
- Jumlah kata
- 11.7K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
Sinopsis
Bagi Regar Astama Putra, tahun 2026 adalah neraka. Sudah yatim piatu dan menumpang di rumah pamannya yang galak, di sekolah pun dia jadi keset kaki geng pembully. Di ambang kesadaran saat dipukuli di belakang sekolah, Regar cuma bisa berdoa pasrah: "Tuhan, kalau bisa, pas bangun nanti gue pengen jadi orang lain aja..." Siapa sangka, doa itu dikabulkan secara instan lewat jalur yang sangat ekstrem. Di belahan dimensi lain pada abad ke-14, Raden Arya Brajanata—seorang pangeran tangguh sekaligus murid kesayangan jenderal Majapahit—tiba-tiba pingsan saat berlatih karena racun misterius dari musuh politiknya. Ketika keduanya membuka mata, takdir mereka sudah jungkir balik. Jiwa mereka tertukar!
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB 1: NASIB SIAL DI BELAKANG SEKOLAH
Bagi Regar Astama Putra, tahun 2026 bukan tahun yang penuh teknologi canggih kayak di film-film. Bagi dia, 2026 adalah tahun di mana hari-harinya di SMA terasa kayak neraka kiriman.
Bugh!
"Aduh!" Regar meringis kesakitan saat punggungnya menghantam tembok gudang belakang sekolah yang penuh lumut. Kacamata minusnya merosot, untung saja tidak pecah.
Di depannya, berdiri tiga cowok berseragam SMA dengan baju dikeluarkan dan kancing atas terbuka. Bos mereka, Riko, sedang memainkan korek api gas sambil tersenyum meremehkan.
"Lagian lo pelit banget sih, Gar. Kita kan cuma pinjem duit lima puluh ribu buat beli es teh sama rokok batangan. Masa nggak ada?" kata Riko sambil menepuk-nepuk pipi Regar dengan ujung jarinya. Kasar.
Regar cuma bisa menunduk, memegangi perutnya yang terasa nyeri. "Beneran, Rik... itu duit terakhir buat ongkos angkot pulang. Kalau gue kasih, gue pulang jalan kaki 10 kilo..." suara Regar terdengar gemetar.
"Yaelah, jalan kaki kan sehat! Hitung-hitung diet! Tubuh lo kan krempeng banget tuh!" dua teman Riko tertawa ngakak, merasa lelucon mereka sangat lucu.
Regar hanya bisa menghela napas dalam hati. Dia selalu bertanya pada Tuhan, kenapa nasibnya apes sekali? Sudah yatim piatu, tinggal menumpang di rumah paman yang galak, di sekolah pun dia cuma jadi keset kaki geng pembully. Kapan hidupnya bisa keren seperti karakter utama di komik-komik yang sering dia baca?
"Udah ah, kelamaan! Geledah aja kantongnya!" perintah Riko mulai tidak sabaran.
Saat anak buah Riko maju untuk merampas dompet Regar, dia mencoba bertahan. Dia memeluk tasnya erat-erat. Gara-gara aksi nekat itu, satu pukulan mentah mendarat tepat di rahang Regar.
Brakk!
Dunia Regar seketika goyah. Pandangannya kabur. Kepalanya pusing bukan main, dan dunianya perlahan berubah menjadi hitam pekat.
'Tuhan... kalau bisa, pas bangun nanti, gue pengen jadi orang lain aja...' batin Regar sebelum kesadarannya benar-benar hilang.
Di belahan dimensi yang berbeda, tepatnya di sebuah pendopo megah berlantai batu hitam, seorang pemuda tampan dengan pakaian kebesaran kerajaan tiba-tiba limbung. Keris pusaka di genggamannya terlepas.
Arya Brajanata, sang putra mahkota, ambruk di tengah lapangan latihan. Dadanya terasa panas seperti terbakar—efek racun yang diam-diam dimasukkan musuh ke dalam minumannya.
Saat Regar pingsan karena pukulan di belakang sekolah, dan Arya pingsan karena racun di zaman Majapahit, takdir mulai bermain. Jiwa mereka bertukar tempat.
"Heh, bangun! Malah akting pingsan lo!"
Suara bentakan kasar itu perlahan menembus pendengaran. Bersamaan dengan itu, rasa nyeri yang hebat menjalar dari rahang hingga ke seluruh tubuhnya.
Jiwa yang berada di dalam tubuh Regar akhirnya terbangun. Namun, sepasang mata yang perlahan terbuka itu tidak lagi memancarkan ketakutan. Sepasang mata itu kini berkilat tajam, dingin, dan memancarkan wibawa agung yang luar biasa.
