Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
ARLOJI MBAH KAKUNG

ARLOJI MBAH KAKUNG

Teh Manis | Bersambung
Jumlah kata
93.0K
Popular
15.3K
Subscribe
1.0K
Novel / ARLOJI MBAH KAKUNG
ARLOJI MBAH KAKUNG

ARLOJI MBAH KAKUNG

Teh Manis| Bersambung
Jumlah Kata
93.0K
Popular
15.3K
Subscribe
1.0K
Sinopsis
PerkotaanAksiSistemKarya KompetisiDarah Muda
Sakti mengira kalau dirinya memang terlahir sial. Karena dari sekian banyak harta kakeknya, dia hanya mendapat sepetak tanah dengan rumah reot yang berdiri di atasnya. Bahkan rumah itu tidak lebih besar dari kandang sapi milik juragan Sentot. Namun Sakti tidak menyangka, saat dia menemukan arloji tua peninggalan kakeknya, sebuah sistem terbuka dan mengubah keadaan.
1

Sakti berdiri di depan pagar rumah megah bercat putih dengan telapak tangan berkeringat. Wajah dan pakaian pemuda berusia 20 tahun itu tampak lusuh. Kalau saja situasinya tak benar-benar mendesak, mungkin dia akan tak memilih untuk menginjakkan kaki di rumah ini.

Ia menarik napas panjang sebelum menekan bel. Tak lama kemudian, pintu terbuka.

"Eh, Sakti?" Seorang pria berusia hampir lima puluh tahun muncul sambil mengenakan kaus oblong dan sarung. "Ada apa datang sore-sore begini?"

"Saya ada keperluan, Pakde."

Jarwo menatap Sakti dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan risi, ia lalu mengangguk singkat dan mempersilakan keponakannya masuk. Namun, raut wajahnya tampak datar, seolah sudah bisa menebak maksud kedatangan Sakti.

Mereka lalu duduk berhadapan di ruang tamu.

"Jadi, ada urusan apa?" tanya Jarwo sambil menyeruput kopinya.

Sakti menundukkan kepala sesaat. Harga dirinya terasa berat untuk ditelan, tetapi ia tidak punya pilihan lain.

"Ibu sakit lagi, Pakde. Dokter menyarankan beliau dirawat. Selain itu, saya juga harus membayar uang semester minggu depan."

Jarwo hanya mengangguk pelan. "Lalu?"

"Saya ingin meminjam uang." Suara Sakti semakin berat dan penuh kehati-hatian.

Suasana mendadak hening. Jarwo meletakkan cangkirnya perlahan.

"Berapa?"

"Lima belas juta."

Jarwo terkekeh kecil. "Lima belas juta bukan jumlah yang sedikit, Sakti."

"Saya tahu, Pakde. Tapi saya berjanji akan bekerja keras sambil kuliah. Sedikit demi sedikit pasti saya kembalikan."

"Bukan soal itu." Jarwo menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Kalau kamu pinjam ke bank saja diminta jaminan. Masa pinjam ke saya tidak ada jaminan?"

Sakti mengepalkan kedua tangannya di atas lutut.

"Saya ... saya masih punya rumah warisan dari Mbah Kakung."

Jarwo langsung tertawa pelan. "Rumah reot di ujung desa itu?"

Sakti langsung terdiam. Jarwo dan mendiang ayahnya memang kakak beradik, mereka sama-sama anak Mbah Kakung. Namun dibandingkan dengan saudara-saudara yang lain, bagian ayah Sakti paling sedikit. Hanya satu petak tanah sempit dan rumah reot yang berdiri di atasnya.

"Itu bukan rumah, Sakti. Dulu cuma gudang penyimpanan alat kebun. Tanahnya juga tak seberapa." Jarwo kembali tertawa, kali ini lebih keras.

Sakti menggigit bibir bawahnya. "Kalau Pakde berkenan, nanti semua warisan itu saya serahkan sebagai jaminan."

Jarwo menggeleng sambil mengusap sudut matanya yang basah karena terlalu banyak tertawa.

"Kamu ini lucu sekali."

"Tapi saya benar-benar butuh uang."

"Sakti ... Sakti." Jarwo menatapnya dengan sorot mata datar. "Warisanmu itu tidak ada harganya. Tidak sebanding dengan uang yang kau minta. Siapa sih yang mau beli tanah sempit dan bangunan reot itu?"

Kalimat itu terasa seperti pisau yang menyayat hati Sakti.

