Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Klinik Malam Sang Penakluk

Klinik Malam Sang Penakluk

Falisha Ashia | Bersambung
Jumlah kata
49.2K
Popular
2.9K
Subscribe
388
Novel / Klinik Malam Sang Penakluk
Klinik Malam Sang Penakluk

Klinik Malam Sang Penakluk

Falisha Ashia| Bersambung
Jumlah Kata
49.2K
Popular
2.9K
Subscribe
388
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalHarem21+Urban
Dihina sebagai mahasiswa miskin, orangtua terlilit utang, terus ditagih uang kost, nasib Wibowo berubah 180 derajat setelah menemukan kitab kuno misterius yang berisi ramuan pengubah ukuran pusaka dan teknik rahasia "Titik Meridian Gairah" yang mampu menghancurkan akal sehat wanita hanya dengan satu sentuhan jari. Ia pun memutuskan membuka klinik yang hanya buka di malam hari. Kini, para wanita rela antre agar dapat "dimodifikasi" tubuhnya dan mendapatkan kepuasan yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
Kitab Misterius

Wibowo duduk termangu di pinggiran kasur tipisnya yang keras.

Ponsel murahan di tangannya terasa sangat berat. Dia baru saja menutup telepon dari kakaknya di kampung, dan kabar yang dibawanya sukses menghancurkan dunia pemuda itu pagi ini.

Kakaknya mengabarkan kalau ayahnya gagal panen. Sawah keluarganya diserang hama besar-besaran.

Parahnya lagi, orang tuanya memiliki utang yang jumlahnya sangat fantastis untuk ukuran orang desa: seratus juta.

Jika utang itu tidak dilunasi bulan ini, rumah mereka dan satu-satunya petak sawah yang menjadi mata pencaharian akan disita paksa.

Dada Wibowo terasa sesak.

Utang sebesar seratus juta itu sebagian besar digunakan untuk biaya hidupnya selama berkuliah di kota ini, ditambah modal membeli bibit tanaman yang kini hancur lebur tanpa sisa.

Dengan tangan gemetar, Wibowo membuka dompet kulit imitasinya yang sudah mengelupas di bagian ujungnya.

Hanya ada selembar uang sepuluh ribu yang lecek di sana. Sementara itu, dia sudah menunggak uang kost selama dua bulan penuh.

‘Dari mana aku bisa dapat uang seratus juta dalam sebulan?’ batin Wibowo putus asa. Menggarap skripsi saja dia belum mampu, apalagi mencari uang sebanyak itu.

Tok! Tok!

Ketukan keras di pintu membuyarkan lamunannya. Wibowo mengusap wajahnya kasar, lalu bergegas membuka pintu kamarnya.

Di depan pintu, berdiri Andi, teman sekelasnya. Andi sudah rapi dengan jaket denimnya, berniat menjemput Wibowo untuk berangkat kuliah bareng seperti biasa.

“Kusut amat mukamu, Wo. Lemas bener kayak belum makan seminggu,” tegur Andi begitu melihat wajah Wibowo yang pucat pasi dan tatapan matanya yang kosong.

Wibowo menghela napas panjang. Dia tidak bisa memendamnya sendirian.

Dengan suara serak, dia menceritakan semuanya kepada Andi.

Mendengar cerita itu, raut wajah Andi yang tadinya ceria langsung berubah iba.

“Astaga... sori banget, Wo. Aku nggak tahu masalahmu seberat ini,” ucap Andi tulus. “kalau masalah makan, kamu nggak usah mikirin, nanti aku yang traktir.”

Wibowo menggeleng pelan dengan senyum tawar.

“Makasih, Ndi. Tapi aku nggak terlalu mikirin makan. Aku mikirin utang orang tuaku. Aku ngerasa bersalah banget udah ngabisin uang mereka.”

Hening sejenak di antara mereka berdua. Andi tampak berpikir keras, menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

Tiba-tiba, Andi memajukan wajahnya. Dia menatap Wibowo dengan tatapan serius yang aneh.

“Wo, aku mau nanya sesuatu yang agak pribadi,” bisik Andi ragu-ragu, menoleh ke kiri dan kanan memastikan lorong kostan sepi. “Ukuran punyamu... gede nggak?”

Wibowo mengernyitkan dahi. Dia menatap temannya dengan bingung bercampur kesal.

“Kenapa tiba-tiba nanyain itu? Sinting kamu, ya? Aku lagi pusing mikirin utang, malah diajak becanda kotor.”

“Bukan gitu, sialan!” bantah Andi cepat. “Dengerin aku dulu. Aku punya kenalan tante-tante, orang kaya. Dia lagi cari brondong buat nemenin dia, tapi syaratnya harus ganteng dan punya ukuran penis yang gede.”

Andi memindai Wibowo dari atas ke bawah.

“Tampang kamu sih udah masuk kualifikasi, ganteng dan badannya lumayan. Tapi punyamu gimana? Kalau ukurannya gede, aku berani kenalin kamu sama dia. Lumayan loh, Wo! Kerja enak, dapet duitnya juga gila-gilaan. Bisa sejuta sekali main!”

Sejuta sekali main.

Angka itu langsung berdengung nyaring di kepala Wibowo.

Sebagai pria normal yang sedang berada di titik keputusasaan paling bawah, tawaran itu jelas terdengar sangat menggiurkan. Hanya dengan modal tubuh, dia bisa mendapatkan uang jutaan dalam semalam. Jika dia bisa melayani tante itu berkali-kali, seratus juta bukanlah hal yang mustahil.