Arya Brajanata—sang pangeran dari zaman Majapahit—melotot kecil. Dia melihat ke sekeliling dengan kebingungan yang teramat sangat. Tempat apakah ini? Kenapa temboknya terbuat dari susunan batu kotak yang aneh? Benda kotak besi besar berkarat apa itu di pojok sana? Di mana lapangan latihan kerajaan? Di mana para prajuritnya? Dan yang paling utama, siapa tiga pemuda berpakaian aneh yang sedang menatapnya dengan pandangan merendahkan ini?
"Heh, ditanya malah melongo! Dompet lo gue sita buat bayar uang jajan kita minggu ini!" Riko, si ketua geng pembully, tertawa puas sambil menggoyang-goyangkan dompet kulit murahan milik Regar.
Arya mencoba merasakan aliran energi di dalam tubuhnya. Kurang ajar. Tubuh ini sangat rapuh, kurus kering, dan tampak tak bertenaga sama sekali. Aliran darahnya tersumbat di mana-mana, dan tidak ada hawa murni yang mengalir di pusat dantian-nya. Jiwanya memang seorang pendekar sakti mandraguna, namun wadah fana yang ia tempati saat ini benar-benar ringkih dan menyedihkan.
Ia tidak tahu mengapa ia bisa terperangkap di dalam raga yang sekecil ini, namun satu hal yang pasti: harga diri seorang putra mahkota kerajaan besar tidak akan pernah sudi diinjak-injak oleh siapa pun. Terlebih lagi oleh tiga pemuda ingusan yang tidak tahu tata krama ini.
Arya bangkit berdiri secara perlahan. Dia membersihkan debu yang menempel di celana abu-abunya dengan gerakan yang sangat tenang.
"Berani sekali kalian..." suara Arya keluar dari mulut Regar. Nada suaranya rendah, berat, dan penuh penekanan. Sangat berbeda dari suara cicitan Regar yang biasanya selalu memohon ampun.
Riko mengernyitkan alis, merasa ada yang aneh dengan tatapan Regar. "Hah? Ngomong apa lo, Gar? Nyari ribut?"
"Kembalikan barang di tanganmu, wahai kawula rendah. Berlutut dan mintalah maaf sebelum amarahku membuat tempat ini menjadi kuburan kalian," ucap Arya datar tanpa keraguan sedikit pun.
Mendengar gertakan itu, Riko dan kedua temannya malah saling pandang sebelum akhirnya tawa mereka pecah memenuhi area belakang sekolah. Mereka mengira, pukulan di rahang tadi sukses membuat otak Regar bergeser dan menjadi gila.
"Wah, songong banget nih anak sekarang! Kayaknya kurang keras kita gebukin tadi!" Riko maju selangkah, mengepalkan tangan kanannya, lalu melayangkan sebuah jotosan mentah langsung ke arah wajah Arya.
Arya tidak menghindar. Dia tahu tubuh kurus ini terlalu lambat untuk mengelak. Maka, dia mengambil kuda-kuda rendah, membusungkan dadanya, dan mengunci fokus pikirannya untuk menarik paksa sisa-sisa energi spiritual yang tersisa di alam sekitar. Sebagai mantra pemfokus agar energinya tidak meledak dan menghancurkan pembuluh darahnya sendiri, Arya berteriak lantang:
"AJIAN LEMBU SEKILAN!"
Bugh!
Pukulan keras Riko berhenti tepat satu sentimeter di depan hidung Arya. Tinjunya seolah-olah menghantam sebuah dinding kaca tak kasat mata yang luar biasa keras.
"Arghhh!!!" Riko langsung menjerit histeris. Dia memegangi pergelangan tangan kanannya sambil berlutut di tanah. Suara gemertak tulang terdengar jelas. Jarinya terasa retak, seolah dia baru saja menghantam sebongkah batu dengan tangan kosong.
Dua anak buah Riko langsung melongo melotot. Mereka tidak melihat Regar bergerak sama sekali, tapi kenapa bos mereka justru yang terluka parah?
"Rik! Lo kenapa, Rik?!" salah satu anak buahnya panik.
"Sialan! Dia pakai trik atau apa ini?! Serang dia bareng-bareng! Hancurin badannya!" teriak Riko sambil meringis menahan sakit yang luar biasa.
Dua antek Riko langsung maju bersamaan. Yang satu mencoba menerjang dari kanan, sementara yang satu lagi mengambil balok kayu penyangga yang ada di dekat gudang.
