

Panggil aku, Diki. Usia ku saat mengawali kisah ini, baru menginjak dua puluh tahun. Ini sebuah usia yang bagi kebanyakan orang diidentikan dengan seorang pemuda yang masih mencari jati diri. Masih mempunyai mimpi ingin mencakar langit dan menggaruk dasar bumi, walau dia sendiri berjalan tak berpijak di tanah.
Aku bukanlah mereka. Aku Diki, Anak sulung dari dua bersaudara, lahir dan besar di pusat Jakarta, namun setahun sebelum lulus SMA terdampar di Bekasi pinggiran.
Kedua orangtua ku, Bapak dan Ibu Tono, bukan orang berada. Sebab itu, mereka baru bisa mempunyai rumah sendiri, itu pun kredit, saat aku sudah besar. Itu pun lokasinya bukan di Jakarta, dan bukan pula di pusat kota Bekasi, tapi di pinggiran. Rumahnya juga kecil, hanya ada dua kamar tidur dengan luas tanah hanya tujuh puluh meter persegi, di sebuah perumahan menangah bawah yang luas namun masih relatif sepi.
Kisah ini aku mulai saat diriku duduk di pojokan kursi panjang di gerbong kereta rel listrik yang berjalan lambat hendak memasuki Stasiun Bekasi. Siang itu sangat terik. Permukaan aspal dan genteng-genteng rumah yang berderet sepanjang rel terlihat seperti mendidih.
Aku baru saja dari Jakarta, menghadiri undangan pertemuan vlogger se-Indonesia di sebuah balairung hotel bintang lima. Ya, profesiku adalah vlogger. Sebuah profesi yang sudah aku rintis sejak kelas dua SMA namun bagi kebanyakan orang, profesi ini masih asing dan dianggap tak lazim. Padahal, ini salah satu profesi yang sangat menjanjikan di era digital seperti sekarang.
Kereta yang kutumpangi pun berhenti.
Begitu pintunya terbuka, dua belas gerbongnya 'memuntahkan' ratusan penumpang yang langsung memadat di selasar stasiun.
Semuanya mencari jalan keluar.
Sambil mencangklong tas ransel hitam, aku berjalan, mengikut arus. Berjalan dua langkah kecil lalu berhenti kembali menunggu orang di depan bisa bergerak lagi. Inilah bagian kecil dari rutinitas para komuter.
"Ki..! Diki..!"
Suara seorang perempuan menyapaku dari belakang. Dia menepuk bahu kananku. Aku menoleh. Perempuan itu, berkulit putih dengan kerudung hitam tersampir di kepalanya, tersenyum padaku.
"Eeh.., Bu Nana. Darimana mau kemana, Bu?" sahutku basa-basi.
Bu Nana adalah isteri dari Pak Kamad, Pak RT di lingkunganku, sekaligus tetangga samping kanan rumahku.
Bukannya menjawab, Bu Nana malah bertanya balik, "Duh, gak nyangka bisa ketemu pacar di sini... Diki dari Jakarta?"
Aku cuma nyengir dipanggil 'pacar' sama mamah muda yang cantik ini, "Iya, Bu. Ibu dari Jakarta juga?""
"Iya ni, habis nengok adik lahiran..."
"Wah, alhamdulillah nambah lagi..."
"Iya nambah mulu, padahal anaknya sudah tiga lo..."
"Wah, kakaknya kalah set dong. Yuli belum minta adik, Bu?"
Dia malah tertawa, "Sudah gak bisa, Ki. Stop produksi, hahaha....!"
Aku kurang paham dengan istilah 'stop produksi'. Tapi ya sudahlah.
Aku kini berjalan berdampingan dengan mamah muda ini. Tangannya memegang lenganku agar tak terseret arus manusia yang berjubel yang terus bergerak meninggalkan stasiun.
"Ibu pulang naik apa?"
"Paling ojek, Ki... Eh, by the way kamu bawa motor gak?"
"Bawa, Bu. Di parkiran... Ikut Diki aja, Bu..."
"Nah iya, Ibu bonceng yaak..."
