
Pejantan Tangguh Pengguncang Dunia
corewall|Bersambung
- Jumlah kata
- 46.4K
- Popular
- 1.3K
- Subscribe
- 219
- Jumlah kata
- 46.4K
- Popular
- 1.3K
- Subscribe
- 219
Sinopsis
Yatim piatu dan miskin membuat Dodi menjadi pemalu dan minder di lingkungannya. Saat ia tidur, mendiang kakek dan neneknya datang ke mimpinya dan memberikan cincin ruby pada Dodi. Keberuntungan, kewibawaan, perlindungan gaib, dan daya pikat luar biasa seketika tersemat dalam hidup Dodi. Namun, kilau biru pada cincin itu menyimpan rahasia besar tentang masa lalu kakeknya. Rahasia yang akan menguji, apakah Dodi benar-benar siap menjadi lelaki tangguh?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1
"Huft...." ucap Dodi sambil perlahan membaringkan tubuhnya di kasur tipis dan kumal, spreinya berantakan dan kusut. Jam dinding menunjukkan pukul tujuh lewat empat puluh menit.
Wajahnya menatap langit langit kamarnya yang sederhana. Seharian ini punggungnya terasa seperti papan. Sejak pagi dia mengangkat beberapa karung beras dan tepung terigu, dan melayani banyak pembeli. Kaos hitam yang ia kenakan lembab di bagian ketiak dan punggung segera dia lemparkan ke pojok ruangan.Rumah yang sepi. Terlalu sepi untuk ukuran yang dulu pernah diisi suara kakek yang batuk batuk karena terlalu sering merokok, nenek yang biasanya bawel, dan ibunya yang selalu menyuruhnya bangun pagi. Sekarang hanya ada meja kayu yang reyot, satu kasur tipis, dan televisi tabung 14 inci peninggalan sang kakek.
Sambil berbaring tangan kanannya memegang pundak sebelah kiri
"Pegel banget, sayang ga ada kakek yang biasanya mijitin" katanya dalam hati
"Udah pegel lapar pula"
Katanya sambil memegang perutnya yang sudah keroncongan. Lambungnya sudah minta diisi daritadi tapi ia tahan, Dia berdiri kemudian berjalan menuju dapur yang sebenarnya hanya halaman belakang yang diberi kompor gas satu tungku dan rak piring plastik sambil terus memegang perutnya.
Sesampainya di dapur dia membuka tudung saji dan terlihat hanya ada nasi sisa tadi pagi yang sudah dingin. Dia membuka lemari dapur dan melihat hanya ada satu bungkus mi instan dan satu butir telur .Tangannya berhenti diatas telur yang kemudian dipilih untuk menemani nasi yang akan disantapnya malam ini. Mi instan akan dia makan besok pagi sebelum berangkat kerja.
Dodi adalah seorang pemuda berusia 22 tahun wajahnya cukup tampan dengan kulitnya yang sawo matang karena bekerja dilarang, hidungnya mancung rambutnya lurus dan dipotong rapi.
Banyak pelanggan perempuan di toko sembako tempat dia bekerja yang suka menggoda
"Dod sudah punya pacar belum?"
Tapi ia hanya tersenyum kaku dan menunduk karena ia terlalu pemalu dan ia selalu sadar diri _ dengan kaosnya yang kadang sobek di bagian ketiak, dengan rumah reot yang bocor dimana mana ketika hujan datang_ siapa yang mau sama dia?
Perlahan dia coba menghidupkan kompor gas yang sudah agak rusak dan berkarat dimana mana
"Cklek....cklek"
Beberapa kali dia memutar kenop kompor tapi masih belum hidup juga. Setelah berulang kali akhirnya api keluar dari kompor tua itu
"Huh....akhirnya..."
Dia mengambil wajan yang bagian bawahnya sudah nampak hitam serta menuang minyak goreng yang tinggal sedikit dari botol plastik karena dia harus hemat. Malam ini dia memasak telor ceplok untuk meredakan cacing di perutnya yang sudah dari tadi memberontak. Setelah minyak sudah panas dia memecahkan telur, kuningnya bulat sempurna, masih segar. Bunyi cesss saat telur menyentuh minyak panas adalah bunyi paling menenangkan malam ini, ia menaburinya dengan sedikit garam, ini adalah masakan pertama yang diajarkan oleh almarhum neneknya ketika Dodi masih duduk di kelas 5 SD
Setelah matang dan ditaruh diatas nasi yang sudah diberi kecap, dia menuang gelas dengan air kendi yang ada disebelah kompor dan membawanya ke ruang tengah. Hanya dengan nasi sisa tadi pagi, telor ceplok yang dimasak ala koboy serta kecap dia nampak menikmati hidangan sederhana itu di ruang tengah sambil susuk bersila dan menonton tv, Bibirnya sesekali tersenyum karena film komedi yang dia tonton sambil terus makan .
