
MAHKOTA KETUJUH: The King Who Should Never Exist
Pritca Ruby|Bersambung
- Jumlah kata
- 42.5K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 14
- Jumlah kata
- 42.5K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 14
Sinopsis
Kael Arvandor hanyalah pemuda tanpa mana yang dianggap tidak berguna. Sampai sebuah sistem misterius terbangun di dalam dirinya dan mengungkap satu kebenaran: Kael adalah pewaris kerajaan yang telah musnah 300 tahun lalu. Untuk mendapatkan kembali kekuatannya, ia harus mengumpulkan tujuh mahkota bersama sepuluh gadis yang masing-masing menyimpan rahasia. Namun ada satu masalah. Jika Kael mencapai Level 100, Raja Iblis akan bangkit. Dan salah satu dari sepuluh gadis itu… ditakdirkan untuk membunuhnya.
Ulasan
1 ulasan
Pritca Ruby
15/9/26 03:31
Guys ini karya pertamaku di sini ^_^ Tolong beri dukungannya biar aku semangat update. Enjoy ♡ Arigathanks gozaimuch :D
BAB 1 ANAK TANPA MANA
Di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, tidak memiliki mana sama artinya dengan tidak memiliki masa depan.
Kael Arvandor telah memahami kenyataan itu sejak kecil.
Ia berdiri sendirian di tengah aula utama Akademi Astralis, di hadapan ratusan siswa yang mengenakan seragam kebanggaan kerajaan masing-masing.
Aula itu sangat luas.
Pilar-pilar marmer menjulang hingga langit-langit, dihiasi lambang tujuh kerajaan. Di bagian atas ruangan, kristal-kristal cahaya melayang tanpa penyangga, menerangi panggung tempat ujian masuk sedang berlangsung.
Di tengah panggung berdiri sebuah kristal transparan berukuran sebesar kepala manusia.
Kristal Pengukur Mana.
Benda itu mampu membaca jumlah mana, afinitas elemen, bahkan potensi sihir seseorang.
Satu demi satu calon siswa telah menyentuhnya.
“Mana: 184.”
Sorak-sorai terdengar.
“Elemen: Api.”
Seorang gadis berambut merah tersenyum bangga ketika simbol api muncul di dalam kristal.
“Mana: 231.”
Kali ini tepuk tangan terdengar lebih keras.
“Elemen: Petir.”
Seorang pemuda berambut pirang mengangkat dagu dengan bangga.
Kael hanya berdiri di barisan paling belakang. Tangannya berada di dalam saku seragam. Ia tidak merasa gugup. Atau setidaknya, ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak gugup.
“Peserta berikutnya.”
Suara profesor terdengar.
“Kael Arvandor.”
Aula mendadak lebih sunyi. Nama belakang itu cukup terkenal.
Arvandor.
Kerajaan yang telah lenyap tiga ratus tahun lalu. Tidak ada yang tahu mengapa Kael membawa nama tersebut. Tidak ada yang tahu dari mana ia berasal. Dan Kael sendiri hanya mengetahui satu hal tentang masa lalunya. Ia ditemukan ketika masih bayi di depan sebuah reruntuhan kuno.
Tidak ada keluarga. Tidak ada catatan kelahiran. Tidak ada lambang kerajaan. Hanya sebuah liontin hitam yang tergantung di lehernya.
Kael melangkah maju.
Bisikan mulai terdengar.
“Itu dia.”
“Anak tanpa mana.”
“Serius? Dia diterima di Astralis?”
“Katanya dia lulus ujian fisik.”
“Kalau begitu mungkin dia pikir otot bisa menggantikan sihir.”
Tawa kecil terdengar.
Kael tidak menanggapi. Ia telah mendengar hal yang sama selama bertahun-tahun. Sejak kecil, dirinya selalu menjadi orang yang berbeda. Anak-anak lain dapat menyalakan api di usia enam tahun. Kael bahkan tidak bisa membuat lilin menyala.
Mereka dapat menggunakan sihir angin untuk mengangkat batu. Kael harus mengangkatnya dengan kedua tangan.
Mereka mempelajari mantra. Kael mempelajari pedang. Bukan karena ia menyukai pedang. Tetapi karena tidak ada pilihan lain.
“Letakkan tanganmu.” Profesor menunjuk kristal.
