

"Ahh... Ahh... Ahh..."
Begitulah isi yang ada di dalam kepalanya Maman sekarang. Otaknya secara otomatis membayangkan nada lembut yang akan keluar dari bibirnya Ririn, saat mereka melakukan pertarungan sengit bersama.
Padahal, sekarang ia sedang berbaring di bawah mobil Avanza, tangannya berlumuran oli, di bengkel ayahnya Ririn. Tapi, bisa-bisanya bayangan adegan itu terlintas di kepalanya.
"Man! Kunci 14 mana?!" teriak Togel dari seberang.
Maman tersentak. "Eh, iya! Bentar!"
Ia beringsut keluar dari kolong mobil, mengambil kunci dari kotak perkakas, lalu melemparkannya ke arah Togel.
"Udah siang, Man. Lo kapan mau istirahat?" tanya Togel sambil menangkap kunci itu dengan satu tangan.
Maman melirik jam dinding bengkel. Jarum jam menunjukkan pukul 12 siang. Ia menghela napas, lalu kembali masuk ke kolong mobil.
"Ntar lagi, Gel. Nih mobil harus kelar hari ini."
Togel menggeleng pelan, lalu kembali fokus pada motor yang sedang ia kerjakan.
Maman dan Togel adalah dua mekanik andalan Bengkel Jaya Sentosa, bengkel terbesar di desa mereka. Pemiliknya adalah Pak Hendro, ayahnya Ririn.
Sudah hampir tiga tahun Maman bekerja di sana. Gaji pas-pasan, tapi cukup untuk hidup sebatang kara sepertinya.
Yang membuatnya bertahan bukan semata karena gaji, melainkan karena Ririn, pujaan hatinya.
Setiap hari, gadis itu datang ke bengkel untuk membantu ayahnya mengurus administrasi. Kadang hanya sebentar, kadang seharian penuh.
Dan setiap kali Ririn datang, jantung Maman pasti berdegup kencang.
"Pak! Saya permisi dulu, ya!" teriak Maman sambil melepas sarung tangan kerjanya.
Pak Hendro yang sedang duduk di kantor kecil di sudut bengkel mengangguk.
"Iya, Man. Mau makan siang, ya?"
"Iya, Pak!"
Maman bergegas keluar bengkel, menuju warung makan langganannya. Namun, baru beberapa langkah, ia berhenti.
Di depan bengkel, sebuah mobil sedan hitam terparkir. Maman mengenalinya.
Itu adalah mobilnya Ririn.
Jantungnya langsung berdebar. Ia menelan ludah, lalu melangkah pelan menuju mobil tersebut.
"Ririn..." gumamnya pelan.
Namun langkahnya terhenti ketika melihat pintu mobil terbuka. Ririn keluar dengan senyum manis, lalu…
Seorang pria berjas rapi keluar dari sisi pengemudi. Tinggi, wajah tampan, rambut rapi. Ia tersenyum ke arah Ririn, lalu melingkarkan lengannya di pinggang gadis itu.
Deg!
Jantung Maman serasa berhenti berdetak. Napasnya tercekat.
"Sayang, nanti malam kita makan di mana?" tanya pria itu dengan suara lembut.
Ririn tersenyum manis. "Terserah kamu aja. Yang penting enak."
"Oke. Nanti aku jemput jam 7, ya."
"Iya..."
Mereka berdua berjalan masuk ke bengkel, melewati Maman yang masih berdiri mematung di tempat.
Ririn bahkan tidak menoleh ke arahnya sama sekali.
Maman mengepalkan tangannya. Ia mencoba mengatur napas, namun dadanya terasa begitu sesak.
"Tunangan..." gumamnya pelan. "Dia udah punya tunangan..."
Ia berbalik, melangkah gontai menuju warung makan. Selera makannya hilang seketika.
***
Maman kembali ke bengkel dengan wajah kusut. Matanya sembab, langkahnya berat.
"Lo kenapa, Man?" tanya Togel yang kebetulan sedang mencuci tangan.
"Gak kenapa-napa," jawab Maman singkat.
Togel mengernyit, tapi tidak bertanya lebih lanjut. Ia tahu kalau Maman sedang tidak mood, lebih baik didiamkan.
Maman masuk ke bengkel, mengambil kotak perkakas-nya, lalu mulai bekerja lagi. Tangannya bergerak cekatan, namun pikirannya kosong.
"Man..."
Suara lembut tiba-tiba terdengar dari belakang.
Maman menoleh. Di sana, berdiri seorang wanita dengan kemeja putih rapi, rambut dikuncir kuda, wajahnya cantik natural tanpa make-up berlebihan.
Wanita itu bernama Nova. Admin bengkel.
"Iya, Nov?" jawab Maman datar.
Nova melangkah mendekat, membawa sebungkus nasi.