Arya merasakan dadanya berdentang nyeri. Menggunakan Ajian Lembu Sekilan barusan membuat jantung tubuh ini berdegup dua kali lebih cepat. Raga ini benar-benar menolak energi kanuragan tingkat tinggi. Tapi, pertempuran belum selesai. Arya harus menyelesaikannya dengan cepat sebelum tubuh ini pingsan lagi karena kelelahan.
Arya menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan udara di paru-parunya, lalu memusatkan seluruh energi suara ke tenggorokannya.
"AJIAN GELAP NGAMPAR!"
Arya melepaskan teriakan yang luar biasa dahsyat. Suara itu bukan sekadar teriakan biasa, melainkan gelombang kejut yang menyatu dengan energi spiritual. Bagi dua anak buah Riko yang sedang berlari maju, suara itu terdengar seperti sambaran petir yang menggelegar tepat di dalam gendang telinga mereka.
Dampaknya instan. Kedua kaki mereka langsung lemas seketika. Balok kayu yang dipegang terjatuh, dan keduanya jatuh duduk di tanah sambil menutupi telinga mereka yang mendengung hebat. Kepala mereka pusing berputar, dan rasa mual yang luar biasa langsung menyerang lambung mereka.
Hanya dengan sebuah teriakan, dua orang preman sekolah langsung lumpuh tak berdaya.
Arya berjalan perlahan mendekati Riko yang masih berlutut ketakutan. Riko mendongak, menatap "Regar" dengan tubuh yang gemetar hebat. Di matanya saat ini, Regar tidak lagi terlihat seperti anak cupu yang bisa ditindas, melainkan seperti sosok iblis atau jenderal perang yang siap mencabut nyawanya.
"lo... lo kesurupan ya, Gar? Ampun, Gar..." bisik Riko dengan suara bergetar, air matanya bahkan hampir menetes karena ketakutan yang teramat sangat.
Arya menjulurkan tangan kurusnya, mencengkeram kerah baju Riko, lalu mengangkat tubuh cowok itu dengan satu tangan. Untuk memastikan musuhnya tidak berani kembali, Arya memusatkan sedikit energi ototnya sambil membatin mantra pelipat ganda kekuatan:
"AJIAN BANDUNG BONDOWOSO!"
Dengan satu sentakan ringan, Arya melemparkan tubuh Riko ke udara.
Brakk! Gubrak!
Tubuh Riko melayang sejauh tiga meter dan jatuh dengan sangat tidak estetis tepat di dalam bak sampah besar berisi sisa-sisa makanan kantin.
"Uhuk! Uhuk!" Riko terbatuk-batuk, tubuhnya dipenuhi bau busuk, wajahnya pucat pasi, dan dia benar-benar tidak berani berkutik lagi.
Tepat setelah Riko mendarat di bak sampah, Arya merasakan efek samping yang mengerikan. Otot lengan kanannya mendadak kram hebat, dan rasa panas seperti terbakar menjalar di sepanjang tulang belakangnya. Mulutnya mengeluarkan sedikit darah segar karena pembuluh darah kecil di dalamnya pecah akibat tekanan energi Bandung Bondowoso.
'Kurang ajar... Kenapa tubuhku ini menjadi benar-benar rapuh. Baru mengerahkan tiga ajian tingkat dasar saja sudah hampir hancur,' batin Arya sembari menyeka darah di sudut bibirnya. Dia masih sangat linglung. Mengapa dia bisa berada di sini? Mengapa tubuhnya menjadi selemah ini?
"HEI! APA-APAAN INI?! KELAKUAN SIAPA INI?!"
Sebuah suara bariton yang menggelegar dari arah koridor membuat suasana seketika hening. Dari balik belokan gudang, muncul seorang pria paruh baya bertubuh tegap. Rambut pria itu sudah dipenuhi uban putih seluruhnya, memberikan kesan perak yang dingin. Wajahnya luar biasa tegas, bersih tanpa kumis maupun jenggot sedikit pun. Tatapan matanya tajam membidik, sanggup membuat murid paling nakal sekalipun langsung menciut di tempat.
Dia adalah Pak Pranowo, kepala guru BK yang terkenal kejam tanpa ampun di SMA Katulistiwa.
Pak Pranowo memandang tajam ke arah tempat kejadian. Matanya beralih dari dua murid yang terkapar memegangi telinga, Riko yang mengenaskan di dalam bak sampah, dan terakhir ke arah pemuda kurus yang berdiri tegak dengan sudut bibir berdarah.
