

"Kau dipecat! "
Kalimat yang keluar dari pak Wiro, HRD tempat dia kerja terasa menyesagkan dada Yanuar, setelah empat tahun kerja dipabrik itu, dia akhirnya harus rela meninggalkan satu-satunya sumber mata pencaharian nya.
Langkahnya gontai menyusuri jalan kecil menuju kontrakan nya.
Panas sinar matahari yang menyengat ubun ubun nya tak dihiraukan. Sapaan beberapa kawan yang mulai masuk berganti shif pun hanya ditanggapi dengan senyum getir tak berarti.
Dunia masih berputar, namun kehidupan nya dirasa berhenti total. Dia membayangkan bagaimana histerisnya Dewi, istrinya yang baru dinikahi selama dua tahun ini jika mendengar dia dipecat dari pekerjaannya. Sedangkan karir Dewi di pabrik yang sama justru malah makin naik. Dari karyawan pabrik menjadi pengawas.
Ditangannya menimang amplop coklat berisi pesangon satu setengah kali gajinya. Yang dia sendiri tak tahu mau dipakai apa. Dengan uang segitu, apa yang bisa dia lakukan? Pikirannya terasa buntu.
Yanuar tampak ragu ketika hanya beberapa langkah dari rumah kontrakan nya yang kecil dan sederhana. Disana dia hidup penuh cinta dengan Dewi. Walaupun belum dikaruniai anak, tapi mereka tetap bahagia.
Jlek.
Yanuar membuka pintu, degub dadanya bertambah kencang. Bukan karena baru saja dipecat, tapi karena ada sepatu laki laki dibalik pintu itu. Keringatnya mukai menetes pelan. Ada sisi pengecut tersembul dari dalam hatinya, perasaan tidak nyaman segera menyerbu. Namun dia memberanikan diri untuk terus mendekat kearah kamar yang biasa dia beradu mekanik dengan Dewi.
Pintu yang tak bisa tertutup rapat itu bisa saja langsung dibuka oleh Yanuar, namun tangannya gemetar dan keraguan terselip dalam dadanya. Antara sanggup menerima kehancuran dirinya atau menghadapi nya dengan jantan.
"Akhhhh, masssss, teruusinnnn masssss... "
Satu tapi terdengar dengan jelas, suara rintihan Dewi dalam kamar.
Amarah segera membuncah. Harga diri Yanuar benar benar dipaksa keluar oleh kekuatan yang tak kasat mata. Dengan sekali sengak pintu pun terbuka.
Matanya nanar,
dia mendapati, istrinya tengah melakukan hubungan suami istri dengan orang yang dikenalnya, tak lain dan tak bukan pengawas di divisinya sendir, Marto.
Dewi dan Marto terkejut melihat pintu terbuka dan disana berdiri sosok Yanuar dengan sorot mata tajam. Marto dengan tubuh telanj*** nya sedang menindih Dewi yang juga sama sama telanja****.
"Kalian! Jahanam! " Teriak Yanuar kalap, dan ingin menghajar Marto yang segera turun dari ranjang dengan keadaan tanpa busana. Demikian juga Dewi.
"Stop mas! Berhenti! " Dewi berusaha melindungi Marto yang diburu oleh Yanuar.
Dengan tatapan sini dan jijik Yanuar berhenti ketika melihat dua tubuh bugil itu saling melindungi satu sama lain.
"Ohhh, jadi ini maksud mu Marto, selama tiga bulan ini, setiap pekerjaan ku dianggap tak beres. Dianggap salah, dan hari ini aku mendapatkan SP3 dan surat pemecatan ini!!! Ternyata kau bermaksud merebut istriku." Ujar Yanuar menahan kemarahannya.
"Bukan kesalahannya mas. Tapi salahmu sendiri! " Dewi berusaha membela Marto yang dengan buru buru mengenakan pakaian nya.
"Diam kaun pelacur! Kau pun sama aja. Tega sekali kau mengkhianati aku Dewi! "
Dewi tertawa sinis, "Hei Yanuar, kau harusnya sadar diri. Kau apa yang kau bisa banggakan? Dalam pernikahan kita, harta kau kere ga kunya apa apa, gaji mu masih dibawah gajiku. Urusan ranjang? Parah, kau ga pernah bisa memuaskan aku. Lima menit KO. Kau hanya mikirin buang sprem* mu dirahimku. Apa kau pernah memikirkan bagaimana dengan penyaluran hasrat kepuasan ku? Tidak. Kau gagal sebagai laki laki Yanuar. Jadi jangan salahkan aku kalau selingkuh dengan Marto."
