
Sistem Raja Ranjang
Senior Ye|Bersambung
- Jumlah kata
- 65.2K
- Popular
- 31.7K
- Subscribe
- 2.0K
- Jumlah kata
- 65.2K
- Popular
- 31.7K
- Subscribe
- 2.0K
Sinopsis
Menjadi teknisi apartemen ternyata membuka mata Dimas akan satu hal. Banyak wanita cantik yang kesepian. Saat sebuah kecelakaan membuatnya terikat dengan Sistem Raja Ranjang, hidup Dimas langsung memanas. Dengan bantuan Sistem, Dimas mendapatkan uang, kemampuan, dan koneksi yang tak pernah ia miliki. Dari seorang teknisi biasa, ia perlahan menginjak dunia dan merebut semuanya.
Ulasan
2 ulasan
kicau
2 hari yang lalu
kalo gua baca ya cerita nya masih ok, saya ada saran min sari sama Maya jgn di bikin kayak wanita murahan kaya Reni sama keisha , nanti merusak alur novel Lo, karena menurut gua ke 2 cewek itu adalah heroin , semoga aja di baca
Afrizal
6/10/26 15:54
alur & jalan ceritanya sangat bagus walau sebenarnya hanyalah sebuah karya fiksi tapi sangat menghibur.
Awal Kehidupan Baru
Dimas menatap tubuh sintal di bawahnya. Wanita cantik itu berkulit putih susu. Mulus tanpa cela, beda dengan tangan kasarnya akibat bertahun-tahun memegang perkakas kotor.
"Aku hampir sampai– aahhh~"
Artis papan atas itu kejang hebat, dinding dalamnya meremas kuat. Dimas menyusul beberapa saat kemudian.
Nafas keduanya masih berkejaran ketika Dimas menjatuhkan tubuhnya di samping, menatap langit-langit.
Dimas sendiri sulit percaya. Rumah mewah ini, wanita cantik ini, semuanya adalah miliknya. Padahal dulu ia hanya teknisi miskin yang hidupnya tak pernah lepas dari pembulian dan tagihan utang.
Semua perubahan ini berawal dari pagi yang aneh itu.
Begitu keluar kamar, Dimas langsung disambut Novi, kakak iparnya.
"Dim, hari ini kita harus bayar lima juta. Kira-kira gimana?"
Dimas mengusap tengkuknya. "Lima juta, Mbak? Aku kira masih ada waktu sampai gajian. Minggu depan baru cair."
"Tapi rentenir itu udah banyak nge-WA, Dim. Mereka bakal ngobrak-abrik rumah kalau cicilannya nggak disetor hari ini."
Dimas menghela nafas. "Ini semua gara-gara si penipu itu. Coba aja dia gak bawa kabur duit Mas Anton. Hidup kita gak bakal hancur kayak gini!"
Novi tersentak mendengar nama almarhum suaminya disebut.
Setahun lalu, Anton meminjam uang untuk membangun usaha bersama sahabatnya, tapi pria itu membawa kabur seluruh modal. Usaha tidak jadi dibangun, utang menumpuk, dan Anton jatuh sakit hingga akhirnya meninggal dunia.
"Mbak ngerasa bersalah banget sama kamu. Dulu pas Mas-mu masuk ICU, kamu sampai ngutang sana-sini buat tebus obat. Sekarang kamu jadi ikut keseret nanggung utang segede ini."
Tatapan Dimas melunak. "Jangan ngomong gitu, Mbak. Mas Anton kan abang kandungku juga. Udah, Mbak pulang kampung aja ya. Urusan utang biar aku yang urus pelan-pelan."
"Tapi Bapak sama Ibu bisa jantungan kalau rentenirnya neror ke kampung. Lagian di sana Mbak mau kerja apa? Boro-boro buat nyicil utang, buat makan aja pas-pasan. Mending di sini, duitnya lebih jelas."
Dimas meraih jaket bututnya dari gantungan paku di balik pintu. "Ya udah kalau Mbak maunya gitu. Aku berangkat kerja dulu ya. Nanti sore aku usahain bawa duit."
"Hati-hati, Dim."
Begitu keluar, Dimas menghembuskan nafas panjang. Lima juta?! Mau pinjam siapa?! Bosnya pasti langsung maki-maki kalau berani kasbon lagi. Teman-temannya juga sama-sama hidup pas-pasan.
Dimas menatap rumah kecil peninggalan orang tuanya. Keduanya telah lama meninggal, dan kakaknya menyusul setahun lalu. Sejak itu Dimas yang berusia 20 tahun harus bertahan hidup sendirian. Dan sekarang rumah itu pun terancam disita.
'Semoga ada jalan...'
Dimas menyalakan motor bebek bututnya dan melaju pelan, tak berani menarik gas terlalu dalam setelah mogok di tengah jalan kemarin.
Tak lama kemudian, Dimas tiba di Apartemen Bumi Asri yang berdiri di tengah kawasan padat. Lokasinya dekat kampus, pusat perbelanjaan, dan deretan tempat makan yang tak pernah sepi mahasiswa. Karena itu, penghuni apartemen cukup beragam.
Dimas memarkir motornya di area khusus karyawan dan langsung menuju ruang teknisi. Bau asap rokok dan kopi sachet menyambutnya.
