
Hasrat Dan Delusi Uang Panai
Adam-AM|Bersambung
- Jumlah kata
- 69.8K
- Popular
- 140
- Subscribe
- 29
- Jumlah kata
- 69.8K
- Popular
- 140
- Subscribe
- 29
Sinopsis
Arman, anak broken home asal Malino, berjuang dari buruh bangunan hingga lulus Psikologi UNM. Cintanya pada Aulia terhalang tradisi yang menolak keluarga tak utuh. Demi modal nikah, Arman merantau ke Jakarta dan masuk bisnis ekspor. Namun, ia dikhianati hingga hancur dan hilang kabar. Di Malino, Aulia terdesak menerima lamaran pria lain. Pulang tanpa harta, Arman diusir dan dihadapkan pada uang panai’ ratusan juta. Di antara Siri’ yang terluka dan delusi, ia harus bertarung secara ksatria demi Aulia.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1 Jejak Sunyi Di Tanah Malino
Dingin lereng Malino tidak pernah ramah pada kulit anak-anak yang seragamnya tak pernah berganti. Sebelum matahari benar-benar menyentuh pucuk-pucuk pohon pinus, bau tanah basah dan sisa embun subuh selalu membawa ketakutan tersendiri bagi Arman.
Di umur delapan tahun, ia sudah hafal betul bagaimana rasanya dibangunkan oleh derit lantai kayu rumah panggung neneknya bukan oleh seruan lembut seorang ibu, melainkan oleh derap langkah berat para tetangga yang mulai lalu lalang melewati depan rumah. Langkah-langkah yang kerap berhenti sejenak hanya untuk melemparkan tatapan iba yang menyengat, atau bisikan-bisikan tipis yang lebih tajam dari sembilu.
"Anak yang tak punya arah. Orang tuanya saja lari, bagaimana mau diurus nenek yang sudah rapuh?"
Kalimat itu bukan sekali dua kali menembus dinding papan rumahnya. Arman kecil biasa berdiri di balik tirai kusam, mengancingkan kemeja putihnya yang sudah berubah warna menjadi kekuningan. Kancing paling atas sudah lepas sejak tiga bulan lalu, digantikan oleh peniti karatan yang dipasang hati-hati oleh Nenek agar kerahnya tidak melorot. Kakeknya, seorang lelaki tua dengan napas yang berbunyi menyayat setiap kali batuk, hanya bisa duduk di sudut bale-bale, mengasah parang tumpul dengan sisa-sisa tenaga yang tak seberapa.
"Arman, kalau berjalan ke sekolah, menunduk saja. Jangan cari perkara dengan anak-anak di simpang jalan," ujar Kakek tanpa menatap wajahnya. Tangannya yang keriput dan gemetar terus menggesekkan batu asah pada bilah besi kusam.
Arman tidak menjawab. Ia tahu betul arti pesan itu. Menunduk bukan berarti sopan; di tanah ini, bagi anak seperti Arman, menunduk adalah satu-satunya cara agar tidak memancing amarah orang-orang yang merasa lebih utuh darinya.
Jalan setapak menuju Sekolah Dasar Negeri di pinggiran Malino selalu terasa panjang dan menyiksa. Langkah kaki Arman yang beralaskan sepatu karet murahan dengan bagian jempol kiri yang sudah robek hingga memperlihatkan kulit jarinya yang memutih diserang dingin terdengar timpang di atas tanah berlumpur. Di persimpangan dekat kebun teh, tiga anak sebayanya sudah berdiri menyandang tas ransel bagus bertuliskan karakter kartun berwarna terang.
"Lihat si anak buangan datang!" seru Hasbullah, anak seorang tengkulak kopi terpandang di kampung itu. Ia berdiri paling depan, memegang sebatang ranting kayu pinus yang runcing. "Heh, Arman! Baju mu kok makin kuning? Nenekmu cuci bajumu pakai air got, ya?"
Anak-anak lain tertawa keras. Tawa yang menggema di antara tegakan pohon pinus, memecah kesunyian pagi. Arman mengepalkan tangannya di dalam saku celana merah yang sudah sempit. Memori tentang nasihat Kakek berputar di kepalanya: Menunduk saja, Arman. Jangan cari perkara.
