

Sejak ayahnya menikah lagi, Dito kecil tinggal bersama ibu tirinya dan dua kakak tiri perempuan di rumah yang sama. Saat itu ia masih usia lima tahun, polos dan tak tahu banyak tentang dunia di luar permainan dan pelajaran sekolah.
Kini, di usia delapan belas tahun, Dito tetap sama polosnya. Ia belum pernah benar-benar memahami sisi lain dari seorang wanita. Terutama hal-hal yang berkaitan dengan hasrat dan tubuh. Baginya, perempuan adalah sosok yang hangat, lembut, dan kadang misterius.
Suatu pagi yang cerah.
“Anak-anak! Cepat turun! Mama udah siapin makanan untuk kalian!” panggil Luna dari dapur. Suara panggilannya lembut namun jelas, bercampur aroma gorengan hangat dan telur dadar yang menguar naik ke lantai dua, membuat perut Dito langsung keroncongan.
Meski sudah berusia empat puluh tahun, tubuh Luna masih memancarkan daya tarik yang sulit diabaikan. Kulitnya putih mulus seperti sutra, rambut hitam kemerahan tergerai lembut mengkilap di bawah sinar matahari pagi yang masuk lewat jendela dapur, pinggang ramping, serta lekuk pinggul dan dada yang penuh. Setiap gerakannya membuat kain daster tipis bergesek pelan dengan kulit, menghasilkan suara desiran halus yang nyaris tak terdengar.
Dito turun lebih dulu dari lantai dua, telapak kakinya menapak dingin pada lantai keramik. Ia langsung duduk di kursi kayu meja makan sambil menguap kecil, mulutnya terasa kering setelah semalaman tidur tanpa minum.
Luna meminta. “Dito, bangunin Lisa gih.”
“Iya, Ma.” Jawab Dito. Dengan langkah ringan ia naik kembali ke lantai dua menuju kamar Lisa. Pintu kamar kakak tirinya itu memang tak pernah dikunci.
Begitu pintu terbuka, aroma samar parfum lavender bercampur wangi tubuh hangat yang sedikit asin menyapa hidungnya seperti hembusan angin pagi. Lisa masih terlelap menyamping, membelakangi pintu. Selimut tipis hanya menutupi sebagian tubuhnya. Kaus tidur longgar yang ia kenakan sedikit tersingkap hingga memperlihatkan garis pinggang ramping yang mulus, lekuk pinggul yang lembut, dan belahan bokong bulat yang terlihat samar-samar di balik kain tipis itu. Napasnya teratur, pelan, membuat dada naik-turun dengan irama yang menenangkan, namun juga membangkitkan rasa penasaran aneh di dada Dito.
“Kak Lisa, ayo sarapan. Mama udah nunggu di bawah.” Ucap Dito di ambang pintu, suaranya pelan agar tak terlalu mengagetkan.
Tanpa menoleh sedikit pun, Lisa menjawab dengan nada datar, “Aku lagi enggak mau sarapan.”
Dito masih tetap mencoba memaksa pelan. “Hmm… Kak Lisa.”
Suara Lisa meninggi tanpa menoleh. “Dito, kamu enggak denger aku? Lagian, enggak sopan banget masuk ke kamar kakak tanpa mengetuk!”
Dito hanya mengangguk pelan, lalu berbalik pergi. Udara di koridor terasa lebih dingin setelah meninggalkan kamar Lisa yang hangat. Ia sudah terbiasa dengan sikap dingin kakaknya yang berusia 22 tahun itu. Lisa memang jarang bicara, dan jika bicara, tatapannya selalu menusuk seperti es.
Saat hendak turun tangga, ia berpapasan dengan Sally. Kakak tertua di rumah, berusia dua puluh empat tahun. Berbeda dengan Lisa, Sally selalu ramah. Senyumnya hangat, gerak-geriknya lembut. Aroma sabun mandi citrus segar menempel di kulitnya, tercium samar saat ia mendekat.
“Kamu dari mana, Dito?” Tanya Sally.
Dito menjawab dengan wajah polosnya. “Aku habis bangunin Kak Lisa, tapi dia nolak diajak sarapan bareng.”
“Jangan mikirin dia. Ayok kita sarapan,” ajak Sally sambil merangkul lengan Dito dengan akrab. Telapak tangannya hangat dan lembut, jari-jarinya sedikit dingin di kulit lengan Dito yang baru bangun. Sentuhan itu membawa rasa aman seperti biasa.
“Loh, Kak Lisa ke mana, Dit?” tanya Luna sambil menyendok nasi ke piring. Suara sendok logam beradu dengan piring keramik terdengar nyaring di pagi yang masih sepi.
“Dia enggak mau turun, Ma.” Jawab Dito.
“Hufh. Kakak kamu yang satu itu kenapa ya? Kok akhir-akhir ini beda banget sikapnya.”
“Halah, Mama kayak enggak tahu aja. Lisa memang udah dari dulu kayak gitu,” ujar Sally sambil tertawa kecil. Tawanya ringan, seperti lonceng kecil.
