

Pukul 02.14 WIB. Yono mendadak terbangun dari tidurnya. Sanubarinya terusik bukan oleh suara petir atau deru angin malam, melainkan oleh nada suara yang sangat familier dari balik dinding —nada suara penuh keputusasaan dan amarah yang ditahan.
Suara itu datang dari ruang tengah rumah.
"Kamu pikir beras bisa turun sendiri dari langit, Mas?"
"Token listrik sudah bunyi dari kemarin sore!"
"Mau makan apa kita besok?" Suara Ibu terdengar serak, menahan tangis yang membendung di tenggorokan.
Ia berusaha menjaga agar volumenya tidak melengking, tetapi getaran dalam nadanya menunjukkan bahwa wanita itu berada di puncak batas kesabarannya.
"Ya kamu kira aku cuma diam saja?!" balas Bapak.
Suaranya tak kalah tertahan, berat oleh beban frustrasi yang meremukkan harga dirinya sebagai kepala keluarga.
"Aku ini sudah muter-muter cari pinjaman dari pagi sampai malam!"
"Teman-temanku juga lagi pada susah."
"Kamu jangan cuma bisa menyalahkan terus,!"
"Kamu pikir aku mau keadaan kita jadi seperti ini?" suara Bapak Yono terdengar sangat frustasi.
"Siapa yang menyalahkan?"
"Aku cuma minta kepastian, Mas!"
"Kita mau bertahan hidup pakai apa?" sergah Ibu, suara gesekan piring beradu dengan meja kayu terdengar kasar.
Yono membeku di balik selimut.
Matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar yang temaram.
Setiap patah kata yang diucapkan orang tuanya meluncur bagaikan sembilu yang menyayat dadanya tanpa ampun.
Tiga bulan lalu, pabrik tekstil tempat Bapak Yono bekerja selama belasan tahun melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal akibat krisis finansial perusahaan.
Sejak hari kelam itu, rumah di pinggiran kota industri ini berubah menjadi arena pertempuran dingin.
Kehangatan keluarga perlahan luntur, berganti dengan aroma ketakutan akan hari esok.
Yono membalikkan badannya ke sisi kiri, menutupi telinganya erat-erat dengan bantal.
Ia mencoba memejamkan mata, memohon pada kantuk agar membebaskannya dari kenyataan pahit malam ini.
Gelisah.
Jantungnya berdegup kencang menabuh dada.
Sebagai pemuda yang baru saja mengantongi ijazah SMA dua bulan lalu, rasa bersalah menggerogoti jiwanya.
Yono merasa dirinya adalah beban tambahan.
Sejak merayakan kelulusannya, ia tidak pernah tinggal diam.
Berbekal map-map cokelat berisi lembaran fotokopi ijazah, SKCK, dan surat lamaran kerja yang ditulis tangan dengan rapi, Yono telah mengendarai sepeda motornya menembus debu kawasan industri.
Ia mendatangi puluhan tempat: pabrik sepatu, pabrik pengolahan plastik, pergudangan, hingga toko-toko kelontong besar di pusat kota.
Namun, hasilnya selalu sama.
Sebagian besar pos satpam tempat ia menitipkan berkas hanya memberikan jawaban dingin,
"Nanti kalau ada panggilan dihubungi."
Panggilan itu tidak pernah datang.
Di beberapa tempat lain, ratusan pelamar kerja berdesakan memperebutkan belasan posisi kosong, memupuskan harapannya sebelum tes bahkan dimulai.
Setiap kali Yono pulang ke rumah dengan tangan hampa di sore hari, tatapan penuh harapan dari Ibunya perlahan redup, berganti menjadi hening yang menyiksa.
Di ruang tengah, pertengkaran itu berlanjut semakin memanas meski tetap dijaga agar tidak terdengar oleh tetangga kanan-kiri.
"Harusnya Yono itu segera dapat kerjaan!" desis Ibu, suaranya kini terdengar seperti bisikan beracun.
"Anak tetangga sebelah saja begitu lulus langsung bisa masuk pabrik kabel. Yono itu kenapa lambat sekali?"
"Jangan menyalahkan anakmu!" tegur Bapak dengan nada memotong.
"Cari kerja zaman sekarang tidak gampang."
"Kamu tahu sendiri orang harus bayar calo jutaan rupiah cuma buat masuk jadi buruh kontrak. Kita punya uang dari mana buat bayar calo?"
Kalimat Bapak memukul Yono lebih keras dari apa pun.
Ia meremas kain bantalnya.
Rasa tak berguna melingkupi dadanya hingga terasa sesak.
Keringat dingin menetes dari pelipisnya, meluncur melewati pipinya.
Kipas angin yang berderit nyaring hanya memutar udara panas malam, tak sedikit pun mendinginkan hatinya yang membara oleh rasa putus asa.
