
JEJAK SANG PENJELAJAH LANGIT
Dea Fichi|Bersambung
- Jumlah kata
- 330.6K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 16
- Jumlah kata
- 330.6K

Dea Fichi|Bersambung
Raka Aditya, seorang pemuda berusia 17 tahun, menjalani kehidupan biasa hingga sebuah kegiatan kemah sekolah mengubah segalanya. Saat tersesat di tengah hutan akibat hujan deras, Raka menemukan sebuah goa misterius yang tersembunyi di balik pepohonan. Ia masuk hanya untuk mencari tempat berlindung, tetapi sebuah ukiran kuno membangkitkan tanda aneh berbentuk lingkaran dengan dua belas simbol di telapak tangannya. Tak lama kemudian, lantai goa runtuh dan Raka terjatuh ke tempat yang tidak pernah ia bayangkan. Ia tiba di sebuah dunia fantasi yang dipenuhi energi spiritual, kultivator, sekte, kerajaan, monster, artefak kuno, serta makhluk-makhluk legenda. Di dunia itu, kekuatan adalah segalanya. Orang lemah dapat diinjak, sedangkan mereka yang memiliki kekuatan tinggi mampu mengguncang langit dan bumi. Tanpa mengetahui cara kembali ke dunia asalnya, Raka harus belajar bertahan hidup dan memulai perjalanan kultivasinya dari tingkat paling rendah. Dari seorang pemuda biasa yang bahkan tidak mampu menghadapi monster, perlahan ia tumbuh menjadi seorang kultivator yang disegani. Namun tanda di tangannya menyimpan rahasia besar. Dua belas simbol tersebut ternyata berkaitan dengan dua belas warisan kuno yang tersebar di berbagai wilayah dunia. Setiap warisan menyimpan kekuatan dan rahasia yang dapat mengubah keseimbangan dunia. Dalam perjalanannya, Raka menjelajahi hutan terlarang, reruntuhan kuno, dungeon, kerajaan, dan sekte-sekte besar. Ia bertemu sahabat, menemukan orang-orang yang mempercayainya, menghadapi pengkhianatan, serta berhadapan dengan musuh yang jauh lebih kuat darinya. Di balik semua itu, Raka perlahan menemukan jejak mitologi Nusantara dan makhluk-makhluk legenda yang ternyata memiliki hubungan dengan sejarah dunia tersebut. Semakin kuat Raka, semakin besar pula misteri yang terungkap. Mengapa dirinya yang dipilih? Apa sebenarnya hubungan dirinya dengan dua belas warisan kuno? Dan yang paling mengerikan— mengapa seseorang telah menunggunya selama ribuan tahun? Perjalanan Raka yang awalnya hanya dimulai karena tersesat di hutan ternyata merupakan awal dari sebuah takdir besar yang melibatkan masa lalu, masa kini, dan masa depan seluruh dunia. Dari seorang pemuda biasa, Raka akan menapaki jalan panjang kultivasi hingga menjadi sosok yang namanya mengguncang langit. Namun untuk mencapai puncak, ia harus membayar harga yang tidak sedikit. Sebab kekuatan terbesar bukan hanya tentang seberapa tinggi seseorang dapat berdiri, tetapi seberapa banyak yang sanggup ia lindungi ketika seluruh dunia berbalik melawannya.
1 ulasan
Dea Fichi
15/9/26 02:48
mohon Like dan komen dinsetiap bab nya ya para pembaca yang manis dan baik hati😘, agar aku lebih semangat lagi menyajikan tulisan yang lebih imajinatif lagi, love you all
Hujan turun ketika Raka menyadari bahwa ia benar-benar tersesat.
Bukan tersesat dalam arti salah mengambil jalan lalu bisa kembali dengan mudah.
Ini berbeda.
Hutan di sekelilingnya telah berubah menjadi lautan pepohonan yang tampak sama dari segala arah. Batang-batang besar menjulang tinggi, daun-daunnya saling bertumpuk hingga menutupi sebagian langit. Kabut tipis mulai turun di antara pepohonan, sementara tanah yang diinjak Raka berubah menjadi lumpur.
Raka berhenti.
Napasnya memburu.
Ia menatap layar ponselnya.
Tidak ada sinyal.
Baterai tersisa dua belas persen.
"Bagus..."
Ia memasukkan ponsel ke saku jaket.
"Bagus banget."
Suara Raka terdengar getir.
Beberapa jam sebelumnya, ia masih bersama teman-teman sekolahnya dalam kegiatan kemah.
Mereka datang ke kawasan hutan pegunungan itu sebagai bagian dari kegiatan sekolah. Para guru sudah mengingatkan berkali-kali agar para siswa tidak meninggalkan area perkemahan tanpa izin.
Raka sebenarnya tidak berniat melanggar.
