Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Sampah Akademi Jadi Penguasa Monster

Sampah Akademi Jadi Penguasa Monster

Danker | Bersambung
Jumlah kata
93.0K
Popular
3.1K
Subscribe
215
Novel / Sampah Akademi Jadi Penguasa Monster
Sampah Akademi Jadi Penguasa Monster

Sampah Akademi Jadi Penguasa Monster

Danker| Bersambung
Jumlah Kata
93.0K
Popular
3.1K
Subscribe
215
Sinopsis
FantasiIsekaiSistemIsekaiHarem
Birru Anargya adalah "Sampah Kelas F" di Akademi Hunter Nusantara. Tanpa bakat magis dan hanya berbekal nyali, ia rela memungut sisa material monster di dungeon mematikan demi biaya pengobatan sang adik. Pengkhianatan timnya nyaris membuat Birru tewas terkoyak monster. Namun, kematian justru membangkitkan sebuah anomali di dalam dirinya. [Sistem Mata Aksara Diaktifkan] Kini, hanya dengan satu tatapan, Birru mampu membedah, menganalisis, dan menduplikasi teknik tempur hingga sihir tingkat Dewa mana pun ke bentuk paling sempurnanya! Dari siswa buangan yang dirundung, ia diam-diam beralih profesi menjadi "Guru Misterius" bagi para primadona akademi menyempurnakan teknik mereka lewat sesi privat yang intens dan penuh rahasia. Saat bahaya besar mengancam dari balik gerbang dimensi kota, mampukah si Sampah Kelas F ini menampar kesombongan para Hunter elit dan menduduki takhta tertinggi?
Bab 1

BRAK!

Punggung Birru menghantam dinding beton arena latihan dengan suara retakan yang memuakkan. Rasa amis darah seketika memenuhi rongga mulutnya, disusul rasa panas yang membakar dari kulit dada yang baru saja terkena hantaman Sihir Api tingkat dasar.

Tubuhnya melorot ke lantai yang dingin, meninggalkan jejak merah di dinding. Ia terbatuk keras, memuntahkan gumpalan darah kental ke atas ubin.

"Hanya segini kemampuanmu, Sampah Kelas F?"

Sebuah sepatu bot berlapis pelat besi mendarat kasar di atas bahu Birru, menekannya ke lantai hingga ia kesulitan meraup oksigen. Pemilik sepatu itu adalah Leon, siswa elit Kelas A Akademi Hunter Nusantara. Di belakang Leon, tiga siswa lain tertawa meremehkan, melipat tangan mereka sambil menikmati pemandangan yang sudah menjadi rutinitas harian di akademi elit ini.

Birru Anargya tidak membalas. Ia hanya menatap lantai dengan gigi tergemeretak hebat. Urat-urat di lehernya menonjol menahan amarah yang mendidih. Mana Core di jantungnya pusat energi magis setiap Hunter terasa hampa dan bisu. Ia terlahir dengan Core yang cacat, stagnan di Level 1, membuatnya tidak lebih dari manusia biasa di dunia yang didikte oleh kekuatan supranatural.

"Kenapa diam? Bukankah kau butuh uang?" Leon menyeringai, mengeluarkan segepok uang kertas bernilai lima ratus ribu rupiah dari sakunya, lalu melemparkannya tepat ke wajah Birru. Lembaran uang itu berhamburan, bercampur dengan darah Birru di lantai.

"Ambil bayaranmu sebagai samsak hidupku hari ini. Dan ingat, sore ini kau harus ikut ke Dungeon Zona Merah sebagai porter timku. Jangan berani-berani kabur, atau beasiswamu di akademi ini akan kucabut."

Leon menarik kakinya, meludah ke arah Birru, lalu berjalan pergi bersama kawanannya.

Dengan tangan gemetar yang dipenuhi memar biru, Birru perlahan memungut lembaran uang itu satu per satu. Ia tidak peduli pada harga dirinya yang diinjak-injak. Ia tidak peduli pada rasa sakit yang meremukkan tulang rusuknya.

