Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Bermula Dari Jeratan Dosen Killer

Bermula Dari Jeratan Dosen Killer

DicArc | Bersambung
Jumlah kata
49.5K
Popular
100
Subscribe
8
Novel / Bermula Dari Jeratan Dosen Killer
Bermula Dari Jeratan Dosen Killer

Bermula Dari Jeratan Dosen Killer

DicArc| Bersambung
Jumlah Kata
49.5K
Popular
100
Subscribe
8
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifeDarah Muda21+Harem
KHUSUS DEWASA 21+ Herdit Nugroho hanya memiliki satu ambisi besar dalam hidupnya. Ia ingin lulus dengan predikat Summa Cumlaude. Bagi mahasiswa tingkat akhir ini, nilai adalah tiket emas untuk mengubah nasib. Namun, hidup di Jakarta tidaklah murah. Desakan ekonomi memaksanya membagi waktu dengan bekerja sebagai tukang pijat panggilan. Akibatnya, satu mata kuliah krusial terbengkalai. Sial baginya, Statistika diajar oleh Santi. Wanita itu dikenal sebagai dosen paling dingin dan tidak punya kompromi. Herdit terancam gagal dan impiannya terancam hancur berantakan. Demi selembar nilai A, Herdit nekat mendatangi kediaman Santi untuk meminta keringanan. Di balik pintu yang tertutup rapat, Sang Dosen Killer mengajukan sebuah syarat yang gila. Santi berjanji memberikan nilai sempurna bagi Herdit. Syaratnya sederhana namun berbahaya: Herdit harus siap memijatnya setiap kali ia merasa lelah dan memanggilnya. Namun, pijatan itu perlahan melintasi batas akademik. Di tengah aroma lavender dan keheningan malam, Santi merenggut keperjakaan Herdit. Ia menjerat mahasiswanya dalam sebuah kebutuhan yang manusiawi. Malam itu mengubah segalanya. Jiwa Herdit yang dulu polos kini hancur dan terlahir kembali sebagai sosok yang haus akan gairah. Ia mulai menjadi candu terhadap kenikmatan tubuh wanita. Situasi menjadi semakin rumit ketika Yuli hadir di rumahnya. Saudara jauh dari kampung itu datang membawa lekuk tubuh yang menggoda dan senyum yang mematikan kewarasan Herdit. Di sisi lain, ada Ega, kekasih setianya yang masih sangat suci. Ega adalah wanita yang selalu ia jaga kehormatannya dan belum pernah ia sentuh sedikit pun hingga saat ini. Herdit kini terjepit dalam labirin hasrat yang bermula dari jeratan sang dosen killer. Satu wanita tidak lagi cukup untuk memadamkan api yang telah dinyalakan oleh Santi di dalam darahnya. Inilah perjalanan Herdit menembus rimba gairah di Jakarta. Tentang seorang pria yang kehilangan arah, berpetualang dari satu hati ke hati lainnya demi mencari puncak kenikmatan.
Bab 1

“Ohh... ohh... enak banget,” gumam Santi pelan.

Suara itu lolos begitu saja dari bibir yang biasanya selalu terkatup rapat dan tegas di depan kelas. Di dalam ruangan bernuansa hangat ini, benteng pertahanan sang dosen muda seolah runtuh tak bersisa.

Santi memejamkan matanya dengan sangat erat. Tubuhnya yang sintal dan terawat tampak begitu rileks di atas kasur. Sesekali bibirnya yang dipoles sewarna persik itu terbuka kecil. Ia sedang meresapi setiap tekanan jari yang menembus lapisan ototnya yang kaku.

“Ayo... ayo terusin. Jangan berhenti,” katanya lagi.

Suaranya terdengar serak dan menuntut. Permintaan itu meluncur ketika Herdit Nugroho, mahasiswanya, menghentikan pijatannya sejenak. Pemuda itu butuh waktu beberapa detik hanya untuk sekadar menarik napas panjang. Udara di dalam kamar itu mendadak terasa sangat tipis bagi Herdit.

“Nah, gitu. Terusin. Lebih kuat lagi,” sambung Santi. Matanya masih terpejam erat. Ia sepenuhnya fokus pada aliran sensasi hangat yang menjalar di sekujur tubuhnya.

Herdit kembali menekan dengan tenaga penuh. Tangannya bergerak mantap dan berirama. Ini adalah ritme yang sangat ia hafal di luar kepala. Ritme yang selalu ia gunakan setiap kali bekerja memeras keringat di tengah kerasnya ibu kota Jakarta.

“Beneran enak, Bu?” tanya Herdit ragu. Ada sedikit getaran dalam nada suaranya.

“Jangan kebanyakan tanya. Terusin aja,” jawab Santi singkat. Nada bicaranya tidak mengizinkan adanya bantahan.