Semuanya bermula ketika salah satu teman satu kelompoknya kehilangan senter.
Raka yang menemukannya justru melihat sesuatu bergerak di antara pepohonan.
Karena penasaran, ia mengejar beberapa meter.
Kemudian ia mendengar suara aneh.
Seperti suara anak kecil menangis.
Raka terus berjalan.
Dan ketika akhirnya menyadari bahwa ia sudah terlalu jauh dari perkemahan...
ia tidak lagi tahu jalan pulang.
Sekarang matahari hampir tenggelam.
Hujan pun semakin deras.
"Kalau aku terus jalan, bisa-bisa malah makin jauh."
Raka memandang sekeliling.
Ia harus mencari tempat berteduh.
Tidak jauh di depannya terdapat sebuah lereng batu. Raka berjalan mendekat dengan hati-hati.
Lalu matanya menangkap sesuatu.
Sebuah celah hitam.
Raka berhenti.
Di balik semak-semak yang basah, terdapat dinding batu besar.
Dan pada bagian bawahnya...
ada sebuah lubang.
Goa.
Raka mendekat.
"Goa?"
Ia menyingkirkan beberapa ranting.
Mulut goa itu tidak terlalu besar. Tingginya mungkin hanya sekitar dua meter, tetapi bagian dalamnya gelap gulita.
Raka mengarahkan cahaya dari ponselnya.
Tidak terlihat apa pun.
Ia ragu.
Masuk ke goa yang tidak diketahui keadaannya jelas bukan ide bagus.
Namun suara petir menggelegar begitu keras hingga tanah seolah bergetar.
Raka menoleh ke belakang.
Hujan semakin deras.
"Aku cuma berteduh."
Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
"Cuma sampai hujannya reda."
Raka mengambil sebuah dahan yang cukup kuat sebagai tongkat.
Kemudian perlahan masuk ke dalam goa.
Semakin jauh ia melangkah, udara terasa semakin dingin.
Anehnya, suara hujan di luar perlahan menghilang.
Padahal Raka belum masuk terlalu dalam.
Ia menoleh.
Cahaya dari mulut goa masih terlihat.
Tetapi sesuatu terasa aneh.
"Kenapa sunyi sekali?"
Raka berjalan lagi.
Lima meter.
Sepuluh meter.
Lima belas meter.
Kemudian...
dinding goa di sampingnya tiba-tiba memancarkan cahaya samar.
Raka membeku.
"Apa itu?"
Ia mendekat.
Di permukaan batu terdapat garis-garis tipis berwarna biru keemasan.
Garis tersebut membentuk pola seperti ukiran.
Bukan tulisan yang dikenalnya.
Bukan pula gambar biasa.
Raka mengulurkan tangannya.
Begitu ujung jarinya menyentuh ukiran tersebut—
WUUUM!
Cahaya memenuhi lorong.
Raka terlempar ke belakang.
"Akh!"
Tubuhnya menghantam lantai batu.
Ponselnya terlepas dari tangan.
Layar ponsel berputar di lantai, cahayanya menjadi satu-satunya penerangan.
Raka menahan sakit.
"Apa... yang barusan terjadi?"
Ia menatap tangannya.
Tidak ada luka.
Tetapi sebuah tanda aneh muncul di telapak tangannya.
Bentuknya seperti lingkaran dengan dua belas simbol kecil mengelilinginya.
Tanda itu berdenyut.
Sekali.
Dua kali.
Kemudian...
DUUM!
Suara seperti detak jantung terdengar dari dalam goa.
Raka terdiam.
Duum.
Detak kedua.
Duum.
Detak ketiga.
Suara itu semakin kuat.
Kemudian lantai di bawahnya bergetar.
Raka buru-buru berdiri.
"Jangan bilang ada gempa..."
Retakan muncul di lantai.
Dari celah tersebut keluar cahaya keemasan.
Raka mundur.
Namun sebelum sempat berbalik—
lantai runtuh.
"AAAAAA!"
Tubuh Raka jatuh.
Ia berusaha meraih sesuatu.
Tangannya hanya menangkap udara.
Tubuhnya meluncur melewati sebuah lorong vertikal yang seolah tidak memiliki dasar.
Batu-batu berjatuhan di sekelilingnya.
Angin menghantam wajah.
Raka menutup mata.
"AKU BELUM MAU MATI!"
Teriakannya menggema.
Lalu tiba-tiba—
BRUK!
Tubuhnya menghantam sesuatu yang lunak.
Raka membuka mata.
Ia terbaring di atas rerumputan.
Hening.
Tidak ada hujan.
Tidak ada suara burung.
Tidak ada suara angin.
Raka perlahan bangkit.
"Aduh..."
Ia memegang punggungnya.
Kemudian ia menyadari sesuatu.
Tempat itu bukan lagi goa.
