
- Jumlah kata
- 76.3K
- Popular
- 5.3K
- Subscribe
- 459
Sinopsis
Jono, seorang kuli bangunan miskin dari desa, harus menelan kepahitan setelah cintanya ditolak mentah mentah dan dihina oleh Sri, kembang desa setempat. Dalam keputusasaan dan rasa sakit hati yang mendalam, Jono menemukan sebuah batu merah misterius berkilau di dasar sungai belakang rumahnya. Tanpa disangka, batu tersebut menyimpan kekuatan gaib dan dihuni oleh Aruna, sosok wanita anggun bermahkota dari alam spiritual. Mengubah nasib sang pemuda, batu mistis ini memberikan Jono aura pemikat luar biasa yang mampu meluluhkan hati para wanita dari berbagai kalangan, membawanya dari seorang kuli tak dipandang menjadi pria yang diperebutkan.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1. Takdir
Jono. Pemuda 22 tahun itu mengusap keringat di dahinya menggunakan kaos oblong hitamnya yang bolong bolong di bagian bahunya. Kaos yang dulunya berwarna hitam pekat, namun karena sering terkena sinar matahari dan sabun murahan membuat warnanya berubah menjadi abu abu kusam.
"Jon! Ini angkat semen lima sak lagi ke belakang! Jangan melamun aja, nanti roboh itu cor coran!" teriak Pak Rt yang bertindak sebagai mandor proyek.
"Siap Pak Mandor!" sahut Jono dengan suara serak.
Bau semen basah, debu pasir berterbangan dan dentang adukan sekop sudah menjadi makanan sehari hari Jono.
Tangan kasar Jono yang penuh kapalan dan guratan bekas gesekan batu bata sudah menyatu dengan kulitnya.
Seharian ini Jono belum makan, ia hanya mengganjal perutnya dengan dua pisang goreng dan air putih yang ia bawa dari rumah dengan botol air mineral bekas.
Namun, rasa lelah yang meremukan tulang tulangnya itu mendadak hilang setiap kali pikirannya melayang pada sosok wanita yang beberapa bulan terakhir mengisi pikirannya.
Sri kembang desa paling cantik di Delima, kulitnya bersih, matanya bulat berbinar, dan kalau tersenyum lesung pipi sebelah kiri bisa membuat pemuda manapun lupa jalan pulang.
Jono sadar betul siapa dirinya. Ia hanya anak yatim piatu yang tinggal di rumah gedeg di ujung desa. Sedangkan Sri anak tunggal Pak Salman, juragan beras terbesar di desanya.
Hari ini, Jono merasa memiliki sedikit keberanian, selama tiga bulan terakhir, Jono menyisihkan uang hasil bekerjanya untuk membeli cincin perak tipis di pasar kecamatan.
Sekitar jam lima sore, lonceng tanda selesai bekerja berbunyi. Jono buru buru membasuh mukanya dan membasuh tangannya di toilet dekat proyek, ia menyisir rambutnya dengan jari jari tangan.
Setelah merasa cukup, Jono berjalan cepat menuju jalan di dekat balai desa, dimana Sri sering lewat setelah pulang dari toko ayahnya.
Benar saja, tak berselang lama dari ke jauhan sosok Sri terlihat berjalan. Jono mengatur nafasnya, jantungnya berdetak lebih cepat di bandingkan dirinya memanggul semen tiga sak sekaligus.
"Sri..." panggil Jono menghentikan langkah wanita di depannya.
Sri menghentikan langkahnya, dahinya yang mulus mendadak berkerut. Ia menatap Jono dari ujung rambut sampai sandalnya yang sudah tipis sebelah. "Ada apa, Jon? Tumben cegat cegat? Aku mau pulang, sudah sore!"
Jono menarik nafas panjang, tangannya mengambil kotak merah dari saku celana. Dengan tangan gemetar, ia membuka kotak merah yang berisi cincin perak.
"Sri... aku sudah lama memperhatikanmu. Aku tau aku hanya orang kecil, cuma kuli bangunan. Tapi aku sungguh sungguh suka sama kamu. Kalau kamu mau, aku berniat melamar secara baik baik ke rumah Pak Salman bulan depan. Ini... ini tanda keseriusanku," ucap Jono polos, matanya menatap Sri penuh harap.
Bukannya tersentuh, wajah Sri berubah menjadi masam. Matanya melotot tajam, menatap cincin lalu pindah ke wajah Jono.
"Kamu gila ya, Jon!" suara Sri melengking, membuat dua orang pemuda yang sedang duduk di pos ronda menoleh ke arah mereka berdua.
"Sri, tolong..." ucap Jono sangat lirih.
"Tolong apa, hah!" Sri melangkah mendekati Jono, jarinya menunjuk ke dada pria di depannya. "Kamu ngaca dulu, Jon! Kamu itu cuma kuli bangunan! Buat makan besok aja masih susah, kok berani beraninya melamar aku! Kamu mau kasih aku makan apa? Nasi sama garam? Atau kamu mau ajak aku tinggal di rumah gedegmu yang reot itu!"
