Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Bayu di Antara Debu Becak dan Jas Putih

Bayu di Antara Debu Becak dan Jas Putih

Mas Alam | Bersambung
Jumlah kata
32.7K
Popular
100
Subscribe
3
Novel / Bayu di Antara Debu Becak dan Jas Putih
Bayu di Antara Debu Becak dan Jas Putih

Bayu di Antara Debu Becak dan Jas Putih

Mas Alam| Bersambung
Jumlah Kata
32.7K
Popular
100
Subscribe
3
Sinopsis
PerkotaanSekolahDokterKultivasiPria Miskin
Bayu, anak tukang becak yang hidup dalam kemiskinan, menjalani hari penuh kerja keras dan ejekan. Kehilangan ibunya menumbuhkan mimpi menjadi dokter, sebagai harapan kecil untuk melawan nasib dan penyakit.
BAB 1

Debu di Pagi Hari.

Pagi selalu datang lebih cepat bagi Bayu dibandingkan anak-anak lain seusianya. Saat kebanyakan anak masih terlelap di balik selimut hangat, Bayu sudah terbangun oleh suara derit roda becak yang digeser pelan. Suara itu beradu dengan batuk kering ayahnya, menciptakan irama yang sudah ia hafal sejak kecil—irama kehidupan yang keras dan tak pernah memberi jeda.

Cahaya matahari belum sepenuhnya muncul ketika Bayu membuka mata. Atap seng rumah mereka bocor di beberapa bagian, dan sisa hujan semalam meninggalkan tetesan air yang jatuh tepat ke tanah beralas tikar usang. Udara pagi lembap, bercampur bau tanah basah dan asap sisa lampu minyak semalam.

Rumah itu hanya memiliki satu ruangan. Tak ada sekat antara tempat tidur, dapur, dan ruang tamu. Di sudut ruangan, ayah Bayu—Pak Rahmat—sedang berdiri sambil mengikat tali sandal yang sudah menipis. Tubuhnya kurus, tulang punggungnya sedikit membungkuk, dan rambutnya yang dulu hitam kini dipenuhi uban. Usianya belum genap lima puluh, tapi hidup telah terlalu sering memukulnya.

“Bayu,” panggil ayahnya lirih, takut membangunkannya terlalu kasar. “Bangun, Nak. Ayah berangkat dulu.”

Bayu segera bangkit dan duduk. Matanya masih berat, tapi ia tak pernah mengeluh. Ia tahu setiap menit pagi adalah kesempatan ayahnya mendapatkan penumpang lebih awal. Ia mengangguk dan berdiri, lalu meraih kaus lusuh yang digantung di paku dinding.

“Aku bantu dorong, Yah.”

Ayahnya menoleh, tersenyum kecil. Senyum yang selalu dipaksakan agar tampak kuat di depan anak semata wayangnya.

Mereka keluar rumah bersama. Gang sempit tempat mereka tinggal masih sepi. Hanya terdengar suara sapu seorang ibu menyapu halaman dan suara radio tua dari rumah tetangga. Becak ayahnya berdiri di depan rumah—cat hijau pudar, joknya sobek di beberapa bagian, dan belnya sudah lama tak berbunyi.

Bayu mendorong becak itu dengan kedua tangannya yang kecil. Tangannya sering kapalan, tapi ia tak pernah mengeluh. Debu jalanan menempel di kakinya yang hanya beralas sandal jepit tipis.

“Ayah hati-hati,” ucap Bayu ketika becak itu sudah berada di ujung gang.

Ayahnya mengangguk. “Kamu juga. Jangan terlambat sekolah.”

Becak itu bergerak pelan, menjauh, lalu menghilang di tikungan. Bayu berdiri mematung beberapa saat, menatap punggung ayahnya hingga benar-benar lenyap. Setiap kali melihat ayahnya pergi, selalu ada rasa takut yang tak pernah ia ucapkan—takut suatu hari ayahnya tak kembali.

Bayu masuk kembali ke rumah. Ia menyiapkan dirinya untuk sekolah. Tak ada sarapan pagi selain segelas air putih. Perutnya sudah terbiasa kosong. Ia mengambil tas sekolahnya—tas hitam yang sudah memudar warnanya, dengan resleting yang sering macet.

Di dalam tas itu, selain buku pelajaran, ada satu buku yang paling berharga baginya: buku IPA bergambar tubuh manusia. Sampulnya sudah terlipat, beberapa halamannya sobek, tapi Bayu menjaganya seperti harta karun.

