Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Cincin Pemikat Pengendali Hasrat

Cincin Pemikat Pengendali Hasrat

Alaixar20 | Bersambung
Jumlah kata
56.9K
Popular
2.1K
Subscribe
406
Novel / Cincin Pemikat Pengendali Hasrat
Cincin Pemikat Pengendali Hasrat

Cincin Pemikat Pengendali Hasrat

Alaixar20| Bersambung
Jumlah Kata
56.9K
Popular
2.1K
Subscribe
406
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifeHarem21+Kekuatan SuperMengubah NasibPria MiskinAnak Yatim Piatu
Elang yang miskin berhasil mengubah nasib setelah mendapat kemampuan mata ajaib. Tak hanya itu, aroma tubuhnya juga pesat memikat hingga satu persatu wanita potensial: janda kaya dan rivalnya, sahabatnya, hingga istri tentara yang perawan sangat menginginkan Elang!!
Bab 1 : Pemuda Yang Selalu Dirundung

"Ahhh, jangan kencang-kencang, Pak!"

"Nur.. Nur! Melon kamu ini memang idaman. Enak kan aku pegang-pegang begini?"

Suara dari dalam ruangan tembus hingga ke balik pintu kayu kantor kelurahan.

Di depan pintu itu, tangan Elang mengepal kuat hingga kuku-kukunya memutih.

Siap mendobrak pintu dan membekuk kelakuan bejat Pak Lurah bersama kekasihnya, Nurma.

Namun, niat itu tidak jadi dilakukan, mengingat betapa besar kuasa Pak Lurah di desa itu.

Jadi, seiring mengencangnya desahan kedua insan itu, Elang memutuskan untuk tidak masuk dan membalikkan badan untuk pergi sejauh mungkin dari sana.

Namun, sebelum Elang berhasil pergi terlalu jauh, tiba-tiba saja dia dipanggil oleh Pak Karjo, tukang bersih-bersih kelurahan yang terkenal memiliki pendengaran bermasalah.

"KANG! LAGI CARI MBAK NURMA, YA?! ADA DI RUANGAN TUH, LAGI SAMA PAK LURAH!"

Suara Pak Karjo yang kencang sepertinya sukses membuat kegiatan Pak Lurah dan Nurma langsung selesai.

Beberapa saat kemudian, Pak Lurah keluar dengan kemeja berantakan dan kancing yang salah tempat.

Wajahnya merah padam antara nafsu dan amarah.

"WALAH… MATI AKU. DULUAN YA, LANG"

Pak Karjo yang sadar telah blunder buru-buru pergi meninggalkan Elang.

Di sisi lain, tanpa mempedulikan Pak Karjo, Pak Lurah langsung buru-buru menarik kerah baju Elang dan mendorong Elang hingga hampir tersungkur.

"Ngapain kamu melotot begitu? Hah? Lihat apa kamu tadi?!

Elang tak menjawab, tapi tindakannya itu jelas menunjukkan kalau dia sudah tahu semuanya.

"Ingat ya, kalau sampai ada orang yang tahu, kamu akan jadi orang pertama yang saya usir dari desa ini! Mengerti kamu?!"

Elang bangkit perlahan. Meski sakit hati, dia hanya bisa mengangguk dan tak membalas. Bukannya tak berani melawan, tapi ia tak memiliki daya.

Siapa pun tahu kalau Pak Lurah memiliki pengaruh yang tidak kecil di antara warga. Apabila terjadi sesuatu, tentu tidak ada yang mempercayainya.

Akhirnya, mata Elang hanya bisa menatap sedih ke arah Nurma yang kini berdiri di belakang Pak Lurah dengan wajah tak berdosa.

"Maaf ya, Lang. Nggak kayak kamu, Pak Lurah bisa ngasih semua yang aku minta."

Pengakuan dari Nurma benar-benar telak menonjok hati Elang.

Dia memang miskin. Sejak kecil, Elang telah kehilangan orang tua sehingga tak sanggup menyelesaikan sekolah menengah.

Sehari-harinya, ia hidup dari mengerjakan pekerjaan apa saja yang bisa ia lakukan.

Itupun penghasilannya tidak menentu, sehingga seringkali ia tak bisa makan.

Dan dalam situasi sulitnya itu Elang seringkali memaksakan diri untuk bekerja ekstra menjadi buruh ladang sehingga bisa memberikan hadiah-hadiah yang Nurma minta.

Tapi malah ini yang dia terima.

Akhirnya, Elang berbalik dan memilih pergi dengan sisa harga dirinya yang hancur.

Jalannya gontai menahan sesak di dadanya, membuatnya tanpa sengaja menyenggol motor yang terparkir sembarangan di tepi jalan hingga roboh.

Elang langsung menegakan motor itu. Namun, sang pemilik keluar mengetahuinya dan berkacak pinggang melototi Elang.

"Lang.. Elang! Jalan tuh ya pake mata! Kalau motorku lecet memangnya kamu punya uang buat ganti rugi?!"

"Maaf, Mas.." Elang meminta maaf sembari menunduk-nunduk. Takut disuruh mengganti kalau ada yang lecet.

Uang dari mana? Buat makan hari ini saja Elang tak punya, karena semuanya sudah dibelikan hadiah untuk Nurma.

Jaya memeriksa motornya dan tak ada yang lecet sedikitpun. Namun, pria itu itu tak melepas Elang begitu saja.

Selama ini, Elang yang baru berusia 18 tahun ini selalu menjadi bahan perundungan oleh pemuda lain. Jadi, Jaya juga ingin bersenang-senang sebentar dengan mengerjai Elang.

"Cium kakiku," Jaya berteriak. "Baru kamu boleh pergi!"

