

Teriakan panik, orang-orang berlarian, dingin, dan segalanya perlahan hancur karena tanah yang perlahan retak sedikit demi sedikit.
“Di mana aku?” gumamku.
Aku tidak tahu di mana aku berada sekarang, tapi tanah di bawah pijakanku sedang berguncang hebat, seolah-olah perut bumi sedang memuntahkan amarahnya yang terpendam selama ribuan tahun.
Di sekelilingku, pohon-pohon jati raksasa yang sebelumnya aku tahu kalau mereka berdiri kokoh mengelilingi tempat ini, tumbang satu per satu membuat getaran dan dentuman saat pohon-pohon itu terjatuh ke tanah.
Aku juga bisa melihat langit di atas kepalaku berwarna merah darah, terbakar oleh debu yang entah dari mana asalnya tapi membubung tinggi.
“Aksa! Tolong aku!”
Sebuah jeritan melengking memecah gemuruh batuan yang saling berhantaman di telingaku.
Aku menoleh dengan cepat ke asal suara itu. Di sana, tepatnya di pinggiran celah hitam yang kini menganga dan membelah daratan, seorang gadis berpakaian sweter krem sedang bergelantung pasrah.
Tumpuan di kakinya telah runtuh dan tubuhnya limbung, siap untuk tertelan masuk ke dalam kegelapan yang baru terbuka di tanah kami berpijak.
Tanpa berpikir panjang, aku segera melompat. Adrenalin telah membakar seluruh tubuhku. Tepat sebelum tangannya terlepas, aku berhasil menyambar pergelangan tangannya.
Aku menariknya sekuat tenaga, lalu aku mendekapnya dengan sangat erat untuk memutar posisi di atas tanah yang terus retak sedikit demi sedikit untuk melindunginya dari reruntuhan bangunan di sekitar kami
“Kau harus bertanggung jawab, Aksa. Karena mulai detik ini, sejarah yang kau benci seumur hidupmu akan menjadi satu-satunya cara agar kita bisa bertahan hidup ..,” bisik gadis itu di dalam pelukanku. Matanya yang hitam pekat menatapku dengan kedalaman yang sangat menyakitkan—
Sebuah hantaman buku yang tebalnya bukan main menghantam di atas mejaku tepat di depan wajahku, menghancurkan dunia apokaliptik yang sedang aku rasakan sebelumnya.
“Tadi itu mimpi?” gumamku.
Belum selesai aku mengedarkan pandangan untuk memastikan aku ada di mana, sebuah suara melengking keras terdengar dari sebelahku.
“Aksa! Lagi-lagi kau tertidur di jam pelajaran saya! Berani sekali kau melakukan hal ini berulang, ya!”
Aku tersentak dan seketika tersadar dengan napas memburu dan jantung yang berhantam gila-gilaan di balik tulang rusuk. Sementara itu, keringat dingin sudah terlebih dahulu bercucuran dari dahiku.
Aku mengerjapkan mata, berusaha mengusir sisa-sisa debu dan aroma melati yang terasa teramat nyata di indra penciumanku.
“Tidak ada yang terbelah, tidak ada pohon jati yang tumbang, dan tidak ada retakan itu ...?”
Ya, semua yang kulihat dan kurasakan tadi tidak ada. Bahkan, suasananya juga jauh berbeda. Di sini, yang ada hanya ruang kelasku yang semua penghuninya tengah tertuju menatapku, serta wajah masam Pak Broto yang berdiri tepat di depan mejaku dengan buku sejarah yang masih berasap debu.
“Eng, maaf, Pak. Saya mengantuk,” gumamku acuh tak acuh sambil mengusap wajah, berusaha menyembunyikan tangan kiriku yang entah kenapa masih terasa bergetar hebat, seolah sisa rasa mencengkeram pergelangan tangan gadis di dalam mimpi tadi belum sepenuhnya hilang.
“Kau ini! Selain tindik di telingamu dan rambut panjangmu itu, apa tidak ada yang bisa kau perlihatkan lainnya, seperti tata krama?”
Pak Broto, akhirnya menghela napas lelah dan melangkah kembali ke depan kelas. “Beruntung sekali karena hari ini kita kedatangan murid baru, jadi saya tidak punya waktu untuk menghukummu.”