Mau tak mau, Herdit menurut. Ia menekan ibu jarinya pada titik lelah di bahu wanita itu. Dalam hati yang paling dalam, ia terus merapal doa. Ia sangat berharap usahanya malam ini akan berbuah hasil yang manis.

Ia benar benar butuh untuk lulus mata kuliah Statistika. Minimal mendapat nilai B. Itu adalah harga mati bagi Herdit.

Indeks Prestasi Kumulatif miliknya hampir menyentuh angka sempurna. Angka empat koma nol yang selalu ia jaga dengan cucuran keringat dan air mata. Terlalu berharga rasanya jika semua kerja keras itu harus hancur berantakan hanya gara-gara satu mata kuliah ini.

Herdit memang jarang menampakkan batang hidungnya di kelas Santi. Jadwal kuliah sore selalu menjadi musuh terbesarnya. Waktu tersebut sering kali bentrok dengan jadwal pekerjaannya mencari nafkah.

Sebagai mahasiswa perantauan di Fakultas Teknik Informatika, Herdit harus bertahan hidup sendirian. Ia membiayai makan, sewa kamar, hingga uang kuliahnya dari keringatnya sendiri. Ia bekerja sebagai tukang pijat panggilan yang berkeliling menembus kemacetan Jakarta.

Sekali memberikan jasa pijat selama sekitar satu jam, ia bisa mengantongi uang lima puluh hingga seratus ribu rupiah. Kadang, jika ada pelanggan yang berbaik hati, ia bisa mendapat sedikit uang tambahan. Pekerjaan itulah yang menyambung nyawanya.

Ingatan Herdit melayang pada kejadian beberapa hari yang lalu. Setelah ujian akhir semester selesai, kecemasan mulai menggerogoti hatinya.

Dengan langkah berat dan sisa keberanian yang ada, Herdit menemui Santi di ruang dosen. Ia sangat sadar bahwa absensinya yang bolong bolong akan berujung pada nilai yang buruk.

Di lingkungan kampus, nama Santi sudah menjadi legenda. Dosen wanita itu dikenal sangat galak, kaku, dan dingin seperti bongkahan es. Ia tidak pernah suka pada kompromi. Apalagi jika ada mahasiswa yang berani menawar soal nilai akademik.

“Kalau kamu memang niat memperbaiki nilai,” kata Santi waktu itu. Tatapan matanya lurus dan datar, seolah mampu menembus jantung Herdit. “Datang ke rumah Ibu sore ini. Jangan bilang siapa siapa.”

Nada bicara wanita itu sangat mutlak. Tidak ada ruang sedikit pun bagi Herdit untuk menawar atau bertanya lebih jauh.

Dan di sinilah Herdit sekarang. Di dalam rumah Santi yang terasa sangat berbeda dengan ruang kerja di kampus. Suasananya jauh lebih sunyi. Jauh lebih pribadi. Ada aroma bunga lavender yang menguar lembut di udara, membuai siapa saja yang menghirupnya.

Sebelum sesi pijat ini dimulai, Santi sempat menginterogasinya. Mereka duduk berhadapan di ruang tengah yang sepi.

“Kamu sebenarnya kenapa jarang masuk kelas saya?” tanya Santi dengan mata menyipit. “Kamu enggak suka sama cara saya mengajar?”

“Bukan begitu, Bu,” jawab Herdit cepat. Ia menundukkan kepalanya dalam dalam. “Saya sering dapat panggilan kerja pas jam kuliah Ibu. Sungguh, saya bukan sengaja mau membolos.”

Santi menatap mahasiswanya itu cukup lama. Sorot matanya bergerak perlahan. Menilai fisik Herdit dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.

Dalam hati kecilnya, Santi diam diam mengakui sebuah fakta. Pemuda di hadapannya ini memiliki tubuh yang cukup terawat. Bahunya terlihat bidang dengan lengan yang kokoh. Tubuh khas seorang pekerja keras yang sering menggunakan tenaga fisiknya.

“Kerja apa memangnya sampai harus mengorbankan kuliah?” tanya Santi lagi. Kali ini nada suaranya terdengar sedikit merendah.

“Saya tukang pijat, Bu. Biasanya saya dapat panggilan dari pesan WhatsApp atau lewat Instagram.”

“Serius?” alis Santi terangkat tinggi. Ada keterkejutan yang nyata di wajah cantiknya. “Kamu enggak sedang bohong sama Ibu kan?”

“Serius, Bu. Saya benar benar bekerja sebagai tukang pijat.”

Santi terdiam cukup lama. Ruangan itu hanya diisi oleh suara detak jam dinding. Ia menimbang nimbang sesuatu di dalam kepalanya.

Lalu, kalimat itu keluar begitu saja dari bibir merahnya. “Kalau begitu, Ibu mau coba. Gratis.”

Mendengar permintaan tak terduga itu, Herdit tak banyak bicara. Ia adalah seorang profesional di bidangnya. Ia mengangguk patuh dan membiarkan Santi bersiap diri.

