
Catatan Hujan Di Atas Meja Kayu Kecil
Nadien|Bersambung
- Jumlah kata
- 1.5K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1
- Jumlah kata
- 1.5K

Nadien|Bersambung
Catatan Hujan di Atas Meja Kayu Kecil Aksa Wira kerja jadi barista di kafe kecil di gang sempit Bandung. Setiap sore kalau hujan turun, kafe itu ramai. Tapi setelah pelanggan terakhir pulang, aksa punya kebiasaan aneh. Ia menulis. Di belakang struk belanja yang sudah tidak terpakai. Dulu aksa mau jadi penulis. Mau jadi musisi. Tapi sekarang ia cuma barista tetap di kafe tua. Kafe yang tidak pernah sepi. Kafe yang juga tidak pernah ia tinggalkan. Setiap selesai melayani, aksa selalu menyelipkan satu kalimat di balik struk. Bukan untuk siapa-siapa. Hanya supaya ia merasa masih menulis. Masih jadi aksa yang dulu ingin suaranya didengar. Sampai suatu Senin, datang perempuan. Ia pesan teh hangat. Duduk di sudut ruangan dari jam empat sampai kafe mau tutup. Yang aksa sadari, perempuan itu selalu membalikkan struk belanjanya sebelum pergi. Selalu memasukkannya ke tas. Awalnya aksa tidak peduli. Ia tetap menulis seperti biasanya. Tapi hari demi hari perempuan itu terus datang. Aksa jadi penasaran. Ia bertanya di dalam hati. "Kebiasaan aneh apa yang dilakukan perempuan itu?" Tapi aksa tidak berani tanya. Ia hanya memandangi dari balik kasir. Melihat jemari perempuan itu. Melihat tatapannya yang tidak kosong. Tatapannya seperti menyimpan sesuatu yang tidak bisa diucapkan. Suatu hari aksa menulis di struk: "Ada orang yang datang bukan untuk membeli tetapi untuk mengumpulkan diam." Ia lipat struk itu. Taruh di baki. Lalu lupa. Dua minggu kemudian, hujan turun lebih deras dari biasanya. Tapi perempuan itu tidak datang lagi ke kafe. Kafe terasa sepi. Terlalu sepi. Dan untuk pertama kalinya, aksa sadar. Ia merindukan kebiasaan aneh perempuan itu. Ia merindukan diamnya. Malam itu aksa menemukan goresan kecil di meja nomor tujuh. Di bawahnya ada tulisan yang bukan tulisannya: "Kalau kamu masih menulis tentang pergi, aku tidak akan kembali." Sejak malam itu aksa berhenti menulis tentang perpisahan. Ia mulai menulis tentang menunggu. Tentang kursi yang masih ditarik sedikit. Tentang harapan. Novel ini tentang dua orang yang tidak pernah bicara. Tapi saling mengerti lewat tulisan kecil di struk dan goresan di meja kayu. Tentang Bandung, hujan, kopi, dan rindu yang tidak pernah diucapkan.
Hari demi hari berlalu.
Kafe tetap ramai seperti biasa. Tapi bagi aksa, kafe itu terasa berbeda. Terasa ada yang kurang.
Perempuan itu tidak datang lagi.
Sudah dua minggu lebih. Aksa menghitungnya di dalam hati. Setiap sore ia selalu menoleh ke sudut ruangan. Ke kursi nomor tujuh. Kursi yang dulu selalu diduduki perempuan itu.
Aksa kembali menulis di belakang struk yang tidak terpakai.
Seperti biasanya.
Tapi tulisannya jadi aneh. Tidak seperti dulu.
"Hari ini hujan lagi. Tapi sudut itu kosong."
Ia melipat struk itu. Lalu menyimpannya sendiri di laci kasir. Tidak ditaruh di baki lagi. Karena tidak ada yang akan membacanya.
Teman kerjanya, Dinda, pernah bertanya.
"Kok akhir-akhir ini kamu sering lihat ke pojokan sih Sa?"
