
Anak Petani Mengguncang Kerajaan
Dhanny Ofin|Bersambung
- Jumlah kata
- 126.5K
- Popular
- 1.4K
- Subscribe
- 96
- Jumlah kata
- 126.5K
- Popular
- 1.4K
- Subscribe
- 96
Sinopsis
Di sebuah Desa kecil ada seorang anak laki-laki bernama Revan. Dia tinggal bersama orangtuanya, namun dia juga mempunyai seorang kakak tapi dia berada di Akademi kerajaan. Revan sebenarnya seorang pemuda yang lahir di bumi namun jiwanya terlahir kembali ke sebuah tubuh bayi yang bernama Revan. Keseharian Revan membantu orang tuanya di ladang. Suatu saat dia memiliki sebuah cita-cita yang ingin menjadi kaya dengan pengetahuannya saat di bumi. Tapi semua itu tidak dapat dia wujudnya secara instan. Dia harus mencari bahan sampai menjualnya ke kota dengan cara sembunyi-sembunyi.Dari situlah petualangan Revan yang mungkin akan mengguncang kerajaan. Baik itu bangsawan atau bisa dari para pedagang yang tamak akan kekayaan. Apakah Revan bisa melalui semua itu dengan baik dan cita-citanya akan terwujud?.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1 Anak Petani yang Memiliki Mimpi Besar.
Matahari pagi baru saja muncul dari balik Pegunungan Greyfang. Cahaya keemasannya menyinari hamparan ladang gandum yang membentang luas di Desa Ashbrook.
Embun masih menggantung di ujung setiap helai gandum, memantulkan sinar matahari hingga tampak seperti ribuan permata kecil.
Angin pagi berembus lembut membawa aroma tanah basah yang menenangkan, diselingi suara burung-burung liar yang bernyanyi dari pepohonan di kejauhan.
Di tengah hamparan ladang itu, seorang anak laki-laki berusia empat belas tahun terus mengayunkan cangkulnya dengan gerakan yang teratur.
Meski tubuhnya masih muda, setiap ayunan cangkulnya terlihat mantap dan penuh tenaga. Keringat mulai membasahi dahinya walaupun matahari belum terlalu tinggi.
"Revan, istirahatlah sebentar! Kau sudah bekerja sejak matahari bahkan belum terbit!" panggil seorang pria paruh baya dari kejauhan sambil melambaikan tangan dengan wajah penuh perhatian.
Revan menghentikan pekerjaannya. Ia menancapkan cangkul ke tanah lalu mengusap peluh di dahinya sebelum menoleh ke arah ayahnya.
"Sebentar lagi, Ayah. Bagian ini tinggal sedikit. Sayang kalau dibiarkan setengah selesai," jawab Revan sambil tersenyum tipis dengan nada tenang.
Pria itu adalah Edric Ashford, seorang petani sederhana yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya mengolah tanah demi menghidupi keluarganya.
Kulitnya legam karena matahari, sementara telapak tangannya dipenuhi kapalan akibat bertahun-tahun bekerja keras.
Edric menggeleng pelan sebelum berjalan mendekat.
"Kau ini keras kepala sekali. Persis seperti ayahmu saat masih muda," ucap Edric sambil tertawa kecil dengan tatapan hangat.
Revan ikut tersenyum kecil.
"Kalau aku tidak membantu, Ayah pasti bekerja sendirian sampai malam. Aku tidak tega melihat Ayah terlalu lelah," balas Revan dengan suara tulus.
Edric menepuk bahu putranya perlahan.
"Kau masih anak-anak, Revan. Ayah ingin kau menikmati masa mudamu. Bermain dengan teman-temanmu, bukan menghabiskan waktu di ladang setiap hari," ujar Edric dengan senyum yang menyimpan rasa iba.
Revan mengangguk pelan.
"Aku senang membantu Ayah. Lagi pula, bekerja bersama keluarga bukan sesuatu yang buruk," jawabnya dengan tatapan lembut.
Edric hanya menghela napas sambil tersenyum pasrah. Andai saja Edric mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
Di balik tubuh remaja desa bernama Revan ini, tersembunyi jiwa seorang pria dari dunia lain.
Di kehidupan sebelumnya, ia hanyalah pemuda biasa. Namun rasa hausnya akan ilmu membuatnya mempelajari berbagai bidang. Kimia, fisika, teknik, ekonomi, hingga teknologi modern pernah ia dalami.