Kini, tangan Herdit terus bekerja merayapi tubuh dosennya. Ia mulai memijat dari bagian telapak kaki. Memberikan tekanan lembut yang perlahan mengurai rasa kaku.

Jemarinya kemudian merayap naik perlahan ke area betis, lalu menuju punggung yang terasa sangat tegang. Sentuhan Herdit begitu hati hati namun sarat akan tenaga. Ia tahu persis di mana titik titik lelah itu bersembunyi.

Setiap kali ibu jarinya menekan pangkal leher, dada Santi naik turun dengan ritme yang memabukkan. Hawa panas dari kulit sang dosen seolah meresap ke dalam telapak tangan Herdit. Ada desiran aneh yang mengalir di nadinya. Ini bukan sekadar pijatan biasa. Ada luapan emosi dan kepasrahan yang tak terucap di udara.

Herdit terus bergerak menuju area bahu dan leher. Teknik yang ia gunakan sama persis seperti yang biasa ia berikan pada pelanggan kelas atas di luaran sana. Namun entah mengapa, memijat kulit wanita yang menentukan masa depannya ini terasa jauh lebih mendebarkan.

Satu jam penuh akhirnya berlalu.

Herdit perlahan menarik tangannya. Ia mengusap peluh yang menetes di keningnya.

Santi membuka matanya perlahan. Wajah dingin itu telah hilang tak berbekas. Matanya terlihat sayu, namun memancarkan sebuah kepuasan yang teramat sangat. Pundaknya tidak lagi kaku.

“Oke,” ucap Santi memecah keheningan. Suaranya terdengar jauh lebih rileks dan lembut. “Kamu saya luluskan untuk mata kuliah Statistika. Nilainya C.”

Wajah Herdit yang awalnya berharap cemas, kini langsung berubah pias. Bagaikan disambar petir di siang bolong.

“Bu... kok cuma C?” tanyanya dengan nada kecewa yang tak bisa disembunyikan.

Santi perlahan bangkit dan duduk di tepi kasur. Ia merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan akibat pijatan tadi.

“Harusnya kamu dapat D. Bahkan E, Herdit,” jawab Santi tanpa keraguan sedikit pun. “Kamu hampir tidak pernah hadir di kelas saya.”

Herdit merasa dunianya seakan runtuh. Segala kerja kerasnya selama berjam jam tadi terasa sia sia.

“Aduh, Bu. Tolonglah saya,” rayu Herdit memelas. Ia menangkupkan kedua tangannya di depan dada. “Saya sedang mengejar predikat cumlaude. Jangan kasih C, Bu. Masa depan saya bergantung pada nilai itu.”

Santi terdiam sejenak. Ia menatap wajah mahasiswanya yang tampak begitu putus asa. Mata wanita itu menyipit, menimbang nimbang sebuah keputusan di dalam kepalanya. Ada kilat kepuasan yang terselip di sana.

“Baik,” kata Santi akhirnya, memecah ketegangan yang menggantung di udara. “Saya akan kasih kamu nilai B. Tapi ada syaratnya.”

Herdit menahan napasnya. Jantungnya berdegup kencang menanti kelanjutan kalimat itu.

“Kamu harus datang setiap kali Ibu panggil,” ucap Santi penuh penekanan. “Kamu harus pijat Ibu secara gratis selama satu semester penuh.”

Herdit menelan ludah dengan susah payah. Jakunnya naik turun. Itu adalah bayaran yang cukup berat untuk sebuah nilai B. Waktunya untuk mencari uang pasti akan banyak tersita.

Santi menyadari keraguan di mata pemuda itu. Ia kemudian mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.

“Kalau kamu mau nilai A,” lanjut Santi dengan nada berbisik yang menggetarkan. “Kamu harus lakukan pijatan ini selama kamu masih kuliah di kampus ini. Kapan pun Ibu butuhkan. Sekali saja kamu menolak dan enggak datang... nilainya langsung saya tarik kembali.”

Udara di ruangan itu terasa berhenti mengalir. Kalimat itu adalah sebuah jebakan sekaligus tawaran yang tidak mungkin bisa ditolak oleh Herdit.

Perlahan lahan, raut keputusasaan di wajah Herdit memudar. Harapan itu kembali menyala dengan terang. Demi sebuah gelar kehormatan, ia rela melakukan apa saja.

“Boleh, Bu,” ucap Herdit mantap. Wajahnya perlahan berubah cerah. “Saya sangat mau nilai A. Saya siap datang kapan pun Ibu panggil.”

Mendengar janji dan kepatuhan absolut dari mahasiswanya itu, ujung bibir Santi perlahan tertarik ke atas.

Santi hanya tersenyum tipis. Sebuah senyuman penuh misteri dan kemenangan yang membuat bulu kuduk Herdit sedikit meremang.

Lanjut membaca
Lanjut membaca