
Jalan Pengembangan Diri
Peterpan|Bersambung
- Jumlah kata
- 767.4K
- Popular
- 2.0K
- Subscribe
- 20
- Jumlah kata
- 767.4K
- Popular
- 2.0K
- Subscribe
- 20
Sinopsis
Raka Wiraatmaja adalah seorang kultivator legendaris yang pernah mencapai tingkat keabadian. Namun karena berbagai perbuatannya di masa lalu, ia dihukum dan terperangkap di Tebing Pembalasan Abadi, sebuah tempat yang menahan jiwa-jiwa berdosa selama ribuan tahun. Suatu hari, seorang lelaki tua misterius memberinya kesempatan untuk meninggalkan tempat itu dan memulai kehidupan baru. Saat membuka matanya kembali, Raka Wiraatmaja mendapati dirinya berada di tubuh seorang pemuda berusia 16 tahun yang juga bernama Raka Wiraatmaja, seorang murid lemah dari Sekte Teratai Mekar, sebuah sekte kultivasi yang berfokus pada teknik kultivasi ganda. Tubuh barunya hampir tidak memiliki kekuatan, reputasinya buruk, dan ia bahkan dianggap sebagai murid tak berguna oleh banyak orang di sekte tersebut. Meskipun demikian, dengan pengalaman dan pengetahuan kultivasi yang luar biasa dari kehidupan sebelumnya, Raka Wiraatmaja mulai perlahan membangun kembali kekuatannya. Ia memanfaatkan berbagai teknik kultivasi, pengetahuan medis, dan kecerdasannya untuk bertahan di dalam sekte sekaligus meningkatkan kekuatannya yang telah hilang. Di balik semua itu, Raka Wiraatmaja juga memiliki tujuan yang lebih besar: menemukan kembali para wanita dan sekutu dari kehidupan lamanya serta mengungkap misteri dunia baru tempat ia berada sekarang. Untuk mencapai hal tersebut, ia harus bangkit dari seorang murid lemah menjadi kultivator kuat yang mampu mengguncang dunia kultivasi sekali lagi.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1
Di puncak tertinggi Tebing Pembalasan Abadi, dua sosok duduk berdampingan.
Salah satunya adalah seorang lelaki tua. Dari tubuhnya terpancar aura purba yang begitu pekat hingga ruang di sekelilingnya tampak berputar dan terlipat. Di sisinya duduk seorang pemuda tampan dengan wajah luar biasa, seakan ia bukan makhluk yang seharusnya lahir di dunia ini.
Namun anehnya, pemuda itu tampak tenang. Tekanan mengerikan dari lelaki tua tersebut sama sekali tidak membuatnya terusik.
Lelaki tua itu mengamati pemuda di sampingnya dengan penuh minat.
"Anak muda," ucapnya perlahan, "dosa macam apa yang kau lakukan sampai dikurung di tempat seperti ini? Dilihat dari auramu, kau tidak tampak seperti orang yang seharusnya berada di Tebing Pembalasan Abadi."
Pemuda itu tersenyum tipis.
"Aku melakukan cukup banyak hal," jawabnya santai. "Salah satunya memakan buah terlarang ciptaan Yang Mulia, Kaisar Langit."
Begitu kalimat itu terdengar, wajah lelaki tua tersebut berubah.
Alisnya terangkat, matanya membelalak. Untuk seseorang yang telah hidup begitu lama, nyaris tidak ada hal yang mampu membuatnya kehilangan ketenangan. Namun kali ini, ia benar-benar dibuat terdiam.
"Kau... kau... kau..."
Ia menunjuk pemuda itu, tetapi kata-katanya tersangkut di tenggorokan.
Beberapa saat kemudian, lelaki tua itu akhirnya berseru, "Aku lebih heran kau masih hidup setelah melakukan hal seperti itu!"
Pemuda itu tidak menjawab. Ia hanya mempertahankan senyum tipis di wajahnya.
Keheningan berlangsung sesaat sebelum lelaki tua itu tiba-tiba meledak dalam tawa.
"Ahahaha! Aku bisa membayangkan bagaimana wajah Kaisar Langit saat mendengar kabar itu! Pasti menarik sekali!" Ia menepuk lututnya, lalu menatap pemuda itu dengan mata berbinar. "Anak muda, aku menyukaimu. Siapa namamu?"