Mendengar perintah, Elang tanpa keraguan mencium kaki pria itu yang langsung membuat Jaya tertawa puas.

Suara tawanya bahkan masih terdengar setelah Elang sudah melangkah pergi, menyakitkan hati elang.

Meski sering mendapat perundungan seperti ini, tapi siapa yang akan peduli?

Dia hanya seorang pemuda miskin yang tubuhnya terlalu kurus. Jangankan berkelahi, punya tenaga untuk bekerja saja sudah bagus.

Setelah berjalan tak beberapa lama, Elang sampai di halaman rumah sederhana peninggalan orang tuanya.

Ternyata, di teras rumah itu sudah duduk gadis cantik membawa sebuah rantang.

Nama gadis itu Laras, teman masa kecil Elang, satu-satunya manusia yang memperlakukan Elang dengan baik.

Begitu melihat Elang melangkah dengan bahu lesu dan pakaian yang masih sedikit basah, Laras langsung bangkit dengan raut wajah khawatir.

"Lang, ada apa?" tanya Laras sambil menggandeng lengan Elang, mengajaknya duduk di amben kayu.

Elang menggeleng. "Enggak apa-apa, aku sudah terbiasa begini."

"Jujur, Lang. Aku hapal wajahmu kalau sedang sedih. Ada apa?"

Akhirnya Elang mengaku, "Aku sudah nggak sama Nurma lagi, Ras." ujarnya dengan suara parau.

Bukan patah hati, tapi lebih karena merasa tak tahu diri dan kini baru menyadarinya.

Mendengar kabar itu, bukannya sedih, secuil senyum kemenangan justru muncul di hati Laras.

Diam-diam ia merasa lega. Sejak awal, Laras tidak pernah menyukai hubungan itu karena ia tahu niat busuk di balik kebaikan Nurma.

Gadis itu hanya memanfaatkan Elang yang bisa diperbudaknya untuk melakukan apapun.

Menyuruh-nyuruhnya antar sesuatu, memintanya beli ini dan itu, padahal untuk makan saja Elang kurang-kurang.

Sayangnya, Elang terlalu polos untuk menyadarinya.

"Memang tampaknya aku yang tidak tahu diri ya. Masa sih wanita seperti Nurma mau jadi pacarku?"

Elang masih mengutarakan rasa sedihnya. Dia hanya pemuda yang juga ingin merasakan bagaimana rasanya punya pacar.

Namun, baru juga seminggu merasa bangga, ternyata dia hanya dimanfaatkan.

"Sabar ya, Lang. Orang-orang yang seperti itu pasti akan mendapat balasan." Laras mengelus lembut lengan Elang, mencoba menyalurkan ketenangan.

Elang hanya mengangguk sebelum menatap Laras.

Merasa bersyukur karena meski banyak yang merundungnya, tapi gadis ini selalu ada dan tidak pernah memandangnya sebelah mata.

"Sudah, jangan bersedih terus. Aku bawa makanan kesukaanmu. Ada urap daun singkong, nasi jagung, sama ikan gabus balado nih."

Seketika, aroma bumbu balado yang gurih menyeruak, membuat perut Elang yang sedari tadi keroncongan mulai menuntut diisi.

Kesedihan Elang sejenak menguap dan dengan senang memakan makanan yang Laras bawakan.

Melihat betapa nikmatnya Elang makan, Laras tersenyum dengan pipi yang merona.

Setelah makan, Elang mencuci tangan sementara Laras membereskan rantang.

"Malam ini kamu ke ladang jagung lagi?" tanya Laras.

"Iya. Banyak tikus. Aku harus pasang jebakan biar ladang Pak Bambang aman. Kalau panennya bagus, upahku juga lumayan," jawab Elang.

Setelah Laras pulang, Elang segera bersiap-siap untuk bekerja kembali.

Perasaannya sudah lebih baik sekarang. Dia harus kembali bekerja. Perutnya butuh makan, tak ada perpanjangan waktu untuk melenakan diri terus meratapi nasib.

Selain peralatan jaga, Elang juga membawa gulungan senar dan mata kail dan jala ikan.

Sambil berjaga di ladang, biasanya ia memasang kail dan jala di aliran irigasi untuk menambah pendapatan.

Ikan gabus liar juga belut hasil tangkapannya seringkali laku dijual, tambahan uang yang sangat berarti untuk menyambung hidup.

Elang memilih berjalan kaki menuju ladang. Di tengah hamparan tanaman jagung yang mulai tinggi, seringkali rasa sepi dan sendiri menghinggapinya lagi.

Tentang hidupnya yang selalu kekurangan. Tentang hinaan yang selalu didapatnya.

Andai boleh meminta pada Tuhan, ia ingin dilahirkan kembali dengan takdir yang lebih bersahabat.

Namun, keresahan itu segera terhempas oleh angin malam. Elang menghela napas panjang; ia tidak boleh cengeng. Garis takdir harus dijalani, bukan diratapi.

Tepat saat pikiran itu melintas, sebuah cahaya merah terang memancar dari ujung ladang. Terlalu silau untuk sekadar pantulan air irigasi.

Dengan rasa penasaran yang memuncak, Elang melangkah tergesa.

Senternya menyambar-nyambar kegelapan, menuntunnya menuju sumber cahaya di balik semak-semak. Tangan Elang menyelinap di antara dedaunan dan meraba sesuatu yang dingin.

"Apa ini?" gumamnya sembari menatap benda itu.

Ia mengangkat sebuah cincin akik yang tampak gagah—jenis cincin yang biasa dipakai bapak-bapak sebagai simbol keberanian.

Tanpa menaruh rasa curiga, Elang mencoba mengenakan cincin itu di jari manisnya. Pas sekali.

(Bersambung)

Lanjut membaca
Lanjut membaca