
Gairah Terlarang Pasar Anjaya
Adam-AM|Bersambung
- Jumlah kata
- 40.0K
- Popular
- 263
- Subscribe
- 35
- Jumlah kata
- 40.0K
- Popular
- 263
- Subscribe
- 35
Sinopsis
Askar dan Aida, mahasiswa Universitas Barongko Makassar yang dimabuk gairah, nekat mendirikan tenda di Pasar Anjaya kawasan gaib Gunung Bawakaraeng. Kebiasaan mereka bercinta di alam bebas berujung bencana saat hubungan intim di tanah sakral itu dianggap transaksi terlarang oleh penunggu gunung. Meski berhasil turun, teror riuh pasar gaib terus menggema di kamar kos mereka. Paranoia hebat berujung kematian tragis Askar, menyisakan Aida dalam depresi atas pelanggaran pamali yang merenggut nyawa.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1 Ruang Rahasia Barongko
Aroma kopi hitam hangat menyatu dengan wangi parfum vanilla yang menyeruak dari rambut Aida. Suara kipas angin gantung di kamar kos Askar berderit pelan, berputar membelah hawa gerah sore kota Makassar. Di kamar berukuran empat kali empat meter itulah, dunia seolah milik mereka berdua. Bagi Askar dan Aida, dua mahasiswa semester akhir Universitas Barongko Makassar, kamar kos lantai dua ini bukan sekadar tempat beristirahat, melainkan ruang rahasia paling aman dari hiruk-pikuk kampus.
Aida duduk bersila di atas kasur, hanya mengenakan kaus longgar tipis yang melorot di salah satu bahunya, memperlihatkan kulit mulusnya yang kecokelatan. Jarinya dengan lincah menggeser layar ponsel, memeriksa peta jalur pendakian Gunung Bawakaraeng.
"Askar, lihat ini," panggil Aida tanpa menoleh. Suaranya serak-serak basah, nada khas yang selalu berhasil memancing perhatian Askar. "Anak-anak KPA kampus sebelah kemarin baru turun dari Bawakaraeng. Mereka bilang jalur via Lembanna lagi bagus. Tapi..."
Askar yang baru saja selesai menyeduh kopi, melangkah mendekat. Bukannya melihat layar ponsel yang disodorkan Aida, matanya justru tertuju pada leher jenjang dan bahu terbuka kekasihnya. Ia meletakkan cangkir di meja kecil, lalu merayap naik ke atas kasur dari belakang Aida.
"Tapi apa, Sayang?" bisik Askar tepat di samping telinga Aida. Tangannya melingkar perlahan di pinggang Aida, menarik tubuh hangat gadis itu merapat ke dadanya.
Aida mendesah pelan saat merasakan napas hangat Askar menyapu lehernya. Senyum tipis terukir di bibirnya, namun ia mencoba mempertahankan fokusnya pada ponsel. "Tapi mereka cuma sampai Pos 5. Katanya cuaca cepat berubah, dan... ada cerita aneh lagi soal Pasar Anjaya."
"Pasar Anjaya lagi?" Askar tertawa kecil. Jarinya bergerak lembut dari pinggang Aida, menyusuri pinggul hingga masuk ke balik kaus tipis yang dikenakan kekasihnya. Sentuhan Askar membuat tubuh Aida sedikit bergidik.
"Askar, aku serius," ucap Aida sambil menyandarkan kepalanya ke dada Askar, menikmati elusan jemari Askar yang kini merayap di perut ratasnya. Tangannya yang memegang ponsel perlahan terkulai di atas paha. "Beberapa senior kita dulu selalu wanti-wanti. Kalau kita pendaki berpengalaman, bukan berarti kita bisa meremehkan mitos di sana. Dataran Pasar Anjaya itu bukan tempat sembarangan."
"Aida, Aida..." Askar mengecup ceruk leher Aida bertubi-tubi, menikmati aroma manis yang selalu membuatnya bergairah. Tangannya kini bergerak makin berani, mengusap lembut dadanya yang berdebar kencang. "Kita ini sudah menaklukkan Latimojong, Bulu Baria, sampai Lompobattang. Di mana-mana gunung punya cerita mistis. Itu cuma cara orang tua dulu supaya pendaki tidak bertindak sembrono."