Aura purba yang tadi menekan ruang di sekitar lelaki tua itu perlahan menghilang. Kini, penampilannya lebih mirip seorang kakek biasa yang ramah daripada sosok kuno yang menakutkan.
"Raka Wiraatmaja," jawab pemuda itu.
"Raka Wiraatmaja..." Lelaki tua itu mengulang namanya, lalu menyeringai lebar hingga memperlihatkan gigi-giginya yang menguning. "Katakan padaku, apakah kau ingin keluar dari tempat ini?"
Untuk pertama kalinya, Raka benar-benar menoleh dan memperhatikan wajah lelaki tua itu. Wajah itu dipenuhi keriput, tetapi mata tuanya memancarkan sesuatu yang tidak dapat ditebak.
"Apa gunanya keluar?" Raka berkata setelah terdiam sejenak. "Kalaupun aku bisa meninggalkan tempat ini, Kaisar Langit hanya akan semakin murka. Dibanding terus dikejar amarahnya, lebih baik aku duduk di sini sampai jiwaku membusuk."
"Bagaimana kalau aku bisa membuatmu pergi tanpa perlu takut kepada Kaisar Langit?"
Senyum lelaki tua itu belum menghilang, tetapi tatapannya mendadak menjadi jauh lebih dalam.
Raka memandang langit malam di atas mereka.
"Lalu setelah itu apa?" gumamnya. "Aku harus kembali menjalani hidup penuh dosa seperti ribuan tahun terakhir? Atau mengejar orang-orang yang dulu memfitnahku?"
"Itu urusanmu sendiri," jawab lelaki tua itu ringan.
Raka mengangkat tangannya ke arah langit. Jemarinya terbuka, seakan ingin meraih bintang-bintang yang bertaburan di atas sana.
"Kalau suatu hari aku benar-benar pergi dari tempat ini, aku akan..."
Kalimatnya terhenti.
Sesaat kemudian, ia menurunkan tangan dan tersenyum malas.
"Lupakan. Bermalas-malasan di sini sampai mati sepertinya tetap lebih cocok untukku."
Lelaki tua itu kembali tertawa.
"Kau pikir kau bisa menyembunyikan keinginanmu dari orang tua ini? Kau masih terlalu muda, anak muda." Ia berdiri perlahan. "Lagipula, makhluk abadi sepertimu ingin mati karena usia tua? Itu bahkan terdengar seperti lelucon."
Ia mengibaskan lengan bajunya.
"Hehehe... baiklah. Keinginanmu itu, akan kupenuhi."
Dalam sekejap, langit malam Tebing Pembalasan Abadi berubah.
Tempat yang sejak awal penciptaannya selalu diselimuti malam abadi tiba-tiba diterangi cahaya siang. Setiap jiwa yang menghuni tempat itu terpaku, tak percaya dengan apa yang mereka saksikan.
Raka bangkit sedikit dari duduknya. Matanya menatap lelaki tua itu dengan keterkejutan yang jarang muncul di wajahnya.
"Kau... sebenarnya siapa?"
Lelaki tua itu hanya tersenyum.
"Aku hanya lelaki tua yang tidak punya pekerjaan lain." Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan, "Oh, benar. Sebelum mengirimmu pergi, aku ingin berterima kasih atas apa yang telah kau lakukan."
"Berterima kasih kepadaku?" Raka mengerutkan kening. "Apa maksudmu dengan..."
Ia belum sempat menyelesaikan pertanyaannya.
Cahaya putih yang menyilaukan tiba-tiba menelan seluruh dunia.
Pandangan Raka lenyap sepenuhnya.
***
Rasa sakit tajam menusuk dada Raka.
Sensasinya begitu nyata, seolah sebilah pedang baru saja menembus tubuhnya dari depan.
Ia membuka mata.
Hal pertama yang dilihatnya adalah seorang pemuda tampan berdiri di hadapannya. Pemuda itu tersenyum kejam, sementara di tangannya tergenggam sebilah pedang baja.
Mereka berada di atas panggung luas. Di sekeliling panggung, puluhan pasang mata sedang menyaksikan kejadian tersebut.
"Cheh," gumam pemuda tampan itu. "Hampir saja mengenai jantungnya."
Raka menunduk.