Ia mencoba berjalan menerobos samping tubuh Hasbullah, namun ranting kayu itu dengan cepat menghadang dadanya.
"Mau ke mana kau? Belum bayar uang lewat!" Hasbullah mendorong bahu Arman hingga anak itu tersandung akar pohon yang mencuat. Tas kain kusam berisi buku tulis tipis milik Arman terlepas dari genggamannya, jatuh tepat di atas kubangan air hujan berpasir.
Buku-buku itu basah seketika. Sampul kertas minyak yang digambar sendiri oleh Arman dengan gambar gunung dan matahari terendam air keruh. Ada rasa panas yang mendadak membakar dadanya bukan karena tebasan angin malam Malino, melainkan benturan harga diri yang terus-menerus digerus sejak ia bisa mengingat nama dirinya sendiri.
"Ambil bajumu, Arman! Bilang sama ibumu di Makassar sana, suruh belikan tas baru! Eh, lupa, ibumu kan sudah tidak mau lihat mukamu lagi!" tawa anak-anak itu kian nyaring, berpadu dengan suara angin yang menggesek dedaunan.
Arman merangkak, meraih tas kainnya yang basah kuyup. Jemarinya yang gemetar menyapu lumpur dari sampul bukunya yang koyak. Ia tidak menangis. Sejak umur enam tahun, ketika ia menyadari ibunya tidak pernah kembali dari terminal bus, Arman telah mengunci rapat air matanya. Namun ketidakmampuannya untuk menangis justru berubah menjadi gumpalan batu keras di dalam dadanya sebuah amarah yang tak punya muara.
Siksaan tidak berhenti di persimpangan jalan. Bangku sekolah dasar yang dingin di dalam kelas berlantai semen retak memberikan neraka bentuk lain.
Pak Mansyur, guru kelas yang berdiri di depan papan tulis dengan penggaris kayu panjang, menatap Arman dari ujung kepala hingga ujung kaki begitu anak itu melangkah masuk lewat pintu belakang.
"Arman! Kenapa jam begini baru masuk? Dan lihat seragammu itu! Kenapa kotor berlumpur begitu?" suara Pak Mansyur menggema di dalam ruangan, menghentikan seluruh bisik-bisik murid lainnya.
"Saya... saya jatuh di jalan, Pak," cicit Arman, berdiri kaku di depan pintu.
"Jatuh atau malas?" Pak Mansyur mengetukkan penggaris kayunya ke meja guru dengan bunyi menyentak. "Orang tuamu tidak pernah mengajari tata krama dan kebersihan? Ah, saya lupa. Orang tuamu memang tidak ada untuk mengajarimu. Jangan membiasakan diri tampil seperti anak jalanan di kelas saya! Maju ke depan, berdiri di dekat papan tulis sampai jam istirahat!"
Seluruh isi kelas meledak dalam tawa yang ditahan-tahan. Arman melangkah ke depan dengan kepala tertunduk. Di bawah tatapan puluhan pasang mata sebayanya, ia berdiri kaku, memeluk tas kainnya yang basah. Setiap detik terasa bagai siksaan bertahun-tahun. Ia melihat bagaimana guru yang seharusnya menjadi tempat perlindungan justru menjadi eksekutor pertama yang merobek martabatnya di depan umum. Latar belakang keluarganya yang tidak utuh dijadikan alasan yang sah bagi semua orang untuk merendahkannya tanpa merasa berdosa.
Saat bel istirahat berbunyi, Arman tidak menuju kantin. Ia tidak punya sepeser pun uang jajan di sakunya. Ia berjalan ke belakang gedung sekolah, duduk di atas bentangan batu kali yang tertutup lumut, membuka tas basahnya, dan mencoba mengeringkan lembaran-lembaran buku tulisnya di bawah sinar matahari yang mulai menerobos celah dedaunan.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan beberapa menit.
"Hei, anak panen!" suara anak-anak kembali terdengar. Hasbullah dan dua temannya muncul dari balik semak-semak. "Nanti sore ikut panen padi di sawah bapakku, kan? Jangan lupa kumpulkan sisa-sisa tangkai yang jatuh, ya. Lumayan buat makan kau sama nenekmu yang sudah mau mati itu!"