Tapi sedetik kemudian, realita menampar Wibowo. Dia sadar diri.

Ukurannya hanya sebatas standar pria lokal pada umumnya. Terlebih lagi, dia masih perjaka. Dia sama sekali tidak punya pengalaman berhubungan badan.

“Ah, ngawur. Dia pasti nggak mau sama aku,” tolak Wibowo, berusaha mengusir pikiran gila itu dari kepalanya. “Lagian aku nggak ada pengalaman. Dah, ayo kita ke kampus aja.”

Wibowo meraih tas ransel lusuhnya. Dia berjalan keluar kamar, mendahului Andi.

Namun, baru saja kakinya melangkah lima meter di lorong kostan, sesosok wanita sudah berdiri berkacak pinggang menghadang jalan mereka.

Tante Maya.

Ibu kost berusia 38 tahun itu menatap Wibowo dengan raut wajah sangat judes. Daster merah selutut yang membalut tubuh sintalnya sama sekali tidak mampu menutupi aura permusuhan yang dia pancarkan pagi ini.

“Mau ke mana kamu, Bowo?” serang Tante Maya dengan nada melengking.

“M-mau berangkat kuliah, Tante Maya,” jawab Wibowo, refleks menundukkan pandangannya.

“Kuliah, kuliah! Bayar dulu uang kostmu yang nunggak dua bulan!” bentak Tante Maya keras.

Wibowo melirik ke arah Andi yang berdiri canggung di belakangnya. Rasa malu yang luar biasa langsung membakar wajahnya.

Diomeli saat sendirian sudah biasa, tapi dihina dan ditagih utang tepat di hadapan teman dan beberapa tetangga kost yang kebetulan sedang di luar, benar-benar menghancurkan harga dirinya.

“Saya minta waktu sebentar lagi, Tante. Orang tua saya baru saja gagal panen, belum bisa kirim uang,” pinta Wibowo memelas.

Tante Maya mendengus sinis. Dia memindai Wibowo dengan tatapan penuh rasa jijik dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu melirik ke arah Andi.

“Alasan basi! Kalian dengar ya, mahasiswa gembel kayak dia ini cuma modal tampang doang, tapi miskinnya minta ampun. Nggak tahu malu!” hina Tante Maya tanpa ampun.

Tante Maya kembali menunjuk tepat ke hidung Wibowo.

“Aku kasih waktu tiga hari! Kalau uang sewanya belum lunas juga, angkat kakimu dari sini beserta semua barang rongsokanmu! Bikin kotor kostanku saja!”

Tanpa menunggu jawaban, Tante Maya berbalik dan pergi dengan angkuh.

Wibowo hanya bisa berdiri mematung. Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan amarah dan rasa malu yang mendidih di dadanya.

“Sabar, Wo. Nenek lampir emang gitu,” bisik Andi menenangkan, menepuk pelan bahu temannya.

Mereka pun melangkah pergi menuju kampus.

Sore hari

Wibowo melangkah gontai memasuki gedung perpustakaan kampus. Tugas dari dosen sudah menumpuk, dan dia butuh referensi gratis karena tidak punya uang sepeser pun untuk membeli buku cetakan baru.

Perpustakaan itu sepi.

Wibowo berjalan tanpa minat menyusuri lorong rak paling belakang, area yang jarang dikunjungi oleh mahasiswa lain. Matanya menelusuri deretan buku tebal secara acak.

Tiba-tiba, pandangannya tertuju pada sebuah celah sempit di sudut rak paling bawah.

Ada sebuah buku aneh yang terselip di sana.

Buku itu tertutup debu yang sangat tebal. Sampulnya terbuat dari kulit asli berwarna cokelat gelap yang sudah usang, namun anehnya, tidak ada satu pun tulisan atau judul yang tercetak di sampul tersebut.

Entah kenapa, ada daya tarik misterius yang membuat Wibowo penasaran.

Dia berjongkok, menarik buku tebal itu keluar, lalu menyingkirkan debunya dengan tangan. Buku itu terasa berat dan dingin.

Wibowo membuka halaman pertamanya.

Seketika, matanya terbelalak lebar. Wibowo terkejut bukan main.

Buku itu sama sekali tidak berisi teori sejarah atau rumus ekonomi kampus. Deretan tulisan kuno di dalamnya adalah buku resep yang ditujukan murni untuk orang dewasa usia 21 tahun ke atas.

Halaman demi halaman menampilkan resep dan teknik yang gila.

Mulai dari ramuan rahasia untuk memperbesar ukuran senjata pria, menambah volume dada dan bokong wanita secara permanen, hingga resep racikan kecantikan instan untuk meremajakan kulit.

Di bagian akhir buku, kejutan yang lebih besar menantinya.

Terdapat ilustrasi anatomi tubuh wanita yang digambar sangat mendetail. Halaman itu menjelaskan rahasia letak titik-titik rangsangan wanita di luar area kewanitaan dan dada.

Titik-titik meridian syaraf yang jika disentuh dengan teknik tertentu, diklaim bisa membuat wanita sedingin apa pun langsung mencapai klimaks secara instan tanpa bisa melawan.

Wibowo berdiri mematung di lorong berdebu itu. Tiba-tiba, ingatannya langsung berputar kembali pada obrolan Andi tadi pagi.

‘Dia lagi cari brondong... syaratnya ukuran gede... sejuta sekali main!’

Wibowo menelan ludah. Matanya kembali terpaku pada halaman resep ramuan pembesar kejantanan pria.

Lanjut membaca
Lanjut membaca