Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Seorang Pengawal Biasa

Seorang Pengawal Biasa

Dhanny Ofin | Bersambung
Jumlah kata
289.6K
Popular
13.6K
Subscribe
336
Novel / Seorang Pengawal Biasa
Seorang Pengawal Biasa

Seorang Pengawal Biasa

Dhanny Ofin| Bersambung
Jumlah Kata
289.6K
Popular
13.6K
Subscribe
336
Sinopsis
FantasiIsekaiPertualanganPengawalReinkarnasi
Di sebuah kerajaan fantasi bergaya barat yang dipenuhi sihir, ksatria, dan para ahli beladiri, hiduplah seorang pemuda bernama Rico yang berusia 19 tahun. Tidak ada yang mengetahui bahwa dirinya sebenarnya adalah seorang pria yang bereinkarnasi dari dunia lain dua tahun lalu. Rico terlahir kembali dalam keluarga petani miskin yang hidup sederhana di pinggiran kerajaan. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya serta dua orang adiknya. Setiap hari, Rico membantu ayahnya mengolah ladang demi memenuhi kebutuhan keluarga. Kehidupan mereka jauh dari kemewahan, namun penuh kehangatan dan kasih sayang. Suatu hari, adiknya Same, menginjak usia 14 tahun, usia minimum untuk memasuki Akademi Kerajaan, tempat para penyihir, ksatria, dan petualang muda dididik. Keluarga Rico melihat kesempatan ini sebagai harapan untuk mengubah nasib mereka. Dengan susah payah, mereka mengumpulkan uang agar Same dapat bersekolah di akademi tersebut. Namun Same menolak. Ia merasa tidak adil jika dirinya pergi belajar sementara kakaknya tetap bekerja di ladang. Baginya, Rico yang lebih pantas mendapatkan kesempatan itu. Meski begitu, Rico menenangkan adiknya. Ia mengatakan bahwa dirinya telah memilih jalan hidupnya sendiri. Selama ini ia tetap tinggal untuk membantu orang tua mereka, dan sekarang masa depan keluarga berada di tangan Same. Rico tidak sedikit pun merasa iri. Sebaliknya, ia berharap adiknya dapat meraih kehidupan yang lebih baik daripada dirinya. Akan tetapi, tidak seorang pun mengetahui rahasia terbesar Rico. Di balik penampilannya sebagai pemuda desa biasa, Rico telah berlatih secara diam-diam selama dua tahun. Memanfaatkan pengetahuan dari kehidupan sebelumnya dan tekad yang kuat, ia melatih tubuhnya setiap malam, mempelajari teknik beladiri, serta mengembangkan bakat sihir yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun. Tujuannya bukanlah menjadi bangsawan, pahlawan, atau penguasa kerajaan. Ia hanya ingin menjadi cukup kuat untuk melindungi keluarganya dan menjalani hidup dengan tenang. Namun takdir memiliki rencana lain. Ketika berbagai konflik mulai mengguncang kerajaan, para bangsawan saling berebut kekuasaan, monster bermunculan dari wilayah terlarang, dan ancaman perang semakin mendekat, Rico perlahan terseret ke dalam pusaran peristiwa besar. Kemampuan yang selama ini ia sembunyikan mulai menarik perhatian banyak pihak. Meski berkali-kali menolak ketenaran dan jabatan tinggi, Rico terus melangkah di jalan yang dipilihnya. Karena pada akhirnya, ia hanyalah... Seorang pengawal biasa. Namun tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa pengawal biasa itu kelak akan menjadi legenda yang mengubah sejarah kerajaan.
Bab 1 Harapan di Ladang Gandum.

Kerajaan Arvandor dikenal sebagai salah satu kerajaan terbesar di benua barat. Tanahnya subur, pasukannya kuat, dan sihir berkembang pesat. Namun jauh dari kemegahan ibu kota yang dipenuhi menara penyihir dan istana para bangsawan, terdapat sebuah desa kecil bernama Vallen.

Desa Vallen terkenal sebagai penghasil gandum terbesar di wilayah timur kerajaan. Hamparan ladang emas membentang sejauh mata memandang. Saat angin bertiup, lautan gandum bergoyang seperti ombak keemasan yang menenangkan hati.

Di desa itulah tinggal seorang pemuda berusia sembilan belas tahun bernama Rico.

"Rico! Bawa karung gandum itu ke gudang!" ucap Ayahnya.

"Baik, Ayah!" jawab Rico.

Dengan tubuh yang dipenuhi keringat, Rico mengangkat karung gandum yang beratnya hampir setengah berat tubuh orang biasa. Penduduk desa yang melihatnya hanya bisa menggeleng kagum.

"Anak itu benar-benar pekerja keras."

"Benar. Jarang ada pemuda seusianya yang masih mau membantu orang tua setiap hari."

"Kalau semua anak muda seperti Rico, desa kita pasti makin maju."

Rico hanya tersenyum mendengar pujian tersebut. Tak ada yang tahu bahwa dirinya menyimpan rahasia besar.