Mataku lalu tak sengaja melihat seorang gadis dengan seragam sekolahku tengah berdiri di depan ruang kelas.
Gadis itu berdiri tegak, seragamnya tampak lebih putih dan bersih dibandingkan milik siapa pun di ruangan ini. Tapi yang membuatku mematung adalah sesuatu yang lain.
Apa aku pernah melihatnya di suatu tempat? Kenapa aku seperti merasa familier dengan gadis itu?
Gadis itu memiliki ketenangan yang sangat aneh menurutku, maksudku, jika gadis itu adalah siswi pindahan baru, sudah pasti dia merasa tegang dan canggung, bukan?
Namun, yang ada di depanku adalah seorang gadis yang sangat tenang dan hampir tidak memiliki cela.
Eh? Tidak mungkin!?
Aku akhirnya teringat dengan sesuatu. Bentuk tubuhnya, tinggi semampainya, dan tatapan matanya ... dia adalah gadis yang sama. Gadis dari mimpi burukku yang hampir jatuh ke dalam retakan bumi beberapa detik lalu, tetapi wajahnya aku sama sekali tak ingat.
“Perkenalkan, namaku adalah Kirana Sasmira. Aku datang dari Kota Tarakan di Provinsi Kalimantan Utara, walau hanya setengah tahun kita bersama, aku harap kita bisa berteman sampai lulus dan seterusnya.”
Beberapa detik setelahnya suara bisik-bisik terdengar, ada yang takjub karena gadis itu datang dari pulau yang berbeda, ada yang bertanya-tanya kenapa pindah ke kota kecil di pesisir utara Jawa ini, dan lainnya.
Sementara aku tidak mengambil pusing dan memikirkan berbagai macam pertanyaan pada si siswi pindahan itu. Walau aku juga agak skeptis dengan gadis di mimpiku tadi karena mirip sekali dengannya.
“Baiklah, Kirana. Sepertinya kursi kosong yang tersisa di kelas ini hanya ada di sebelah murid nakal itu,” ucap Pak Broto sambil menunjuk ke arahku.
Aku tidak ingat kalau pernah melakukan kenakalan di sekolah ini, bagaimana aku diadili dengan seperti itu?
“Baiklah, anak-anak. Bapak harap kalian tidak melupakan sore nanti, kita akan melakukan sebuah karya wisata ke Situs Prasasti Cakrabhuwana,” tutup Pak Broto di tengah riuhnya penolakan teman-teman sekelasku yang sudah bosan sekali ke tempat itu.
Sementara itu, di sampingku, Kirana tiba-tiba saja memiringkan kepalanya dan tersenyum manis padaku. Senyuman itu membuat jantungku berhantam keras di balik tulang rusukku.
“Hei, tadi aku dengar Pak Broto menyebut namamu. Kau Aksa, bukan?” tanyanya berbisik.
“Ya, ada apa? Apa ada yang bisa kubantu?”
“Aksa, kau kelihatan seperti seorang remaja nakal yang gagal,” bisiknya lagi.
“Ha? Kau ini bicara apa?” tanyaku untuk memastikan.
“Kau kelihatan seperti seorang remaja nakal yang gagal, Aksa. Kau terlihat seperti anak nakal, tapi di mataku kau orang gagal.”
Brengsek! Dia bilang aku orang gagal? Dari mananya aku tampak seperti orang yang gagal?! Gadis ini benar-benar!
“Terserah apa katamu, Nona Pindahan. Aku tidak punya waktu untuk meladeni gadis gila sepertimu.”
Ternyata wajah cantik tak menjamin otaknya juga cantik dan waras, rasanya percuma juga untuk menanggapinya. Aku mengurungkan niatku untuk ke toilet dan memilih untuk kembali menatap ke arah papan tulis, di depan sana Pak Broto terus komat-kamit berdebat dengan anak-anak didiknya.
Walau aku menatap ke depan, aku masih bisa merasakan kalau gadis itu tetap menatapku. Namun, bukannya terdiam karena ucapanku, gadis yang bernama Kirana ini justru terkekeh pelan.