Benar saja, sebuah pedang tertancap di dadanya.
Kesadarannya langsung menajam.
Seketika, aura mengerikan meledak dari tubuh Raka. Niat membunuh yang pekat menyapu seluruh panggung seperti gelombang tak terlihat.
Pemuda tampan di depannya memuntahkan darah. Para murid yang berdiri di sekitar panggung pun ikut tersentak dan memuntahkan darah, wajah mereka berubah pucat.
Karena berdiri paling dekat, pemuda tampan itu menerima tekanan paling besar. Tubuhnya goyah sebelum akhirnya jatuh pingsan di tempat.
Seluruh area mendadak sunyi.
Raka mengabaikan rasa sakit di dadanya. Dengan tenang, ia menggenggam gagang pedang itu dan mencabutnya dari tubuhnya sendiri.
Darah mengalir, tetapi ia tidak memedulikannya.
Yang lebih penting sekarang adalah memahami apa yang sedang terjadi.
Raka segera menelusuri ingatan tubuh ini.
Tak lama kemudian, ia menemukan sesuatu yang membuatnya sedikit terdiam.
Tubuh ini juga bernama Raka Wiraatmaja. Bahkan wajah dan bentuk tubuhnya sama persis dengan dirinya ketika masih muda.
Namun hanya itu kesamaannya.
Fondasi kultivasi tubuh ini sangat lemah jika dibandingkan dengan dirinya yang dulu. Saat ini, ia hanyalah seorang murid di Sekte Teratai Mekar.
Sekte Teratai Mekar adalah sekte yang menitikberatkan kultivasi ganda. Dengan kata lain, para kultivator pria dan wanita menggunakan hubungan seksual sebagai salah satu metode untuk meningkatkan kultivasi mereka.
Bagi Raka, semua ini terasa seolah ia kembali ke masa ketika baru memulai jalan kultivasi.
Ia terus menggali ingatan tubuh ini.
Raka Wiraatmaja sebelumnya ternyata mendekati seorang murid perempuan bernama Velia Maharani. Tindakan itu membuat pasangan Velia saat ini, Darma Satriya, tersinggung.
Darma Satriya adalah pemuda tampan yang kini terbaring pingsan di hadapan Raka.
Konflik di antara mereka akhirnya berubah menjadi pertarungan hidup dan mati di atas panggung ini.
"Apa sebenarnya yang terjadi?" pikir Raka.
Ingatan tentang lelaki tua di Tebing Pembalasan Abadi kembali muncul dalam benaknya.
Orang tua itu berkata akan membantunya pergi.
"Apakah dia mengirimku kembali ke masa lalu?" Raka berpikir cepat. "Tidak... aku tidak pernah menjadi murid Sekte Teratai Mekar. Kalau begitu, ini bukan masa laluku..."
Sebelum ia sempat menyelesaikan pikirannya, sebuah suara keras memecah keheningan.
"Semua orang, berhenti!"
Seorang pria paruh baya melompat ke atas panggung. Wajahnya tampak muram saat melihat Raka yang berdarah dan Darma yang tidak sadarkan diri.
"Siapa yang memberi kalian izin untuk mengadakan pertarungan hidup dan mati hari ini?" bentaknya. "Pergi dari sini sebelum aku memanggil pasukan disiplin!"
"Ya, Tetua Yuda!"
Para murid di sekitar panggung langsung bubar. Tidak ada yang berani tinggal lebih lama.
Dalam waktu singkat, hanya Raka, Darma, dan pria paruh baya itu yang tersisa di atas panggung.
Raka memutuskan untuk pergi lebih dulu. Ada terlalu banyak hal yang harus ia pahami, dan tempat ini bukan tempat yang tepat untuk berpikir.
Namun sebelum ia turun dari panggung, Tetua Yuda menoleh ke arahnya.
"Siapa namamu?"
"Raka Wiraatmaja," jawab Raka tenang.
Tetua Yuda mengangguk tanpa bertanya lebih jauh. Ia lalu mengangkat Darma Satriya yang masih pingsan dan membawanya pergi.
Raka pun meninggalkan panggung.
Sambil berjalan, ia kembali menelusuri ingatan tubuh ini, mencari jalan menuju tempat tinggalnya.
Daftar bab
822 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
822 bab








