Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Surya Wilaga

Surya Wilaga

Widianto.Uciha | Bersambung
Jumlah kata
63.1K
Popular
1.0K
Subscribe
141
Novel / Surya Wilaga
Surya Wilaga

Surya Wilaga

Widianto.Uciha| Bersambung
Jumlah Kata
63.1K
Popular
1.0K
Subscribe
141
Sinopsis
18+FantasiIsekaiPerangSilatPendekar
Novel ini menceritakan perjalanan seorang pemuda bernama Surya yang di tinggal pergi oleh ayahnya.Sementara ibunya sudah meninggal dunia saat melahirkan dirinya,sejak bayi hingga usia anak-anak Surya hidup bersama si mboknya yang sudah menganggapnya sebagai anak sendiri,sebuah peristiwa yang tidak terduga membuatnya berpisah dengan si mboknya.Namun Surya malah bertemu dengan seorang pria yang mengajarkannya ilmu Kanuragan,dari pertemuan itu hidupnya seketika berubah,dari seorang anak yang lemah,dirinya menjelma menjadi seorang pemuda gagah dan memiliki ilmu Kanuragan cukup mumpuni.Sebelum perpisahannya dengan sang guru,Surya mendapatkan informasi dari sang guru,bahwa ayahnya berada di Kota Raja Sanggapura.Surya yang penasaran dengan rupa sang Ayah dan ingin tahu siapa jati dirinya.Bertekad untuk mencarinya.Akankah Surya berhasil menemukan sang Ayah?Baca kisah lengkapnya di novel ini sampai selesai.Terimakasih.
Bab 1 Secuil Harapan Di Ambang Kesedihan

Sepertiga malam terakhir,di desa sumber urip yang terletak di kaki gunung Krakatau berselimut sunyi.Meski rembulan tak nampak namun langit terlihat cerah oleh cahaya para bintang.sesekali terdengar suara binatang malam saling bersahutan.Tak terlihat tanda kehidupan semua terlelap dalam tidur masing-masing.Hanya kabut tipis membawa embun perlahan turun dari lereng gunung,menyemai hawa yang kian dingin seolah membuat setiap mahluk enggan beranjak dari sarangnya.

Hanya di tepian Utara desa di dekat hutan belantara yang menyelimuti gunung Krakatau,nampak denyut kehidupan dua orang wanita dalam sebuah rumah sederhana berdinding kayu.Seorang wanita setengah baya duduk di tepian tempat tidur,sesekali menyeka keringat wanita muda,yang tengah berbaring menahan sakit.

Mbok Minten nama perempuan itu,sudah dari sore dia menunggui Sulastri,wanita muda yang ada di hadapannya,dengan sabar mencoba membantu persalinan perempuan tersebut.Hanya berdua saja karena kedua orang tua wanita muda itu sudah lama tiada.saudara atau kerabat juga tidak ada,sedangkan suaminya juga pergi entah kemana,dulunya Sulastri dan suaminya hanya pendatang.Hanya sekali dalam sebulan suaminya itu datang untuk menengok dirinya.Kebetulan hanya mbok Minten satu-satunya tetangga yang berada di dekat rumahnya.

Angin dingin sesekali menerobos masuk dari lubang ventilasi udara,menggoyang-goyangkan api obor yang tertempel di dinding.Mata Sulastri nanar menatap ke arah pintu kamar yang terbuka.Seolah menunggu sesuatu.

"Jangan di tahan nduk,kasihan bayinya."Ucap Mbok Minten dengan lembut.

Namun Sulastri hanya diam dan mengangguk saja sambil meremas keras lengan mbok Minten.Sebenarnya Sulastri masih ingin menunggu,namun rasa mulas di perutnya sudah tak tertahan lagi.Bintang-bintang dilangit seolah mengerjap menyaksikan seorang ibu sedang melahirkan anaknya.Menentang rasa sakit yang begitu hebat dan mempertaruhkan nyawa untuk kehidupan lain yang ia kasihi.

Tangis suara bayi pecah,nyaring dan lantang seolah mengabarkan kedatangannya pada dunia.Suara Kokok ayam jantan saling bersahutan menyambut kedatangannya.Sesosok bayangan hitam bergerak cepat menuju suara tangis bayi yang baru lahir,gerakannya cepat seolah kakinya tak menapak di tanah namun melayang di atas rerumputan.Jika ada orang yang melihat mungkin sudah di kira sosok hantu yang mendatangi desa tersebut.

Langkahnya terhenti di depan sebuah rumah sederhana,ternyata sosok itu adalah seorang pria muda dengan wajah yang cukup tampan,meski kulitnya tak putih namun terlihat bersih.Sorot matanya tajam seperti mata elang,wajahnya berkumis tipis serta berjambang nampak terpelihara.Tubuhnya tegap dan gagah berbalut pakaian serba hitam.

Tanpa mengetuk atau berucap salam,di dorongnya pintu rumah tersebut,langkahnya terhenti di depan pintu kamar,bayi itu telah berhenti menangis dalam gendongan mbok Minten dengan balutan kain,wajahnya mulai dari bibir hingga hidung mirip Sulastri ibunya.Namun mata itu jelas mirip pria yang sekarang berdiri di hadapannya.