Pak Pranowo dibuat tertegun. Anak kurus di depannya ini berdiri dengan tegap, dagunya terangkat, dan tatapan matanya justru menatap balik dirinya tanpa ada rasa takut sedikit pun. Ada aura kepemimpinan yang agung memancar dari raga anak itu, membuat Pak Pranowo sempat merinding selama satu detik.
"Regar! Riko! Dan kalian berdua! Apa yang kalian lakukan di belakang gudang saat jam pelajaran sudah dimulai?!" bentak Pak Pranowo, mencoba mengembalikan wibawanya yang sempat goyah.
Arya mengernyitkan dahi mendalam. *Regar? Siapa itu Regar? Jam pelajaran? BK? Istilah asing apa yang diucapkan kisanak ini?* Arya benar-benar tidak mengerti satu kata pun.
Riko yang berada di bak sampah langsung berteriak dengan suara serak, "Pak! Tolong, Pak! Regar gila, Pak! Dia pakai dukun! Tangan saya patah dipukul sama dia!"
Pak Pranowo mengernyitkan dahi. Regar menghajar Riko? Itu adalah lelucon paling tidak masuk akal. Semua orang tahu kalau Regar bahkan tidak berani memukul seekor nyamuk.
"Diam kamu, Riko! Jangan cari alasan bodoh! Sekarang juga, kalian bertiga bawa Riko ke ruang UKS! Setelah itu, kalian semua menghadap saya ke ruang BK!" perintah Pak Pranowo dengan nada tegas.
Dua anak buah Riko yang kepalanya masih agak pusing langsung memaksakan diri bangun. Mereka memapah Riko keluar dari bak sampah dan buru-buru pergi dari sana, sama sekali tidak berani menoleh ke arah Arya.
Pak Pranowo kemudian menatap Arya yang masih berdiri diam dengan tatapan linglung. "Dan kamu, Regar. Masuk ke kelasmu sekarang juga. Bersihkan darah di mukamu itu. Urusan kita belum selesai, pulang sekolah nanti kamu harus menghadap saya!"
Arya hanya diam, tidak menyahut. Baginya, perintah pria beruban ini terdengar seperti bahasa asing yang membingungkan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Arya melangkah pergi meninggalkan Pak Pranowo dengan langkah kaki yang tenang dan anggun, layaknya seorang bangsawan yang berjalan di atas singgasananya.
Pak Pranowo menatap punggung itu dengan heran. "Anak itu... kenapa rasanya berbeda sekali?" gumamnya.
Baru saja Arya berjalan beberapa puluh langkah menyusuri koridor beralas ubin mengkilap itu, kepalanya mendadak berdenyut dengan sangat hebat. Rasa sakitnya luar biasa, seolah-olah tengkoraknya dihantam oleh gada besi seberat ratusan katil.
"Argh..." Arya mengerang rendah, tangannya spontan mencengkeram kepalanya yang serasa mau pecah.
Di dalam benaknya, jutaan kilatan gambar asing berkelebat dengan kecepatan luar biasa. Gambar-gambar tentang kereta besi tanpa kuda yang melaju cepat di jalanan aspal, kotak kecil bercahaya yang menampilkan wajah manusia, gedung-gedung tinggi yang mencakar langit, hingga runtutan memori menyedihkan tentang seorang anak yatim piatu yang selalu dipukuli, dihina, dan ditindas di sebuah tempat bernama 'sekolah'.
Semua memori asing itu berbenturan, melebur, dan menyatu dengan ingatan milik Arya tentang perang, istana Majapahit, keris pusaka, dan latihan kanuragan di abad ke-14.
Perlahan, kesadaran Arya mulai jernih seiring redanya rasa sakit di kepala. Pikirannya kini menangkap semua informasi dari pemilik tubuh asli ini. Nama raga ini adalah Regar Astama Putra. Dan tempat aneh berlantai ubin dengan dinding-dinding kaca ini dinamakan sekolah, berada di sebuah masa ratusan tahun setelah zamannya: tahun 2026.
Arya menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah jendela kaca besar yang memantulkan bayangan dirinya secara utuh. Ia menatap lekat-lekat bayangan itu. Wajah remaja laki-laki berusia 17 tahun, berkulit pucat, berambut berantakan, dan bertubuh kurus kering.
Mata Arya membelalak kecil. Kenyataan pahit ini menghantam kesadarannya.
