
The Cursed Husband
Agni Maheśvara|Tamat
- Jumlah kata
- 117.0K
- Popular
- 707
- Subscribe
- 120
- Jumlah kata
- 117.0K
- Popular
- 707
- Subscribe
- 120
Sinopsis
Julian tidak pernah memiliki kriteria macam-macam untuk mencari seorang istri. Ia hanya butuh pendamping seumur hidupnya, yang mengerti dirinya dan dunianya. Bahkan Julian tidak mensyaratkan calon istrinya kelak harus pintar memasak. Kemudian Julian bertemu Mara, seorang wanita yang terlihat sederhana dan manis di mata Julian. Tidak pernah tebersit di pikiran Julian bahwa Mara akan berbuat aneh atau di luar kewajaran. Julian terlambat menyadari walau sudah diberi peringatan oleh Jagat, sahabatnya sejak SMP. Jagat tak pernah menyangka Julian akan terjebak sejauh itu oleh Mara. Ada apa dengan Julian? Siapa Mara sebenarnya? Mengapa Jagat tidak bisa menyelamatkan Julian, padahal dia mampu? Bagaimana nasib Julian selanjutnya? Ikutilah kisah Julian dan perjuangannya bersama Jagat dalam menghadapi Mara di sini!
Ulasan
1 ulasan
Aulia Hazuki
10/7/25 17:50
Halo kak keren idenya🙏❤️. Kalau berkenan mampir balik dan subscribe di ceritaku "Rumah Laba-laba" ya Kak terima kasih sebelumnya 🙏
Bab 1. Hati-Hati, Julian
Semester ganjil tahun 2016, ketika dunia masih baik-baik saja bagi Julian.
Cuaca di Bekasi siang ini lumayan terik. Julian baru saja selesai makan siang bersama teman-teman seruangan kantornya di kantin gedung tempat mereka bekerja. Panasnya Bekasi membuat mereka malas untuk pergi mencari makan terlalu jauh.
Di saat teman-temannya hendak kembali ke ruangan, Julian menyuruh mereka untuk pergi duluan tanpa dirinya. Julian masih ingin menghabiskan sebatang rokok sebelum kembali bekerja.
Julian berjalan santai menuju pos parkir dan duduk di bangku panjang. Ia mengisap rokoknya sambil memperhatikan orang lalu lalang dari dan menuju kantin.
“Eh, Pak Jul! Belum naik? Udah mau rapat lagi, nih!” sapa seorang rekan beda divisi menyapa Julian.
“Ntar! Sebat dulu dikit, lah. Nanti juga gue nyusul,” sahut Julian tersenyum tipis.
“Siap. Saya duluan, ya, Pak Jul,” ujar si rekan kerja itu sambil meninggalkan Julian.
Julian mengangguk dan melambaikan tangan kirinya.
“Hai, Julian. Sendirian aja. Pulang kerja kita ngopi, nggak, nih?” sapa seorang gadis manis dari kantor beda lantai menyapa Julian dengan pandangan menggoda.
“Aih, diajak ngopi lagi sama si Cantik. Mau, dong. Yuk? Ngopi di mana ntar sore, Bil?” Julian tersenyum senang melihat Nabila mendekatinya.
“Kafe biasa ajalah, Jul. Yang gampang dan aku suka menunya,” ujar Nabila kenes.
“Oh, iya. Boleh. Berdua aja, kan?” tanya Julian penuh harap.
“Ih, jangan. Kalo berdua, bisa lanjut sampe malem,” tolak Nabila tersenyum manja.
“Boleh, dong, sampe malem juga,” goda Julian.
“Jangan, Jul. Nggak sekarang, ya. Aku lagi libur,” ujar Nabila memberi kode.
“Ah, Nggak seru. Ya, udah. Aku ajak Jagat, deh. Daripada berdua bikin aku nggak tahan deket-deket kamu,” ujar Julian cemberut sambil menyebut nama sahabatnya.
“Boleh. Ajak aja dia. Double date lagi, nih?” Nabila mendekatkan wajahnya kepada Julian dan jemarinya memainkan telinga kiri pria bertato mawar di punggungnya itu.
“Tentu, Manis! Double date itu seru ngobrolnya,” jawab Julian mengedipkan matanya. “Sana! Kerja lagi! Bosmu itu galak!” Julian menepuk bokong Nabila hingga gadis itu terkejut.
“Aw!” Nabila melotot. Ia bergegas pergi sebelum Julian bertindak lebih jauh. Ia tahu Julian bisa nekat menciumnya di depan umum. Padahal mereka bukan sepasang kekasih.