Sayangnya, semua itu berakhir dalam sebuah kecelakaan yang merenggut nyawanya. Saat membuka mata kembali, ia telah lahir sebagai Revan Ashford.
Empat belas tahun telah berlalu sejak hari itu. Sedikit demi sedikit ia menerima kehidupan barunya.
Meski hidup dalam kemiskinan, ia mendapatkan sesuatu yang tak pernah benar-benar ia rasakan di kehidupan sebelumnya.
Kasih sayang keluarga.
"Revan! Ayah! Waktunya makan!" terdengar suara lembut dari arah jalan kecil menuju ladang dengan senyum hangat.
Marianne Ashford berjalan perlahan sambil membawa keranjang makanan di kedua tangannya.
Edric langsung tersenyum lebar.
"Akhirnya Ibumu datang juga. Perut Ayah sudah bernyanyi sejak tadi," ucap Edric sambil tertawa lepas dengan wajah ceria.
Marianne menggeleng geli.
"Ayahmu ini benar-benar. Baru bekerja beberapa jam saja sudah mengeluh lapar," balas Marianne sambil tersenyum lembut penuh kasih.
Revan segera menghampiri ibunya lalu mengambil keranjang makanan.
"Biar aku yang membawa, Ibu. Keranjangnya pasti cukup berat," ucap Revan dengan penuh hormat.
Marianne mengusap kepala putranya perlahan.
"Terima kasih, Nak. Kau memang selalu perhatian," balas Marianne dengan mata yang dipenuhi rasa bangga.
Mereka bertiga duduk di bawah pohon besar di pinggir ladang. Bayangan dedaunan membuat suasana terasa sejuk.
Menu makan siang mereka sangat sederhana. Roti gandum, sup sayuran hangat, dan sedikit daging asap yang dibagi rata.
Meski sederhana, mereka menikmatinya sambil bercanda.
"Sup buatan Ibu selalu terasa lebih enak setiap kali dimakan di ladang," ujar Revan sambil tersenyum puas.
"Itu karena kau kelaparan, bukan karena masakan Ibu menjadi lebih hebat," balas Marianne sambil tertawa kecil dengan wajah malu.
Edric mengangguk setuju.
"Tidak, tidak. Kali ini Revan benar. Masakan Ibumu memang selalu membuat Ayah ingin nambah," ujar Edric sambil mengangkat mangkuknya dengan ekspresi puas.
Marianne tertawa pelan.
"Kalian berdua pandai sekali membuat Ibu senang," ucap Marianne dengan senyum bahagia.
Beberapa saat kemudian Marianne kembali membuka pembicaraan.
"Besok Kael pulang dari Akademi," katanya dengan mata berbinar penuh antusias.
Edric langsung menoleh.
"Benarkah? Sudah hampir tiga bulan dia tidak pulang. Pasti tubuhnya makin tegap sekarang," ujar Edric dengan nada bangga.
Revan ikut tersenyum.
"Aku ingin sekali mendengar cerita Kak Kael tentang Akademi. Pasti banyak hal menarik di sana," ucap Revan dengan rasa penasaran.
Kael Ashford adalah putra sulung keluarga itu. Di usia tujuh belas tahun, bakat sihir elemen api yang dimilikinya.
Dan itu yang membuatnya diterima di Akademi Ksatria Kerajaan tanpa membayar biaya sedikit pun.
Bahkan kerajaan memberikan santunan bulanan kepada keluarga Ashford sebagai bentuk dukungan.
Bantuan itulah yang membuat keluarga mereka mampu bertahan hidup.
Edric tiba-tiba terdiam.
"Kalau saja kau juga memiliki bakat sihir seperti Kael..." gumam Edric lirih dengan tatapan penuh penyesalan.
Suasana mendadak hening.
Marianne segera menyenggol pelan lengan suaminya.
"Jangan mengatakan hal seperti itu di depan anak kita," bisik Marianne dengan tatapan menegur.
Edric langsung menundukkan kepala.
"Maafkan Ayah, Revan. Ayah hanya berharap hidupmu bisa lebih mudah," ucap Edric dengan wajah dipenuhi rasa bersalah.
Revan justru tersenyum tenang.
"Tidak apa-apa, Ayah. Aku memang tidak memiliki bakat sihir. Itu kenyataan yang sudah lama kuterima," jawab Revan dengan senyum tulus.