Berjam-jam Yono bertarung dengan pikirannya sendiri dalam kegelapan.
Ia berbalik ke kanan, memeluk guling, lalu berbalik lagi melentang.
Bayangan wajah orang tuanya yang makin menua, kerutan di dahi Bapak yang kian dalam, serta mata Ibu yang sembap oleh air mata terus menghantuinya.
Pertengkaran di luar akhirnya mereda sekitar pukul empat pagi, berganti dengan keheningan yang lebih berat—keheningan orang-orang yang menyerah pada nasib.
Baru menjelang fajar, rasa lelah yang luar biasa menundukkan kesadaran Yono. Ia tertidur, namun bukan tidur yang menyegarkan, melainkan tidur tipis yang dipenuhi mimpi buruk tentang surat lamaran kerja yang terbakar.
***
Pagi menyapa dengan cahaya matahari yang menembus celah ventilasi kamar, membawa serta debu-debu halus yang melayang di udara.
Namun, terang pagi tidak mampu mengusir kegelapan yang mengendap di dalam hati Yono.
Ketika matanya terbuka, kepala bagian belakangnya berdenyut nyeri.
Tubuhnya serasa remuk, seolah-olah ia baru saja memindahkan sekeranjang batu sepanjang malam.
Yono tidak langsung bangkit. Ia terduduk di tepi ranjangnya.
Ia menyandarkan punggung pada dinding kamar.
Dari balik pintu kamarnya yang tertutup rapat, suasana rumah terasa sangat sepi.
Tidak ada suara denting penggorengan di dapur seperti biasanya, tidak ada aroma kopi manis yang biasa diseduh Bapak.
Keheningan itu begitu canggung dan menekan—sebuah pertanda bahwa sisa-sisa amarah dan rasa frustrasi semalam masih belum menguap.
Yono merasa gentar.
Ia takut untuk membuka pintu, takut menatap mata Ibunya, dan lebih takut lagi jika Bapaknya menatapnya dengan pandangan kasihan.
Dengan jemari yang terasa lemas dan agak gemetar, Yono meraih ponselnya yang tergeletak di atas bantal.
Layar menyala, menampilkan antarmuka yang bersih dari pemberitahuan.
Tidak ada email masuk dari HRD perusahaan mana pun.
Tidak ada pesan WhatsApp dari nomor asing yang membawa berita baik.
Tanpa tujuan yang jelas, sekadar untuk mengalihkan pikiran dari rasa lapar dan depresi yang makin menggerogoti, ibu jari Yono mulai menggeser layar.
Ia membuka aplikasi TikTok.
Layar ponselnya berganti-ganti menampilkan klip-klip singkat: video komedi yang tidak membuatnya tersenyum, potongan film aksi, hingga tarian tren terbaru yang terasa begitu asing dan tidak relevan dengan penderitaannya.
Yono menggeser layar terus-menerus dengan tatapan kosong.
Hingga akhirnya, algoritma media sosial yang misterius menyajikan sebuah konten yang membuat ibu jarinya terhenti seketika.
Sebuah video dengan efek visual yang agak gelap dan latar suara musik gending Jawa yang bernuansa mistis mendadak berputar.
Teks tebal berwarna merah dan kuning terpampang menyolok di bagian tengah video:
"RITUAL PESUGIHAN GUNUNG KEMUKUS: JALAN PINTAS KEKAYAAN DAN SYARAT RITUAL MISTERIUS."
Mata Yono yang semula sayu membelalak. Tatapannya terkunci pada layar berukuran lima inci itu.
Video tersebut memperlihatkan pemandangan malam hari di sebuah kawasan perbukitan.
Tampak bayangan pohon-pohon tua yang rindang, nyala lilin yang menari-nari ditiup angin malam, asap kemenyan yang membumbung tipis dari pedamaran, serta kerumunan orang yang berjalan menyusuri tangga batu menuju bangunan makam keramat Pangeran Samodro.
Narator dalam video itu berbicara dengan nada suara yang berat, tenang, namun sarat akan daya pikat yang membahayakan.
Ia menjelaskan tentang sejarah tempat tersebut, tentang bagaimana ribuan orang dari berbagai penjuru tanah air rela datang berbondong-bondong untuk mengubah garis nasib mereka.
Narator itu mengulas latar belakang tempat ritual tersebut—sebuah lokasi yang konon menuntut para peziarah atau pelaku ritual untuk melakukan ikrar tertentu, perjanjian mistis, bahkan ritual-ritual khusus yang menantang norma demi mendapatkan kelancaran rejeki, kekayaan melimpah, dan kemudahan finansial tanpa batas.
Narator menyebutkan bahwa bagi mereka yang sudah berada di titik terendah dalam hidup, ketika dunia nyata menutup semua pintu kesempatan dan utang makin meremukkan tulang, tempat ini sering dianggap sebagai tempat pelarian terakhir untuk membalikkan keadaan.