Hasbullah menginjak ujung batu tempat Arman duduk, lalu dengan sengaja menendang sisa air minum di botol plastiknya tepat ke arah buku Arman yang baru saja mulai mengering.
Sesuatu dalam diri Arman pecah saat itu juga.
Bukan lagi bentangan rasa takut, bukan lagi ingatan akan pesan Kakek untuk menunduk. Arman berdiri seketika. Tubuhnya yang kurus dan kecil melompat ke arah Hasbullah dengan mata membara. Ia tidak peduli Hasbullah lebih tinggi dan lebih besar. Ia mencengkeram kerah baju Hasbullah, mendorong anak itu hingga keduanya jatuh bergulingan di atas tanah merah yang basah.
"Tarik ucapanmu tentang nenekku!" jerit Arman. Suaranya pecah, melengking menggelegar di antara sunyinya belakang sekolah.
Mereka bergulat di atas tanah. Pukulan mentah Hasbullah mendarat keras di pipi kiri Arman, membuat pinggir bibirnya pecah dan mengeluarkan darah segar berasa asin. Namun Arman tidak melepaskan cengkeramannya. Jemari kecilnya meremas kemeja mahal Hasbullah, memukul dada anak itu secara kalap dengan sisa-sisa tenaga dan rasa sakit yang dipendamnya bertahun-tahun.
"Ada apa ini?!" teriakan Pak Mansyur memecah perkelahian itu.
Tangan kasar Pak Mansyur menarik kerah belakang kemeja Arman, merenggutnya dengan kasar hingga kainnya robek di bagian bahu. Pak Mansyur memukul punggung Arman dengan penggaris kayu hingga berbunyi nyaring.
"Arman! Sudah tidak terawat, kurang ajar pula kau! Beraninya kau memukul anak orang terpandang di kampung ini!" bentak Pak Mansyur tanpa pernah bertanya siapa yang memulai perkelahian.
Sore harinya, Arman berjalan pulang dengan pakaian yang sepenuhnya hancur. Sudut bibirnya membengkak biru, bahunya lebam bekas sabetan penggaris, dan kemeja putihnya robek parah. Di tangannya, tas kain basah itu kini ternoda darah dan lumpur yang telah mengering.
Langkah kakinya tidak membawanya langsung ke rumah panggung Nenek. Ia berjalan lebih jauh, mendaki jalan setapak yang menanjak menuju tepi tebing Malino tempat favoritnya untuk bersembunyi dari dunia.
Di atas tebing itu, angin gunung berembus sangat kencang, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Dari sana, Arman bisa melihat hamparan lembah hijau yang tertutup kabut tipis, dan jauh di sebalik pegunungan itu adalah jalan raya yang membentang menuju Kota Makassar kota tempat orang tuanya menghilang tanpa pernah meninggalkan jejak.
Arman duduk di tepi tebing, membiarkan kakinya bergantung di atas jurang yang dalam. Ia menyapu darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan, menatap lurus ke arah jalan raya yang sepi.
Di sinilah, di atas tanah Malino yang dingin dan bisu, seorang anak delapan tahun belajar memahami aturan main dunia yang sangat kejam: bahwa kemiskinan dan kelahirannya dari keluarga yang hancur telah memberinya vonis bersalah bahkan sebelum ia sempat membela diri. Bahwa ketidakadaan orang tua di sisinya adalah sebuah celah hukum bagi siapapun untuk menginjak-injak harga dirinya tanpa ada yang membela.
Namun di balik luka yang berdenyut di bibirnya dan rasa sakit di punggungnya, ada sebuah nyala api liar yang mulai mengkristal di dalam dada Arman. Jika dunia menolak memberinya tempat hanya karena ia tidak memiliki keutuhan keluarga dan harta, maka ia akan merebut tempat itu dengan tangannya sendiri sekalipun ia harus memeras darah dan keringat di atas tanah ini.
Mengapa sebuah takdir harus membebankan dosa orang tua kepada seorang anak yang bahkan tidak pernah memilih untuk dilahirkan? Dan berapa banyak luka yang harus ditampung oleh jiwa yang kusam ini sebelum dunia akhirnya mau berhenti menghakiminya?
Daftar bab
50 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