Ia masih ingat jelas hari ketika ibunya terbaring lemah di tikar yang sama. Wajah ibunya pucat, napasnya berat. Ayahnya hanya bisa memijat kaki ibu sambil menangis diam-diam.

“Kita ke dokter, Yah…” bisik ibunya waktu itu.

Tapi mereka tak pernah sampai ke dokter.

Sejak hari itu, Bayu mulai menyukai pelajaran tentang tubuh manusia. Ia ingin tahu mengapa jantung berhenti berdetak. Mengapa napas bisa hilang. Mengapa orang miskin harus kalah oleh penyakit.

Di sekolah, Bayu berjalan melewati halaman yang ramai. Anak-anak berlarian, tertawa, bercanda. Sepatu mereka bersih, seragam mereka rapi. Bayu menunduk, berusaha menyembunyikan sepatu lusuhnya yang sudah menganga di bagian depan.

Ia duduk di bangku paling belakang, seperti biasa. Di situlah tempatnya. Tak ada yang benar-benar ingin duduk di dekat anak tukang becak.

“Hei, Bayu,” bisik seorang anak sambil tertawa kecil. “Ayahmu masih narik becak, ya?”

Beberapa anak lain ikut tertawa.

Bayu diam. Tangannya mencengkeram pensil pendek di tangannya. Ia belajar untuk tidak membalas. Diam adalah tameng terbaiknya.

Saat pelajaran IPA dimulai, Bu Ratna masuk kelas membawa kotak berisi alat peraga. Mata Bayu langsung berbinar. Ia duduk lebih tegak.

“Hari ini kita belajar tentang organ dalam manusia,” kata Bu Ratna.

Bu Ratna mengeluarkan gambar jantung dan menempelkannya di papan tulis. Bayu menatapnya tanpa berkedip. Setiap garis dan warna terasa penting.

“Siapa yang tahu fungsi jantung?” tanya Bu Ratna.

Beberapa tangan terangkat. Bayu tahu jawabannya. Ia membacanya berkali-kali. Tapi ia ragu. Suaranya sering bergetar jika bicara di depan kelas.

Bu Ratna memandang sekeliling, lalu matanya berhenti pada Bayu.

“Kamu, Bayu.”

Jantung Bayu sendiri terasa berdetak lebih cepat. Ia berdiri perlahan.

“Jantung… berfungsi memompa darah ke seluruh tubuh, Bu. Supaya tubuh mendapat oksigen dan nutrisi.”

Kelas hening sejenak.

“Jawaban yang sangat bagus,” kata Bu Ratna tersenyum. “Kamu punya cita-cita apa, Bayu?”

Bayu terdiam. Pertanyaan itu terasa berat.

“…Dokter, Bu,” jawabnya pelan.

Beberapa anak tertawa.

“Anak tukang becak mau jadi dokter,” ejek seseorang.

Bu Ratna langsung menegur. “Diam. Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi.”

Bayu duduk kembali. Pipinya panas. Tapi di dadanya, ada sesuatu yang bergetar—harapan kecil yang berani muncul ke permukaan.

Sepulang sekolah, Bayu tidak langsung pulang. Ia menuju pangkalan becak. Ayahnya sudah di sana, duduk lelah di atas becaknya.

Bayu membantu membersihkan becak, mendorong saat ada penumpang, dan menunggu dengan sabar. Kadang ia mendapat uang receh dari penumpang yang iba. Uang itu ia simpan di kaleng bekas susu, bersama mimpinya.

Malam datang perlahan. Listrik di rumah mereka mati seperti biasa. Bayu belajar di bawah lampu minyak. Asapnya membuat mata perih, tapi ia tetap membaca.

Ayahnya duduk di dekat pintu, memijat kakinya sendiri yang bengkak.

“Bayu,” katanya pelan, “kalau nanti ayah sudah tidak kuat narik becak…”

“Jangan bicara begitu, Yah,” potong Bayu.

Ayahnya tersenyum lelah. “Kamu harus jadi orang besar. Jangan seperti ayah.”

Bayu menggeleng. “Ayah sudah hebat.”

Malam itu, hujan turun deras. Bayu menutup bukunya dan berbaring. Di atas tikar tipis, ia menatap langit-langit rumah yang gelap.

Ia membayangkan dirinya mengenakan jas putih. Berdiri di ruangan terang. Menyelamatkan orang-orang yang tak punya uang.

Di tengah suara hujan dan derit seng, Bayu menggenggam mimpinya erat-erat.

Ia tak tahu seberapa panjang jalan itu.

Ia hanya tahu satu hal:

Ia tidak akan menyerah.

Lanjut membaca
Lanjut membaca