Kami terus berjalan. Walau pintu stasiun sudah dibelakang dan kini menuju area parkir di sisi timur, namun Bu Nana tidak melepaskan tangannya dari lenganku. Sesekali aku melirik isteri Pak Kamad yang paling cantik di antara mamah muda lainnya yang ada di lingkunganku. Dan aku hanya bisa tersenyum saat dia juga diam-diam melirikku.
"Helmnya cuma satu. Ibu pakai aja.. Nanti kita lewat jalan belakang biar aman," kataku.
"Gak ah, Diki pakai aja. Ibu kan pakai kerudung..."
Akhirnya helm aku gantungkan bersama tas ransel hitam di bawah stang motor.
Dari Stasiun Bekasi, kompleks perumahan kami tidak jauh. Sekitar delapan sampai sepuluh kilometeran saja jaraknya. Bisa ditempuh lewat jalan besar, namun lebih enak melewati jalan desa yang lebih kecil dan tidak terlalu ramai. Ini adalah jalan tanah yang melewati kebun dan banyak pepohonan. Jika hujan, tidak mungkin melewati rute ini karena licin.
"Diki tadi dari mana?" tanya Bu Nana.
"Tadi habis ketemu teman-teman saja kok, Bu..."
"Teman apa pacar..?" ledek perempuan itu.
Aku tertawa kecil. "Teman, Bu. Diki kan belum punya pacar..."
"Kok gak nyari?"
"Belum ada cewek yang naksir kali, Bu...," sahutku sekenanya.
"Serius? Gak percaya, ah. Cowok seganteng dan segagah kamu mustahil gak ada cewek yang naksir? Kalo gak inget umur, Ibu aja mau jadi pacar kamu, Ki...," Bu Nana tertawa. Dia memang paling suka bikin aku baper. Tapi sampai sejauh ini aku menanggapinya cuma dengan bercanda.
"Hehe.. Diki males pacaran, Bu. Ribet ah..."
"Bagus deh kalo belum ada... Kalo gitu gapapa ya, Ibu peluk. Gak ada yang marah kan..." sahut Bu Nana sambil melingkarkan tangannya ke pinggangku dengan mesra. Dengan sendirinya, dua gunung kembarnya pun ikutan menempel di punggungku.
Tiba-tiba muncul emak-emak bawa motor, menyalip begitu saja dari kiri ke kanan, dengan lampu sein berkedip ke kiri. Refleks tanganku cepat menarik tuas rem agak dalam. Dengan sendirinya Bu Nana ikutan terdorong ke depan, dua gunung kembarnya pun 'menumbuk' punggungku.
"Eeeh... maaf, Bu. Gak sengaja...," kataku.
"Alaaah, sengaja juga gapapa, Ki. Santai ajaa..," jawab Bu Nana yang kini malah mengencangkan pelukannya.
Duh Gusti..!
Aku mengintip penumpangku yang cantik ini dari kaca spion, dia rupanya juga sedang menatapku. Entahlah dia tertawa atau tersenyum, bibirnya yang selalu merah basah tertutup masker.
"Ki, kita lewat jalan pintas aja. Lebih adem kan..."
"Oh iya, bener juga...," jawabku.
Setelah melewati warung nasi pecel Bu Noer, aku arahkan motor ke kanan, memasuki gang semen selebar dua meter di antara rumah warga. Tak sampai sepuluh rumah, gang semen itu berakhir, berganti jalan tanah yang lebih sempit dan mulai banyak pepohonan di kanan dan kirinya, namun sepi.
Di jalan kampung ini aku tidak bisa memacu motor kencang-kencang, karena jalannya sempit, berkelak-kelok dan tidak rata. Namun di belakang, Bu Nana masih saja memeluk ku dengan rapat.
Aku jadi serba salah. Sebagai lelaki normal, tentu saja aku senang dengan sensasi ini. Lelaki mana yang tidak senang dipeluk perempuan cantik dan seksi seperti Bu Nana? Tapi di sisi lain, aku juga takut karena perempuan yang memeluk ku ini isteri orang, dan orang itu Pak RT pula.
Walau jalan pintas ini sepi tapi bisa saja ada orang yang kenal tiba-tiba memergoki kami. Hari sial tak ada di dalam kalender, bukan?
***
Dibeberapa bagian, cerita ini mengandung adegan dewasa 21+ (TERIMAKASIH)