Ia sama sekali tidak iri kepada Kael. Baginya, setiap orang memiliki jalannya sendiri. Yang ia butuhkan bukanlah sihir melainkan kesempatan.
Kesempatan untuk mengubah nasib keluarganya. Setelah makan selesai, mereka kembali bekerja hingga matahari mulai condong ke arah barat.
Tiba-tiba terdengar suara derap kuda dari jalan utama desa.
Duk... Duk... Duk...
Seluruh petani menghentikan pekerjaan mereka.
Sebuah kereta mewah berwarna putih keemasan memasuki Desa Ashbrook, diiringi belasan ksatria berzirah mengilap.
"Itu lambang keluarga Baron Hawthorne..." gumam seorang petani dengan wajah tegang.
"Kenapa bangsawan datang ke desa sekecil ini?" bisik petani lainnya dengan nada gelisah.
Revan ikut memperhatikan rombongan tersebut. Kereta berhenti di tengah desa, seorang pria bertubuh gemuk dengan pakaian mewah turun lebih dulu.
Tatapannya penuh kesombongan.
"Kumpulkan seluruh kepala keluarga sekarang juga!" perintahnya dengan suara keras dan wajah angkuh.
Tak lama kemudian seluruh warga berkumpul di lapangan desa. Edric berdiri di samping Marianne dan Revan, suasana berubah mencekam.
Pria gemuk itu membuka gulungan perkamen.
"Atas perintah Yang Mulia Baron Victor Hawthorne, pajak hasil panen tahun ini dinaikkan menjadi empat puluh persen!" serunya dengan nada dingin tanpa sedikit pun belas kasihan.
Suara gaduh langsung memenuhi lapangan.
"Empat puluh persen? Itu mustahil!" teriak seorang petani dengan wajah pucat.
"Kalau sebanyak itu diambil, keluarga kami akan kelaparan!" seru petani lain dengan nada putus asa.
Edric maju selangkah.
"Tuan, panen tahun ini sangat buruk. Mohon pertimbangkan kembali. Kami hanya ingin tetap bisa memberi makan keluarga kami," ucap Edric dengan suara penuh harap.
Pria gemuk itu mencibir.
"Itu bukan urusanku. Tugas kalian hanya membayar pajak," balasnya dengan senyum meremehkan.
Seorang petani tua melangkah maju sambil membungkukkan badan.
"Tuan... kasihanilah kami. Anak-anak kami belum tentu bisa bertahan melewati musim dingin," pintanya dengan suara gemetar penuh harapan.
Buk!
Tanpa peringatan, seorang ksatria menendang tubuh petani tua itu hingga terjatuh ke tanah.
"Akh...!" erang petani tua itu sambil memegangi dadanya dengan wajah kesakitan.
"Ia hanya memohon..." bisik Marianne sambil menutup mulutnya dengan wajah pucat ketakutan.
Revan mengepalkan kedua tangannya, amarah mulai memenuhi dadanya.
Pria gemuk itu justru tertawa sinis.
"Siapa pun yang berani membangkang akan dianggap melawan bangsawan!" bentaknya dengan tatapan mengintimidasi.
Edric buru-buru menarik lengan putranya.
"Jangan ikut campur, Revan. Mereka bisa membunuhmu tanpa berpikir dua kali," bisik Edric dengan wajah cemas.
"Ayah... mereka sudah keterlaluan. Orang tua itu bahkan tidak melakukan kesalahan," ucap Revan dengan rahang mengeras menahan amarah.
"Percayalah pada Ayah. Sekarang bukan waktunya," balas Edric dengan tatapan memohon.
Revan memalingkan wajahnya.
Tatapannya jatuh pada petani tua yang masih terbaring lemah di atas tanah. Dalam hatinya, sebuah tekad lahir.
Suatu hari nanti...
Ia akan memiliki kekuatan dan kekayaan yang cukup agar keluarganya tidak lagi diinjak-injak oleh siapa pun.
Baik bangsawan maupun raja sekalipun.
Jauh di dalam benaknya, seluruh pengetahuan dari kehidupan sebelumnya mulai tersusun menjadi sebuah rencana besar.
Tentang garam, tentang kaca, tentang perdagangan.
Dan tanpa disadari siapa pun, tekad seorang anak petani mulai menggerakkan roda takdir yang suatu hari nanti akan mengguncang seluruh Kerajaan Valtheria.
Daftar bab
95 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








