Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
LELAKI BUANGAN di DESA JANDA

LELAKI BUANGAN di DESA JANDA

Chana Lee | Bersambung
Jumlah kata
32.1K
Popular
249
Subscribe
68
Novel / LELAKI BUANGAN di DESA JANDA
LELAKI BUANGAN di DESA JANDA

LELAKI BUANGAN di DESA JANDA

Chana Lee| Bersambung
Jumlah Kata
32.1K
Popular
249
Subscribe
68
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifePertualanganMiliarderZero To Hero
WARNING!!! #21+cerita ini mengandung Nikotin,cafein, dan sianida. dibawah umur gak boleh bacađŸ€­ Reyhan Brugman gagal menikah dua minggu sebelum akad,dan keluarganya menganggap itu cukup alasan untuk membuangnya. Sebagai syarat menerima warisan bernilai fantastis, ia dikirim ke Desa Janda selama enam bulan. Kedengarannya sederhana. Tinggal, beradaptasi, bertahan. Masalahnya, desa itu tidak pernah sederhana. Di sana, ayam seperti punya opini. Kambing seperti punya dendam. Para janda menatapnya seperti proyek penelitian sosial. Dan dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, Reyhan sudah jadi bahan gosip, terseret ke kamar orang, dan dipukuli hanya karena dianggap lelaki yang “tidak meyakinkan”. Ia tidak pandai berkelahi. Ia gagal mempertahankan calon istri. Ia bahkan belum tahu untuk apa sebenarnya ia dikirim. Tapi Desa Janda bukan sekadar tempat buangan. Di balik lumpur sawah, sumur yang kering, dan tawa yang terdengar terlalu sering, tersembunyi sesuatu yang lebih besar dari rasa malunya. Sesuatu yang perlahan menunggu waktu untuk bangkit. Dan ketika waktunya tiba, Desa Janda mungkin akan menyesal pernah menertawakan Reyhan Brugman. Karena lelaki yang dianggap gagal
 belum tentu tidak berbahaya.
1. Janda-Janda Lapar

Reyhan Brugman, pria tampan namun dinyatakan gagal oleh keluarganya, kini harus rela dibuang ke desa ini sebagai syarat untuk menerima hak warisnya yang nilainya cukup luar biasa. Ia kini terpaksa menjejakkan kaki di desa yang kabarnya sangat antik dan unik.

Dengan langkah pelan karena takut Reyhan menjejakkan kakinya di desa itu
 takut apa? Entahlah. Mungkin takut dimakan ayam, takut ditabrak kambing, atau tiba-tiba dicap “pengganggu janda” tapi sebelum sempat menghirup udara desa. Dan rupanya, takdir memiliki selera humor yang buruk, karena ketiga hal itu sangat mungkin untukterjadi sekaligus di desa yang super antik ini.

Jalan tanah di depannya memanjang seperti lidah raksasa yang seakan siap untuk menjilat nasib siapa pun yang lewat. Di kiri kanan, ladang jagung berdiri miring seolah ikut mengintip kehadiran sang pria kota, sementara sawah seakan menguap pelan dengan bau lumpur yang terasa seperti kenangan buruk yang belum mandi. Angin bertiup, membawa suara sejuk,serangga beterbangan, ayam, dan sesuatu yang terdengar seperti orang mengeluh tapi samar, mungkin daun pisang, mungkin juga desa itu sendiri yang memang antik.

Dari kejauhan, tiba-tiba seekor ayam yang berstatus janda melintas sambil menatap Reyhan dengan mata penuh prasangka, atau bisa jadi naksir.

“Hei, cowok kota! Jangan sembarangan di desa Janda ini!”

Entah ayam itu benar-benar bicara, atau Reyhan yang sudah terlalu kebingungan sampai imajinasinya mulai mogok kerja. Ayam itu berhenti tepat di depannya, mendongakkan kepala, lalu berkokok pendek seperti petugas keamanan yang sedang memberi peringatan.