Kael menarik napas pendek. Kemudian ia mengulurkan tangannya. Telapak tangannya menyentuh permukaan kristal. Tidak terjadi apa-apa.
Satu detik.
Dua detik.
Lima detik.
Kristal tetap bening. Profesor mengerutkan kening. Ia mengetuk kristal dengan jarinya.
“Coba sekali lagi.”
Kael menurut. Tangannya kembali menyentuh kristal. Tetap tidak ada cahaya. Tidak ada angka. Tidak ada elemen.
Kemudian—
Krek.
Retakan tipis muncul di permukaan kristal.
Suara tawa langsung memenuhi aula. Profesor membelalakkan mata. “Mustahil…” Ia segera mengambil kristal kedua. “Gunakan yang ini.”
Kael memandangnya sebentar. Kemudian kembali menyentuh kristal. Hasilnya sama. Bening dan kosong.
Profesor menatap alat pengukur mana, lalu menatap Kael. Wajahnya berubah.
“Mana…” Ia berhenti. “Mana: nol.”
Beberapa siswa langsung tertawa.
“HAHAHA!”
“Nol?!”
“Bahkan bayi punya mana!”
“Dia benar-benar monster!”
Kael mengepalkan tangan. Namun ia tidak menundukkan kepala. Ia sudah terlalu sering dipandang rendah.
Tetapi hari ini ada sesuatu yang berbeda. Di antara kerumunan siswa, seorang gadis berdiri dengan tenang. Rambut merah panjang. Mata merah keemasan. Seragam bangsawan dengan lambang burung phoenix emas.
Seraphina Valeria.
Putri utama Klan Valeria, salah satu keluarga paling kuat di Kerajaan Ignis.
Kael pernah mendengar namanya. Jenius sihir api. Ahli pedang. Calon penerus salah satu dari tujuh klan besar.
Tatapan Seraphina tertuju padanya. Tidak ada rasa kasihan di matanya. Hanya penilaian.
“Memalukan.” Suaranya terdengar jelas.
Kael menoleh.“Apa?”
Seraphina mengangkat dagu. “Jika seseorang bahkan tidak memiliki mana, seharusnya dia tidak berdiri di tempat seperti ini.”
Beberapa siswa tertawa lebih keras.
Kael justru tersenyum. “Terima kasih.”
Seraphina mengerutkan kening. “Untuk apa?”
“Sudah mengatakannya langsung di depan wajahku.”
Mata Seraphina sedikit melebar.
Kael berbalik. Namun tepat saat itu—
TING!
Suara aneh terdengar di dalam kepalanya. Kael berhenti. Suara tersebut tidak berasal dari aula. Tidak ada seorang pun yang bereaksi. Kemudian sebuah jendela transparan muncul di hadapan matanya.
[SISTEM MAHKOTA BERHASIL DIAKTIFKAN.]
Kael membeku. Ia menatap tulisan itu. Tidak ada orang lain yang melihatnya.
[Identitas pengguna: Kael Arvandor.]
[Status: Tidak diketahui.]
[Mana: 0.]
[Kekuatan fisik: 7.]
[Agility: 6.]
[Vitalitas: 8.]
[Potensi: ???]
Kael menahan napas. "Apa ini?"
Tangannya secara refleks menyentuh liontin hitam di lehernya. Liontin itu terasa panas. Kemudian tulisan baru muncul.
[Syarat aktivasi terpenuhi.]
[Garis keturunan Arvandor terdeteksi.]
Jantung Kael berdetak lebih cepat.
Arvandor?
Selama hidupnya, nama itu tidak pernah memberinya apa pun selain pertanyaan. Sekarang sistem mengatakan garis keturunan itu nyata. Sebelum ia sempat memahami semuanya, suara lain muncul.
[QUEST UTAMA DIMULAI.]
Tujuan: Kumpulkan Tujuh Mahkota.
Mahkota 1: Terkunci.
Mahkota 2: Terkunci.
Mahkota 3: Terkunci.
Mahkota 4: Terkunci.
Mahkota 5: Terkunci.
Mahkota 6: Terkunci.
Mahkota 7: Terkunci.
Hadiah akhir: Kebangkitan Darah Raja.
Kael menatap layar itu dengan bingung.
Raja?
Darah?
Apa hubungannya dengan dirinya?
Lalu tiba-tiba semua tulisan menghilang. Digantikan satu pesan berwarna merah.