Dua pemuda di pos ronda tertawa terbahak bahak, mereka bersiul dan mengolok olok Jono.
"Ingat ya, Jon! Sampai kapanpun, wanita seperti aku gak akan pernah sudi sama laki laki miskin, kusam, dan gak punya masa depan kayak kamu. Cincin murahan begini bahkan gak cukup buat beli bedak aku! Jangan pernah temui aku lagi, bikin malu aja!"
Sri menghentakan kakinya dan meninggalkan Jono yang terdiam di tempat. Kata kata Sri menancap di dalam dada Jono yang menyayat hatinya berulang kali. Kotak di tangannya terlepas, jatuh ke aspal.
Jono meremas dadanya yang sesak. Wajahnya memerah bukan karena marah, melainkan rasa malu dan sakit hati yang membakar seluruh tubuhnya.
Tanpa memungut cincinya yang jatuh, Jono berbalik arah dan lari sekuat tenaga. Ia tidak pulang ke rumahnya, Jono terus berlari menembus rimbunnya pohon bambu di belakang rumahnya.
Jono menuju sungai kecil yang berada di balik pohon bambu. Sungai itu sepi, di kelilingi pohon pohon bambu dan batu batu besar.
Napas Jono terengah engah saat sampai di sungai, ia melompat ke batu besar dan berteriak sekuat tenaga.
"Kenapa?! Kenapa kalau orang miskin selalu di anggap sampah!" jerit Jono.
Air matanya menetes, jatuh membasahi permukaan batu tempatnya duduk. Angin malam yang dingin menembus baju tipis Jono.
Jono menunduk, menatap aliran air sungai yang nampak gelap. Dalam kegelapan itu, matanya menatap sesuatu yang aneh. Di dalam air dangkal tak jauh dari kakinya, ada kilatan cahaya merah redup.
Jono turun dari batu besar dan melangkah ke dalam air yang dingin, jarinya menyentuh sebuah benda padat berbentuk oval. Batu itu tidak seperti batu biasa, permukaannya licin dan warnanya merah seperti ada api yang menyala.
"Batu apa ini?" gumam Jono.
Saat jemarinya mengusap permukaan batu itu, rasa hangat perlahan mengalir ke telapak tangannya.
"Bentuknya unik sekali, warnanya juga aneh... Kalau aku jual ke kolektor langka di kota, mungkin harganya bisa mahal. Bisa buat modal usaha, supaya aku gak di hina jadi kuli lagi," pikir Jono.
Tiba tiba udara di sekitar merosot tajam. Angin malam yang tadinya berhembus pelan mendadak berhenti.
Batu merah di tangan Jono bergetar, cahaya merah terang menyilaukan mata. Jono hampir saja menjatuhkan batu karena kaget.
"Waduh, kenapa batu ini?" Jono panik.
Dari dalam gumpalan asap merah itu, sebuah bayangan tubuh manusia perlahan lahan terbentuk. Gumpalan asap itu makin lama makin padat, membentuk siluet seorang wanita bertubuh sangat indah.
Pakaian kemben putih bertabur benang emas menyelimuti lekuk tubuhnya yang sempurna. Di atas kepalanya, sebuah mahkota kecil berukir rumit tampak berkilau diterpa cahaya mistis.
Saat asap itu benar benar sirna, sesosok wanita yang sangat cantik jelita melayang anggun beberapa senti di atas air sungai. Rambut hitam pekatnya yang panjang terurai indah meliuk liuk di udara seolah tertiup angin.
Wanita itu perlahan membuka matanya. Ia menatap Jono yang terduduk gemetar di pinggir sungai. Sebuah senyuman manis dan sangat menggoda terukir di bibirnya yang merah merona. Kulitnya putih bersih, belahan dua bukit kembarnya menyembul keluar, dan matanya berwarna merah maroon yang memancarkan daya pikat luar biasa.
"Akhirnya..." suara wanita itu terdengar sangat merdu. "Setelah ribuan tahun terkurung, ada juga pria berdarah murni yang berhasil membangunkanku."
"Si... Siapa kamu? Setan?" gagap Jono.
Wanita itu mendekati Jono, ia membungkukan tubuhnya, wajahnya sejajar dengan wajah Jono. Dari jarak dekat, Jono bisa melihat betapa sempurnanya tiap senti wajah wanita di depannya bahkan seribu kali lebih cantik daripada Sri atau wanita yang pernah ia lihat.
"Jangan takut, namaku Aruna penjaga mustika penakluk," ucap Aruna, kulitnya yang halus menyentuh dagu Jono.
"Mustika penakluk?" ulang Jono.
"Benar... Batu yang kau genggam itu bukanlah batu biasa yang bisa kau jual dengan harga murah, batu itu pusaka kuno yang memilih pemiliknya berdasarkan rasa sakit. Aku merasakan kepedihan yang luar biasa di dadamu, kamu habis di hina oleh wanita, kan?" Aruna tersenyum, matanya berkilat penuh misteri.
Daftar bab
71 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








