
Survival Di Pulau Terpencil Bersama Harem Level SSS++
hf rajak|Bersambung
- Jumlah kata
- 202.9K
- Popular
- 61.7K
- Subscribe
- 2.0K
- Jumlah kata
- 202.9K
- Popular
- 61.7K
- Subscribe
- 2.0K
Sinopsis
Kecelakaan pesawat membawa Aris ke pulau misterius bersama seorang diva, pramugari cantik, CEO dingin, dan para penyintas wanita lainnya. Dengan Sistem Bertahan Hidup di tangannya, ia harus membangun tempat berlindung, mengumpulkan sumber daya, dan menaklukkan hati mereka satu per satu. Semakin banyak wanita yang menjadi miliknya, semakin kuat pula kekuatan yang ia peroleh!
Ulasan
2 ulasan
zigzagleR
5/10/26 07:54
koq pilihan koin nominal 5000 10000 tidak ada lagi? makin ke sini koq makin mahal ya...yg banyak pilihan dong biar pembaca dapat kondisikan
Alaixar20
14/9/26 08:07
enak bener jadi Aris ya , , , , meski terdampar di pulau tapi kan banyak cewek cantik yang temenin, asyeek lah...
-1-
"Penumpang dengan nomor penerbangan MA-2207 tujuan Kota Baru, ini adalah panggilan terakhir. Mohon segera menuju gerbang keberangkatan sembilan."
Suara pengumuman itu membuat Aris Sandi mengumpat pelan. Kakinya berlari secepat mungkin menyeret koper kabin yang beroda satu. Rodanya sudah oleng sejak tadi.
Peluh membasahi punggungnya, bukan karena udara panas bandara yang dingin oleh AC, tapi karena adrenalin murni. Tiga bulan bekerja sebagai teknisi di negeri orang, dan dia nyaris saja gagal pulang hanya karena antrean imigrasi yang mengular tanpa ampun.
"Gerbang sembilan… gerbang sembilan…" gumamnya sambil matanya menyapu papan petunjuk di atas kepala.
Dia berbelok tajam di persimpangan koridor tanpa sempat memperlambat langkah.
BRUK!
Bahunya menghantam sesuatu yang empuk namun cukup keras untuk membuatnya terjengkang ke belakang.
Sebuah tas tangan warna krem jatuh berdebam ke lantai, isinya, lipstik, ponsel, dan dompet kecil berlapis kristal dan berhamburan ke segala arah.
"Aduh! Astaga, kamu ini buta ya?!"
Suara itu melengking, tajam, dan penuh amarah. Aris menoleh dan untuk sepersekian detik dia terpaku.
Wanita di hadapannya dan sedang mengenakan kacamata hitam besar yang menutupi separuh wajahnya, rambut hitam legam tergerai sempurna meski baru saja terserempet, dan tubuh langsing dibalut tank top putih dan hotpants yang mengekspos paha mulus.
Wajah wanita itu terasa begitu familiar, dan Aris yakin dia pernah melihat wajah ini di layar televisi, di antara riuh ribuan penggemar yang menjerit histeris.
Mulut Aris menganga, “Lisa Rose.”
Salah satu personel girl band paling populer saat ini.
Tapi kecantikan dan ketenaran itu tidak lantas membuat Aris kehilangan akal sehatnya.
Dia sudah cukup dewasa untuk tahu bahwa wajah cantik di depan mata bukan alasan untuk bertekuk lutut karena dia lebih memilih naik pesawat dan tiba di rumah dengan selamat.
"Maaf, aku terburu-buru…" Aris berjongkok, sambil mengumpulkan barang-barang yang berserakan.
"Terburu-buru? Kamu pikir cuma kamu yang punya masalah?!" Lisa Rose menyambar tasnya dari tangan Aris tanpa mengucap terima kasih, matanya berapi-api.
"Asistenku yang bodoh itu telat datang, aku hampir ketinggalan pesawat gara-gara dia, dan sekarang kamu! Orang kampungan yang bahkan tidak tahu cara berjalan! Menabrak aku di depan umum begini! Kamu tahu berapa harga tas ini? Mungkin sama dengan gajimu setahun!"