“Iya, tapi kebiasaannya itu bikin Mama khawatir.”
“Udah, biarin aja, Ma. Dia memang introvert,” ucap Sally lagi.
Meski hanya anak tiri, Luna menyayangi Dito dengan tulus. Begitu pula Sally dan meski jarang diperlihatkan Lisa. Mereka menganggap Dito sebagai adik kandung mereka sendiri.
Usai sarapan.
“Aku pergi ke sekolah dulu ya, Ma,” ujar Dito sambil berdiri. Kursi kayu bergeser pelan di lantai, menghasilkan suara gesekan kecil.
Luna tersenyum lembut. Tangannya mengusap rambut Dito dengan penuh kasih. Jari-jarinya lembut, hangat, dan sedikit lembab karena baru saja memegang gelas air. Aroma minyak goreng dan parfum bunga yang lembut menempel di ujung jarinya. “Semangat ya, Sayang.”
“Iya, Ma.” jawab Dito. Lalu dia cium tangan kepada Luna. Bibirnya menyentuh punggung tangan yang halus, hangat, dan sedikit berbau sabun cuci piring.
Seperti biasa, Sally mengantarnya ke sekolah. “Ayo Dit.”
Tanpa ada rasa canggung. Dito mengikuti Sally berjalan menuju motornya yang terparkir di halaman rumah. Udara pagi terasa segar, bercampur bau rumput basah dan asap knalpot samar dari jalan raya.
Lalu Sally naik, dan Dito duduk di belakangnya. Tanpa ada pikiran macam-macam. Dito terbiasa memeluk Sally dengan erat. Lengan Sally terasa ramping namun kuat, pinggangnya hangat di bawah jaket tipis, dan setiap kali motor bergetar di jalan berlubang, dada Sally yang lembut dan kenyal menekan lengan Dito dengan tekanan ringan yang membuat napasnya sedikit tersendat. Meski ia belum paham mengapa jantungnya berdegup lebih cepat.
Setibanya di sekolah, Dito turun dari motor yang berhenti di depan pagar. Angin pagi menyapu wajahnya.
“Aku sekolah dulu ya kak” ucap Dito lalu cium tangan kepada Sally.
Sally mengulurkan tangannya. Dan berkata penuh perhatian. “Ingat ya, sekolah yang benar. Jangan suka bolos.”
“Iya kak.” Angguk Dito. Lalu dia berjalan cepat memasuki pagar sekolah.
Begitu juga dengan Sally yang langsung tancap gas. Semuanya tetap normal. Tidak ada yang aneh.
Pada jam istirahat sekolah, tepat di halaman belakang yang sepi dan jarang dilalui orang. Udara terasa panas dan lembab, bau rumput kering dan tanah terpanggang matahari menyengat hidung.
“Dito. Sini. Aku mau nunjukin sesuatu sama kamu. Mwehehe… ayo ikut aku.” Ajak Gogon.
“Kamu mau ngapain lagi?” tanya Dito sambil tetap mengikuti langkah Gogon di belakangnya. Keringat mulai menetes di punggungnya karena panas.
Dito tahu betul sifat Gogon. Teman dekatnya yang jail dan suka bertingkah absurd.
Tiba-tiba Gogon mengeluarkan sebuah CD wanita. “Nih, kamu lihat. CD siapa nih? Ayo tebak…. Mwehehehe….”
Dito menyipitkan mata, mencium aroma samar sabun mandi bunga yang lembut bercampur sedikit keringat dan wangi tubuh wanita dewasa dari kain tipis berwarna hitam itu. Aromanya manis, hangat, dan sedikit asin. Membuat tenggorokannya terasa kering.
“Punya Kak Hana?”
“Betul!! Ahahah… Aku ambil dari jemuran bajunya.” jawab Gogon sambil tertawa.
“Gogon, kalau kamu main ke rumahku, buang kebiasaan buruk kamu itu. Jangan sampai kamu nyuri CD kakak perempuanku.” Dito merebut celana dalam itu dari tangan Gogon dengan cepat. Kainnya terasa halus dan sedikit lembab di ujung jari, seperti baru saja disentuh angin pagi.
“Ya… siapa tahu… kamu mau ngerasain isinya juga. Punya dua kakakmu itu.” Ujar Gogon dengan wajah mesumnya.
“Hah?” Dito mengernyit bingung.
Gogon mendekat dan berbisik mesum, “Dito, enak banget jadi kamu. Di satu rumah ada tiga perempuan seksi. Kalau aku pasti bakalan ngeseks terus. Bahhahak.”
Dito terdiam. Matanya menatap Gogon dengan jijik. Tapi ucapan itu tertanam di kepalanya seperti benih kecil yang mulai bertunas, membuat telapak tangannya berkeringat dingin.
“Yaudah yuk. Kita balik ke kelas.” Ajak Gogon sambil merangkul bahu Dito.