Yanuar terhenyak, harga dirinya makin terkoyak. Apalagi Marto pun masih bisa tersenyum seolah mengejeknya, ya mencibirnya sebagai laki laki gagal.
"Kenakan pakaian kalian dan segera pergi dari sini. Lalu kau Dewi, ku talak kau per hari ini. " Kata Yanuar lirih.
Dewi mendengus dan tetap meras tak bersalah. Pun demikian dengan Marto. Dewi bergegas mengenakan pakaian nya dan dengan dibantu Marto dia mengemasi seluruh pakaiannya dan segera kekuar dari kontrakan kecil itu.
"Cerai dengan mu adalah kebahagiaan ku yang baru mas. Aku sudah muak hidup dengan mu. Menikah dua tahun ini tak ada seharipun bahagia ku dengan mu. Secara lahir mau oun batin ku. " Ucap Dewi sambil menyeret kopernya keluar rumah.
Dan dengan songongnya, Marto pun mengiringi langkah Dewi dan melambaikan tangan kepada Yanuar seolah mengejak kekalahan Yanuar sebagai laki laki.
Yanuar terduduk lemas dikursi kayu usang diruang tamu nya. Tubuhnya terasa melayang. Sempat berfikiran pendek ingin mengakhiri hidupnya saat itu juga. Tapi sekilas terlintas senyum bapak dan ibunya serta senyum manis adek perempuan nya dalam benaknya.
Yanuar tak kuasa menahan gejolak hatinya. Dia menangis, hanya meneteskan airmata, tanpa terdengar suara sedikitpun. Giginya bergemrutuk menahan semua himpitan didalam dadanya.
Hanya dalam satu hari, ya hanya satu hari harga dirinya sebagai lelaki tertampar dan tertunduk lemah. Dia seilah membenarkan umpatan Dewi yang baru saja terucap, dia laki laki gagal?
Entah apa yang Yanuar pikirkan, dia kemudian bangkit dsrinkursi dan memeriksa lemari pakaian nya. Segera dia berkemas, ya seolah dia mendapatkan panggilan dalam hatinya untuk pergi dari sana.
Matanya terpaku menatap dua buku yang tergeletak begitu saja di lemari. Dua buku keramat yang menjadi saksi hubungan mereka. Dan siluet kenangan kembali muncul saat momen sederhana namun bahagia itu terlintas di hatinya. Di peluknya dua buku nikah itu erat.
"Aku akan segera mengikhlaskan hubungan ini. Aku lepaskan hubungan ini. " Desis Yanuar yang terus meneteskan airmata kesedihan.
Dia kemudian meraih ponselnya dan mengecek tiket yang akan membawanya ke kampung halamannya. Grobogan! Bukan hanya untuk melarikan diri dari kesedihan, tapi dia ingin segera menetapkan langkahnya, bercerai secara resmi dengan sang istri.
Senyum tipis tersungging disudut bibirnya, "Semoga kau bahagia Dewi. Biarpun sakit hati dan kebencian juga kemarahan ini terus akan ada dalam hatiku. Tapi doa ku untukmu tetaplah yang baik. Dan yang terbaik yang aku bisa." Gumam Yanuar sambil melipat dan merobek foto kenangan mereka berdua yang selama ini disimpan rapi didompet.
"Aku tak akan terpuruk hanya karena ini, aku harus segera bangkit dan menata kembali hidupku sendiri. Kau lihat lah dunia, siapa aku sebenarnya. Yanuar Adijaya. Aku lelaki tangguh, aku bukan laki laki gagal, aku bukan pecundang. Aku laki laki sejati. " Geram Yanuar sambil. mengepalkan tangannya. Seolah ingin merasakan amarah dan sakit hatinya untuk terakhir kalinya. Besok? Sudah tak ada lagi rasa itu, besok yang ada hanyalah sebuah dunia Baru yang akan menghiasi kehidupannya dengan indah, dengan tantangan dan cobaan yang baru juga.
Yanuar Adijaya harus tetap melangkah gagah kedepan.