Dua tahun lalu, Rico yang asli telah meninggal. Saat itu ia pergi berburu ke hutan untuk mencari rusa liar. Namun nasib buruk menimpanya. Ia terpeleset di tebing licin dan kepalanya menghantam batu besar.

Ketika tubuh itu terbaring tak bernyawa, sebuah jiwa lain memasuki tubuhnya. Jiwa seorang pemuda dari Bumi.

Awalnya Rico mengira dirinya sedang bermimpi. Namun setelah berhari-hari hidup di dunia ini, ia akhirnya menerima kenyataan bahwa dirinya telah bereinkarnasi.

Ia mendapatkan seluruh ingatan pemilik tubuh asli sehingga tidak menimbulkan kecurigaan dari siapa pun.

"Jadi ini dunia sihir..." gumam Rico kala itu.

Sejak saat itu ia mulai beradaptasi. Dengan pengetahuan yang dibawanya dari Bumi, Rico perlahan membantu desanya berkembang. Ia memperkenalkan beberapa teknik pengolahan tanah sederhana, rotasi tanaman, dan cara penyimpanan hasil panen yang lebih baik.

Awalnya para petani meragukannya. Namun setelah hasil panen meningkat hampir dua kali lipat, seluruh desa mulai mengikuti sarannya.

Kini Vallen menjadi salah satu desa penghasil gandum terbaik di wilayah timur. Meski begitu, Rico tidak pernah menganggap dirinya istimewa. Baginya, keluarga adalah segalanya.

"Hei Kak Rico!" Suara ceria memecahkan lamunannya.

Seorang gadis kecil berambut cokelat berlari menghampirinya. Itu adalah Clara, adik bungsunya yang baru berusia sepuluh tahun.

"Kak Rico! Ibu nyuruh pulang!" seru Clara sambil melambaikan kedua tangannya, napasnya sedikit tersengal karena berlari.

"Memangnya ada apa?" tanya Rico sambil mengernyit penasaran.

"Waktunya makan siang!" jawab Clara dengan senyum lebar.

Mata Rico langsung berbinar. "Kenapa tidak bilang dari tadi? Ayo cepat!"

Clara langsung tertawa geli. "Huh, baru dengar kata 'makan' saja wajah Kakak berubah. Cepat sekali semangatnya."

"Itu namanya menghargai masakan Ibu," balas Rico dengan wajah serius yang dibuat-buat.

"Iya, menghargai sampai takut nasinya dimakan orang lain duluan," goda Clara sambil menjulurkan lidah.

"Kalau aku terlambat, memang bisa habis."

Clara menggeleng pelan sambil tertawa. "Tenang saja, Kak. Panci nasinya lebih takut sama Kakak daripada Kakak takut kehabisan."

Tak lama kemudian seorang remaja laki-laki menghampiri mereka. Ia memiliki wajah yang mirip dengan Rico.

Namanya Same, adik tengahnya. "Kakak, aku sudah selesai menyiram ladang."

"Bagus." Rico menepuk bahunya.

Tatapannya kemudian berubah serius. Same memiliki bakat luar biasa. Pada usia sebelas tahun, bocah itu sudah mampu menggunakan sihir elemen air.

Bagi penduduk desa, hal itu hampir mustahil. Bahkan di kota sekalipun tidak banyak anak yang mampu membangkitkan elemen sihir sejak dini.

Rico masih ingat pertama kali Same menggunakan sihir. Saat itu musim kemarau panjang. Tanaman hampir mati karena kekurangan air.

Tiba-tiba Same yang masih kecil mengangkat tangannya. Butiran air muncul dari udara. Lalu membentuk bola air sebesar kepala manusia.

Semua orang tercengang. Ayah mereka sampai menjatuhkan cangkul.

"Same... kau... seorang penyihir?"

Saat itu seluruh desa geger dengan kemampuan Same. Sejak hari itu banyak penduduk yang mengatakan bahwa Same harus masuk akademi.

Namun keluarga mereka terlalu miskin. Biaya akademi di ibu kota sangat mahal. Meski demikian, Rico selalu memikirkan masa depan adiknya.

Sore itu saat bekerja di ladang, Rico menatap Same yang sedang menyiram tanaman menggunakan sihir.

"Sudah waktunya."

"Apa maksud Kakak?" tanya Same.

"Akademi." ucap singkat Rico.

Gerakan Same langsung berhenti. Suasana mendadak hening. "Aku tidak mau membahas itu."

"Kenapa?" Ucap Rico.

Same menggigit bibirnya. "Karena yang lebih pantas pergi adalah Kakak."

Rico tertawa kecil. "Kau masih memikirkan itu?"

"Tentu saja!" Same menatapnya. "Kakak lebih pintar dariku. Kakak yang mengajari para petani. Kakak yang membantu desa berkembang. Kakak juga yang selalu bekerja paling keras. Kalau ada yang layak masuk akademi, itu Kakak!"

Rico hanya tersenyum. Namun dalam hatinya muncul rasa hangat. Same benar-benar memikirkannya.

Malam hari tiba, keluarga kecil itu berkumpul di meja makan sederhana. Lampu minyak menerangi ruangan yang tidak terlalu besar.