Mata pria itu memandang ke arah mbok Minten yang sedang berlinang air mata,mencoba untuk tersenyum meski berat.Pria itu bernama Aji Wilaga,setelah menatap mbok Minten,pria itu melangkah ke arah seorang wanita muda yang berbaring di atas tempat tidur sambil memejamkan mata,Aji Wilaga menggoyang-goyangkan tubuh Sulastri yang tak lain adalah istrinya,namun tubuh itu tak bergerak.Sementara tangis mbok Minten semakin kencang di belakangnya.Aji Wilaga mulai memeluk tubuh Sulastri,meski tak ada suara namun air mata mulai menetes dari kelopak matanya.

Aji Wilaga bisa menghadapi kematian,namun kali ini berbeda,tak ada yang tau,kini luka teramat dalam benar-benar menyayat hatinya,rasa sesal seolah merajam perasaannya.Di tatap nya wajah Sulastri,wajah cantik yang selalu ia rindukan selama kepergiannya.

Dari awal mereka mengerti,bahwa tak selamanya bisa bersama,bahwa pria itu tak bisa setiap saat mendampingi istrinya.Namun Sulastri dengan rasa cintanya mampu menerima keadaan.

Kini sang kekasih telah pergi di saat putra pertamanya baru dilahirkan.Putra yang selalu ia angan-angankan untuk menjaga Sulastri istrinya,ketika dirinya pergi menjalankan tugas yang tak bisa diabaikan.Aji Wilaga mencoba menegarkan hatinya,sebagai seorang prajurit kerajaan tidak seharusnya ia larut dalam kesedihan terlalu lama.

Para warga Sumber Urip yang ikut mengantarkan pemakaman Sulastri,terlihat sinis menatap ke arah Aji Wilaga.Pria itu sadar,dalam pandangan mereka seolah dirinya seperti suami tanpa tanggung jawab.Membiarkan istrinya hidup sendiri,bahkan tak mendampingi saat istrinya melahirkan,hingga berada di ujung kematiannya.

Beragam bisikan terdengar di telinganya,seandainya dia ada di sini tak perlu Sulastri menunggu,atau paling tidak dirinya datang tepat waktu,maka istrinya tidak akan mengalami kematian.Suara-suara itu terdengar pelan,namun tak ada sepatah kata pun yang bisa di ucapkan oleh Aji Wilaga.Rasa bersalahnya membuat dirinya hanya bisa menunduk memandang ke arah makam istrinya.

Hal terberat yang harus ia hadapi,adalah di saat ia harus meninggalkan anak semata wayangnya yang baru terlahir.Tanpa kasih seorang ibu dan ayah.Ingin rasanya Aji Wilaga membawa anaknya,namun karena hidupnya di penuhi bahaya yang siap membunuhnya kapan saja,hal itu sangat tidak mungkin ia lakukan.

Sebuah nama,sekantung kepeng emas serta separuh jiwanya,itulah yang di tinggalkan Aji Wilaga di rumah mbok Minten.

"Ku beri nama Surya Wilaga.Agar kelak dia menjadi cahaya harapan semua orang di saat dunia di penuhi kegelapan.Begitulah pesan Aji Wilaga pada mbok Minten sebelum dia melangkah pergi meninggalkan rumah tersebut.

Mbok Minten hanya menatapnya dalam diam,kini dirinya memandang pria itu dengan cara yang berbeda.Sungguh ia memahami beban besar yang di tanggung Sulastri.Diam-diam mbok Minten mengagumi bagaimana Sulastri menanggung beban sebesar itu.Terlebih pada besarnya pengorbanan pria itu sebagai seorang prajurit kerajaan,untuk menjaga keamanan negri ini dari tangan-tangan tak bertanggung jawab yang ingin merusaknya.

Tangisan Surya membangunkan angannya,di usapnya air mata dengan ujung lengan.Setengah berlari di hampirinya bayi tersebut,meski bukan darah dagingnya ia berjanji akan merawatnya seperti anak sendiri.

Sebuah janji yang di ucapkan kepada ayah bayi itu,terlebih janji pada dirinya sendiri.Lagi pula kehadiran Surya seperti menjadi jawaban atas hasratnya sendiri yang berkeinginan menimang seorang anak.Hasrat yang mustahil semenjak suaminya meninggal sepuluh tahun yang lalu,mbok Minten menutup hatinya untuk pria manapun karena saking cintanya terhadap mendiang suaminya.

Mulut Surya bergerak pelan menyesap lengan mbok Minten.Ada rasa hangat penuh kasih di hatinya,sekaligus sebuah kepedihan menjalar di dadanya.Hingga air mata wanita itu bergulir di pipinya.Mbok Minten merasa terharu melihat nasib sang bayi yang harus di tinggal pergi oleh kedua orang tuanya.

Mentari pagi sudah muncul dan menampakkan sinarnya.Namun kehangatan sinarnya masih belum mampu mengusir hawa dingin yang menyelimuti desa sumber urip.Kabut tipis masih enggan beranjak,hamparan tanah berumput masih di penuhi embun.Akan tetapi dinging bukan alasan bagi warga untuk menunda aktifitasnya.

Para lelaki beranjak untuk menunaikan pekerjaannya.Para perempuan bahkan lebih dulu menyalakan perapian di tungku dapur.Hanya anak-anak yang masih berselimut di tempat tidur mereka.Kecuali Surya.

Kaki kecilnya begitu lincah menapaki rerumputan di tepian hutan,simboknya membiasakan dirinya untuk bangun pagi,lagi pula bermain di pagi hari bisa memberikan kesenangan tersendiri baginya.Dunia terasa jauh lebih luas tanpa teman-teman sebaya yang terkadang malah mengganggunya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca