

"Gawat ini, Pak Dilan! Rekening bank perusahaan dikuras habis oleh Pak Sandi. Saldonya hanya tinggal sepuluh ribu rupiah saja!" Akuntan perusahaan PT. Jaya Abadi Bersama menghadap ke kantor bosnya pagi itu dengan kening bercucuran keringat dingin.
Pria yang menjabat sebagai presdir di perusahaan yang bergerak di bidang ekspor meubel ke luar negeri itu seperti nyaris berhenti detak jantungnya. "B—bagaimana itu bisa terjadi, Pak Sasongko?" tanya Dilan seakan tak percaya.
"Kemarin Pak Sandi minta ke saya akses ke rekening perusahaan katanya ada pembayaran klien dari Malaysia yang harus dia pastikan karena salah harga. Awalnya sudah saya tolak, tapi beliau mendesak terus katanya hanya sebentar saja ingin akses via internet-banking untuk mengecek dan memperbaiki transaksi yang salah itu sendiri. Nggak tahunya uang perusahaan ditransfer seluruhnya ke rekening pribadinya di Bank Swiss!" terang Pak Sasongko penuh penyesalan, dia turut bersalah meskipun tidak kebagian sepeser pun uang dari rekan bosnya tersebut.
Tubuh Dilan melemas seketika, perusahaan ini adalah investasinya yang menyedot seluruh harta kekayaannya, warisan orang tuanya juga. Dia yatim piatu tanpa saudara satu pun karena tiga tahun lalu keluarganya tewas dalam kecelakaan pesawat tragis tujuan Amerika Serikat. Belum juga pulih dari rasa syok barusan, pintu kantornya digedor dari luar begitu keras.
"BAMM BAMM BAMM!"
"BRAKK!"
"Hey, siapa kalian kurang ajar sekali memaksa masuk ke kantor dengan cara nggak sopan?!" hardik Dilan emosi.
Pria berkepala plontos dengan kaca mata hitam membawa sebendel kertas di tangannya lalu melemparkannya ke muka Dilan. "Alaahh ... nggak usah banyak cingcong kau. BAYAR SEKARANG JUGA!!" teriaknya galak.
"Apa—apa sih ini?" Dilan mencoba membaca isi surat yang diketik resmi itu dan terbelalak matanya hingga nyaris copot. "Pak, saya nggak merasa pernah ambil pinjaman ini ya. Jangan asal tagih, dua ratus M. Itu duit buat beli roket ke bulan apa gimana? Banyak bener kali, Pak!!" bantah Dilan.
"Ckk ... jangan ngeles deh, ini PT. Jaya Abadi Bersama 'kan?! Ada tanda tangan atas nama Dilan Barata, itu siapa? Kamu apa bukan, hahh?!" cecar pria berkepala plontos yang kali ini telah mencopot kaca mata hitamnya sembari memelototi wajah Dilan.
"I—iya, itu nama saya, persoalannya uang dua ratus milyar itu nggak pernah saya pinjam apalagi saya terima, Pak. Sumpah, ini pasti salah paham!" Dilan mendadak stres sendiri karena kekacauan setelah partner bisnisnya menghilang sejak kemarin datang bertubi-tubi.
Pria lintah darat itu tersenyum sinis kepada Dilan. "Mau mangkir dari tanggung jawab ya kamu? Sudah bosan hidup, hmm?!" ucapnya bak pisau belati dingin yang mengiris tipis keberanian Dilan.
"Apa maksud Bapak?" jawab Dilan dengan suara bergetar hebat.
"Nggak mau bayar utang, nyawa melayang!" tegas pria berpakaian serba hitam itu singkat.
Dilan jatuh terduduk di kursinya. Kalau dia sudah berumur dan sakit-sakitan mungkin dapat dipastikan sekarang dia sudah kena stroke. Namun, pria itu masih berusia 27 tahun dan fit malahan sedang di puncak produktivitasnya.
"Kalau aset perusahaan ini dilelang dan disita pun utang kamu nggak bakalan lunas, Dilan Barata!" ujar pria bernama Guntur itu dengan seringai bengis. "Bawa dia ke markas!!" titahnya ke anak buah yang berjumlah empat orang.
Dilan menatap nanar pria-pria kekar berpakaian preman itu seraya berteriak, "Hey, mau apa kalian? Lepas ... lepaskan aku!!"
"Diam, jangan banyak bacot!" hardik salah satu preman kaki tangan lintah darat itu sambil mencekal lengan Dilan bersama temannya.
