

Di Ujung Meja Makan.
Suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar begitu nyaring di ruang makan yang mendadak hening.
Di kepala meja, Ayah Lani menaruh sendoknya pelan—terlalu pelan, hingga justru menerbitkan ketegangan tebal yang merambat cepat ke seluruh sudut ruangan.
Minggus duduk tegak di kursinya. Tangannya yang tersembunyi rapat di bawah meja mengepal erat di atas paha, menyapu keringat dingin yang perlahan membasahi celana kainnya.
Di sampingnya, Lani duduk menunduk dalam-dalam. Jemari perempuan itu meremas pinggiran roknya sendiri hingga buku-buku jarinya memutih.
"Jadi, Minggus..."
Suara Ayah Lani terdengar berat dan datar. Pria paruh baya itu mengusap bibirnya dengan tisu dapur, lalu menatap Minggus lurus-lurus. Pandangan mata tajam khas seorang pensiunan guru kepala yang selama puluhan tahun biasa menertibkan ratusan murid di sekolah.
"Sudah berapa lama kalian berpacaran? Ten years, ya? Sepuluh tahun." Beliau mengangguk-angguk kecil, seolah sedang menghitung deretan angka yang sama sekali tak berharga.
"Waktu yang cukup lama.
Cukup untuk seseorang menyelesaikan jenjang S1, S2, bahkan mungkin menyusun proposal disertasi."
Minggus menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya mendadak terasa sekering tanah kemarau.
"Iya, Bapak. Sudah sepuluh tahun."
"Lani ini anak perempuan kami satu-satunya," potong Ibu Lani dari samping, seolah menyiramkan minyak tanah ke atas letupan api yang mulai menyala.
Matanya menatap Minggus tanpa kehangatan sedikit pun. "Keluarga kami ini keluarga pendidik, Minggus. Bapak guru, Ibu guru, dua kakak Lani juga mengajar di sekolah negeri.
Kami paham betul mana masa depan yang jelas, mana yang tidak."
Ibu Lani menggeser cangkir teh hangatnya, lalu menyandarkan tubuh ke sandaran kursi.
"Ijazahmu sudah keluar? Kampusmu sudah mengurus gelar gurumu?"
Pertanyaan itu akhirnya dilemparkan. Pertanyaan sederhana yang selama bertahun-tahun menjadi bayangan hitam paling mengerikan bagi Minggus.
Lani di sebelah Minggus mendadak angkat suara, suaranya bergetar menahan tangis.
"Mak, Pak... kan sudah Lani ceritakan kalau Minggus sekarang sedang—"
"Bapak tidak tanya kamu, Lani," sela Ayah Lani tegas tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun dari Minggus.
"Bapak tanya Minggus secara langsung.
Bagaimana, Gus? Kapan kamu wisuda?"
Keheningan kembali menyergap. Suara derik jangkrik di luar rumah terasa makin bising menghantam telinga Minggus.
Seluruh tenaga dan rasa percaya diri yang ia kumpulkan selama perjalanan menuju rumah ini mendadak menguap tanpa sisa.
Minggus menatap piringnya yang masih menyisakan separuh makanan. Makanan enak yang kini rasanya sepahit empedu. Ia menarik napas panjang, mencoba menahan getaran hebat di dadanya, lalu menatap mata pria tua di hadapannya itu dengan sisa-sisa keberanian yang ia punya.
"Saya... tidak wisuda, Pak," ucap Minggus, pelan namun jernih. "Saya sudah berhenti kuliah dua tahun lalu. Saya drop out."
Prak.
Cangkir teh di tangan Ibu Lani diletakkan agak keras ke tatakannya. Tidak ada teriakan berlebihan. Tidak ada amukan meledak-ledak. Hanya ada tatapan kecewa mendalam dan celaan diam yang rasanya jauh lebih menyakitkan daripada pukulan fisik.
"Sepuluh tahun," gumam Ayah Lani pelan sambil menggelengkan kepala. "Sepuluh tahun anak saya menunggu seorang pria yang bahkan tidak bisa menyelesaikan sekolahnya sendiri.