

Siang yang panas menyengat semua manusia yang berani keluar tanpa pelindung. Sebuah motor berbelok mulus memasuki kompleks bangunan mal mangkrak yang terbengkalai di pinggir kota. Pengemudinya seorang gadis muda, memboncengkan seorang pria yang hampir dua kali usianya. Motor mendaki jalan spiral menuju tempat yang seharusnya menjadi parkiran mobil. Di lantai dua, motor berhenti di balik pilar beton yang menghalangi sinar matahari. Gadis pengemudi mematikan mesin lalu menyetandarkan motornya. Si penumpang motor turun, diikuti si pengemudi.
“Abang tunggu di sana,” kata si gadis, menunjuk suatu titik. Di sana ada pintu menuju ke mal, seandainya mal jadi dibangun.
Yang dipanggil Abang tidak langsung menurut. Tapi si gadis tidak peduli. Dia segera membongkar tas yang diambil dari dalam bagasi motornya. Dengan cueknya dia berganti kostum di tempat itu. Tank top dan celana jins berganti dengan seragam SMA. Rupanya gadis itu sudah dapat tugas baru, atau mungkin kembali ke peran lama. Pria itu sempat melirik tato kecil di lengan kiri atas gadis itu. Tato berbentuk huruf S dengan mata merah di dua lengkungnya. Tato kecil yang tidak menarik perhatian. Tadi gadis itu membelai tato itu di depan matanya sambil berkata dengan nada manja, “Bang, anterin aku yuk.”
Dia tidak perlu tahu nama gadis itu. Cukup dengan diperlihatkan tato itu saja, dia akan ikut. Sudah beberapa kali dia dijemput oleh berbagai macam wanita dengan tato itu. Dan itu artinya hanya satu: bayaran besar.
Tanpa bicara, si gadis menggeber motor lalu pergi meninggalkannya. Selalu begitu kejadiannya dengan wanita-wanita bertato S mata merah. Pria itu mendengus. Matanya diarahkan titik yang ditunjuk gadis itu tadi. Sambil berjalan ke sana, dia menduga-duga pekerjaan apa yang akan diberikan padanya. Seorang lelaki yang sedikit lebih muda darinya telah menunggunya.
“Apa kabar, Bang Jaka?” sapa lelaki itu ramah. Tangan kanannya diulurkan menyalami tangan Bang Jaka. Sementara tangan kirinya setengah merangkul pria itu.
“Ya, begini-begini saja, Mbah Sapto,” jawab Bang Jaka.
Lelaki itu tertawa ramah, memperlihatkan sebaris gigi yang rapi hasil karya dokter gigi bertarif mahal. Wajahnya tampan dengan hidung bangir, mata besar, dan kulit hitam manis. Rahangnya dihiasi jenggot tipis yang dibentuk rapi. Kemeja polos yang dan celana panjang dengan warna senada nampak modis membalut tubuhnya. Penampilannya sama sekali tidak cocok untuk dipanggil dengan sebutan “Mbah”.
“Ada perintah apa sekarang?” tanya Bang Jaka, langsung ke masalah.
“Anak yatim piatu, umurnya sekitar 6 atau 7 tahun,” seketika raut muka Mbah Sapto berubah jadi serius dan dingin, “temukan dia. Bayarannya tiga kali lipat dari pekerjaan kemarin. Kalau sudah selesai.”
“Wah, anak itu pasti istimewa,” komentar Bang Jaka. Kini ia ikut bersandar di dinding seperti Mbah Sapto.
Lelaki itu hanya tersenyum.
“Posisinya di mana?”
“Jawa Barat.”
“Hm. Spesifik banget ya,” sindir Bang Jaka.
“Dia sepertinya sudah dipindahkan beberapa kali.”
“Dan bahkan orang-orang seperti kalian tidak bisa mengendus lokasinya?”
Lelaki itu mendengus mendengar penghinaan itu.
“Info terakhir, di panti di sekitar Gunung Salak.”
“Foto? Nama?”
“Tidak ada foto,” jawab Mbah Sapto, seraya menyilangkan tangan di depan dadanya.
“Nama?”
“Dia diberi nama Soca. Tapi mungkin namanya sudah diubah.”
Bang Jaka maju selangkah, punggungnya meninggalkan dinding. Badannya menghadap Mbah Sapto. Satu tangannya menekan dinding.
“Jadi pekerjaanku mencari bocah umur 6 atau 7 tahun di panti sekitar Gunung Salak. Bocah yang dulunya bernama Soca. Ini laki apa perempuan?”
“Laki-laki.”
Bang Jaka tersenyum tipis. Dia merasakan ada sesuatu yang aneh dari permintaan ini. Bukan dari minimnya informasi. Tapi sesuatu yang lain, entah apa itu. Dadanya berdesir.
“Kenapa kalian menginginkan bocah ini? Dia itu satria piningit atau apa?”
“Bukan,” jawabnya. Lelaki itu diam sejenak. “Bukan urusanmu.”
