Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Disayang Para Wanita Dewasa

Disayang Para Wanita Dewasa

king•hareM | Bersambung
Jumlah kata
94.1K
Popular
1.4K
Subscribe
190
Novel / Disayang Para Wanita Dewasa
Disayang Para Wanita Dewasa

Disayang Para Wanita Dewasa

king•hareM| Bersambung
Jumlah Kata
94.1K
Popular
1.4K
Subscribe
190
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifeHarem21+Kaya
Warning⚠️... Novel ini banyak adegan dewasanya, tidak untuk di bawah umur, harap bijak memilih bacaan,Novel ini hanya fiksi, sekedar untuk hiburan semata. Riyandi & Para Wanita Dewasa Riyandi, seorang pemuda berusia 22 tahun yang baru lulus kuliah, menjalani kehidupan sederhana di sebuah perumahan di Kota Bandung. Ia tinggal bersama ibunya, Liana Maheswari (38), seorang janda yang bekerja sebagai eksekutif di salah satu perusahaan besar. Dengan pesona yang kuat, Riyandi memiliki ketertarikan yang mendalam pada wanita-wanita yang lebih matang, melihat keindahan sesungguhnya pada pengalaman dan kematangan emosional mereka. Kehidupan Riyandi yang biasa berubah menjadi luar biasa ketika ia tanpa sengaja terjerat dalam hubungan-hubungan penuh gairah dengan wanita-wanita berpengalaman di sekitarnya. Apa yang dimulai sebagai ketertarikan polos segera berkembang menjadi pusaran hasrat yang eksplisit. Dalam kisah erotis ini, Riyandi menjadi pusat dunia mereka, menjelajahi batas-batas kenikmatan fisik dan emosional. Namun, di tengah gelombang nafsu yang membara, Riyandi harus menghadapi tantangan rahasia dan tekanan dari lingkungan sekitarnya. Novel ini menyajikan dinamika hubungan antar-generasi, di mana cinta, nafsu, dan pengertian saling bertautan dalam harmoni yang menggoda. ​
BAB 1 Pesona Yang Matang

Matahari Kota Bandung di pertengahan hari terasa hangat, namun hawa sejuk dari AC di ruang keluarga perumahan itu masih terasa menyenangkan. Sudah satu minggu sejak Riyandi, dengan senyum puas, menerima ijazahnya.

Usianya 22 tahun, berwajah tampan, dan bertubuh atletis seorang pemuda yang seharusnya sibuk mengirimkan lamaran kerja atau merayakan kelulusan bersama teman-teman kampus.

Namun, Riyandi tidak melakukan keduanya.

Dia sedang berbaring malas di sofa, mengenakan kaus oblong dan celana pendek, menikmati kebebasan yang terasa mewah. Kebebasan itu datang bersama keheningan rumah—karena sang mama, Liana Maheswari, sudah berangkat ke kantor.

Di usia 38 tahun, Liana adalah seorang janda, seorang eksekutif di perusahaan besar yang selalu tampak profesional dan elegan, membuat rumah terasa kosong setelah kepergiannya.

Kehadiran Liana di rumah, dengan lekuk tubuhnya yang terjaga dan caranya membawa diri yang selalu anggun, tanpa sadar telah menjadi patokan aneh dalam diri Riyandi. Baginya, pesona yang sesungguhnya bukanlah pada kecantikan yang belum terasah milik gadis-gadis seusianya.

"Terlalu ribut dan belum berisi," gumam Riyandi, menggeser-geser layar ponsel, melihat foto-foto teman wanitanya yang baru lulus.

Bagi Riyandi, daya tarik sejati terletak pada kematangan. Pada tatapan mata yang sudah melihat banyak hal, pada tubuh yang memancarkan cerita, dan pada aura ketenangan yang hanya dimiliki oleh wanita yang sudah melewati fase 'gadis'. Wanita dewasa. Itu adalah obsesi rahasia yang ia pelihara sejak lama.