Belum sempat Reyhan meminta maaf kepada ayam, kepada hidup, juga kepada siapa pun, seekor kambing yang juga disinyalir berstatus janda tiba-tiba muncul dari arah kanan, berlari lurus dan menabrak tiang rumah dengan suara duk! Keras yang meyakinkan siapa pun bahwa kambing itu punya dendam pribadi terhadap arsitektur atau kepada tiang itu.

Kambing itu menoleh ke Reyhan. Tatapannya datar. Penuh penghakiman.

“Ini tempatku, tapi kamu yang bikin kacau,semua ini gara-gara kamu!,” seolah begitu isi pikiran kambing janda itu.

Reyhan menelan ludah. Oke. Baru masuk desa, aku sudah dihakimi oleh unggas janda dan mamalia janda yang bertanduk.

Sambil menggelengkan kepala, Reyhan melangkah satu langkah ke depan dan berhenti lagi. Karena di tengah kekacauan yang aneh itu, para janda muncul.

Mereka tidak muncul dengan langkah biasa. Mereka muncul seperti adegan pembuka sinetron . Dari balik rumah kayu, dari balik jemuran, dari balik pohon pisang, bahkan dari balik pintu yang jelas-jelas tadi tidak ada orang di sana. Mereka melenggak-lenggok dengan bokong bergoyang seperti berjalan di atas catwalk.

Satu janda menatap Reyhan dari ujung rambut sampai ujung kaki sambil mengangkat alis, seolah sedang menilai barang diskon.

Satu lagi menyembunyikan senyum di balik kipas tangan, matanya berkilat seperti orang yang baru menemukan hiburan baru setelah sekian lama bosan.

Yang lain bersedekap, mengangguk pelan, seperti berkata dalam hati: “Oh, jadi ini yang dikirim.”

Salah satu dari mereka bergumam, lirih tapi jelas, seperti mantra rahasia,

“Selamat datang di neraka kecilmu.”

Reyhan mengerutkan kening.

“Neraka
 atau surga?” gumamnya refleks.

Tapi sebelum sempat ia menentukan jawabannya, seekor ayam kembali berkokok,dan anehnya, seluruh ayam desa ikut meniru, bersahut-sahutan, berisik, dan tidak sopan.

“Woiiiii! Cowok baruuuu!”

“Perhatiin diaaaaa!”

“Jangan sampai kaburrrrr!”

Reyhan terengah. Ia merasa seperti selebritas dadakan, hanya saja tanpa kontrak, tanpa bayaran, dan dengan risiko dilempari batu kapan saja.

Ia mulai benar-benar merasakan aroma desa itu. Bukan sekadar bau ini serangan penuh. Ada campuran kotoran sapi, jerami basah, daun talas, kayu lapuk, dan satu aroma lain yang tidak bisa dijelaskan tapi membuat Reyhan yakin bahwa bau ini akan mengikutinya sampai mimpi.

Ia menutup hidung. Terlambat.

Saat itulah seorang janda muncul dengan wajah manis, senyum tipis, dan sorot mata yang terlalu tenang untuk situasi seaneh ini.

“Reyhan, ya?” katanya santai, seolah mereka sudah lama kenal.tapi,ya. Sebagian mereka tau karena sebelumnya telah mendapatkan informasi bahwa ada pengusaha kota yang akan mengirim seseorang anak lelakinya ke desa ini untuk menjalani kehidupan selama 6 bulan,

Reyhan mengangguk cepat. Ia tidak ingat pernah memperkenalkan diri, tapi desa ini tampaknya tidak membutuhkan perkenalan resmi.

“Bagus,” lanjut janda itu. “Kamu harus cepat beradaptasi di sini, atau
”

Kalimatnya terhenti. Bukan karena dramatis. Tapi karena seekor kambing menendang ember berisi air tepat di kakinya, menyiram tanah dan sebagian sandalnya.

“Atau
?” tanya Reyhan setengah panik.