Ayah Rico membuka pembicaraan. "Rico bilang ada hal penting yang ingin dibahas."

Rico mengangguk. "Ayah, Ibu. Aku ingin membicarakan masa depan Same."

Same langsung menundukkan kepala.

Ibu mereka terlihat gugup. "Apa kau yakin ingin membahas ini?"

"Aku yakin." Rico menarik napas panjang. "Same harus masuk Akademi Kerajaan."

Ruangan mendadak menjadi sunyi. Lalu ayah mereka mengangguk perlahan.

"Aku juga berpikir begitu. Sayang sekali jika bakatnya hanya digunakan di desa."

Same mengepalkan tangan. "Tapi aku tidak mau! Aku tidak mau pergi!"

Semua orang menoleh. "Same..."

"Tidak adil!" ucap Same sedih, air mata mulai menggenang di matanya.

"Kenapa harus aku? Kenapa bukan Kak Rico? Aku tidak mau meninggalkan keluarga!" ucap lirih Same.

Suasana menjadi emosional. Clara bahkan ikut menangis. Rico bangkit dari kursinya lalu berjalan mendekati adiknya. "Same."

"Tidak!... Kakak selalu mengalah!... Kakak selalu memikirkan orang lain!... Kenapa Kakak tidak memikirkan diri sendiri sekali saja?!" Suara Same bergetar.

Rico terdiam beberapa saat, kemudian ia tersenyum lembut. "Karena aku adalah kakakmu."

Kalimat sederhana itu membuat Same membeku.

Rico melanjutkan. "Usiaku sudah sembilan belas tahun. Sedangkan batas maksimal masuk akademi adalah empat belas tahun. Kesempatanku sudah lewat dan itulah kenyataannya."

Same menggigit bibirnya. "Tapi..."

"Tidak ada tapi." Rico meletakkan tangan di bahu adiknya. "Kau punya bakat. Kau punya masa depan. Dan aku bangga padamu."

Air mata Same akhirnya jatuh. "Aku takut..."

Rico tersenyum. "Kami akan selalu ada di sini."

Ayah mereka ikut berbicara. "Kau adalah harapan keluarga kita."

Ibu mereka memegang tangan Same. "Pergilah dan raih impianmu."

Same menundukkan kepala. Lama sekali, hingga akhirnya ia mengangguk pelan.

"...Baiklah."

Mendengar jawaban itu, semua orang merasa lega. Namun Same kembali bertanya. "Lalu biaya akademi? Kita tidak punya cukup uang."

Ayah mereka menghela napas. "Itu memang masalah besar."

Namun Rico langsung menjawab. "Tenang saja."

Semua mata tertuju kepadanya.

"Aku dan Ayah akan mencari caranya. Kau hanya perlu fokus belajar." ucap Rico tersenyum.

"Tapi—" Ucap bantah Same.

"Tidak ada tapi." Rico tersenyum. "Kau percaya padaku, kan?"

Same akhirnya mengangguk. "Ya."

Malam semakin larut. Setelah semua anggota keluarga tertidur, Rico diam-diam keluar rumah.

Langit malam dipenuhi bintang. Ia berjalan menuju hutan di belakang desa. Begitu memastikan tidak ada siapa pun di sekitar, ekspresinya berubah serius.

Rico mengangkat tangannya. Mana mulai berkumpul. Bola api kecil muncul di telapak tangannya. Lalu berubah menjadi beberapa bola api sekaligus.

"Masih belum cukup."

Whoosh!

Rico berlari cepat, tubuhnya melesat di antara pepohonan. Kecepatannya jauh melampaui manusia biasa.

Ia melompat, menebaskan pedang kayu yang telah diperkuat mana.

Braak!

Sebuah pohon tumbang. Rico mendarat dengan ringan. Keringat membasahi dahinya.

Dua tahun...

Selama dua tahun penuh ia berlatih diam-diam. Setiap malam tanpa henti, tanpa diketahui siapa pun. Ia mempelajari sihir, melatih tubuhnya dan mengembangkan teknik bertarung.

Bukan demi ketenaran, bukan demi kekuasaan, bukan pula demi menjadi pahlawan.

Rico menatap ke arah desa yang terlihat kecil dari kejauhan. Lampu-lampu rumah penduduk masih terlihat berkelap-kelip.

Di sanalah keluarganya berada. Di sanalah tempat yang ingin ia lindungi.

Rico mengepalkan tangannya erat.

"Aku tidak peduli apa yang akan terjadi di masa depan."

"Aku akan menjadi cukup kuat."

"Cukup kuat untuk melindungi Ayah."

"Cukup kuat untuk melindungi Ibu."

"Cukup kuat untuk melindungi Same dan Clara."

"Cukup kuat untuk melindungi desa ini."

Angin malam berhembus pelan.

Sementara jauh di dalam kegelapan hutan, Rico kembali mengangkat pedangnya. Tak seorang pun mengetahui rahasia yang ia sembunyikan selama ini.

Dia berlatih hanya untuk melindungi keluarganya dan desa saat terjadi sebuah bencana.

Lanjut membaca
Lanjut membaca