

Langit sore itu mendung, seolah ikut berduka saat gundukan tanah merah di pemakaman umum itu masih basah. Kadrun berdiri mematung, menatap nisan kayu istrinya yang baru saja tertancap. Suasana sepi, hanya menyisakan aroma bunga kamboja dan isak tangis tertahan dari Rara yang bersimpuh di sampingnya. Kepergian istrinya yang mendadak karena sakit jantung menyisakan lubang besar di hati Kadrun, sekaligus sebuah tanggung jawab berat: menjaga anak tirinya yang kini tumbuh menjadi gadis yang sangat rupawan.
"Pak, ayo pulang. Sudah mau maghrib," ajak Rara sambil berdiri.
Kadrun menoleh. Ia terpana sejenak. Rara mengenakan gamis hitam yang pas di badan, menonjolkan bentuk tubuhnya yang sintal dan tinggi semampai. Wajahnya yang sembab tanpa riasan justru memancarkan kecantikan alami yang luar biasa. Kulitnya yang putih bersih tampak kontras dengan kerudung hitamnya. Kadrun berdehem, mencoba membuang pikiran yang tiba-tiba melintas di kepalanya.
"Iya, Ra. Ayo. Kamu kuat ya, nak," kata Kadrun sambil menepuk pundak Rara pelan.
Sesampainya di rumah, suasana terasa sangat sunyi. Kadrun duduk di ruang tamu sambil mengipas-ngipas lehernya yang gempal. Ia melihat Rara berjalan menuju dapur. Daster rumahannya yang tipis—karena cuaca memang sangat gerah—memperlihatkan lekuk punggung dan pinggulnya yang menggoda saat ia berjalan.
"Pak, mau minum apa? Kopi atau teh?" teriak Rara dari dapur.
"Kopi saja, Ra. Yang pahit, sepahit kenyataan hidup ini," jawab Kadrun sok puitis padahal sebenarnya ia hanya haus.
Tak lama, Rara datang membawa cangkir. Ia membungkuk untuk meletakkan kopi di meja, membuat belahan dasternya sedikit terbuka. Kadrun langsung membuang muka ke arah cicak di dinding.
"Kenapa, Pak? Kok lihat cicak terus? Cicaknya lebih ganteng dari Rara?" canda Rara sambil duduk di sofa seberang.
"Eh, enggak. Itu... cicaknya lagi berantem, seru," dalih Kadrun. "Ra, kamu jangan pakai baju begini terus di depan bapak. Kamu kan sudah besar."
Rara cemberut, bibirnya yang merah merekah itu maju beberapa senti. "Lho, biasanya juga begini, Pak. Lagian ini kan rumah sendiri. Panas tahu! Masa Rara harus pakai jaket?"
"Ya bukan gitu... Bapak kan laki-laki normal, Ra," gumam Kadrun pelan sekali.
"Bapak ngomong apa?"
"Enggak, bapak bilang cicaknya menang yang buntut pendek!" sahut Kadrun cepat.
Malam semakin larut. Kadrun mencoba memejamkan mata di kamarnya, tapi bayangan Rara yang sedang menyapu tadi sore terus menari-nari. Ia teringat bagaimana keringat membasahi leher jenjang Rara yang putih. Kadrun langsung bangun dan melakukan push-up.
"Satu... dua... Astaghfirullah... tiga... empat... Rara itu anakmu, Drun! Eh, anak tiri sih, tapi tetep aja!" Kadrun bicara sendiri sambil ngos-ngosan. Perut buncitnya menyentuh lantai setiap kali ia turun.
Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. "Pak? Bapak belum tidur? Kok ada suara gaduh?"
Kadrun membuka pintu. Rara berdiri di sana dengan rambut panjangnya yang terurai indah, hanya mengenakan kaos oblong tipis dan celana pendek gemas. "Bapak lagi apa?"
"Lagi... lagi cari kecoak, Ra! Tadi ada yang terbang masuk ke sini," jawab Kadrun bohong lagi. Matanya tak sengaja melirik paha Rara yang putih mulus terkena cahaya lampu koridor.
"Bapak aneh deh sejak Ibu nggak ada. Mau Rara temenin ngobrol di dalam?" tanya Rara polos.
"JANGAN! Eh, maksud bapak, jangan sekarang. Bapak mau tidur. Kamu juga tidur sana, jangan keluyuran pakai baju kurang bahan begitu, nanti masuk angin!" Kadrun langsung menutup pintu dengan cepat.
Ia bersandar di balik pintu, jantungnya berdegup kencang melebihi suara mesin parut kelapa di pasar. "Duh Gusti... kuatkan iman Kadrun. Jangan sampai jengkol berubah jadi durian runtuh."
Esok paginya, Kadrun mencoba bersikap biasa saja. Ia melihat Rara sedang menyiram tanaman di halaman depan. Rara mengenakan tank top ketat yang membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas dari balik pagar. Kadrun yang sedang meminum kopi hampir tersedak.
"Ra! Masuk! Pakai baju yang bener! Tetangga nanti pada khilaf!" teriak Kadrun dari teras.
"Bapak berisik deh! Orang nggak ada siapa-siapa juga," sahut Rara sambil menyemprotkan air ke arah Kadrun sebagai candaan.
Kadrun basah kuyup. Kaos dalamannya menempel di tubuhnya yang tambun. "Rara! Kamu ini ya!"
Rara tertawa renyah, suaranya terdengar sangat merdu di telinga Kadrun. "Maaf, Pak! Habis bapak lucu kalau lagi marah, kumisnya jadi naik turun."