Janda itu menatap air di kakinya, lalu menatap Reyhan. Bibirnya melengkung.

“
atau kamu akan jadi bahan cerita paling laris.”

Ia berjalan pergi sambil menahan tawa.

Reyhan menghela napas panjang.

“Aku akan mati di sini,” gumamnya. “Atau setidaknya jadi meme desa.”

Belum selesai ia menyesuaikan diri dengan fakta bahwa harga dirinya mungkin akan musnah dalam waktu dekat, seorang perempuan paruh baya muncul dan langsung menyeret lengannya.

“Masuk! Masuk dulu!” katanya tegas.

“Eh,bu, saya—”

“iangan takut, perkenalkan, saya PRABONI, Presiden Janda di desa Janda ini. Minum teh dulu! Jangan sampai kamu jatuh pingsan di depan para janda di desa ini. Mereka belum pernah lihat cowok hidup terlalu dekat!”

Reyhan diseret masuk ke sebuah rumah kayu yang lantainya berbunyi kriet-kriet seperti sedang protes. Ia didudukkan dengan paksa, disodori cangkir teh, dan diperhatikan seolah ia hewan langka.

Tehnya
 manis. Terlalu manis. Manis yang tidak bertanya apakah Reyhan siap atau tidak.

Ia mencium aromanya. Menyesap sedikit.

Dan tersedak karena ketika menyesap teh itu, mata Reyhan tak sengaja melihat selintas bulu ketek Praboni yang sangat hitam lebat dan tebal bulunya melambai-lambai tertiup angin.

Ditambah lagi karena gulanya kebanyakan, dan juga karena dari jendela ia melihat para janda berkumpul seperti rapat darurat, sementara ayam dan kambingjanda ikut berdiri seolah sedang menyaksikan pertunjukan.

“Pelan-pelan,” kata perempuan paruh baya yang mengaku sebagai Presiden Janda itu. “Kamu belum biasa.”

"Belum biasa apa, Bu?"tanya Reyhan sambil mengerutkan keningnya.

Belum biasa hidup? Belum biasa dipandangi? Belum biasa jadi topik utama satu desa?

Di luar rumah, ayam berdiri berbaris. Kambing duduk santai, dan faktanya mereka semua berstatus janda. Beberapa janda bersandar di tiang, berbisik, menunjuk, tertawa kecil. Reyhan merasa seperti layar bioskop gratis dengan genre komedi absurd.

Ia menatap langit melalui celah jendela, berharap setidaknya awan hari ini bisa menenangkan hatinya.

Awan itu bergerak pelan.

Dan Reyhan bersumpah, awan itu tertawa.

Tertawa kecil. Mengejek.

Di detik itulah, dengan sangat jelas dan tanpa bisa disangkal lagi, Reyhan menyadari satu hal penting:

Di Desa Janda, kewarasan hanyalah mitos.

Ayam lebih pintar daripada manusia.

Kambing punya opini.

Dan hidupnya,mulai hari ini akan selalu, selalu, selalu
 gila.

Dan entah kenapa, jauh di lubuk hatinya yang masih mencoba bertahan, Reyhan merasa:

Ini baru permulaan.

Setelah itu, Rayhan berdiri sambil menatap PRABONI yang sebenarnya cantik meski sedikit gemuk, ‘”bu, bolehkah saya ijin untuk keliling sebentar di desa ini?”tanya Reyhan dengan tangan yang masih memegang gelas teh.

‘’oh tentu saja,Nak Reyhan ,silahkan.dan nanti Neng Resti akan mengantarkanmu ke rumah sementara yang akan kamu tinggali di desa ini. Tapi ingat, Neng Resti itu satu-satunya gadis di desa ini, jadi kamu jangan macam-macam.ingat!’” Ucap Praboni sambil mengacungkan telunjuknya.

‘”Baik,Bu.” Jawab Reyhan sambil berbalik kemudian melangkah keluar dari rumah Praboni.