Riyandi mengambil sekaleng minuman dingin dari kulkas, lalu melangkah menuju jendela ruang tamu. Pandangannya menyapu perumahan kelas menengah di mana mereka tinggal, sebuah lingkungan yang mayoritas penghuninya adalah wanita-wanita karir atau ibu-ibu mapan yang usianya jauh di atasnya.

Saat itu, sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depan rumah mereka. Dari pintu kemudi, seorang wanita yang usianya mungkin sebaya dengan Liana, keluar dengan pakaian olahraga ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang atletis.

Wanita itu tampak sedikit terengah setelah joging pagi. Ia membuka bagasi, namun tampak mengalami sedikit kesulitan dengan kunci mobilnya.

Riyandi tanpa sadar mencondong kan tubuhnya ke jendela, matanya terpaku. Wanita tetangga itu adalah tipe yang paling menarik perhatian nya,Matang,mandiri,dan...menggoda.

Ini adalah Bandung, dan Riyandi, yang baru satu minggu memegang gelar sarjana, tahu bahwa perburuan sesungguhnya,perburuan pengalaman bukan pekerjaan—baru saja dimulai.

Riyandi merasakan desakan aneh untuk mendekat. Bukan sekadar ingin membantu, tetapi keinginan untuk melihat lebih dekat wanita itu, merasakan energinya. Dia segera membuka pintu dan berjalan menghampiri mobil hitam mewah itu.

"Selamat siang, Tante," sapa Riyandi dengan suara ramah namun sedikit berhati-hati.

Wanita itu tersentak kaget, lalu berbalik sambil memegang kunci yang macet di lubangnya. Keringat tipis terlihat di pelipisnya setelah joging. Dia memiliki mata yang tajam dan senyum yang mempesona.

"Ya ampun! Selamat siang juga," jawab wanita itu, suaranya agak serak namun merdu. "Saya tidak melihat Anda di sini sebelumnya. Ada apa, Nak?"

"Kelihatannya Tante kesulitan dengan bagasi mobilnya?" tanya Riyandi, menunjuk pada kunci yang sedikit bengkok.

Wanita itu menghela napas. "Iya. Sepertinya kuncinya agak macet. Padahal di dalam ada ponsel saya. Mau telepon driver tapi ponselnya terkunci di bagasi."

"Biar saya coba bantu, Tante," tawar Riyandi. "Mungkin saya bisa memegang kuncinya lebih pas."

"Oh, terima kasih banyak. Nama saya Vina," katanya sambil mengulurkan tangan.

"Riyandi. Saya tinggal tepat di sebelah rumah ini," balas Riyandi, menjabat tangan Tante Vina. Jari-jari mereka bertemu sekejap, dan Riyandi merasakan kehangatan lembut dari telapak tangan Tante Vina.

Tante Vina tersenyum. "Senang bertemu denganmu, Riyandi. Ternyata kita bertetangga di perumahan ini."

Riyandi mengambil alih kunci. Dia harus berdiri sangat dekat, bahu mereka hampir bersentuhan, sementara dia berkonsentrasi pada lubang kunci yang macet.

Aroma parfum mahal, bercampur sedikit dengan aroma keringat sehabis berolahraga, menyeruak lembut, membuat jantung Riyandi berdebar lebih cepat.

Dia mencoba memutar kunci dengan hati-hati. Dalam beberapa detik, terdengar bunyi klik yang memuas kan Bagasi mobil terbuka.

"Ah, berhasil!" seru Tante Vina, ekspresi lega terlihat jelas. "Hebat sekali, Riyandi. Terima kasih banyak!"

Tante Vina segera meraih tas pinggangnya dan mengeluarkan ponsel. Dia menatap Riyandi dengan senyum penuh apresiasi, matanya memancarkan rasa terima kasih yang tulus.

"Kamu penyelamat Tante hari ini. Sebagai ucapan terima kasih, Tante ingin menawarkan minum dingin. Mau mampir sebentar?" tawar Tante Vina, menatap mata Riyandi dengan intensitas yang menarik.

"Tentu saja, Tante Vina. Dengan senang hati." Riyandi merasakan pipinya sedikit memanas. Ini adalah undangan pertama menuju dunia yang ia dambakan.