Aksa hanya menggeleng. "Nggak apa-apa. Cuma mikir."
Mikir tentang perempuan yang selalu memasukkan struk lusuh ke dalam tasnya. Mikir tentang tatapannya yang tidak kosong.
Tatapannya seperti menyimpan luka yang tidak bisa diucapkan.
Setiap malam setelah kafe tutup, aksa selalu mengeluarkan struk-struk lama dari laci.
Ia baca satu persatu. Semua tulisannya tentang hujan. Tentang dingin. Tentang menunggu.
Aksa baru sadar. Ternyata selama ini ia menulis bukan untuk dirinya sendiri. Ia menulis untuk perempuan itu.
Sampai pada hari ke empat belas, hujan turun lebih deras dari biasanya.
Sama seperti hari pertama perempuan itu datang
Tanpa sadar aksa membuat teh hangat. Ditaruhnya
di meja nomor tujuh. Tidak ada yang minum. Uapnya hilang pelan-pelan. Sama seperti harapannya.
Malam itu aksa mengunci kafe seperti biasa.
Saat ia mengelap meja nomor tujuh, jarinya berhenti.
Ada goresan kecil di pinggir meja. Seperti bekas kuku.
Dan di bawah goresan itu, ada tulisan samar. Tulisan yang bukan tulisannya.
"Kalau kamu masih menulis tentang pergi, aku tidak akan kembali."
Aksa terdiam lama.
Tangannya gemetar memegang lap.
Untuk pertama kalinya, ia tidak menulis kata "pergi" di struk terakhir malam itu.
Ia menulis:
"Meja ini masih sama. Kursinya masih kutarik sedikit. Seperti dulu."
Ia melipatnya. Meletakkannya di baki.
Tidak berharap ada yang baca.
Hanya berharap... perempuan itu yang baca.
Hari demi hari berlalu.
Kafe tetap ramai seperti biasa. Suara mesin kopi masih berisik. Mahasiswa masih mengetik laptopnya sampai larut. Pasangan masih
berbisik pelan di sudut. Tapi bagi aksa, kafe itu terasa berbeda. Terasa
ada yang kurang. Ada yang hilang.
Perempuan itu tidak datang lagi.
Sudah dua minggu lebih.
Aksa menghitungnya di dalam hati. Setiap sore jam empat lewat, ia selalu menoleh ke sudut ruangan.
Ke kursi nomor tujuh. Kursi kayu yang dulu selalu diduduki perempuan itu. Kursi yang selalu ia lap dua kali lebih lama dari meja yang lain.
Aksa kembali menulis di belakang struk yang tidak terpakai.
Seperti biasanya.
Itu kebiasaannya sejak lama. Sejak ia masih bermimpi jadi penulis. Sejak ia masih percaya kata-kata bisa menyelamatkan orang.
Tapi tulisannya jadi aneh.
Tidak seperti dulu.
Dulu ia menulis tentang hujan.
Tentang Bandung,Tentang kopi yang pahit,
Sekarang tulisannya hanya satu baris. Pendek. Kosong.
"Hari ini hujan lagi. Tapi sudut itu kosong."
Ia melipat struk itu asal-asalan.
Lalu menyimpannya sendiri di laci kasir. Tidak ditaruh di baki lagi. Karena tidak ada yang akan membacanya. Tidak ada perempuan itu yang akan membalik struknya sebelum pergi.
Teman kerjanya, Dinda, pernah bertanya.
"Kok akhir-akhir ini kamu sering lihat ke pojokan sih Sa? Dari tadi ngelamun terus."
Aksa hanya menggeleng pelan.
"Nggak apa-apa. Cuma mikir."
Mikir tentang perempuan yang selalu memesan teh hangat.
Mikir tentang tangannya yang selalu memasukkan struk lusuh ke dalam tas kainnya. Mikir tentang tatapannya yang tidak kosong.
Tatapannya seperti menyimpan sesuatu. Sesuatu yang berat. Sesuatu yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.