"Jadi... sukmaku telah terlempar ke masa depan? Aku... tidak lagi berada di tanah Majapahit?" bisik Arya pada dirinya sendiri, suaranya bergetar kecil karena terkejut. Namun, keterkejutan itu tidak berlangsung lama. Sorot matanya kembali mendingin dan mengeras.
Ia mengepalkan tangan kurus Regar hingga buku-buku jarinya memutih. "Tiada mengapa. Singgasana dan ragaku di masa lalu mungkin telah tiada. Namun selama sukmaku tetaplah Arya Brajanata, aku akan menempa raga ringkih ini menjadi ksatria terkuat yang akan menggetarkan zaman ini."
Berbekal ingatan Regar yang kini telah menyatu sepenuhnya di otaknya, Arya tahu ke mana ia harus melangkah. Ia melanjutkan berjalan menuju sebuah ruangan di ujung koridor yang bertuliskan "KELAS XI-B".
Begitu Arya mendorong pintu kelas, suasana kelas yang tadinya bising seperti pasar malam langsung mendadak senyap seketika. Seluruh pasang mata murid di kelas itu langsung tertuju padanya. Beberapa murid tampak berbisik-bisik sembari menunjuk ke arah sudut bibirnya yang masih menyisakan bercak darah segar. Mereka semua mengira Regar habis-habisan dihajar oleh Riko lagi seperti hari-hari biasanya.
Arya mengabaikan tatapan-tatapan merendahkan itu. Berkat memori Regar, ia tahu di mana tempatnya duduk. Ia berjalan mantap menuju satu-satunya meja kosong yang berada di pojok paling belakang, dekat jendela. Tempat duduk favorit para murid buangan.
Begitu Arya mendaratkan tubuhnya di kursi kayu, seorang cowok dengan rambut agak ikal yang duduk di sebelahnya langsung menggeser kursinya mendekat. Wajah cowok itu tampak sangat pucat dan dipenuhi raut ketakutan.
Dia adalah Bayu Anggara. Satu-satunya teman sekelas Regar yang bernasib sama buruknya, sesama pesuruh bagi para pentolan kelas karena sifatnya yang penakut.
"Gar! Lo... lo nggak apa-apa?" bisik Bayu dengan suara yang sangat pelan, seolah takut ada murid lain yang mendengar. "Gue tadi liat Riko dkk ngebawa lo ke belakang sekolah. Sumpah, gue pengen bantuin lo, tapi gue nggak berani... maafin gue ya, Gar. Muka lo sampai berdarah gitu, parah banget ya dihajar sama Riko?"
Arya menoleh perlahan, menatap Bayu dengan pandangan yang sedingin es. Di dalam memori Regar, Bayu memang anak yang baik, hanya saja bermental budak dan penakut seperti kerupuk tersiram air.
"Aku tidak mengapa," jawab Arya dengan nada datar. Bahasanya terdengar sangat baku, asing, dan penuh wibawa di telinga Bayu.
Bayu mengernyitkan dahi, merasa cara bicara sahabatnya sangat aneh hari ini. Biasanya Regar bakal langsung mengeluh, menangis sesenggukan, atau mengutuk nasibnya yang malang. Tapi sekarang, Regar justru terlihat sangat tenang, bahkan terlalu tenang untuk ukuran orang yang baru saja digebukin.
"Eh, terus... kok lo bisa balik duluan? Riko mana? Biasanya kan mereka bakal nahan lo sampai jam istirahat buat mintain duit jajan?" tanya Bayu lagi, penasaran setengah mati.
Arya menyandarkan punggungnya di kursi kayu, lalu menatap lurus ke luar jendela dengan senyuman tipis yang sarat akan kepuasan tersembunyi.
"Siapa yang kau maksud dengan Riko? Pemuda berbau nista yang kini bersemayam di dalam keranjang sampah itu?" ucap Arya tenang.
Bayu langsung melotot, matanya hampir keluar. "Hah?! Lo... lo ngomong apa sih, Gar? Jangan becanda deh, kalau kedengeran antek-anteknya Riko di kelas ini, bisa mati kita!" Bayu celingukan panik, mengira sahabatnya sudah kehilangan akal sehatnya akibat pukulan keras Riko di kepala.
Arya tidak membalas lagi. Ia memejamkan matanya, mengabaikan kepanikan Bayu. Fokus utamanya sekarang adalah memikirkan bagaimana cara mengembalikan stamina, menaikkan berat badan, dan melatih otot raga Regar ini agar siap menampung ajian-ajian saktinya yang lain. Tugas pertamanya di zaman fana ini baru saja dimulai.
Daftar bab
6 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