Riyandi duduk di sofa ruang tamu Tante Vina yang terasa dingin dan mewah.Interior rumah itu didominasi warna krem dan cokelat, memancar kan aura kemapanan dan selera tinggi. Tak lama kemudian, Tante Vina muncul dari dapur, membawa dua gelas besar berisi air lemon dingin.

"Silakan, Riyandi. Semoga suka," kata Tante Vina, berjalan mendekat.

Pakaian olahraga Tante Vina yang ketat dan sedikit basah oleh keringat membuatnya semakin menarik. Saat wanita itu menunduk untuk meletak kan gelas di meja kaca, baju tank top yang dikenakannya bergeser, memperlihatkan pemandangan yang membuat Riyandi seketika terperanjat.

Matanya terbelalak. Di balik kerah yang melorot itu, belahan gunung kembar Tante Vina terlihat jelas, menampilkan kontur dua gundukan besar yang seolah meluap dari pakaiannya. Riyandi menatapnya tanpa kedip, otaknya seketika dipenuhi fantasi liar. Inilah pesona matang yang selalu ia dambakan.

Tante Vina menegakkan tubuhnya, lalu duduk di hadapan Riyandi sambil menyesap minumannya. Sebuah senyum tipis, penuh makna, terukir di bibirnya. Dia menyadari betul ke mana arah pandangan Riyandi beberapa saat yang lalu.

"Kenapa, Riyandi? Minumannya terlalu dingin?" goda Tante Vina, suaranya mengandung tawa tertahan. "Atau... Tante harus melaporkan tatapan itu pada suami Tante?"

Riyandi tersentak, rasa malu seketika menyerbu, namun hasratnya terlalu kuat untuk disembunyikan. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Ampun, Tante," balas Riyandi, menelan ludah dengan susah payah. Matanya masih sulit terlepas dari sosok wanita di hadapannya. "Tapi... abis besar dan indah banget punya Tante."

Tawa Tante Vina pecah, renyah dan menggoda. Dia melipat kakinya, gerakan itu semakin menonjolkan bentuk tubuhnya yang atletis dan berisi.

"Dasar brondong," ledek Tante Vina, suaranya mendesis menggoda. "Tante ini sudah tua, Riyandi. Tidak ada yang istimewa dari wanita berusia akhir 30-an seperti Tante."

Riyandi menggeleng cepat, napasnya tertahan. "Tidak benar, Tante Vina. Justru... itu yang membuat Tante sempurna. Anda lebih dari istimewa," jawabnya, matanya memancarkan ketulusan hasrat. Riyandi tidak pernah merasa seberani ini.

Riyandi merasa tubuhnya semakin panas, bukan karena suhu Bandung, melainkan karena godaan intens dari Tante Vina. Hasrat yang selama ini terpendam tiba-tiba menyeruak tak tertahankan.Di balik celana pendek nya, tongkatnya sudah menegang, membentuk tonjolan yang jelas terlihat.

Tante Vina, yang pandangannya tajam dan berpengalaman, tidak melewatkan detail itu. Matanya sekilas turun, menangkap tonjolan yang menonjol di selangkangan Riyandi, lalu kembali menatap wajah pemuda itu dengan ekspresi campur aduk antara terkejut dan tertarik.

Dalam hati Tante Vina berbisik," Ya ampun, tongkatnya gede banget. Jauh beda dengan punya suamiku yang sudah loyo."

Senyum Tante Vina semakin lebar, kini berubah menjadi seringai penuh arti. Dia sengaja mencondongkan tubuh sedikit ke depan, memperlihat kan belahan dadanya lebih jelas lagi.

"Dasar brondong nakal," bisik Tante Vina dengan suara yang sengaja dilembutkan. "Lihat Tante yang sudah tua begini saja, tongkat Anda langsung berdiri."

Wajah Riyandi memerah, namun keberaniannya kini sudah mencapai titik didih. Dia membalas tatapan Tante Vina tanpa rasa takut.