Aksa tidak berani bertanya.
Ia hanya barista.
Hanya orang yang menyeduh kopi.
Bukan orang yang berhak tahu cerita orang lain.
Jadi ia memilih diam. Memandangi perempuan itu dari balik meja kasir. Setiap hari. Sampai perempuan itu pergi dan struknya ikut hilang bersama langkahnya.
Setelah perempuan itu tidak datang lagi, aksa jadi sering lupa.
Lupa menaruh gula di kopi pelanggan.
Lupa mematikan mesin grinder. Lupa waktu.
Pikirannya hanya di kursi nomor tujuh. Di goresan meja yang mulai pudar. Di struk-struk yang tidak pernah ia tulis lagi untuk "siapa-siapa".
Setiap malam setelah kafe tutup dan gembok sudah dikunci, aksa selalu mengeluarkan struk-struk lama dari laci.
Struk yang sudah menguning. Struk yang tintanya mulai luntur.
Ia baca satu persatu dengan pelan. Bibirnya ikut komat-kamit.
"Hujan hari ini serupa dirimu.
Datang tanpa diundang, namun meninggalkan dingin yang berkepanjangan."
"Ada orang yang datang bukan untuk membeli tetapi untuk mengumpulkan diam."
"Bandung terlalu bising untuk orang yang sedang belajar berdamai dengan sepi."
Aksa baru sadar.
Ternyata selama ini ia menulis bukan untuk dirinya sendiri. Ia menulis untuk perempuan itu. Untuk seseorang yang bahkan tidak pernah ia ajak bicara. Untuk seseorang yang hanya ia kenal dari cara ia membalik struk dan memasukkannya ke tas.
Sampai pada hari ke empat belas, hujan turun lebih deras dari biasanya.
Airnya menetes dari genteng kafe. Bunyinya keras. Mengetuk-ngetuk jendela.
Sama seperti hari pertama perempuan itu datang. Senin sore. Jam empat. Teh hangat. Duduk pojok.
Tanpa sadar aksa membuat teh hangat.
Tangannya jalan sendiri. Menuang air panas. Mencelup teh. Mengaduknya pelan.
Ditaruhnya di meja nomor tujuh. Tidak ada yang minum. Tidak ada yang duduk. Uapnya naik ke atas. Lalu hilang pelan-pelan. Sama seperti harapannya. Sama seperti perempuan itu.
Dinda melihat dari jauh. "Buat siapa Sa?"
"Ng... nggak buat siapa-siapa," jawab aksa gugup. "Kelepasan."
Dinda mengangkat bahu. "Hati-hati, barista nggak boleh buang-buang teh."
Aksa hanya tersenyum kecil. Senyum yang dipaksa.
Malam itu aksa mengunci kafe seperti biasa. Lampu dimatikan satu persatu. Kursi dinaikkan ke atas meja. Lantai disapu sampai bersih. Tapi langkahnya berhenti lama di meja nomor tujuh.
Saat ia mengelap meja itu, jarinya berhenti.
Ada goresan kecil di pinggir meja. Sangat kecil. Hampir tidak kelihatan. Seperti bekas kuku yang sengaja digoreskan.
Aksa mencondongkan badan. Menyalakan senter dari HP.
Dan di bawah goresan itu, ada tulisan samar. Tulisan yang bukan tulisannya. Tulisan tangan yang rapi tapi gemetar.
"Kalau kamu masih menulis tentang pergi, aku tidak akan kembali."
Aksa terdiam lama. Sangat lama.
Lap di tangannya jatuh ke lantai. Ia tidak sadar. Dadanya sesak. Napasnya jadi berat.
Siapa yang menulis ini? Kapan?
Perempuan itu? Kapan ia sempat menulis? Saat aksa sibuk di kasir? Saat aksa membelakangi meja itu?
Aksa mengusap tulisan itu dengan jempolnya. Seolah ingin menghapusnya.
Seolah ingin tulisan itu jadi miliknya.