"Tapi kita memang sering sembrono, Askar," potong Aida cepat. Ia memutar tubuhnya, kini menghadap langsung ke arah Askar. Matanya menatap tajam, namun di dalamnya terpancar binar gairah yang tak bisa disembunyikan. "Setiap kali kita mendaki, kamu selalu cari kesempatan. Di dalam tenda puncak Latimojong, di pos sepi Lompobattang... kamu pikir alam tidak punya mata?"
Askar tersenyum nakal. Ia menangkup kedua pipi Aida, mendekatkan wajah mereka hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan. "Dan kamu selalu menikmatinya, kan? Kamu suka sensasi itu, Aida. Adrenalin saat kita menyatu di tengah rimba yang sunyi. Itu yang bikin hubungan kita beda dari pasangan lain di kampus Barongko."
Napas Aida mulai memburu. Bibirnya sedikit terbuka, tergoda oleh tatapan Askar yang penuh pesona. Sentuhan tangan Askar yang kini merambat ke pinggulnya dan menariknya makin rapat membuat segala benteng pertahanan Aida runtuh.
"Kamu memang gila, Askar..." gumam Aida lirih.
"Aku cuma gila karena kamu," jawab Askar sebelum menepis jarak di antara mereka.
Askar mendaratkan ciuman panas di bibir Aida. Aida melenguh pelan, melingkarkan kedua tangannya di leher Askar, membalas ciuman itu dengan gairah yang sama besarnya. Kaus tipis yang dikenakan Aida perlahan terangkat saat jemari Askar menelusuri tiap lekuk tubuhnya yang hangat. Di atas kasur kos yang berderit halus, mereka tenggelam dalam gelora asmara yang liar dan akrab. Sentuhan, helaan napas, dan desahan halus menyatu dengan ketukan derit kipas angin gantung. Bagi mereka, pelepasan fisik ini adalah bukti paling nyata dari ikatan cinta yang tak terpisahkan.
Satu jam berlalu. Cahaya jingga sore mulai memudar, berganti dengan remang-remang senja yang masuk melalui celah jendela kamar kos.
Aida berbaring menyamping, menyandarkan dadanya yang polos di dada telanjang Askar. Rambutnya yang sedikit berantakan terurai di atas lengan Askar. Jemari Askar mengelus lembut punggung Aida yang licin oleh peluh, sementara napas mereka berdua perlahan kembali stabil.
"Kenapa diam?" tanya Askar lembut sambil mencium puncak kepala Aida.
Aida menghela napas panjang. Jarinya membuat pola lingkaran abstrak di dada Askar. "Aku cuma memikirkan rencana kita minggu depan. Tugas akhir kita lagi menumpuk di kampus, tapi pikiran kita malah melayang ke Bawakaraeng."
"Justru karena tugas akhir itu kita butuh pelarian, Aida," sahut Askar tenang. "Di kampus Barongko, dosen terus menekan kita. Di kos, kita cuma bisa sembunyi-sembunyi seperti ini. Kita butuh puncak gunung lagi. Hawa dingin, tenda kita sendiri, dan kebebasan tanpa ada yang mengawasi."
"Tapi kenapa harus Pasar Anjaya?" suara Aida terdengar ragu. "Kamu tahu sendiri mitos warga lokal di Lembanna. Pasar Anjaya itu kawasan pasar gaib. Banyak pendaki yang tersesat karena dengar suara riuh transaksi di sana. Beberapa bahkan tidak pernah kembali dengan pikiran yang utuh."
Askar terkekeh pelan, menyilangkan tangannya di belakang kepala. "Teori psikologi yang pernah kita pelajari di semester lima dulu kan sudah menjelaskan, Da. Itu semua cuma halusinasi kolektif. Auditory hallucination karena hipoksia, kekurangan oksigen di ketinggian, ditambah rasa takut berlebihan yang dikonstruksi oleh mitos setempat. Otak manusia menciptakan suara-suara itu sendiri saat panik."