"Kamu belum makan, kan? Tadi aku liat kamu pulang dari warung tapi nggak bawa apa-apa."
Maman terdiam. Ia menatap bungkusan nasi itu, lalu mengangkat wajahnya ke Nova.
"Makasih, Nov. Tapi aku lagi gak laper."
"Kamu dari tadi kerja terus. Mana mungkin nggak laper."
Nova meletakkan nasi itu di atas meja, lalu duduk di kursi lipat.
"Kamu kenapa, sih?" tanya Nova pelan. "Dari tadi manyun aja."
"Huft…"
Maman menghela napas panjang. Ia melepas sarung tangannya, lalu duduk di lantai bengkel.
"Ririn udah punya tunangan, Nov."
Nova terdiam. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi kaget, seakan ia sudah tahu.
"Iya," ucapnya pelan. "Aku juga udah tau."
Maman menatapnya. "Dari kapan?"
"Dari kemarin. Pak Hendro cerita ke aku."
Maman mengangguk-angguk, lalu tersenyum tipis. "Berarti aku udah telat."
Nova tidak menjawab. Ia hanya menatap Maman dalam-dalam.
"Man..." ucapnya pelan. "Kamu tau nggak..."
"Apa, Nov?"
Nova menggeleng. "Nggak. Lupain aja."
Ia berdiri, lalu berjalan keluar bengkel, meninggalkan Maman yang masih duduk terpaku di lantai.
***
Keesokan paginya, saat Maman memasuki bengkel, ia melihat Nova sudah duduk di meja administrasi, dengan secangkir kopi di tangannya.
"Pagi, Man," sapa Nova dengan senyum tipis.
"Pagi, Nov."
Maman berjalan menuju kotak perkakas-nya, namun Nova memanggilnya lagi.
"Man, bentar."
Maman berbalik. "Ada apa?"
Nova berdiri, lalu berjalan mendekat. Ia merogoh saku blazer-nya, mengeluarkan sebuah amplop kecil.
"Ini..." ucapnya pelan. "Buat kamu."
Maman mengernyit. "Apaan?"
"Buka aja."
Maman menerima amplop itu dengan ragu. Ia membukanya perlahan, dan di dalamnya berisikan sebuah surat tulisan tangan.
Maman membaca baris demi baris, dan semakin ia membaca, semakin lebar matanya terbuka.
Itu adalah surat cinta. Dari Nova.
"Nov..." Maman mengangkat wajahnya, menatap Nova yang kini wajahnya memerah.
"Iya, Man. Aku suka sama kamu. Dari dulu, waktu kamu pertama kali masuk kerja di sini."
Maman terdiam. Pikirannya kacau. Ia tidak pernah menyangka.
"Aku tau kamu suka sama Ririn," lanjut Nova. "Tapi aku juga tau, Ririn nggak akan pernah ngeliat kamu."
Maman membuka mulut, namun tidak ada kata yang keluar. Ia hanya bisa menatap Nova, terpaku.
"Kamu nggak harus jawab sekarang, Man," ucap Nova sambil tersenyum tipis. "Aku cuma pengen kamu tau, itu aja."
Ia berbalik, kembali ke meja administrasi, meninggalkan Maman yang masih mematung dengan surat di tangannya.
Waktu berjalan begitu cepat, matahari hampir tenggelam.
Maman masih melangsungkan perjalanan pulang. Ia berjalan menyusuri jalan desa yang sepi, melewati rumah-rumah warga.
Namun, saat melewati sebuah rumah tua yang sudah lama tidak dihuni, matanya menangkap sesuatu yang berkilau di tumpukan sampah di depan rumah.
Maman berhenti. Ia berjongkok, lalu mengambil benda itu.
Ternyata sebuah cincin. Dengan batu hitam yang berkilau samar terkena cahaya bulan.
"Cincin siapa, nih?" gumamnya pelan.
Kilau batu hitam itu tampak kontras dengan jari-jarinya yang kasar. Maman memutar-mutar cincin itu, lalu spontan mencobanya di jari manisnya.
Dan ternyata pas.
Belum sempat ia tersenyum, tiba-tiba sesuatu yang aneh terjadi.
"Hah?!"
Maman terkejut, tiba-tiba rasa panas menjalar di jari manisnya. Jantungnya berdegup kencang. Panik, ia berusaha menarik cincin itu.
Namun sia-sia.
Cincin itu seperti menyatu dengan kulitnya. Semakin keras ia menarik, semakin kuat cincin itu mencengkeram jarinya.
Keringat dingin perlahan mengalir di pelipisnya.
Namun akhirnya, rasa panas itu perlahan mereda. Detak jantungnya pun mulai melambat. Ia terengah, menatap jari manisnya dengan napas masih tersengal.
"Cincin apa ini, ya?" batinnya heran.