Tapi tinta itu sudah meresap ke kayu.
Sudah jadi bagian dari meja. Sama seperti perempuan itu yang sudah jadi bagian dari sepinya.
Untuk pertama kalinya dalam dua minggu, aksa tidak menulis kata "pergi" di struk terakhir malam itu.
Tangannya gemetar memegang pulpen. Tintanya hampir tidak keluar.
Ia menulis dengan huruf kecil, pelan-pelan:
"Meja ini masih sama. Kursinya masih kutarik sedikit. Seperti dulu. Kalau kamu baca ini, berarti kamu kembali."
Ia membaca ulang tulisannya. Tiga kali. Empat kali.
Lalu melipatnya. Tidak asal-asalan seperti dulu. Kali ini lipatannya rapi. Persegi kecil. Sempurna.
Ia meletakkannya di baki. Di tengah. Paling atas.
Tidak berharap ada pelanggan yang baca.
Tidak berharap ada orang yang peduli.
Hanya berharap... perempuan itu yang baca. Hanya berharap besok sore jam empat, pintu kafe terbuka lagi dan teh hangat itu akhirnya ada yang minum.
Aksa pulang malam itu dengan langkah berat.
Payungnya tidak ia buka. Ia biarkan hujan membasahi rambutnya. Membasahi bajunya. Rasanya dingin. Tapi dingin itu lebih jujur daripada hangat yang palsu.
Di jalan, ia terus mengulang kalimat di kepalanya.
"Kalau kamu masih menulis tentang pergi, aku tidak akan kembali."
Kalimat itu menempel di kepalanya. Menusuk. Mengingatkan.
Besoknya aksa datang lebih pagi.
Kafe belum buka. Ia langsung mengelap meja nomor tujuh. Menyeka goresan itu berulang kali. Seolah goresan itu bisa hilang kalau ia gosok cukup keras. Tapi tidak. Tulisan itu tetap di sana. Menertawakannya.
Jam empat sore tiba.
Pintu kafe terbuka. Seorang pelanggan masuk. Bukan perempuan itu.
Jam lima lewat. Pintu terbuka lagi. Masih bukan perempuan itu.
Jam enam. Hujan mulai turun lagi. Gerimis. Pelan.
Aksa menatap pintu setiap kali belnya berbunyi. Matanya tidak berkedip. Jantungnya berdegup setiap kali ada langkah kaki mendekat. Tapi langkah itu selalu berhenti di kasir.
Bukan di meja nomor tujuh.
Hari itu tutup tanpa perempuan itu datang.
Struk yang ia tulis semalam masih di baki.
Tidak ada yang menyentuhnya.
Tidak ada yang membaliknya.
Aksa mengambil struk itu sebelum pulang.
Melipatnya lagi.
Memasukkannya ke saku kemejanya. Dekat dengan jantungnya.
Ia berbisik pelan di depan kafe yang sudah gelap:
"Aku akan berhenti menulis tentang pergi. Aku janji. Asal kamu kembali."
Hujan malam itu tidak berhenti sampai pagi.
Dan aksa tidak tidur semalaman. Ia duduk di depan jendela kontrakannya. Menatap jalanan Bandung yang basah. Menunggu. Seperti dulu ia menunggu inspirasinya datang.
Tapi kali ini ia tidak menunggu kata.
Ia menunggu seseorang.
Seseorang yang datang bukan untuk membeli kopi.
Seseorang yang datang untuk mengumpulkan diam.
Seseorang yang membuat kafe setua ini terasa hidup lagi.
Dan di atas meja kayu kecil di kontrakannya, aksa meletakkan satu cangkir teh. Tidak diminum.
Hanya dibiarkan dingin. Sama seperti teh yang ia buat sia-sia di kafe sore tadi.
Karena mungkin... pulang itu bukan tentang tempat.
Pulang itu tentang orang yang membuat kita berani menarik kursi sedikit. Biar ada ruang untuknya.
1 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.