Kalimat itu telak menghantam harga diri Aris. Rahangnya mengeras, jemarinya mengepal sesaat.
Dalam hati dia ingin sekali membalas, melontarkan kata-kata yang setimpal untuk wanita arogan ini. Tapi dia menghela napas panjang, menahan gejolak itu turun kembali ke dasar dadanya.
"Maaf," ucap Aris singkat, datar, tanpa nada memelas atau rasa segan berlebihan. Dia berdiri, merapikan kaosnya. "Aku sedang buru-buru. Permisi." Dia melangkah pergi begitu saja.
Lisa Rose justru terdiam sejenak. Keki, karena diacuhkan seorang lelaki yang mengenakan pakaian murahan.
“Hei! Kembali! Urusan kita belum selesai!” Bentak Lisa Rose lantang.
Aris tak peduli teriakan itu. Yang terpenting baginya bukan berdebat dengan salah satu cewek yang menjadi fantasi liarnya setiap malam, melainkan segera masuk pesawat.
Dia terus berlari menuju gerbang sembilan, menyerahkan boarding pass dengan napas tersengal, lalu bergegas masuk melalui garbarata tepat sebelum pintu ditutup petugas.
=o0o=
Begitu memasuki kabin, Aris sempat melihat sekilas ke arah kelas bisnis. Lisa Rose sudah duduk di sana, ditemani seorang asisten wanita muda yang wajahnya pucat pasi, mungkin baru saja dimarahi habis-habisan.
Aris hanya menggeleng pelan, lalu melangkah masuk lebih dalam menuju kelas ekonomi, tempat kursinya berada.
Dia menemukan nomor kursinya, lalu duduk sambil menghela napas lega. Sebaris rencana sudah dia rancang rapi untuk cuti empat belas harinya.
Dua atau tiga hari pertama untuk beristirahat di rumah, lalu pergi mendaki gunung, sesuatu yang sudah lama dia rindukan.
Dia memejamkan mata, bersandar di kursi yang empuk. Bayangan keindahan jalur pendakian mulai melintas dalam benaknya, mengusir kekesalan yang tadi sempat singgah karena insiden di koridor.
“Permisi, aku mau lewat.”
Aris membuka mata, setelah mendengar suara bening yang halus.
Seketika Matanya terpesona. Saat melihat penampilan seorang gadis cantik yang mungkin belum lulus kuliah.
Jaket denim yang dikenakan gadis itu dibiarkan terbuka tanpa dikancingkan. Alhasil, kemben hitam yang membungkus ketat tubuhnya gagal menyembunyikan lekuk dada yang putih mulus bak porselen.
Aris bersumpah, pemandangan menggoda di depannya itu hampir saja membuat air liurnya menetes.
“Permisi, kursiku tepat di sebelah anda.” Kata gadis itu lagi dengan wajah jengah karena ditatap sedemikian rupa.
“Oh maaf…” Sahut Aris langsung menekuk kakinya dan membiarkan gadis itu lewat lalu duduk di sampingnya. Membuatnya bisa mencium aroma harum.
Dia melirik sekilas dan seketika dia meneguk ludah saat melihat bongkahan dada yang seolah mengundang tangannya untuk menjamah.
Ingin hati Aris membuka percakapan, namun sebelum sempat dia melakukan itu, si gadis cantik sudah meletakkan earphone ke telinga dan mengenakan kacamata hitam frame lebar lalu bersandar.
Aris hanya bisa mendengus kesal. Keinginannya untuk mengobrol selama perjalanan yang bisa membuatnya bebas melihat dua gunung yang indah tanpa harus mencuri pandang kandas sudah.
Dia menatap ke sekeliling dan semua kursi sudah terisi. Dua pramugari cantik menutup pintu.
Sejenak kemudian, seorang pramugari menjelaskan prosedur keselamatan dan sebagainya.