Kadrun masuk ke kamar mandi dengan perasaan campur aduk. Ia menatap cermin. Wajahnya yang sudah mulai keriput tapi masih terlihat gagah itu tampak frustasi. "Kadrun, kamu harus ingat posisi. Dia itu amanah istrimu. Tapi... kenapa dia harus secantik itu?"
Pergolakan batin Kadrun terus berlanjut. Setiap hari adalah ujian iman baginya. Ia berusaha keras menjaga jarak, bersikap galak, bahkan sering pura-pura tidur awal agar tidak perlu melihat Rara bersantai di ruang TV dengan pakaian santainya yang selalu sukses membuat Kadrun "demam panggung".
"Pak, besok antar Rara belanja baju ke pasar ya?" tanya Rara suatu sore sambil memijat bahu Kadrun.
Sentuhan tangan Rara yang lembut membuat Kadrun merinding. "Iya... iya, besok bapak antar. Tapi beli baju yang tertutup ya!"
"Iya, Pak Haji Kadrun cerewet!" ejek Rara sambil mencubit pipi bapak tirinya itu.
Kadrun hanya bisa menghela napas panjang. Ia tahu, tinggal berdua dengan Rara adalah berkah sekaligus musibah bagi kewarasannya.
Ujian Iman Kadrun
"Pak! Tolongin Rara, ini resletingnya macet!" teriak Rara dari dalam kamar.
Kadrun yang sedang asyik menyeruput kopi di depan TV hampir tersedak. Ia menaruh cangkirnya dengan tangan gemetar. "Aduh Ra, bapak lagi sibuk nonton berita harga jengkol naik!"
"Bentar doang, Pak! Rara mau berangkat kondangan temen sekolah, masa bajunya kebuka begini?" Rara muncul di pintu kamar.
Kadrun menelan ludah. Rara mengenakan kebaya modern warna dusty pink yang sangat ketat. Kain kebayanya yang transparan di bagian lengan memperlihatkan kulit putihnya yang bersih. Karena resleting belakangnya macet di tengah, bagian punggung Rara yang mulus terekspos jelas, memperlihatkan tali bra tipisnya.
"Sini, bapak lihat," kata Kadrun sambil mendekat dengan langkah kaku. Ia bisa mencium aroma parfum vanila yang manis dari tubuh Rara.
"Hati-hati ya, Pak. Jangan sampai sobek, ini sewa lho," ujar Rara sambil membelakangi Kadrun.
Kadrun memegang resleting itu. Jarinya yang kasar sesekali menyentuh kulit punggung Rara yang dingin dan halus. "Duh Ra, kamu makannya apa sih? Kulit kok licin banget kayak sabun mandi."
"Ih Bapak fokus dong! Malah bahas kulit," sahut Rara sambil menoleh sedikit, memberikan tatapan mata sayu yang bikin Kadrun panas dingin.
"Sabar... ini macet karena nyangkut kain furingnya," Kadrun berkeringat dingin. Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari leher jenjang Rara. Ia bisa melihat bulu-bulu halus di tengkuk Rara yang membuat imannya bergoyang.
"Sudah belum, Pak? Rara telat nih."
"Bentar... nah! Sudah!" Kadrun menarik resleting itu sampai ke atas. "Sudah sana berangkat. Jangan pulang malam-malam!"
Rara berbalik dan tersenyum manis. Kebaya itu menonjolkan bentuk dadanya yang kencang dan pinggangnya yang kecil. "Makasih Bapak sayang! Bapak mau oleh-oleh apa?"
"Nggak usah, yang penting kamu pulang selamat. Dan jangan dekat-dekat cowok genit di sana!"
"Siap, Bos!" Rara mencium pipi Kadrun sekilas lalu berlari keluar rumah.
Kadrun mematung di tempat. Ia memegang pipinya yang baru saja dicium. "Duh Gusti... kalau begini terus, bisa-bisa saya yang jadi cowok genitnya."
Malamnya, Rara pulang kehujanan. Ia masuk ke rumah dengan baju yang basah kuyup. Kebaya merah mudanya menempel ketat di tubuh, menjadi transparan dan memperlihatkan segalanya.
"Pak... dingin banget..." rintih Rara sambil memeluk tubuhnya sendiri.
Kadrun yang baru keluar dari kamar mandi hanya memakai sarung tanpa baju langsung kaget. "Astaga Ra! Cepat ganti baju! Kamu mau bikin bapak jantungan?"
"Handuk Rara di jemuran belakang, Pak. Ambilin dong, Rara menggigil nih," Rara duduk di sofa, bajunya yang basah mencetak jelas lekuk tubuhnya yang menggoda.
Kadrun berlari ke belakang, mengambil handuk, lalu melemparkannya ke arah Rara dari jarak jauh. "Nih! Cepat masuk kamar! Bapak mau ke dapur, mau minum air es biar adem!"
"Air es? Bapak kan lagi batuk?"
"Bukan tenggorokan bapak yang panas, Ra! Hati bapak yang kebakaran!" teriak Kadrun sambil lari ke dapur.
Rara hanya tertawa kecil melihat tingkah bapak tirinya. "Bapak lucu banget sih kalau lagi panik."
Di dapur, Kadrun mengguyur kepalanya dengan air keran. "Sabar Drun, sabar. Ingat almarhumah istri. Ingat umur. Ingat perut buncitmu itu nggak cocok jadi pebinor anak sendiri!"
Tapi dalam hati kecilnya, Kadrun tahu, benteng pertahanannya mulai retak setiap kali melihat senyuman Rara.