Di benaknya hanya ada satu wajah: Nara. Adik perempuannya yang berumur sepuluh tahun, yang saat ini terbaring kritis di ruang isolasi rumah sakit akibat kutukan Mana Frost dari serangan monster dua tahun lalu. Lima ratus ribu ini cukup untuk membeli satu dosis Mana Suppressant yang akan menahan rasa sakit adiknya malam ini. Untuk Nara, Birru rela membuang harga dirinya. Untuk Nara, Birru rela menjadi keset bagi para bangsawan sombong itu.

"Tunggu saja," bisik Birru parau, menggenggam uang berlumur darah itu hingga buku-buku jarinya memutih. "Suatu hari nanti... aku akan menginjak-injak kalian semua."

Tiga jam kemudian, udara lembap dan bau belerang menyengat hidung Birru.

Ia kini memanggul ransel seberat empat puluh kilogram berisi perbekalan, ramuan, dan material cadangan milik tim Leon. Mereka sedang berada di kedalaman Dungeon Gua Basalt, sebuah penjara dimensi berperingkat D yang seharusnya aman untuk siswa akademi.

Namun, kegelapan di dalam gua ini terasa berbeda. Hawa dingin yang tidak wajar merayap naik dari sol sepatu Birru. Bulu kuduknya berdiri. Insting bertahannya yang terasah dari jalanan berteriak bahwa ada sesuatu yang salah.

Benar saja.

Ketika tim elit itu melangkah ke ruang bos di ujung gua, dinding-dinding dimensi tiba-tiba retak. Udara bergetar hebat. Kristal-kristal Mana yang menempel di dinding gua berubah warna dari biru menjadi merah darah.

BEEP! BEEP! BEEP!

Jam tangan pintar milik Leon berbunyi nyaring, memancarkan cahaya merah peringatan darurat. Wajah arogan Leon seketika pucat pasi.

"P-Peringatan anomali dimensi?! Boss Break! Dungeon ini bermutasi menjadi Peringkat B!" teriak salah satu anggota tim Leon dengan suara bergetar karena panik.

Sebelum ada yang sempat bereaksi, dari tengah danau lava hitam di ruang bos, muncul sesosok mimpi buruk. Seekor monster Arachnid raksasa bertubuh setengah manusia dengan enam lengan pisau bergerigi. Blood-Scythe Queen. Matanya yang berjumlah delapan menyala merah, memancarkan aura membunuh yang membuat udara di sekitarnya seolah membeku.

Monster itu bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Dalam satu kedipan mata, ia sudah berada di depan salah satu teman Leon.

CRAT!

Darah menyembur layaknya hujan merah. Siswa elit yang selalu membanggakan perisai sihirnya itu terbelah menjadi dua dalam satu ayunan pisau. Jeritan melengking bergema di dalam gua.

"LARI! TINGGALKAN BARANG-BARANG!" teriak Leon histeris. Ia berbalik, bersiap merapal sihir kecepatan untuk melarikan diri.

Namun, monster itu melompat, menghalangi satu-satunya jalan keluar. Leon dan dua temannya yang tersisa terpojok. Dalam kepanikan absolut, mata Leon melirik ke arah Birru yang berdiri terpaku di dekat dinding gua, terbebani oleh ransel raksasa.

Sebuah pikiran licik melintas di mata Leon.

Ia tiba-tiba berlari ke arah Birru. Bukan untuk menolong, melainkan merapal sihir angin ke tangannya, lalu mendorong tubuh Birru dengan sekuat tenaga ke arah monster raksasa tersebut.

"Maaf, Sampah! Nyawamu memang cuma seharga umpan! Matilah untuk kami!" teriak Leon.

Waktu seakan berjalan lambat bagi Birru. Tubuhnya melayang di udara, terlempar tepat ke arah sang Blood-Scythe Queen yang sedang mengangkat lengan pisaunya. Ia bisa melihat cengiran licik Leon yang memanfaatkan momen itu untuk lari melewati celah sempit menuju pintu keluar.

Ia mengkhianatiku. Kebencian meledak di dalam dada Birru. Ia dikhianati. Dibuang seperti sampah. Jika ia mati di sini, siapa yang akan mengurus Nara? Adiknya akan mati dalam kedinginan dan kesakitan di ranjang rumah sakit, menunggu kakak yang tak kunjung pulang.