Aris tak terlalu mendengarkan, matanya fokus menatap wajah hitam manis pramugari itu yang jika tersenyum, memiliki senyuman yang sangat indah.
Satu jam lebih berlalu tanpa kejadian berarti. Membosankan, seperti penerbangan pada umumnya.
Aris sudah tertidur untuk beberapa waktu sebelum sebuah goncangan keras terjadi yang membuat dia terbangun karena tubuhnya melonjak dari kursi.
Mengalami guncangan saat terbang adalah pengalaman pertama Aris. Dan dia tak tahu harus bagaimana. Dia juga panik dan bayangan terburuk seketika melintas dalam benaknya.
Jerit ketakutan dan kepanikan sontak terdengar memenuhi kabin pesawat yang berisi sekitar lima puluh penumpang ini.
Buru-buru pramugari hitam manis menenangkan keadaan. Dia mengumumkan ini adalah hal yang biasa terjadi. Kemungkinan pesawat mengalami turbulensi atau guncangan adalah karena menabrak awan tebal.
Namun guncangan besar kembali terjadi. Lampu indikator sabuk pengaman berkedip merah disertai bunyi bip yang melengking konstan.
Melalui interkom, suara pilot terdengar bergetar, berkejaran dengan suara gemuruh dari luar, "Warning… emergency landing… brace for impact!"
Pramugari sibuk membantu di tengah pesawat yang terus berguncang seperti di dalam mobil yang melewati jalanan berlubang.
Kepanikan masal semakin menjadi. Oksigen drop. Masker-masker plastik kuning jatuh bergelantungan dari langit-langit kabin seperti ular mati. Kopor-kopor beterbangan setelah pintu kompartemen jebol.
Aris sibuk memasang sabuk pengaman, setelah terpasang dia duduk membungkuk dan meletakkan dua tangan di belakang kepala sebagai pelindung benturan.
“Hei…! Tolong aku… Ini macet!” Gadis di sebelah Aris menjerit histeris. Wajah cantiknya pucat pasi. Tangannya gemetar hebat mencoba mencolokkan besi sabuk pengaman yang terus meleset.
Aris sendiri panik setengah mati, tangannya ikut gemetar saat merengkuh pinggang gadis itu untuk membantu. Tubuh pesawat miring ekstrem ke kiri.
Pipi Aris sempat mendarat di dada empuk gadis itu, tapi otaknya sudah mati rasa. Tidak ada ruang untuk nafsu. Hanya ada ketakutan akan kematian.
Klik! Sabuk pengaman gadis itu sudah terpasang.
Namun belum sempat Aris menjauh dari tubuh gadis itu.
BANG!
Ledakan keras memekakkan telinga.
Aris mengangkat wajahnya dan melihat mimpi buruk yang mengerikan.
Pesawat terbelah. Dirinya hanya terpisah dua baris kursi dari lubang menganga yang memperlihatkan kegelapan malam yang mengamuk dengan kilatan petir.
Koper, tas, bahkan tiga orang penumpang yang masih terikat di kursi terbang melesat keluar, terisap ke dalam pusaran badai seperti remahan kertas.
Kabin terasa menurun kencang dan berputar horisontal dengan kecepatan tinggi. Tubuh Aris terguncang hebat, isi perutnya serasa diaduk. Jeritan manusia berbaur dengan raungan angin tornado yang memekakkan telinga.
BAM!
Benturan mengerikan menghantam punggung pesawat. Pandangan Aris langsung pecah menjadi serpihan hitam. Dingin. Sunyi.
=o0o=
Samar-samar, di antara kegelapan yang menelan kesadarannya, Aris merasakan deburan ombak yang dingin menyapu tubuhnya berulang kali.
Pasir kasar menempel di pipinya. Dan kemudian… Entah nyata atau hanya gema dari alam bawah sadarnya yang sekarat… dia mendengar sebuah suara.
Suara seorang wanita, samar namun jelas mengucapkan namanya.
"...Aris...! Bangun... Aris...!"
Daftar bab
182 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
182 bab