Julian tertawa. Rokoknya sudah habis. Ia membuang puntungnya ke tempat sampah dan berjalan menuju lift di sebelah musala.
***
Rapat seharian ini membuat Julian agak penat. Apalagi sekarang dia harus rapat di kantor Jakarta. Panasnya suhu Jakarta mungkin masih bisa dia terima. Namun siang ini rasanya aneh.
Julian disuruh oleh direkturnya untuk mengikuti rapat di kantor pusat perusahaan di Sudirman Jakarta. Julian terpaksa memberi tahu Nabila jika ia harus ke Jakarta dan jadwal ngopi harus ditunda.
Tengkuk Julian berkali-kali merasa tidak nyaman dan sedikit bergidik. Beberapa kali bulu kuduknya berdiri dan Julian yakin hal ini tidak biasa. Ada yang membuatnya tak nyaman, tapi Julian tidak tahu penyebabnya.
Julian berusaha tidak peduli dan menghalau keanehan yang mengusiknya dengan mengingat janji ngopi bareng dengan Nabila dan Jagat yang baru saja ia batalkan. Ia juga mencoba memperhatikan seluruh peserta rapat dan mencari tahu, apakah ada orang yang sengaja menganggunya tanpa terlihat?
“Pak Julian, coba saya minta hasil penjualan pekan lalu di pameran itu,” ujar Pak Dadang dengan nada perintah mengejutkan Julian. “Tadi keburu makan siang, jadi nggak sempet nyuruh kamu laporan.”
Direktur Pemasaran kantor Julian itu terkenal sadis untuk urusan angka terkait laporan penjualan, tetapi sangat baik saat mentraktir anak buahnya.
“Oh, ya. Siap, Pak. Sudah ada,” jawab Julian cepat.
“Oke. Laporkan,” ujar Pak Dadang dingin.
Julian mengangguk dan mulai bersiap melakukan presentasi terkait penjualan sepatu dan sandal di beberapa pusat perbelanjaan, termasuk yang dipromosikan di marketplace selama seminggu terakhir.
Selesai melakukan presentasi, Julian meminta izin ke toilet. Pak Dadang mengangguk dan menyilakan Julian.
Di toilet, Julian menarik napas panjang dan membasahi wajahnya sambil menatap kaca. Jantungnya berdebar kencang. Napasnya pun menjadi tersengal. Hatinya tak nyaman dan pikirannya agak panik.
Julian mengelap mulutnya. Ia menumpukan kedua telapak tangannya di atas meja marmer dan kepalanya menunduk. Ia sama sekali tidak mengerti, mengapa dirinya seperti habis berlari maraton?
‘Kenapa hawa di sini jadi panas, gini? AC mati?’ Julian membatin bingung. Namun ia tetap menunduk, alih-alih melihat ke langit-langit.
Di urinoir paling pojok, ada seorang bapak yang baru selesai membuang hajatnya. Ia berjalan mendekati wastafel dan mencuci kedua tangannya.
Julian mengerutkan keningnya dan badannya merasa tidak nyaman. Ia menengadah dan melihat ke arah kiri kaca. Bapak tua itu ternyata sedang memperhatikannya. Julian terkejut.
“Kamu sakit, anak muda? Wajahmu pucat,” tanya si bapak itu dengan suara seraknya.
Julian menggelengkan kepalanya cepat.
Bapak tua itu menarik selembar tisu dan mengeringkan kedua tangannya, lalu membuang tisunya ke tempat sampah. Ia berjalan mendekati Julian dan menepuk pundaknya. “Hati-hati,” ujarnya pelan.
Julian terkejut lagi.
Pria tua bertubuh pendek itu keluar dari toilet meninggalkan tanda tanya besar di pikiran Julian. Seketika, toilet terasa lebih ringan dan kembali nyaman dengan sejuknya pendingin ruangan.
“Tadi itu … Tadi itu siapa?” gumam Julian tidak mengerti. “Rasanya baru liat. Emang kerja di sini? Mana bisa kerja di sini pake batu akik sebanyak itu di tangan? Serem amat lagi, tuh, mukanya.”
Seorang rekan kerjanya membuka pintu toilet dan melihat wajah Julian tampak kebingungan.
“Elu kayak abis kesambet kunti aje. Nape lu?” tanya pemuda beralis tebal itu heran.
Julian menggelengkan kepalanya dan bergegas keluar dari toilet tanpa menjawab pertanyaan itu. Ia merasa pengap sekaligus cemas.