Baru saja kaki Reyhan keluar dari rumah Praboni, tatapan-tatapan para Janda sudah terlihat dan terasa menelanjangi bagi Reyhan.

Ia Coba tidak memperdulikannya meski seorang janda di balik pagar terlihat melorot handuk dari tubuhnya sehingga dua melon dan kebun rumput hitamnya jelas terlihat oleh Reyhan.

Reyhan menghentikan langkahnya di pinggir bilik sebuah rumah karena mendengar suara aneh

Uuuuuuh aaaaaaaaaaargh!

Uuuuuuh

Oooooooorhx!

Suara itu terdengar syahdu hingga Reyhan terpaksa menyodorkan wajahnya ke bilik itu.

Ada celah kecil di bilik bambu itu hingga mata Reyhan bisa melihat ke dalam rumah itu yang ternyata itu adalah bagian kamar.

;lewat celah kecil itu, Reyhan melihat seorang wanita cantik tengah duduk di ranjang dengan kedua paha terbuka sementara kedua tangannya terlihat mengobok-obok kebun rumputnya sendiri.

Uuuuuuh ... aaaaaaah! Wanita itu melenguh dan gilanya Reyhan tak sengaja ikut melenguh di dalam hastinya.

Dan gilanya ular anakonda di balik celana Reyhan terasa menggeliat dan mengeras,

Keseimbangan Reyhan mulai goyah hingga tak sengaja kakinya menginjak pecahan genting hingga menimbulkan sebuah suar

KRAAAAAK!

Suara itu jelas saja membuat wanita di dalam terkejut dan berteriak

‘Hey siapa itu?” teriak wanita itu dari dalam.

Jantung Reyhan berdegup kencang

“Meeeeeooooong, KUUUUUCIIIIIING” Jawab Reyhan sambil menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya.

Menyadari telah membuat kesalahan,Reyhan memutuskan untuk berlari kabur, namun, belum sempat Reyhan berlari, wanita itu sudah lebih dulu keluar dan mendapati Reyhan.

“Oh kamu rupanya, masuk!gak usah Cuma ngintip!’”sentak wanita itu sambil membusungkan dadanya yang besar dan menarik kerah baju Reyhan ke dalam rumahnya.

Reyhan seketika kikuk. Tubuhnya seakan dibiarkan saja diseret wanita itu.

Tak hanya ke dalam rumah, tapi Reyhan diseret hingga ke sebuah kamar.

BRUUUUUK!

Tubuh Reyhan dijatuhkan ke atas ranjang hingga terlentang.

“Aku Indri, jandra tercantik dan terkece di desa ini. Kamu sudah mengganggu kenikmatanku. Jadi ... kamu harus bertanggung jawab!”ucap Janda yang mengaku dirinya Indri itu sambil membuka bajunya sendiri tepat di hadapan Reyhan sang masih terlentang.

Mata Reyhan membulat sempurna menatap dua buah semangka besar dan padat di dada Indri.

“Ayolah,kamu normalkan!”lanjut Indri sambil naik ke atas ranjang dan mulai berani mengelus dada Reyhan kemjudian turun ke perut dan mulai lebih turun seraya membuka resleting celana jeans Reyhan

AAAAAAAAaaaaaaargh!”

Reyhan tak sadar melenguh karena merasakan geli-geli nikmat saat jemari tangan Iindri mulai menggenggam anaconda miliknya yang sudah kokoh dan mengeras.

“Woooow!Besar dan panjang juga ternyata,”celetuk Indri sambil menarik kain segi tiga miliknya kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Reyhan dan berbisik lembut,”jangan sampai janda lain tau jika tongkatmu besar dan panjang begini,ya!mereka janda-janda lapar semua. Yaaaa kecuali kalau kamu sanggup meladeni semua.”bisik Indri sambil mendekatkan roti sobek miliknya yang sudah basah ke tombak milik Reyhan yang sudah berdiri tegak.

Lanjut membaca
Lanjut membaca