Aida menegakkan tubuhnya sedikit, menatap Askar dengan dahi berkerut. "Kamu selalu pakai teori kampus untuk menutupi rasa takutmu, Askar. Mitos Bugis-Makassar itu ada bukan cuma untuk gaya-gayaan. Pamali itu dibuat oleh leluhur karena ada batas antara dunia kita dan dunia yang tidak terlihat."
"Aku tidak takut, Aida. Aku cuma realistis," potong Askar cepat. Tatapannya menajam, menunjukkan ego lelaki yang tak ingin diremehkan. "Kita ini mahasiswa. Kita terbiasa berpikir logis. Kalau kita mendaki dengan persiapan fisik yang matang, logistik cukup, dan mental kuat, tidak ada yang perlu ditakutkan."
"Persiapan fisik dan logistik mungkin matang," ujar Aida dengan nada menyindir. "Tapi bagaimana dengan kelakuan kita? Di Bawakaraeng, pantangannya sangat keras. Tidak boleh bersikap sombong, tidak boleh bertindak tak senonoh. Dan kita... kita berencana mendirikan tenda di Pasar Anjaya sambil melakukan apa yang biasa kita lakukan di gunung lain?"
Askar meraih dagu Aida, menatap matanya dalam-dalam. "Di dalam tenda kita, siapa yang tahu, Aida? Tidak ada manusia lain di sana. Hanya ada aku dan kamu."
"Tapi alam tahu, Askar! Bagaimana kalau penunggu sana marah?" suara Aida sedikit meninggi, memperlihatkan ketakutan yang mulai menggerogoti pikirannya.
"Tidak akan ada apa-apa," tegas Askar mantap. Ia kembali menarik tubuh Aida ke dalam pelukannya, mendekapnya erat seolah ingin mengalirkan rasa aman. "Percaya sama aku. Aku yang bakal jaga kamu. Kita sudah melewati puluhan malam di gunung-gunung lain, dan kita selalu baik-baik saja, kan?"
Aida terdiam di dalam dekapan Askar. Wajahnya bersandar tepat di dada kiri Askar, mendengarkan detak jantung kekasihnya yang teratur. Ada rasa hangat dan tenang saat berada dalam pelukan Askar, namun di sudut hatinya yang paling dalam, sebuah ganjalan tak kasatmata tetap bertengger.
Sensasi liar dan gairah yang selalu mereka cari di alam bebas kini terasa memiliki bayangan hitam yang mengintai.
"Askar..." bisik Aida pelan.
"Iya?"
"Kalau nanti di sana aku mendengar sesuatu yang aneh... janji sama aku, kita langsung turun?"
Askar tersenyum tipis, mengusap bahu polos Aida. "Iya, janji. Tapi aku yakin, kita cuma bakal mendengar suara desahan kamu sendiri di dalam tenda."
Aida mencubit pelan pinggang Askar, membuat Askar tertawa terkekeh. Namun, tawa Askar tiba-tiba terhenti ketika suara angin keras berembus dari luar, menghempas jendela kamar kos mereka hingga berderak kencang.
Brak!
Seketika itu juga, lampu kamar kos mereka padam. Kegelapan langsung menyelimuti ruangan. Hawa gerah kota Makassar yang tadinya menyengat, entah mengapa perlahan berubah menjadi begitu dingin dalam hitungan detik.
Aida refleks mempererat pelukannya pada tubuh Askar, napasnya tertahan. "Askar... mati lampu?"
Askar mengernyitkan dahi. Ia mencoba meraih ponselnya di samping kasur. Namun, sebelum layarnya menyala, dari balik tembok kamar kos yang biasanya kedap suara, terdengar samar-samar sebuah bunyi.
Bukan suara guruh, dan bukan pula suara kendaraan dari jalan raya Barongko.
Itu adalah gema riuh suara tawar-menawar yang samar, bersahut-sahutan seperti berada di tengah pasar yang sangat padat, diiringi klintingan logam yang berdenting halus tepat di atas langit-langit kamar mereka.
Askar membeku. Tangannya berhenti menggapai ponsel.
Kenapa suara keramaian pasar itu bisa terdengar begitu jelas di dalam kamar kos mereka yang berada di lantai dua, padahal hari baru saja melangkah menuju malam?...
Daftar bab
32 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