[PERINGATAN KERAS.]
Kael merasakan bulu kuduknya berdiri.
[JANGAN MENCAPAI LEVEL 100.]
Untuk pertama kalinya, ekspresi Kael berubah.
Pesan kedua muncul.
[Level 100 bukan batas kekuatan.]
[Level 100 adalah batas segel.]
Kemudian—
[Jika Level 100 tercapai, Raja Iblis akan bangun.]
Kael tidak bergerak.
Raja Iblis? Bukankah itu hanya legenda?
Tiga ratus tahun lalu, sejarah mencatat bahwa Raja Iblis telah dikalahkan oleh tujuh kerajaan. Tidak ada yang tahu bagaimana caranya. Tidak ada yang tahu siapa pahlawan sebenarnya.
Hanya satu hal yang diketahui. Setelah perang tersebut, Kerajaan Arvandor menghilang. Dan sejak saat itu, dunia memasuki era damai.
“Kael?”
Suara profesor membuatnya tersadar. Ia menoleh.
Profesor sedang menatapnya dengan kesal. “Kamu sudah selesai. Minggir.”
Kael mengangguk. Ia meninggalkan panggung. Namun sebelum turun, ia mendengar suara lain.
[Level pengguna: 1.]
[Kemampuan pertama akan terbuka setelah memperoleh Mahkota Pertama.]
Kael berhenti. “Mahkota pertama…” Ia berbisik sangat pelan.
Kemudian—
BOOM!
Ledakan besar mengguncang seluruh akademi. Jendela-jendela aula bergetar. Beberapa siswa berteriak. Kael langsung menoleh ke arah jendela.
Langit di atas Akademi Astralis berubah warna. Biru cerah berubah menjadi merah tua. Sebuah lingkaran sihir raksasa muncul di atas menara akademi.
Profesor-profesor berlari keluar. Para siswa panik.
“Semua tetap di tempat!”
“Jangan keluar!”
“Penghalang akademi aktifkan!”
Namun Kael tidak mendengar mereka. Matanya tertuju pada lingkaran sihir itu. Ia mengenali simbol di tengahnya. Simbol yang sama dengan ukiran pada liontin hitam miliknya.
Arvandor.
Kemudian liontin di dadanya retak. Sebuah suara terdengar dari kejauhan. Bukan suara manusia. Suara itu begitu dalam hingga seolah berasal dari dasar bumi.
“Akhirnya…”
Kael membeku.
“Pewaris terakhir telah bangun.”
Di dalam aula, seluruh lampu padam. Untuk sesaat, dunia menjadi gelap. Lalu sebuah kalimat muncul di hadapan Kael.
[EVENT DUNIA DIMULAI.]
[Segel Raja Iblis: 0,01% terbuka.]
Kael menatap layar itu. Wajahnya perlahan menjadi serius.
Selama tujuh belas tahun hidupnya, ia mengira dirinya adalah manusia tanpa masa depan. Ia mengira dirinya lemah. Tidak berguna. Tidak memiliki keluarga. Tidak memiliki tempat di dunia. Namun hari itu, semuanya berubah.
Karena mungkin…
Kael Arvandor bukan seseorang yang tidak memiliki kekuatan. Mungkin selama ini kekuatannya hanya sedang menunggu seseorang membangunkannya.
Dan tanpa Kael sadari— di suatu tempat yang sangat jauh dari Akademi Astralis, seorang gadis berambut perak membuka matanya setelah tidur selama tiga ratus tahun.
Air mata mengalir di pipinya. Ia menatap langit merah.
“Dia…” Bibirnya bergetar.
“Dia akhirnya kembali.”
Gadis itu tersenyum sedih. “Kael.”
Dan di dalam kegelapan di belakangnya, terdengar suara rantai yang mulai patah.
KLANG.
Satu.
KLANG.
Dua.
KLANG.
Tiga.
Sang gadis menutup matanya. “Semoga kali ini…” Suaranya hampir seperti doa. “…kau tidak menjadi raja iblis.”
Di atas dunia, tujuh bintang yang selama tiga ratus tahun tidak pernah bersinar bersamaan mulai menyala.
Takdir telah bergerak. Dan seorang anak tanpa mana… baru saja mengambil langkah pertama menuju takhta yang seharusnya tidak pernah ada.
Daftar bab
34 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