Selesai rapat, Julian bekerja di ruang divisi pemasaran dan membuka layar komputer di hadapannya. Ia mengeklik laman marketplace perusahaannya yang sedang melakukan promo. Selain banyaknya notifikasi check out, Julian juga mengecek jumlah stok barang yang tersisa.
Julian tidak menggubris perasaan aneh yang mengganggunya selepas makan siang. Ia hanya ingin cepat pulang agar bisa bertemu Nabila dan Jagat. Hari ini sudah cukup membuat dirinya penat.
“Pak Jul, tolong cek ini,” ujar seorang anak buahnya yang datang mendekati mejanya.
Julian mengambil tablet yang dipegang anak buahnya dan di layar terlihat seorang konsumen mengomel di kolom pesan.
“Nggak profesional banget! Saya udah mau pesen nomor 36! Taunya pas cekot, malah kosong! Sekarang, semua model dan warna kosong! Adanya nomer gede semua! Kalo nggak niat jualan, tutup aja tokonya! Mana adminnya nggak profesional! Nggak bisa minta kembali dana cepet-cepet! Gimana, sih?”
Julian mengerutkan keningnya. Ia melihat ke layar komputernya. Stok sepatu ukuran 36 masih ada 133 pasang. Mengapa konsumen tersebut marah-marah? Apakah aplikasinya yang bermasalah?
“Coba cek lagi, yang error itu hape dia, aplikasi dia, atau dari pihak kita? Jangan sampe kejadian lagi. Apa ini kasus baru pertama? Untuk hari ini?” Julian bertanya kepada anak buahnya sambil menyerahkan kembali tabletnya.
“Iya, Pak. Ini pertama. Malah dalam empat hari terakhir, nggak ada yang komplen soal stok. Paling banyak cuman tanya model dan warna sama pilihan pengiriman. Ini doang yang ribet,” ujar anak buah Julian dengan bibir manyun.
“Iya, udah. Nggak masalah. Soal refund itu bukannya sistem dari aplikasi? Kenapa dia ngomel minta kembali dana buru-buru? Maksudnya minta ditransfer ke rekening, nih, pasti. Kayaknya saya baru ngeh, deh. Ini semacam penipuan atau scam gitu, ya? Pura-pura gagal pesan?” Julian tersenyum geli.
“Nah! Sepertinya demikian, Pak!” gadis berambut keriting itu bersemangat menyetujui analisis Julian.
Julian tertawa. “Udah, sana cek dulu. Abaikan aja kalo dia marah-marah terus. Mau kasih bintang satu juga bodo amat, lah. Kita belum pernah ada masalah juga, kan? Ada-ada aja hari ini. Mana udah sore.”
Gadis periang itu mengangguk setuju. Ia kembali duduk di kursinya dan mulai mengecek pesan dari konsumen lain.
“Eh, Tantri! Siapa tadi namanya? Itu, yang tadi ngomel keabisan nomer 36,” tanya Julian penasaran.
“Nama akunnya susah disebut. Tapi display name dia Mara Zilla,” jawab si anak buah sambil menoleh ke arah meja Julian.
“Oke, makasih,” Julian tersenyum.
'Mara Zilla. Apa emang hobinya marah-marah?' Julian membatin bingung. 'Ada-ada aja manusia kayak gitu. Konsumen antik.'
Julian menggelengkan kepalanya, mencoba kembali fokus untuk mengecek pekerjaannya lagi. Namun ia kembali merasa bergidik. Ia mengusap tengkuknya dan mengerjapkan matanya.
Tiba-tiba, Julian teringat bapak tua yang ditemuinya di toilet tadi. Apakah ada hubungannya dengan perasaan tidak nyaman yang mengganggu Julian?
Entah mengapa, Julian kembali terdistraksi dengan konsumen yang marah-marah di aplikasi marketplace tadi. Adakah hubungannya antara si bapak dan konsumen itu?
Julian menggelengkan kepalanya. 'Nggak mungkin ada hubungannya. Gue aja yang keburu butek sama rapat seharian. Jam pulang masih setengah jam lagi. Hhhhh …' Ia mencoba kembali fokus bekerja.
Namun nyatanya, benak Julian tetap tak bisa lepas dari bayangan bapak tua di toilet dan protes konsumen bernama Mara. Pikirannya sudah tidak fokus bekerja bukan semata tetap ingin segera ke kafe, tapi …
'Siapa mereka berdua? Mengapa aku terus terganggu?'
***bersambung***
Daftar bab
100 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
100 bab