Tak ingin diperlakukan yang aneh-aneh, Dilan pun meronta-ronta sekuat tenaga sembari berteriak, "TOLONG ... TOLONG SAYA!"
Para karyawan kantor perusahaan Dilan hanya bisa terdiam mematung melihat bos mereka diseret dari kantor presdir oleh orang-orang bertampang seram berpakaian serba hitam bak mafia di film-film action. Mereka takut orang-orang tak dikenal itu membawa senjata api dan menembak brutal tanpa ampun.
Pak Sasongko, akuntan perusahaan Dilan pun tak berkutik. Dia masih sayang nyawa melebihi pekerjaannya yang terancam lenyap karena perusahaan bangkrut. Dari kejauhan dia melihat Dilan dijejalkan masuk ke lift dan dikawal ketat oleh orang-orang lintah darat.
Di dalam lift, Dilan masih berusaha mencari cara agar dia dilepaskan. "Pak, biarkan saya memikirkan cara membayar utang itu!" ucapnya memelas.
"HA-HA-HA. Nanti kita bicarakan saja di tempatku biar lebih enak. Kamu pasti mau kabur ya? Jangan mimpi, Dilan Barata!" cemooh Guntur.
Ketika lift sampai di lantai lobi, sekuriti yang melihat big bossnya diseret keluar gedung kantor tak berani menolong. Preman-preman itu memamerkan sekilas pistol di sabuk mereka.
Dilan dijejalkan ke dalam mobil minivan dan dikawal kanan kiri agar tidak kabur. Dalam benaknya, pria itu tak berdaya memikirkan nasib dan masa depannya lagi. Hanya pasrah jika memang hidupnya berakhir hari ini juga.
Perjalanan menuju kantor markas lintah darat itu berlangsung tanpa rintangan, jalanan seusai hectic jam berangkat kantor justru sepi. Arkhan, tangan kanan Guntur bertanya ke bosnya, "Pak Guntur, untuk apa Dilan Barata dibawa ke markas kita?"
"Aku punya ide agar dia bisa melunasi utang jumbo itu. Mami Vera pasti senang mendapat anak buah dengan spek seperti Dilan Barata, dia itu masih ada keturunan bule. Hmm ... nanti biar kutengok apa burungnya jenis burung pipit apa burung rajawali ya. Hehehe!" Guntur terkekeh mesum membicarakan tentang organ vital Dilan.
Arkhan langsung paham ke mana arah pembicaraan bosnya. Zaman sekarang, bukan hanya wanita yang menjadi komoditas bisnis lendir, pria juga. Semakin berkualitas face dan bodinya akan mudah juga menghasilkan pundi-pundi non halal.
"Nah, kita sudah sampai. Arkhan, kamu antar si Dilan nanti ke rumah Mami Vera. Pastikan pria itu mendapat pelajaran sebelum dicarikan klien berkocek tebal. Aku sengaja tidak menyuruh anak buah memukulinya karena menjaga biar muka gantengnya nggak lecet. Rugi dong barang bagus begitu dibikin rusak!" titah Guntur sebelum turun dari mobil.
"Siap, Pak Guntur!" sahut Arkhan. Dia menyeringai bengis di balik kacamata hitamnya.
Dilan dibawa turun dengan diapit dua preman berbadan kekar, dia diseret masuk lift untuk naik ke ruang kerja Guntur.
"Mas, ini saya mau dibawa ke mana sih?!" tanya Dilan ketakutan sekaligus putus asa. Dalam hatinya dia kuatir akan disiksa sampai mati oleh komplotan lintah darat itu.
"Sudah, kau nggak usah banyak nanya! Kalau jadi tawanan Bos Guntur, nurut saja. Bisa-bisa keluar nggak ada nyawa kalau coba-coba melawan!" jawab salah satu preman berjenggot subur dan gondrong itu.
Terpaksa Dilan menutup mulutnya, dia pasrah akan seperti apa nasibnya. Penyesalannya karena terlalu percaya pada partner bisnis sebelumnya terasa mencekik. Jelas saja uang pinjaman dari lintah darat dan kas perusahaan dibawa kabur seluruhnya oleh Sandi Danendra, bisa jadi pria itu sudah berada di luar negri berlibur dengan bekal uang unlimited.
Dua ratus milyar, bahkan membayangkan saja Dilan tidak mampu melunasi utang itu. Kini dia pasrah kalaupun nyawa jadi taruhannya.