Di hadapannya terbentang sebuah lembah luas.
Langit berwarna ungu.
Dua bulan menggantung di kejauhan.
Gunung-gunung raksasa menjulang sampai menembus awan.
Dan di antara pepohonan...
Raka melihat cahaya merah bergerak.
Satu.
Dua.
Puluhan.
Matanya membesar.
"Itu..."
Makhluk-makhluk berbentuk seperti serigala sedang berjalan di antara pepohonan.
Tetapi ukuran mereka hampir sebesar sapi.
Tubuh mereka berwarna hitam.
Mata mereka merah menyala.
Raka langsung merangkak mundur.
"Ini bukan hutan."
Ia menelan ludah.
"Ini jelas bukan hutan."
Salah satu makhluk mengangkat kepalanya.
Hidungnya bergerak.
Kemudian kepalanya berbalik tepat ke arah Raka.
Mata merah itu bertemu dengan matanya.
Makhluk tersebut menggeram.
GRRRRRR...
Raka membeku.
"Jangan."
Makhluk itu mulai berjalan.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Kemudian berlari.
Raka berdiri dan langsung melarikan diri.
"AAAAAA!"
Ia tidak tahu harus ke mana.
Yang ia tahu hanya satu.
Ia harus hidup.
Raka berlari melewati pepohonan asing.
Akar-akar besar menjulur dari tanah.
Tumbuhan bercahaya memenuhi sisi jalan.
Beberapa bunga membuka kelopaknya ketika ia lewat.
Sesuatu yang menyerupai kunang-kunang berwarna biru beterbangan di udara.
Namun Raka tidak sempat memperhatikan semua itu.
Suara geraman semakin dekat.
"Kenapa harus aku?!"
Raka melompati sebuah akar.
Kemudian kakinya tersangkut.
Tubuhnya terjatuh.
"Ah!"
Ia berbalik.
Makhluk itu sudah berada beberapa meter di depannya.
Mulutnya terbuka.
Taring panjang terlihat jelas.
Raka mengambil batu.
Tangannya gemetar.
"Pergi..."
Makhluk itu terus mendekat.
Raka menggenggam batu itu lebih kuat.
"Pergi!"
Tidak ada gunanya.
Makhluk tersebut melompat.
Raka menutup mata.
Namun tepat sebelum tubuh makhluk itu mencapai dirinya—
TING!
Sebuah suara jernih terdengar.
Tanda di telapak tangan Raka menyala.
Makhluk tersebut tiba-tiba terlempar.
BOOOM!
Tubuhnya menghantam pohon.
Raka membuka mata.
Ia menatap telapak tangannya.
Cahaya keemasan mengalir di sepanjang urat tangannya.
Kemudian sebuah suara asing terdengar di dalam kepalanya.
"Pewaris telah ditemukan."
Raka membeku.
"Apa?"
"Energi spiritual terdeteksi."
"Apa-apaan ini?"
"Jalur kultivasi akan dibuka."
Tanda di tangannya semakin terang.
Untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia asing itu, Raka merasakan sesuatu mengalir ke dalam tubuhnya.
Hangat.
Namun juga sangat kuat.
Udara di sekelilingnya seakan berubah.
Ia dapat merasakan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia sadari.
Energi.
Energi yang memenuhi langit dan bumi.
Dan tanpa mengetahui bagaimana caranya...
Raka menarik napas.
Energi itu masuk ke dalam tubuhnya.
Makhluk hitam tadi bangkit kembali.
Tetapi kali ini Raka tidak merasa takut seperti sebelumnya.
Di hadapannya muncul cahaya keemasan.
Sebuah kalimat perlahan terbentuk.
TAHAP KULTIVASI: NAFAS SPIRITUAL — TINGKAT 1
Raka menatap tulisan itu dengan wajah kosong.
Kemudian ia berbisik,
"Jadi..."
Matanya menatap dunia asing di hadapannya.
"...aku benar-benar masuk ke dunia lain?"
Jauh di atas langit, dua bulan perlahan tertutup awan.
Dan di puncak gunung yang sangat jauh—
sebuah sosok berjubah hitam membuka matanya.
"Sudah datang..."
Suaranya rendah.
"Setelah seribu tahun..."
Ia tersenyum tipis.
"...pewaris gerbang akhirnya kembali."
Sementara Raka sama sekali tidak mengetahui bahwa kedatangannya ke dunia tersebut bukan sebuah kecelakaan.
Goa yang ia temukan bukan sekadar goa.
Dan tanda di telapak tangannya bukan sekadar tanda.
Itu adalah kunci.
Kunci menuju rahasia dunia yang telah disembunyikan selama ribuan tahun.
Dan perjalanan seorang pemuda berusia tujuh belas tahun...
baru saja dimulai.
190 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
190 bab
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.