TIDAK! AKU TIDAK BOLEH MATI!

Pisau bergerigi milik monster itu menebas turun.

SLASH!

Dada Birru robek memanjang. Ransel berat di punggungnya hancur, menahan sebagian besar dampak serangan fatal itu, namun tebasannya cukup dalam untuk membuat darah Birru tumpah membanjiri lantai gua. Tubuhnya terhempas keras ke sudut ruangan yang gelap, berguling di antara tumpukan tulang-belulang petualang terdahulu.

Pandangan Birru mulai mengabur. Napasnya tersengal-sengal, diiringi suara gelembung darah dari paru-parunya yang robek. Monster raksasa itu kini berbalik, berjalan lambat menghampiri Birru untuk memberikan pukulan penyelesaian. Bau kematian menguar kuat.

Birru mencoba merangkak mundur, namun tubuhnya sudah tidak merespons. Di tengah keputusasaan, jemari kanannya yang gemetar tanpa sengaja menyentuh sebuah benda padat di antara tumpukan tulang. Sebuah batu obsidian aneh yang berbentuk persis seperti bola mata manusia.

Saat darah segar dari tangan Birru merembes masuk ke dalam retakan artefak kuno tersebut, batu itu tiba-tiba berdenyut. Suhunya meningkat drastis, membakar telapak tangan Birru.

Blood-Scythe Queen mengangkat pisaunya tinggi-tinggi. Bayangan kematian telah menutupi wajah Birru. Namun, alih-alih memejamkan mata dan menerima takdir, Birru mendongak. Ia membelalakkan matanya lebar-lebar, menatap monster itu dengan sorot mata penuh amarah dan dendam yang menolak untuk padam.

"Aku... belum... kalah..." desisnya di antara gigi yang bersimbah darah.

Tiba-tiba, artefak bola mata obsidian di tangannya hancur menjadi debu bercahaya biru, lalu melesat masuk ke dalam mata kanan Birru.

Rasa sakit yang luar biasa seakan membelah tengkoraknya. Namun, bersamaan dengan rasa sakit itu, sebuah suara mekanis yang dingin dan tanpa emosi bergema langsung di dalam otaknya.

[Kondisi Kritis Terdeteksi. Sinkronisasi Paksa Dimulai...]

[Mengikat Jiwa Tuan Rumah... Selesai.]

[Sistem Mata Aksara (Tahap 1) Berhasil Diaktifkan.]

Waktu di sekitar Birru seolah berhenti. Ayunan pisau monster raksasa yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari lehernya membeku di udara.

Rasa sakit di dadanya lenyap. Birru perlahan bangkit berdiri. Saat ia membuka matanya, dunia tampak benar-benar berbeda. Mata kanannya kini bersinar terang dengan pendaran rune magis berwarna biru laut, membentuk cincin data holografis yang berputar mengelilingi pupilnya.

Birru menatap monster Peringkat B di depannya yang dulu terlihat tak terkalahkan. Kini, di atas kepala monster itu, melayang sebuah layar transparan bersinar biru.

[Memindai Target: Blood-Scythe Queen (Mutan Level 35)]

[Menganalisis Struktur Anatomi dan Aliran Mana...]

[Selesai. Menemukan 14 titik kelemahan fatal.]

[Menduplikasi Teknik Pasif Target: 'Ketangkasan Bayangan' - Selesai. Penguasaan: 100%]

Sebuah senyum sinis yang belum pernah ia tunjukkan seumur hidupnya kini perlahan mengembang di wajah Birru. Garis-garis merah bercahaya yang menunjukkan titik kelemahan monster itu kini tergambar jelas di retina kanannya, menuntunnya layaknya cetak biru kematian.

"Jadi," bisik Birru, mengepalkan tangannya yang tiba-tiba dialiri oleh kekuatan asing yang begitu masif, "mari kita lihat, siapa yang akan menjadi umpan hari ini."

Lanjut membaca
Lanjut membaca