"Kalau pun rumah dan tanahnya laku dijual, bisa dapat sepuluh juta saja sudah syukur. "

Sakti menundukkan kepala. Harapan terakhirnya runtuh begitu saja.

Jarwo menghela napas pelan.

"Bukannya Pakde tidak mau membantu. Tapi uang sebanyak itu bukan jumlah yang kecil. Tanpa jaminan yang pantas, Pakde tak bisa memberikannya."

Ia bangkit dari sofa, merogoh dompet, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang.

“Ambillah ini."

Sakti memandang uang yang disodorkan.

“Lima ratus ribu. Anggap saja buat beli obat ibumu beberapa hari."

Sakti tidak segera mengambilnya. Bukannya dia tak bersyukur, tapi nominalnya jauh dari yang dia harapkan.

"Sudahlah. Jangan memaksakan kuliah kalau memang tidak mampu. Cari kerja saja dulu. Soal masa depan, nanti juga ada jalannya."

Setelah beberapa detik terdiam, Sakti menerima uang itu dengan tangan gemetar. Setidaknya dia masih bisa membelikan makan untuk ibunya yang beberapa hari ini tak memegang uang sepeser pun.

"Terima kasih, Pakde." Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berdiri lalu melangkah keluar. Begitu pintu rumah tertutup di belakangnya, senyum tipis yang sedari tadi ia paksakan perlahan menghilang.

Dada Sakti terasa sesak. Di genggamannya, lima lembar uang seratus ribuan terasa begitu ringan, mengingat biaya berobat untuk ibunya mencapai jutaan. Namun lebih dari itu, ikatan persaudaraan sama sekali tidak ada harganya.

Sakti lalu melangkah memasuki jalan setapak menuju rumah warisannya. Rumput liar tumbuh hampir menutupi jalan tanah yang sudah lama tak dilalui. Beberapa batang ilalang bergoyang pelan tertiup angin sore.

Di kejauhan, rumah itu akhirnya terlihat. Bangunan kecil berdinding papan kusam berdiri menyendiri di atas sebidang tanah yang tak seberapa luas. Atap sengnya dipenuhi bercak karat, sementara beberapa bagian lisplang sudah lapuk dimakan usia.

Sakti berhenti beberapa saat di depan pagar bambu yang nyaris roboh. Ia menghela napas panjang.

"Inikah yang disebut warisan?" Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum pahit.

Mbah Kakung semasa hidup dikenal sebagai juragan tanah terbesar di desa. Puluhan hektare sawah, kebun, peternakan sapi, hingga sebuah hotel di kota menjadi bukti kesuksesannya. Namun, dari semua harta itu, yang jatuh ke tangan Sakti hanyalah rumah tua yang lebih pantas disebut gudang.

Ia mendorong pintu kayu yang langsung mengeluarkan bunyi berderit panjang. Debu beterbangan memenuhi udara. Sakti spontan menutup hidung. Ruangan di dalam jauh lebih menyedihkan daripada yang ia ingat.

Sebuah kursi kayu kehilangan satu kaki hingga harus disangga batu bata. Meja kecil di ruang tamu dipenuhi lapisan debu tebal. Jaring laba-laba menggantung hampir di setiap sudut langit-langit.

Rumah itu hanya terdiri dari tiga bagian. Ruang tamu kecil. Sebuah kamar tidur sempit. Lalu dapur yang menyatu dengan kamar mandi sederhana di bagian belakang. Tidak ada ruang makan. Tidak ada teras yang layak. Semuanya terasa sempit dan pengap.

Saat masih kecil, Sakti pernah bertanya pada ibunya mengapa Mbah Kakung memiliki rumah sekecil ini. Ibunya hanya tersenyum.

"Itu bukan rumah, Nak. Dulu gudang tempat menyimpan cangkul, pupuk, dan hasil panen."

Kini, setelah gudang itu diwariskan kepadanya, barulah Sakti memahami maksud ucapan ibunya. Ia benar-benar menerima warisan sebuah gudang tua.

Sakti melangkah masuk ke kamar. Kasur kapuk tua masih tergeletak di sudut ruangan. Lemari kayu dengan pintu yang sedikit miring berdiri tepat di samping jendela. Di dekatnya terdapat sebuah meja kayu usang.

Tatapan Sakti berhenti pada benda yang berada di atas meja itu. Sebuah arloji saku berwarna keemasan. Permukaannya kusam, dipenuhi goresan halus dan noda kehitaman akibat usia. Rantai kecil yang menggantung di ujungnya bahkan sudah berubah warna.