“Kau tahu, Aksa? Orang yang paling keras menyangkal biasanya adalah orang yang paling takut akan menghadapi sebuah kenyataan. Kau menyangkal hanya untuk pertahanan diri, dan mungkin saja untuk menutupi lubang di dalam hatimu,” bisiknya, kali ini lebih dekat ke telingaku hingga aku bisa mencium aroma parfum melatinya.
Tanganku yang sedang memutar bolpoin, tanpa sadar meremas benda plastik itu hingga terdengar bunyi retakan kecil. Amarahku mendidih. Aku memutar tubuhku sepenuhnya, menatap tajam ke arah mata hitamnya yang dalam.
“Dengar, siswi pindahan. Kau tidak tahu apa-apa tentangku, ‘kan? Kau hanya siswi pindahan yang kebetulan sial duduk di sebelahku. Jadi, simpan mulut besarmu itu atau aku akan benar-benar menjadi 'remaja nakal' yang kau bicarakan tadi,” desisku, berusaha menjaga suara agar tidak meledak di tengah kelas.
Kirana tidak berkedip. Ia justru menatapku dengan tatapan yang jauh lebih menjengkelkan daripada hinaan mana pun.
“Dari caramu berbicara, kenapa berbeda sekali dengan dia? Kau ini kelihatan seperti remaja nakal yang gagal, sedangkan dia terlihat seperti manusia yang gagal.”
“Cih.” Aku menajamkan pandanganku padanya. “Maksudmu apa bicara seolah kau mengenalku lama padahal kau baru masuk beberapa jam lalu? Kau ini memang cantik, tapi sayangnya sinting!”
“Astaga, kau ini tipe-tipe yang akan disukai gadis nakal jika bersikap seperti ini.”
“Aku tak mengerti dengan apa yang kau katakan sejak tadi. Jika ingin mengeluh padaku, katakan saja tidak usah berkelit-kelit dan menggunakan perumpamaan sulit.”
Aku masih mencoba sabar menanggapinya, tetapi tampaknya itu sia-sia.
“Aku hanya berkata jujur.”
“Jujur? Kau hanya berkata sesuatu yang sinting dan tak aku mengerti.”
Aku merapikan semua bukuku yang tak mencatat apa-apa dari papan tulis, memasukkan bolpoin ke dalam tas, lalu hendak bangkit. Akan tetapi, sebelum bisa bergerak lebih lanjut dari kursiku, gadis sinting itu tiba-tiba saja sudah ada tepat di sampingku.
“Hei, Aksa. Apa kau tahu tentang kenapa atau bagaimana situs yang berada di pusat kota ini dinamakan Cakrabhuwana?”
Aku mendengus sambil menarik diri darinya. “Itu artinya Roda Dunia atau semacamnya, aku lupa. Si tua Broto sudah mengatakannya ribuan kali sejak pertama aku bersekolah di sini hingga aku mual.”
“Itu bukan sekadar roda yang berputar saja. Cakra bisa diartikan juga sebagai senjata. Sebuah senjata yang menjaga agar dunia ini tetap pada porosnya,” katanya dengan mencondongkan tubuhnya ke arahku yang mati-matian mencoba menjauhi tubuhnya.
“Lalu kenapa memangnya? Apa kau bisa membaca prasastinya yang ada di sana dan mengartikannya sesuai imajinasimu? Ha, kau ini ternyata tipe gadis yang sok pintar juga, ya?”
“Ingatlah satu hal yang akan aku katakan padamu ini, Aksa. Jangan pernah sekali pun membiarkan amarahmu lebih besar daripada rasa tanggung jawabmu. Karena sekali kau menggores atau melukai sesuatu yang harusnya menjadi tanggung jawabmu, kau tidak akan pernah menemukan adanya jalan untuk kembali.”
“Cukup!” bentakku, meski dengan suara setengah berbisik agar tidak memancing perhatian satu kelas yang masih berdebat di depan sana. “Kau benar-benar sudah kelewatan denganku, jika saja kau laki-laki, pasti sudah tamat riwayatmu di tanganku! Pergilah ke dokter saraf atau apa pun setelah karya wisata sore nanti selesai, aku tidak peduli.”