"Wih, lihat siapa yang datang. Si Gigolo Bumi Asri," celetuk Firman, teknisi paling senior di sana.
Dimas tak menggubris. Ia membuka pintu loker, lalu mulai mengganti bajunya dengan seragam biru tua.
Lagipula ejekan seperti itu sudah biasa ia dengar. Mereka iri karena penghuni wanita lebih sering memintanya menangani kerusakan di unit mereka.
"Pura-pura budek, nih anak." Salah seorang teknisi yang bernama Agus berdiri dan menghampirinya. "Kalo diajak ngomong tuh nyaut! Sok kecakepan lu!"
Bugh!
Satu tinju mendarat telak di ulu hati Dimas. Ia refleks memegangi perut yang mual luar biasa.
Agus lantas mencengkeram kerah seragam Dimas, memaksanya kembali berdiri tegak. "Puas lu, hah?! Sejak lu masuk ke sini, tips anak-anak jadi seret tau!"
Dimas terdiam.
Memangnya ini salahnya?! Apa ia pernah merayu atau menggoda penghuni unit?! Tidak! Dia selalu menjaga sikap dan fokus bekerja. Bahkan ia selalu menolak setiap kali penghuni meminta nomor pribadinya.
Melihat Dimas tak berani melawan, Agus bersiap melayangkan tinju kedua, tapi pintu mendadak terbuka. Pak Nandar, kepala teknisi, berdiri di ambang pintu dengan wajah masam.
"Dimas!" panggil Pak Nandar.
Agus gelagapan. Ia buru-buru melepaskan cengkeramannya dari kerah Dimas dan mundur selangkah.
"Buruan ke unit 504! Penghuninya udah ngomel-ngomel!"
Pak Nandar langsung berbalik pergi, tidak peduli anak buahnya mau saling bunuh selama komplain penghuni cepat beres.
Dimas meraih kotak perkakasnya, lalu bergegas naik ke lantai lima lewat tangga darurat. Bel Unit 504 ia pencet dengan nafas masih memburu.
Pintu terbuka, dan aroma vanilla langsung menyergap penciumannya. Di sana, Reni berdiri dengan tatapan lapar.
Wanita awal tiga puluhan itu sudah sering memanggilnya ke sini, dan sudah berkali-kali pula Reni meminta nomor pribadinya, tapi selalu dia tolak karena alasan profesional.
Kali ini pun sama. Reni hanya mengenakan rok mini dan tank top tipis tanpa bra. Pucuk kecilnya menonjol, benar-benar menantang iman.
"Lama banget sih," keluhnya manja.
"Maaf, Bu. Lift lagi diperbaiki jadi saya lewat tangga darurat. Jadi... keluhannya apa, Bu?" tanya Dimas. Susah payah ia menahan diri agar tidak melirik ke arah dua gundukan sintal yang nyaris tumpah itu.
Reni tersenyum miring. "Kasurnya bunyi terus, Dim. Ganggu banget suaranya. Coba cek."
Dimas melangkah masuk, dan suara kunci diputar membuat jantung Dimas berdegup kencang. Kenapa dikunci? Apa rumor itu benar?
Tapi Dimas memilih abai meski rumor mengatakan bahwa Reni adalah tipe perempuan bebas, dan bahkan menjadi simpanan orang kaya. Tapi apa hubungannya dengan pekerjaannya?
Jadi Dimas segera meletakkan kotak perkakas di lantai, merangkak masuk ke kolong ranjang, dan mulai bersiap merapatkan sekrup.
Namun tiba-tiba, Reni membuka pintu lemari di sebelah ranjang. Dari celah bawah kolong, Dimas bisa melihat sepasang betis putih mulus.
Ssshhh...
Rok mini itu meluncur jatuh, menumpuk lembut di sekeliling pergelangan kaki Reni. Celana dalam putih berenda menyusul kemudian.
Mata Dimas melotot seketika. Obeng di tangannya bahkan nyaris terlepas. Apa-apaan ini?! Apa Reni sengaja?!
Kriet...
Kasur tepat di atas wajah Dimas mendadak tertekan ke bawah. Reni naik ke atasnya!
"Loh, Bu?! Kenapa naik? Saya lagi benerin rangkanya, Bu! Tangan saya bisa kejepit!"
"Ah... sori, Dim. Ini cuma mau ngecek bunyinya udah ilang apa belum."
Dimas gelagapan. Otaknya otomatis membayangkan pemandangan di atas kasur. Ia mencoba keras fokus ke baut, tapi obengnya meleset terus!
Namun akhirnya selesai juga. Baut terakhir berhasil dikencangkan. Dimas merangkak keluar dan... astaga naga. Pemandangan di depannya sungguh menggairahkan.
Reni bersandar di kepala ranjang dengan pose menantang, hanya dilindungi lingerie hitam transparan yang nyaris tak ada gunanya. Sepasang pucuk kecil yang kaku menekan kain tipis itu sampai kelihatan jelas bentuk dan warnanya.
Bibir merah Reni terbuka. "Pinter banget kerjanya, Dim. Berarti... kasurnya udah siap dipakai kerja keras, kan?"
Daftar bab
56 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