Sakti mengambil arloji itu perlahan. Ia membuka penutupnya. Jarum jam berhenti tepat di angka sebelas lewat lima puluh tujuh menit. Tidak bergerak sedikit pun.

"Padahal Mbah Kakung pernah bilang, aku akan mendapat warisan yang istimewa. Ternyata hanya ini."

Sakti tertawa kecil. Tawa yang dipenuhi rasa getir. Saat pembagian warisan beberapa bulan lalu, semua orang sempat penasaran ketika nama Sakti disebut paling terakhir. Mereka mengira cucu yang paling rajin menjenguk Mbah Kakung itu akan mendapat bagian terbesar.

Nyatanya, ia hanya memperoleh rumah tua beserta arloji tua yang rusak. Sementara sepupu-sepupunya bersorak gembira. Ada yang mendapat perkebunan. Ada yang memperoleh peternakan. Ada pula yang menerima rumah mewah di kota.

Bahkan hotel peninggalan Mbah Kakung jatuh ke tangan cucu yang nyaris tak pernah datang menjenguknya. Semakin mengingat semua itu, dada Sakti terasa semakin sesak.

"Apa salahku, Mbah?" Ia menatap arloji tua itu lekat-lekat.

"Kalau memang ini benda berharga, kenapa semua orang malah menertawakannya?"

Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang memenuhi kamar tua itu. Sakti mengusap permukaan arloji dengan ibu jarinya, berusaha membersihkan debu yang menempel di sela-sela ukiran.

Sakti lalu tanpa sengaja menekan sebuah tonjolan kecil yang menyatu dengan ukiran logam.

Klik!!!

Suara yang nyaris tak terdengar memecah kesunyian kamar. Sakti mengernyit. Suara tik-tik dari jarum jam terdengar sangat jelas. Jarum detik yang selama bertahun-tahun membeku bergerak.

"Mustahil!"

Jantung Sakti mulai berdegup lebih cepat. Tangannya sedikit gemetar ketika mengangkat kembali arloji itu. Jarum-jarum yang semula mati kini bergerak perlahan seolah baru saja memperoleh kehidupan.

Namun, keanehan belum berhenti. Ukiran-ukiran kecil di permukaan arloji memancarkan cahaya kebiruan yang merambat seperti aliran air, memenuhi setiap lekuk logam tua itu. Cahaya tersebut semakin terang.

Sakti refleks melepas arloji itu. Namun bukannya jatuh ke lantai, arloji itu justru melayang beberapa senti di atas telapak tangannya.

"A ... apa ini?"

Ruangan yang tadinya redup kini diterangi sinar biru lembut. Debu-debu yang beterbangan tampak berkilauan di udara. Arloji berputar perlahan. Jarumnya bergerak semakin cepat. Lalu...

DING!

Suara nyaring bergema, seolah berasal dari dalam kepala Sakti. Sesaat kemudian, sebuah layar transparan berwarna biru muncul tepat di hadapannya. Sakti refleks mundur selangkah.

"Apa ini?"

Ia mengucek kedua matanya untuk memastikan penglihatannya. Namun layar itu tidak menghilang. Huruf-huruf berwarna putih mulai bermunculan satu per satu.

[Artefak Warisan Terdeteksi]

Sakti menahan napas. Tulisan berikutnya muncul.

[Memindai identitas pengguna]

Di bawahnya, sebuah garis tipis perlahan terisi.

1%... 7%... 18%...

Sakti menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak ada siapa pun. Layar itu seolah hanya bisa dilihat olehnya.

"Apakah ini mimpi?" Ia mencubit lengannya sendiri. Rasa sakit itu nyata. Sementara persentase terus bertambah.

42%... 67%... 89%...

Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Jantungnya berdegup begitu keras hingga memenuhi telinganya sendiri. Beberapa detik kemudian ...

100%.

Seluruh cahaya dari arloji seketika meredup. Ruangan kembali sunyi. Hanya layar biru itu yang masih melayang di depan Sakti. Sebuah kalimat baru perlahan muncul.

[Identitas berhasil diverifikasi.]

Disusul kalimat berikutnya.

[Selamat datang, Pewaris Generasi Kesembilan.]

Sakti terpaku. Pikirannya benar-benar kosong. Belum sempat ia memahami apa yang sedang terjadi, satu notifikasi terakhir muncul di tengah layar.

[Mengaktifkan Sistem Warisan Arloji]

Lanjut membaca
Lanjut membaca