Bang Jaka mengangguk maklum. Berarti bocah itu tidak perlu dijaga keselamatannya.
“Lalu ke mana dia akan kuserahkan, setelah nanti kutemukan?” tanya Bang Jaka, “atau langsung dibun---”
“Jadikan dia begundal sepertimu. Rusak dia. Siksa dia. Tapi biarkan dia hidup.”
Bang Jaka menatap wajah lelaki di depannya, mendapati sorot mata yang lebih dingin. Dia menghela nafas panjang.
“Aku butuh waktu,” katanya.
“Ya, tentu.”
”Dan bayaran lebih besar.”
Lelaki itu mendelik tajam padanya.
“Kau akan mendapat setengahnya setelah dia ditemukan.”
Bang Jaka tertawa sinis.
“Butuh waktu lama untuk membentuk orang jadi seperti aku. Apalagi kalau orangnya tidak berbakat. Tidak gampang itu, Mbah.”
“Tunjukkan hasilnya setelah dia 11 tahun. Tunjukkan serusak apa dia,” lelaki itu tersenyum tipis, “baru kunaikkan bayaranmu.”
Bang Jaka melipat tangan, bersedekap. Otaknya mulai berhitung angka.
“Dua pertiga, saat dia ditemukan.”
Gantian lelaki itu yang menghitung angka di dalam pikirannya.
“Aku akan bekerja cepat. Nggak perlu sampai dia sebelas tahun,” kata Bang Jaka meyakinkan.
“Oke. Asal dia benar-benar rusak.”
“Pasti. Kau akan kagum dengan hasil karyaku,” Bang Jaka semakin persuasif.
Si lelaki tampan tersenyum tipis. Lalu dia mengulurkan tangan.
“Deal.”
“Deal,” sahut Bang Jaka sambil menyambut tangannya.
Terdengar suara klakson berbunyi nyaring dan panjang dari jalan raya, seakan ikut menyegel kesepakatan itu. Dengan kata sepakat itu, dua lelaki itu tak perlu berlama-lama lagi di sana.
Bang Jaka beranjak pergi. Baru beberapa langkah, dia menoleh dan melihat lelaki tampan itu dari balik bahunya.
“Ada info apa lagi tentang si Soca ini?”
“Dia punya tanda lahir di dadanya. Kecil. Bentuknya seperti bulan sabit.”
***
Suatu malam di panti asuhan di kaki Gunung Salak.
Seorang anak kecil laki-laki merenung sendiri di kamar mandi. Berbeda dengan teman-temannya, dia tidak mau mandi bareng atau berenang telanjang di kali. Agak aneh untuk anak desa seusianya. Anak kecil seperti dia kebanyakan suka berenang di kali, bertelanjang. Anak kecil belum kenal rasa malu akan tubuhnya.
Tapi dia berbeda. Dia merasa perlu untuk menutupi dadanya. Entah sejak kapan dia merasa perlu begitu. Dia tidak ingat. Yang dia ingat, pengasuhnya dulu juga begitu. Dia selalu memakaikan kaus meskipun cuaca sedang panas gerah. Dulu, sebelum dia pindah ke panti asuhan.
Dia tidak ingat sudah berapa kali berpindah tempat. Dari panti asuhan, ke rumah titipan, ke panti asuhan lain lagi, begitu seterusnya. Kisah masa lalunya yang dia dengar selalu sama. Selalu ada orang yang jadi sakit, cedera, patah tulang, atau tiba-tiba meninggal tanpa sebab yang masuk akal di tempat yang lama. Kejadian itu belum pernah terjadi sebelum dia tinggal di sana. Hanya sedikit orang yang terlalu jengkel hingga bilang bahwa dia adalah anak pembawa sial.
Bocah itu mengelap tubuhnya dengan handuk. Dia melangkah keluar dari kamar mandi. Terlihat sinar bulan menerangi halaman panti. Dia melihat ke langit. Bulan tampak bulat sempurna dengan warna kuning keemasan. Indah. Tapi sama sekali dia tidak merasakan keindahannya. Dia hanya merasa lemah. Selalu begitu setiap bulan purnama. Malam ini, dia bahkan harus menyeret kakinya untuk kembali ke kamar bersama anak-anak lain. Belum sampai ke ranjangnya, dia sudah merosot ke lantai. Dia mengesot, merangkak naik ke kamarnya. Anehnya, dadanya terasa gatal dari dalam.
Dia berhasil naik ke ranjangnya. Segera dia menarik selimut, menutupi tubuhnya sampai ke kepala. Di dalam selimut, dia melihat ke dadanya sendiri. Tanda lahir berbentuk bulan sabit tampak berpendar memancarkan cahaya. Tidak terang, tapi cukup terlihat dalam gelap.
Meski di usia semuda itu, dia sudah tahu artinya. Sesuatu sedang berjalan mendekat. Sesuatu yang mengerikan dan mengguncangkan hidupnya.