Nasi yang agak keras itu ternyata masih enak ketika bertemu dengan telor ceplok dan sedikit kecap. Rasa asin garam yang sederhana terasa seperti makanan paling mewah didunia bagi perut yang daritadi kosong. Dodi makan perlahan, tidak terburu buru, ia menikmati setiap butirnya. Diluar sana suara motor lewat dan suara anak anak yang masih bermain
"Gluk...gluk....gluk" bunyi air yang meluncur ke tenggorokan setelah dia menuntaskan makan malamnya
"Aaahhhhh....." katanya sambil mengusap perut tanda dia sudah kenyang
Setelah piringnya bersih _ benar benar bersih sampai butiran nasi terakhir dia ambil dengan jari _ dia menyandarkan punggungnya ke dinding kemudia menyingkirkan piring dan gelas didepannya ke arah sebelah, tangannya merogoh ke celana pendeknya seperti mencari sesuatu dan mengambilnya setelah menemukan barang yang ternyata beberapa batang rokok yang di bungkus plastik karena dia hanya mampu beli ketengan.
Dia mengambil sebatang rokok kemudian menyalakan dan menghisap sambil matanya terus menatap ke layar tv yang masih tabung, asapnya mengepul perlahan naik ke atap rumah tanpa asbes itu, ia tidak menikmati dengan bangga. Baginya rokok setelah makan hanyalah jeda. Satu satunya waktu dimana dia boleh berhenti berpikir tentang kehidupan ekonominya, tentang rasa takutnya akan masa depan. Sesekali dia melihat hp android bututnya yang sedang di cas disebelah tv barangkali ada pesan masuk dari temannya.
TV masih menyala, menayangkan film yang ia tidak kenal para pemainnya
"Hooaaahhhmmm" sambil menutup mulutnya.
Kelopak matanya sudah terasa berat.
Tanpa terasa jam dinding menunjukkan pukul setengah sembilan ketika Dodi sudah mulai mengantuk. Seharian mengangkat beban, cuaca panas, debu, dan lapar yang sudah dihilangkan serta asap rokok yang membuat kepalanya agak pening, semua bercampur menjadi satu.
Rokok ditangannya hampir jatuh. Dodi mencoba bangkit untuk mematikan TV dan mencuci piring tapi tubuhnya menolak. Kakinya kesemutan karena terlalu lama duduk bersila. Badannya yang tadi terasa kaku kini terasa luruh
Dia kemudian merebahkan kepalanya diatas lipatan tangan yang sudah berada diatas bantal kumal yang sudah menemaninya dari SD dan kembali membaringkan badannya di depan tv.
Lampu neon 10 watt diatasnya berkedip. Hari ini sangat melelahkan untuknya sampai tidak terasa dia tertidur di depan tv yang masih menyala, piring kotor masih disebelah kakinya.
Dan Dodi tertidur. Terlelap dalam kelelahan seorang pemuda yang sedang belajar bertahan hidup sendirian
"Kriiiiiiiiiiiiing......"
Bunyi alarm dengan volume maksimal membangunkan Dodi. Dengan mata yang setengah terbuka dia duduk dan mengambil hp nya untuk mematikan alarm dan melihat jam
"Hmmm...sudah jam tujuh ternyata"
Ucapnya sambil meregangkan badan. Selanjutnya dia membuka jendela kecil yang ada dibelakang tv. Sinar matahari pagi yang hangat masuk melalui jendela itu
Sejenak dia nampak terkejut, badannya yang semalam seperti habis digebukin orang sekampung kini sudah segar padahal biasanya hal itu terjadi kalau sebelum tidur dia minum obat atau jamu pegel Linu
"Hmmmm aneh," ujarnya dalam hati
"Ah mungkin karena aku sudah istirahat semalam jadi sekarang sudah segar"
Dia membuka pintu kayu reyot untuk mengambil handuk yang dia jamur di teras rumah
Ketika dia sedang mengambil baju di kamarnya, tiba tiba terdengar suara aneh dari rumah sebelah. Perlahan dia mengambil meja kecil dan kemudian menambahkan kursi diatas meja tersebut. Dengan gerakan yang lebih lambat dari slow motion di siaran langsung sepak bola dia naik ke ventilasi kamarnya
Matanya melihat lurus ke arah ventilasi Mas Rudi tetangganya yang kebetulan jaraknya tidak terlalu jauh karena diantara rumah Dodi dan Mas Rudi hanya terpisah oleh jalan kecil selebar kurang dari setengah meter
"Wow....." Ucapnya dalam hati sambil melihat pemandangan didepannya .
Daftar bab
39 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