"Habis Tante cantik dan seksi sekali. Lagian, aku memang lebih suka wanita yang dewasa, Tante. Jauh lebih menarik," jawab Riyandi jujur, suaranya sedikit tercekat karena hasrat.

Mendengar pengakuan lugas itu, Tante Vina tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat erotis di telinga Riyandi. Tante Vina merasakan adrenalinnya melonjak. Sudah lama sekali ia tidak merasa diinginkan sedemikian rupa oleh seorang pria muda.

"Oh ya?" tantang Tante Vina, sambil memainkan ujung rambutnya.

Riyandi bangkit dari sofa, berlutut di hadapan Tante Vina, keberaniannya mencapai batas maksimal. Dia meraih tangan Tante Vina, menggenggamnya erat, matanya memohon.

"Tante... boleh enggak?" tanyanya, nada suaranya penuh harap.

Tante Vina menatap tangan mereka yang bertautan, lalu kembali menatap mata Riyandi, senyumnya semakin menggoda.

"Minta izin apa, sayang? Minta minum lagi?" jawab Tante Vina dengan nada main-main, pura-pura tidak mengerti, meskipun ia tahu betul apa yang diinginkan Riyandi. "Atau... mau Tante bantu carikan kerja?"

Riyandi meremas tangan Tante Vina, hasratnya membakar begitu kuat hingga melupakan rasa malu dan sopan santun. Dia menggeleng cepat.

"Bukan, Tante. Bukan minum atau kerja. Riyandi mau... Tante," jawab Riyandi tegas, sorot matanya tidak bisa disembunyikan.

Tante Vina tersenyum lebar, senyum yang menunjukkan ia menikmati permainan tarik ulur ini. Matanya berkilat nakal, menatap tonjolan di balik celana Riyandi.

"Dasar brondong," kata Tante Vina, suaranya kini lebih pelan dan intim. "Memang kamu mau? Tante sudah tua, loh."

"Justru itu yang Riyandi mau, Tante. Wanita yang dewasa, yang sudah tahu cara memuaskan pasangannya. Tante tidak tua, Tante sempurna," balas Riyandi, suaranya serak. Ia tidak ingin lagi membuang waktu untuk basa-basi.

Tanpa menunggu balasan lagi, Riyandi segera berdiri. Dengan langkah mantap, dia menghampiri sofa tempat Tante Vina duduk. Tangan Riyandi menangkup wajah Tante Vina, menariknya mendekat, dan melumat bibir Tante Vina dengan tergesa-gesa namun penuh gairah.Suara ciuman itu terdengar memabukkan.

"mmmp... umppp..."

Riyandi memiringkan kepalanya, memperdalam ciuman, lidahnya langsung meminta akses. Tante Vina, yang terkejut sekaligus tergoda, membalas lumatan itu, ciuman mereka menjadi basah dan liar.

Sambil melumat bibir Tante Vina, tangan Riyandi bergerak cepat. Dia merayap naik ke dada Tante Vina. Dari luar tank top olahraganya yang tipis, Riyandi langsung meremas kuat salah satu gunung kembar Tante Vina yang besar dan kenyal.

Aksi cepat dan berani itu membuat Tante Vina terlepas dari ciuman sejenak, mendesah panjang, "Nghh... Ahhh..."

Napasnya memburu, matanya terpejam merasakan sensasi remasan itu. Jantungnya berdebar kencang, antara gairah dan rasa bersalah yang menyenangkan.

"Dasar kamu, brondong nakal! Tante punya suami, loh. Kalau suami Tante tahu, bagaimana?" bisik Tante Vina, suaranya dipenuhi desahan.

Riyandi kembali melumat bibir Tante Vina sebentar, lalu menjawab di antara jeda napas mereka yang terengah-engah.

"Justru itu yang membuatnya lebih menantang, Tante. Lagian, suami Tante tidak ada di sini," ujar Riyandi dengan seringai penuh kemenangan, tidak mengendurkan remasan tangannya pada dada Tante Vina.

Lanjut membaca
Lanjut membaca