahusada hingga suhu menyentuh 37°C. Udara statis, pengap, dan penuh amarah. Di tengah kepungan beton perumahan mewah, Piko terus berjuang.
Piko menyeka keringat yang membanjiri dahinya. Handuk kecil di lehernya sudah tak lagi putih, melainkan abu-abu kusam, lembap oleh peluh dan debu jalanan. Piko adalah potret kemalangan. Yatim piatu sejak kecil, hidupnya seperti dikutuk. Kulitnya hitam legam—bukan hitam yang eksotis, tapi hitam pekat yang terpanggang matahari bertahun-tahun. Penampilan dekil itu sering kali membuatnya jadi bahan rundungan di pangkalan becak.
"Piko! Becakmu itu dicat, biar tidak seperti rongsokan berjalan! Itu mukamu juga, kasih bedak biar tidak bikin silau orang lewat!" seru Cak Mad, tukang becak senior. Gelak tawa riuh pecah seketika, menghina harga diri Piko yang sudah tipis.
Piko hanya diam. Baginya, membalas kata-kata adalah kemewahan yang tak terbeli. Ia lebih memilih diam dan menggenjot pedal becaknya menuju kompleks perumahan elite. Di sana, meski orang-orangnya jarang tersenyum, mereka sering memberikan uang tip yang lumayan.
Namun, di balik fisik yang dihina itu, Piko menyimpan rahasia besar yang akan membuat pria manapun bertekuk lutut karena iri. Ia memiliki 'pusaka' luar biasa sepanjang 30 cm. Transformasi gila ini terjadi setelah ia nekat memakan sesajen "Gulo Gending" di bawah beringin tua beberapa hari lalu. Sejak saat itu, miliknya memanjang dan membesar secara tidak masuk akal. Piko tidak terlalu ambil pusing, selama itu tidak mengganggu geraknya saat menarik becak.
Siang itu, rasa sesak di kantung kemihnya sudah tak tertahankan. Ia sedang melintasi jalan buntu yang sepi di kawasan perumahan mewah. Di samping sebuah mansion megah bergaya Eropa minimalis, terdapat lahan kosong dengan ilalang tinggi dan pohon mangga rimbun. Tempat yang sempurna.
Piko memarkir becaknya. Ia menoleh ke kiri dan kanan. Sepi. Hanya ada suara dengung AC sentral dari rumah-rumah besar di sekelilingnya. Dengan tergesa, ia menyelinap ke balik rimbunnya semak yang berbatasan langsung dengan pagar tembok rumah mewah tersebut.
"Ahh... leganya," desah Piko saat mengeluarkan 'pusaka' raksasanya dari balik celana. Ia mulai membuang hajat di sana.
Piko tidak menyadari, di balik tembok setinggi dua meter itu, terdapat sebuah gazebo jati yang mewah. Di sana, Nyonya Belinda, sang pemilik rumah, sedang berbaring malas. Belinda adalah legenda di kawasan itu. Cantik, berkulit porselen, dan memiliki tubuh yang sangat sintal meski usianya hampir menginjak kepala empat. Suaminya, seorang pengusaha kapal, lebih sering berada di luar negeri, membiarkan Belinda kesepian dalam kemewahan.
Mendengar suara gemericik air dan gumaman pria dari balik pagar, rasa penasaran Belinda terusik. Ia bangkit, mendekati pagar tembok, dan mengintip melalui celah kecil dekoratif.
Detik itu juga, dunia seolah berhenti berputar bagi Belinda. Majalah mode di tangannya terlepas, jatuh begitu saja ke lantai kayu.
Mata Belinda terpaku pada apa yang sedang dipegang Piko. Pemandangan itu benar-benar tidak masuk akal secara anatomis. Besar, panjang, dan terlihat sangat perkasa—sangat kontras dengan penampilan pemuda yang dianggapnya dekil itu.
"Ya Tuhan..." bisik Belinda tertahan. Jantungnya berdegup kencang, memompa darah ke seluruh tubuhnya. Sepanjang hidupnya, ia belum pernah melihat yang seperti itu, bahkan dalam film dewasa yang sering ia tonton secara sembunyi-sembunyi untuk mengusir sepi di ranjangnya yang luas.
Piko, yang sudah merasa lega, segera merapikan celananya. Ia sama sekali tidak sadar bahwa sepasang mata lapar sedang mengawasinya dengan hasrat yang meledak-ledak.
Tak ingin kehilangan jejak pemuda itu, Belinda segera berlari keluar rumah.
"Tung... tunggu!" teriak Belinda.Piko menoleh dan seketika membeku. Ia terkejut melihat Belinda yang hanya mengenakan gaun kain sutra tipis berlari ke arahnya. Piko menelan ludah berkali-kali. Pemandangan di depannya sangat provokatif. Dada Belinda yang padat dan kenyal memantul liar di balik kain tipis itu seiring langkah kakinya. Paha mulusnya yang putih bersih terekspos saat tertiup angin.
Piko berusaha keras menenangkan pikirannya yang mulai liar. Ia masih sayang nyawa dan tidak ingin berurusan dengan hukum karena dianggap menggoda nyonya kaya.
"Kenapa Nyonya? Mau saya antar dengan becak?" tanya Piko gugup saat Belinda berdiri tepat di hadapannya dengan napas yang masih tersengal.
Tidak... aku hanya ingin tahu, siapa namamu?" tanya Belinda dengan tatapan yang sangat intens, seolah ingin menelanjangi Piko saat itu juga.
Piko membelalak. Ia menggaruk rambutnya yang berantakan, merasa sangat kikuk. Apakah ia akan dimarahi karena kencing sembarangan?
"Saya Piko, Nya," jawabnya dengan wajah yang mendadak pucat. "Anu... Nyonya... saya minta maaf. Saya benar-benar tidak tahan tadi. Tolong jangan dilaporkan ke satpam, saya hanya cari makan di sini."
Belinda tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh arti. "Piko, tenang saja. Aku tidak akan melaporkanmu. Tapi, besok siang, bisakah kamu menjemputku di sini? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu secara pribadi."
Piko terheran-heran. Namun karena takut dilaporkan ke pihak keamanan perumahan, ia hanya bisa mengangguk pasrah. "Baik, Nya. Besok siang saya ke sini."
Tanpa diduga, tangan lembut Belinda yang dingin menyentuh dan mengelus lengan Piko yang kasar. Sentuhan itu seperti aliran listrik yang menyengat tubuh Piko.
"Jangan lupa ya, Piko. Aku menunggumu besok siang," bisik Belinda tepat di telinga Piko.Wangi parfum mahal yang bercampur dengan aroma tubuh Belinda menusuk hidung Piko, membuatnya pening seketika.Badan Piko jadi agak terhuyung ke depan dan tangannya tanpa sengaja memegang dada Nyonya Belinda yang kenyal.
" Maaf..maaf Nyonya saya gak sengaja," teriak Piko panik.Belinda berbalik dan tersenyum genit.
"Gak papa kok Piko,ak suka kok,hee," gurau Nyonya Belinda, kemudian ia berjalan masuk dengan pinggul yang bergoyang menggoda, meninggalkan Piko yang masih terpaku.
Sepeninggal wanita itu, Piko merasakan sesuatu di balik celananya kembali menegang. Sesak dan keras. Ia tahu, hari esok tidak akan pernah sama lagi bagi hidupnya.